CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|22|. Semua Dalam Dirinya Terlihat Baik



Sepasang alis Aldrich bertaut, "Melakukan apa?" Dia menoleh pada gadis pelayannya yang sedang menyetir itu.


Bibir tipis Maribel melengkung tinggi ke atas. Senyuman yang terbit di mata coklatnya yang cerah, membuat Aldrich memiliki firasat buruk soal itu.


"Sesuatu yang memicu adrenalin"


Kening Aldrich berkerut erat, "Ha?"


Tanpa menunggu persetujuan pria itu, Maribel mengembang kan senyum penuh kesiapan saat tangannya bergerak menekan stir dengan sungguh-sungguh, "Tuan, eratkan sabuk pengaman anda" Pesannya sebelum menancap gas dan...


Whooss..


Jantung Aldrich hampir melompat keluar. Jika tidak ada sabuk pengaman yang menahan tubuhnya itu, mungkin kepalanya sudah terjun ke depan memukul dasbor.


Matanya yang terbuntang lebar dalam kedipan tak percaya itu menoleh pada Maribel dan berseru keras, "Apa yang kau lakukan?"


Maribel mengulum bibirnya dalam senyuman. Mengabaikan pekikan keras pria di sampingnya. Dia hanya menikmati kesenangannya dan mengambil langkah untuk menambah kecepatan.


Mendapati itu mata Aldrich langsung melotot tajam, "Kau gila? Cepat turunkan kecepatan" Saat mengatakan itu bukan main detak jantungnya berpacu keras dan nafasnya memberat.


Maribel sekilas tersenyum melihat kegelisahan Aldrich yang dimatanya terlihat sangat imut. Tapi dia sama sekali tidak berniat untuk berhenti.


"Kau.. cepat turunkan kecepatan" Aldrich terlihat frustasi.


Saat itu jendela mobil terbuka. Angin malam menyusup masuk lebih kencang seiring mobil yang melaju cepat menyusuri jalanan yang kosong. Deruan nya yang keras, telah menenggelamkan suara panik Aldrich.


"Ha? Anda baru saja mengatakan apa?" Teriak Maribel. Memanfaatkan kericuhan angin untuk berpura-pura tidak mendengarkan ucapan pria itu.


Aldrich memegang tali sabuk pengaman memasang ekspresi tertekan, "Cepat pelan kan kemudi mu.." Katanya lagi penuh kecaman.


Maribel menoleh sekilas. Dari pantulan cahaya rembulan dari luar, dia dapat melihat wajah tampan Aldrich yang pucat menjadi lebih pucat. Rambut kuning jagungnya yang sebelumnya tertata rapi, kini tampak berantakan karena terjangan angin. Memunculkan sebuah istilah... ketampanan dalam acak-acakan.


Mata Maribel tersenyum, menyipit dalam bentuk bulan sabit saat menoleh pada Aldrich dan berucap, "Tuan.. anda semakin tampan dalam rambut acak-acakakan"


Aldrich menatap tajam gadis itu dengan tatapan yang mengeras seakan siap mengeluarkan es, "Kau masih berani bercanda"


Menanggapi itu, Maribel dengan santainya tertawa. Mata coklatnya yang berbinar penuh semangat itu fokus memandang ke depan, mengeratkan pegangan stir, dia berucap di sela keseruannya, "Tuan vampir, harus ku katakan. Biarpun mobil mu ini sudah sangat tua, tapi ketajamannya masih patut diapresiasi"


"Aku tidak meminta komentar mu. Ku bilang.. cepat turunkan kecepatannya.." Kecam Aldrich. Matanya yang menatap Maribel itu seakan ingin menggigitnya.


Maribel tergelak, "Tuan, ini menyenangkan. Apakah anda tidak menikmati esensi kecepatannya yang berbaur dengan hembusan angin itu begitu memacu adrenalin hum?"


Tangan Aldrich yang memegang tali sabuk pengaman itu mengerat dan mengepal, "Memacu adrenalin apa? Kau ingin mati ha?" Teriaknya. Suaranya sedikit terdengar bergetar.


"Jika kau masih tidak menurunkan kecepatan, sekarang ini juga aku akan memecat mu.."


Citttt..


Suara ban yang bergesekan dengan tanah saat mendadak mengerem.


Maribel menghembuskan nafas puasnya. Dia menoleh pada Aldrich dengan senyum tak berdosa nya berkata, "Baik, saya akan menurunkan kecepatannya"


"Haa.." Aldrich membuang nafas berat. Setelah apa yang dilakukannya...


