
Maribel mengedipkan matanya, sedikit agak terkejut. Dia tidak menduga kalau darah pun akan memiliki rasa yang seperti salah satu jenis beri itu.
"Ya" Aldrich mengangguk kan kepalanya. Melihat ekspresi Maribel, Aldrich tersenyum bertanya, "Kenapa? Kau tertarik mencobanya?"
Maribel tersenyum menggeleng, "Tidak tuan"
Yang benar saja? Dia manusia.
Aldrich hanya mengangguk dan kembali berkata, "Tiap hewan memiliki rasa darah yang berbeda, beberapa dari mereka ada yang pahit bahkan juga ada yang tawar. Tapi bagaimanapun rasa mereka, sayangnya aku tidak dapat begitu menikmatinya..." Aldrich tampak menarik nafas panjang ketika mengatakan itu.
Maribel menautkan alisnya, "Kenapa?"
"Karena aku alergi darah hewani"
Mata coklat Maribel membesar dalam kejutan, "Ternyata juga ada yang seperti itu?"
"En"
"Apa itu seperti manusia yang alergi pada susu sapi?"
Aldrich mengangguk, "Yah lebih kurang seperti itu"
"Kalau begitu kenapa kau tidak berhenti meminum darah hewani dan menggantinya dengan yang lain?"
Aldrich menatap Maribel dan tersenyum lucu, "Menggantinya dengan apa huh? Dengan darah manusia?"
Maribel tercenung di tempatnya berdiri.
Aldrich tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Bukankah sudah ku katakan itu di larang?"
Maribel meremas jari-jemarinya, menarik nafas gugup. Dia mencoba bertanya, "Bagaimana jika manusia itu memberimu izin? Apa masih di larang?"
Kening Aldrich berkerut dalam, "Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?"
Maribel menggigit bibir bawahnya, mengepalkan tangannya dia memberanikan diri berkata, "Jika memungkinkan, anda bisa meminum darah saya"
Mata coklat Aldrich membesar dalam kejutan, "Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?"
Maribel mengangguk cepat, "Ya. Lagipula, jika itu untuk anda, saya tidak masalah sama sekali"
"Sekalipun saya menghisap darah mu sampai habis?"
Bola mata hitam Maribel bergertar, "Memangnya anda akan melakukannya?"
Aldrich tertawa.
"Lihat! Betapa takutnya dirimu"
Maribel menunduk, tangannya mengusap lehernya malu.
"Lain kali berhati-hatilah jika mengatakan sesuatu. Bagaimana jika aku memanfaatkan mu?"
Saat itu Maribel hanya membatin, 'Mungkin jika dimanfaatkan dengan pria sepertimu, aku tidak akan masalah sama sekali'
Maribel bahkan tidak tau kenapa dia sampai punya pemikiran seperti itu. Tidakkah kedengarannya dia begitu bodoh dan konyol?
Tapi dia sadar...
Bahwa cinta memang punya kekuatan mengaburkan rasionalitas seseorang.
......................
Selesai sarapan Aldrich kembali ke kamarnya. Menarik salah satu laci di meja, dia mengambil pil alerginya dan meminumnya dengan sekali telan. Tanpa sengaja pandangannya melihat sebuah kotak. Dia ingat itu adalah pemberian ibunya yang belum dibuka.
Mengambil kotak tersebut, Aldrich Pergi berjalan ke sofa dan duduk. Dia membuka kotak dan melihat jam tangan pria tempahan khusus. Rantainya berlapis perak yang sudah di campur dengan batu pualam hitam. Membuatnya tampak gelap kebuan dan dingin. Bulatan kacanya sangat tebal dan jarum jamnya itu berlapiskan emas murni. Di belakangnya ada ukiran yang sangat cantik bertuliskan, 'Sayangnya mama'
Hati Aldrich menghangat membaca itu.
Dia langsung melepas arloji di tangan kirinya dan menggantinya dengan jam tangan pemberian ibunya itu.
