
Aldrich sudah tiba di kastil. Dia langsung menggendong Maribel yang masih tak sadar kan diri itu dan membawanya ke kamarnya. Dia membaringkan Maribel dengan sangat lembut di atas ranjang. Tangannya menyisir surai rambut hitam gadis itu yang jatuh menutupi separuh wajahnya. Sejenak jemarinya dapat merasakan betapa halus rambut gadis itu.
Setelahnya dia menarik selimut putih dan menutupi tubuh Maribel hingga ke separa dada.
Aldrich pun pergi mandi di bawah derasan air shower yang menghujani tubuhnya. Membiarkan dirinya tenggelam dalam pikiran, akan pernikahan yang tak sengaja telah dia lakukan.
Dadanya merasa agak sesak dan berat memikirkan itu.
Selepas mandi, Aldrich tidak ragu naik ke atas ranjang di mana Maribel masih tertidur pulas di sana. Dia dapat mendengar deru nafasnya yang mengalir begitu tenang. Wajah polosnya yang tertidur itu, seperti tak merasakan bahaya apapun di sekitar.
Tubuhnya yang mungil dan rapuh, tenggelam begitu menggemaskan di bawah selimut putih tebal miliknya.
Tangannya begitu saja jatuh membelai pipi tirusnya. Jari-jemarinya begitu saja menari pelan di atasnya— merasakan tekstur kulitnya yang kenyal dan lembut.
Tanpa sadar...
Sudut bibir Aldrich bergerak samar dalam senyuman, ketika hatinya membatin...
Cantik.
Dan kemudian mulutnya berucap, "Aku tidak tau apa ini kecelakaan...atau mungkin keberuntungan"
Aldrich menguap. Kantuk nya telah datang melanda.
Dia pun pergi mematikan lampu dan membaringkan kepalanya di atas bantal. Posisi tidurnya tanpa ragu menghadap kearah gadis yang tertidur tepat di sampingnya.
Itu adalah kali pertama dia tidur di atas ranjang yang sama dengan seorang gadis. Ibunya sangat ketat dalam mendidiknya untuk tidak terjebak dalam pergaulan bebas dan mendorongnya untuk selalu menjaga perasaan serta kehormatan wanita. Memperlakukan mereka lembut dan sopan, bukan kasar dan memaksa.
Jika ibunya tau dia tidur di atas ranjang yang sama dengan seorang gadis, ibunya pasti akan marah.
Tapi...
"Maa, malam ini aku tidur dengan istri ku. Kau pasti tidak akan marah bukan?"
Hanya istrinya adalah manusia. Memikirkan itu, beban berat semakin membebani hatinya.
Ibunya telah menasehatinya untuk tidak jatuh cinta dan pacaran dengan gadis manusia manapun. Tapi fatalnya...
Dia malah tanpa sengaja menikahi seorang gadis manusia.
"Maa, semoga kau tak kecewa dengan ku"
......................
Maribel memiliki mimpi yang panjang dan sangat indah. Sampai dia merasa enggan membuka matanya untuk bangun dan memilih untuk terus terlelap dalam buaian bunga tidur yang sangat menyenangkan.
Di mana di sana dia melihat Aldrich datang ke perusahaannya. Membuat kejutan dengan sebuket mawar merah yang penuh. Pria itu mendekati meja kerjanya, tubuh tegap nya membungkuk dan kecupan manis mendarat dengan sangat lembut di bibirnya.
Seperti kupu-kupu yang baru saja hinggap di kelopak bunga.
Sangat menggelitik dan mendebarkan.
Dia memakan makanannya dan Aldrich meminum botol darah yang di isi kedalam gelas. Seperti itu makan malam pasangan terjadi begitu harmonis. Di mana dia berbincang dengannya, membagikan segala keluh kesahnya di perusahaan yang di tanggapi dengan begitu renyah dan hangat oleh Aldrich.
Malam harinya mereka pergi berbaring di bawah selimut yang sama.
Dia mendapati Aldrich mengecup kedua pipi, bibir dan keningnya tepat sebelum tidur. Tak lupa dengan bisikan, 'Aku mencintaimu' di telinganya. Membuatnya merasa begitu manis dan disayangi.
Dia pun memejamkan matanya sambil menikmati tangan besar Aldrich yang mengusap lembut surai rambut kepalanya hingga dia jatuh tertidur.
Hingga ke esok harinya ketika sinar matahari yang hangat menembus jendela kamar yang tersingkap. Maribel membuka matanya dan melihat ketampanan yang tertidur di sisinya.
Hatinya terasa hangat dan manis. Dia memajukan kepalanya dan mengecup bibir pria itu yang kering.
Tak merasa puas, diapun bergerak menciuminya dalam dan dalam. Kesal karena pria itu tidak terbangun, dia pun mulai m*lum*t nya cepat dan cukup bergairah.
Di samping Maribel yang terbuai dengan mimpi indahnya.
Aldrich mengerutkan keningnya saat samar-samar dia merasa sebuah gangguan. Matanya yang masih terpejam karena mengantuk itu, membuatnya bertanya-tanya dalam hatinya. Benda macam apa yang sedang bermain dengan bibirnya, itu cukup menyebalkan karena mengusik tidurnya.
Tangannya pun bergerak, menepis benda empuk yang menempeli bibirnya. Bukannya pergi, benda itu malah menggila dengan m*lum*ti bibirnya.
Spontan Aldrich membuka matanya dan kantuknya seketika lenyap.
"Emph—"
Mata Aldrich membelalak kaget.
Yang benar saja.
Bangun-bangun, dia mendapati seorang gadis dengan mata tertutup masih seperti tertidur. Bergerak begitu lincah menciumi bibirnya.
Refleks dia mendorong gadis itu menjauh. Tapi jeratan bibirnya begitu erat. Membuat tak mudah bagi Aldrich melepas bibirnya yang berada dalam kuasa gadis itu.
Alhasil, Aldrich dengan sengaja menggigit bibir gadis itu.
Saat itu dia mendengar suara serak gadis itu, "Em..kau menggigit bibir ku.." Suaranya jatuh begitu manja. Matanya masih terpejam rapat. Seperti dia baru saja mengoceh dalam tidurnya.
Aldrich merasa kan jantungnya berdegup begitu kencang dan wajahnya memanas.
Buru-buru dia bangun, menuruni tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
"Ha..haa.." Menekan dadanya di mana jantungnya masih berdebar, nafasnya agak terengah-engah.
"C-ciuman pertama ku" Aldrich menyentuh bibirnya yang masih terasa jejak lembut bibir gadis itu di sana.
Aldrich tidak tau harus tertawa atau menangis akan fakta...
Istrinya, baru saja mencuri ciuman pertamanya.
......................