Merasakan gejolak amarahnya, Maribel dengan lembut membujuk, "Tuan vampir, tolong jangan marah um? Ini adalah kali pertama saya menyetir mobil sport klasik yang seperti ini jadi tak tahan untuk tidak menambah ketajaman"


Menambah ketajaman katanya?


Jelas-jelas tadi itu dia hampir menghabiskan semua ketajaman yang ada, masih berkata menambah. Aldrich ber-decih dalam hati dan membuang pandangan keluar jendela.


Melihat ketampanan yang cemberut itu, Maribel menggigit bibirnya menahan senyum merasa betapa manisnya pria itu terlihat.


"Lagipula saya mengira, vampir memiliki ketahanan yang lebih baik daripada manusia. Tapi tidak menduga anda begitu takut, saya sangat menyesal. Untuk itu, saya mohon maaf..." Maribel membungkuk kan kepalanya kearah Aldrich, menunjukkan penyesalannya yang tulus. Padahal dalam hatinya, dia tidak menyesali sama sekali.


Aldrich berdeham, "Aku tidak takut"


Maribel mengangkat kepalanya, "..."


"Itu..aku hanya mengkhawatirkan mobil ini"


Maribel menahan senyum di bibirnya.


"Bukannya katamu ini harganya sangat mahal? Bagaimana jika kau tidak sengaja membenturkan nya ke pohon? Bahkan dengan gaji mu setahun tidak akan cukup untuk membayarnya"


Maribel menjilat bibir bawahnya saat matanya menatap ke bawah dan tersenyum, 'Bahkan cara dia mengelak juga sangat baik'


'Ha.. memang semua dalam dirinya terlihat baik'


Maribel merasakan jiwanya melayang tinggi ke awan. Saat jantungnya meletup-letup menikmati tiap kali mendengar suara pria tampan itu mengalir ke udara.


"Jadi, jangan membuat kecepatan seperti tadi. Bawa saja yang santai, bukankah kalian manusia selalu mengedepankan keamanan?"


Maribel mengangguk dan tersenyum, "Baik tuan, saya akan mengemudikannya dengan santai seperti katamu"


Seperti itu, Maribel mengemudikan mobil sport klasik itu dengan kecepatan normal, hingga mencapai jalan raya dan mereka pun tiba di pusat perbelanjaan.


Supermarket yang besar dan serba lengkap itu tampak ramai oleh orang-orang. Beberapa ibu-ibu terlihat mendorong troli, berbelanja seorang diri. Sisi lain terlihat pasangan suami-istri yang mendorong troli dengan anak mereka duduk di atasnya. Ada juga terlihat beberapa pria dan gadis lajang. Juga ada pasangan paruh baya yang tampak mesra saat bergantian mengambil barang dan mendorong troli.


"Tuan, apa yang ingin anda beli?" Tanya Maribel yang mendorong troli dibelakangnya. Dia dapat melihat setiap kali mereka lewat. Beberapa gadis muda mencuri pandang kearah Aldrich, terpesona dengan ketampanannya. Mereka tampak penuh hasrat dan membara menginginkan ketampanan itu.


Melihat itu Maribel mencibir dalam hatinya. Seandainya saja saat itu posisinya bukan pelayan, dia pasti akan meraih lengan Aldrich sekarang, memeluknya erat dan menegaskan pada gadis-gadis itu dengan tatapannya..'Pria ini milikku, jadi jangan jelalatan memandanginya'


Tapi dia bisa apa? Statusnya saat ini hanyalah bawahan Aldrich. Menatap serius punggung tegap didepannya itu, Maribel berkata penuh kecaman dalam hatinya, 'Pokoknya, aku harus cepat-cepat membuat pria itu menjadi milikku'


Aldrich yang terus melangkah maju ke depan itu terlihat acuh dan abai. Seakan pemandangan seperti itu sudah biasa.


"Beberapa kebutuhan pria.." Katanya, sambil melihat-lihat, "Sabun, shampo..di mana letaknya?"


Maribel tersenyum, "Rak-rak di sini khusus olahan instan dan makanan ringan. Mari ikut saya..."


Maribel langsung menarik troli dan mengambil langkah memutar. Kini dia memimpin di depan dan Aldrich mengikutinya dibelakangnya.


"Nah, di sini yang anda butuhkan"


Aldrich melihat jejeran botol shampoo dan sabun di rak, itu banyak dan beraneka jenis. Di kemas dengan botol plastik yang berbeda jauh dengan Merland yang mengemas dengan botol kaca.