Aldrich menoleh kedalam kotak dan melihat sebuah lipatan surat. Dia membukanya dan membaca isinya, 'Mama sengaja pergi secara khusus ke tempat tempahan yang terkenal di kalangan bangsawan untuk membuat jam tangan khusus ini untukmu. Papa mu cemburu ketika mengetahui mama telah hal khusus ini untuk seorang pria. Padahal mama sudah mengatakan pria itu adalah kamu...tapi dia tetap saja tidak berhenti cemburu. Nak..mama mu ini sungguh tidak habis pikir dengan papamu'
'Nanti jika kau punya anak, kau tidak boleh seperti papamu. Cemburu pada putranya sendiri'
'Baik-baiklah di negri manusia'
'Ingat untuk tidak memacari gadis cantik manapun yang kau temui di sana. Bagaimanapun kau adalah vampir campuran. Mama tidak berharap akan ada gadis manusia lain yang akan menderita seperti yang pernah mama rasakan dulu'
'*Mama menyayangimu sayang...'
'Putraku yang akan selalu menjadi bayi kecil mama yang berharga*'
Aldrich melipat surat itu dengan matanya yang tersenyum lembut penuh arti. Dia memasukkannya ke dalam kotak dan meletakkannya sehati-hati mungkin di dalam laci.
"Mama tenang saja..aku tidak akan memacari gadis manusia manapun..."
Karena diapun juga tak ingin akan ada gadis manusia lainnya yang harus hidup menderita seperti ibunya dulu.
Biar begitu, jauh dalam lubuk hatinya. Dia masih mengenang seseorang dan merasa sedikit penasaran akannya.
Itu tak lain...
Gadis tercantik di taman kanak-kanak nya dulu.
Dia ingat bagaimana suatu hari ketika dia menunggu jemputan sang ibu, matanya begitu saja larut memperhatikan gadis kecil yang tersenyum manis melemparkan tubuh mungilnya ke dua orang dewasa yang dijemputnya.
Tidak hanya itu, dia ingat suara cadelnya yang menggemaskan dan bagaimana sifat keras kepalanya yang tidak mau kalah sama sekali.
Mengenang itu, Aldrich jadi mengingat sepintas kenangan manisnya sebelum pergi meninggalkan negri manusia. Momen terakhirnya ketika berinteraksi dengan gadis itu...
"K-kamu—"
"Syut!" Saat itu Aldrich baru saja melompati pagar dan mengisyaratkan pada gadis itu untuk diam.
Meskipun belum dapat menampik rasa terkejutnya, gadis kecil itu hanya mengangguk. Membiarkan sentuhan angin menggoyang kan rambut hitamnya yang terkepang manis.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Anak kucing"
Aldrich ingat bagaimana jari telunjuk gadis itu yang mungil dengan antusiasnya di arahkan ke seekor anak kucing yang tengah bersembunyi di semak-semak.
"Ayo sini lihat"
Tangan kecil yang tanpa sungkannya menarik tangannya, mengajaknya untuk melihat penemuannya, "Imut kan?" Katanya. Suara kecilnya terdengar cukup menyenangkan dan bahkan masih membayanginya hingga sekarang.
"Kamu suka kucing?"
"Eum"
"Kenapa?"
Aldrich ingat bagaimana muncung bibir kecilnya maju se-senti membentuk senyum polos yang menggemaskan ketika dia mengatakan itu.
"Kamu kenapa lompat dali tembok tadi? Kamu gak tatut jatuh?"
Saat itu dia sangat imut. Aldrich bahkan tak tahan— merasa sangat ingin mencubit pipi chubby nya gemas.
"Engga"
"Lain kali jangan lompat lagi ya. Itu bahaya, telus kalo ibu gulu tauk, nanti kamu di malahin loh"
"Pftt"
Aldrich yang saat itu masih bocah hanya menertawai kekonyolan gadis itu seperti orang dewasa.
"Kamu kok ketawa cih?"
"Aku selius loh, nanti ibu gulu malah, kamu gak tatut um?"
"Coba ikutin aku, ibu gu-ru"
"Ibu gulu"
"Gu-ru"
"Gulu"
"Bukan 'L' tapi 'R', gu-ru"
"..."
"Ayo coba ikutin aku sekali lagi, gu-ru"
"..." Gadis kecil itu menolak.
"Kenapa?"
"Gak bica. Cucah"
"Dasar anak kecil!"
"Kamu juga anak kecil"
"Tapi aku tidak cadel seperti kamu"
Aldrich ingat bagaimana gadis itu yang mengambil langkah mendekat ke sisinya, mengangkat tangannya ke atas kepala dan bersiap mengukur tinggi badannya dan membandingkannya, "Tapi tinggi badan kita cama"
Mengenang itu Aldrich tergelak kecil.
"Haa, bagaimana ya dia sekarang?"
"Apa sifatnya yang gak mau kalah itu masih belum hilang?"
"Aku... sedikit berharap dapat bertemu dengannya lagi"
......................
Cerita Sampingan ✨
Author: Aldrich, Apa Maribel cinta pertama mu?
Aldrich: Entahlah. Aku hanya menyukainya sejak pertama kali melihatnya dulu di TK. Dia cantik dan menggemaskan. Apa ini dapat dikatakan cinta pertama?
Author: Heum, anggaplah begitu. Lalu apa kau berharap dapat bersama cinta pertama mu itu?
Aldrich: Ku pikir tidak.
Author: Kenapa?
Aldrich: Bukankah cinta pertama adalah hal yang paling tidak mungkin?
Author: Kenapa kedengarannya kau pesimis sekali :-(
Aldrich: Bukan soal pesimis, ini hanya berdasarkan analisis ku. Aku vampir campuran dan dia adalah gadis manusia. Apa mungkin kita bisa bersama? Jika pun bisa, aku tidak akan memaksakan kondisi kami. Itu hanya akan membuat kami menderita.
Author: Ah, jadi begitu. Aku baru saja berpikir untuk mempersatukan kalian. Tapi karena kau telah berkata seperti itu... sepertinya aku tidak perlu—
Aldrich: Sebentar², apa katamu? Kau ingin mempersatukan kami?
Author: En (Tersenyum)
Aldrich: .... (Terkejut)
Author: Jadi, bagaimana? Apa kau sungguh beneran tidak ingin bersatu dengannya?
Aldrich: Aku...
Annette: Author...ku mohon jangan hasut putraku. Aku sudah menasehatinya untuk tidak jatuh cinta pada manusia
Author: Yang mulia Ratu, aku mengerti. Tapi cinta bukan sesuatu yang bisa dikendalikan. Bagaimana jika putramu—
Annette: Aku katakan tidak ya tidak.
Author: Aldrich, mama mu sangat bersikeras sekali. Apa kau sungguh tidak akan jatuh cinta pada manusia en?
Aldrich: Aku...(mulai ragu)
Annette: Nak, kau harus mendengarkan mama. Jadi ingat dan patuhi selalu nasehat mama, oke?
Aldrich: Baik Ma (patuh mengangguk)
Author: Ah, ku dengar Maribel sudah menjadi gadis dewasa sekarang. Dia cantik, baik, dan idaman banyak pria. Aldrich, apa kau yakin tidak akan tertarik dengannya jika bertemu nanti?
Annette: Authorrr, apa mulutmu perlu ku jahit? Aku bisa memanggil penjahit istana sekarang juga
Author: Ah, bagaimana wanita lembut seperti mu bisa menjadi begitu kejam? ಥ‿ಥ
Annette: Maaf, sepertinya aku telah sedikit ketularan sifat bengis suamiku :-)
Author: Jika tau kau akan begini, aku tidak akan menyatukan mu dengan pria berdarah dingin itu.
Annette: Apa katamuuu...
Author: 'Auto cabut'