
Setelah berpakaian, Maribel duduk santai di taman belakang sambil menikmati teh melati hangat yang disiapkan madam Diana untuknya.
Angin bertiup sepoi-sepoi, terasa begitu menenangkan. Maribel menyesap teh nya dan matanya begitu dimanjakan dengan pemandangan pepohonan hijau yang besar dan melati putih yang cantik.
Meletakkan cangkir teh di atas meja, Maribel mengambil ponselnya dan menghubungi Callie.
Saat itu Callie masih di perusahaan. Di karena kan Maribel mengambil cuti, banyak hal yang harus diurusnya sampai membuatnya lembur.
"Ya, ada apa menghubungi saya Bu?" Callie meletakkan dokumen di meja dan tangannya dengan gesit menari-nari di atas keyboard dengan matanya fokus tertuju ke layar laptop.
Dia telah menyambung kan panggilan Maribel dengan earphone bluetooth yang terpasang di telinganya.
"Kau masih ingat novel adikmu yang kau sita itu?"
"Ya. Kenapa?"
"Aku belum membacanya sampai habis"
Callie tersenyum geli, "Lalu kenapa? Jangan bilang anda ingin meminjamnya?"
Maribel tertawa kecil, "Kalau ada waktu mungkin aku akan"
"Bu.. bukankah anda selalu ada waktu?" Callie menyindir keras.
Maribel tergelak.
"Itu.. sebenarnya, ada bagian yang membuat ku penasaran"
Callie masih laju mengetik, biar begitu tetap memasang telinga untuk menjawab obrolan Maribel, "Bagian?"
"Ya. Aku ingat bagaimana pemeran utama wanita itu hampir dijebak oleh antagonis dalam cerita itu dengan obat bius yang membuatnya kepanasan. Tapi beruntungnya dia di selamat kan oleh tokoh utama pria yang langsung membawanya berendam di bathtub air dingin"
"Lalu?" Callie tidak mengerti kenapa tiba-tiba Maribel membahas hal itu.
"Apa kau tau jenis obat apa itu? Apa efek sampingnya? Dan..apakah aman digunakan?"
Tangan Callie seketika berhenti bergerak di atas keyboard, "Bu...kenapa anda tiba-tiba menayangkan hal ini? Jangan bilang..."
Kecurigaan Callie langsung diakui oleh Maribel.
"Aku ingin menggunakannya sedikit untuk suami rahasia ku. Karena itu aku bertanya"
"Bu, anda bercanda!" Suara Callie naik satu oktaf lebih tinggi karena terkejut, "Anda serius ingin melakukan hal itu?"
"Memangnya kenapa? Dia kan suamiku sekarang . Jadi kenapa tidak?"
"Itu masalahnya. Dia sangat dingin. Mencium bibirku saja dia tidak ingin, apa lagi melakukan lebih dari itu" Gerutu Maribel, setengah frustasi.
"..." Callie di seberang sana, tidak tau harus menanggapi apa.
"Callie.."
"Um"
"Boleh tidak jika aku—"
"Tidak" Callie langsung memotongnya. Dia langsung dapat menebak jalan pikiran Maribel.
"Aku bahkan belum mengatakannya, kenapa kau langsung menolak sekeras itu"
Callie menghela nafas berat, "Karena saya sudah dapat menebak jalan pikiran anda Bu"
Maribel memanyunkan bibirnya. Dia mengambil cangkir dan menyesap teh nya yang tak lagi hangat.
"Lagipula Bu, jika boleh saya sarankan, sebaiknya anda tidak menggunakan cara tersebut. Karena...itu bukan hal yang baik Bu. Dan..wajar pria itu menolak anda, mengingat bagaimana anda memaksa dia untuk menikahi anda. Di samping itu, jangan membuat hal yang dapat menjadikan pria itu semakin membenci anda"
"..."
"Haa, ini kenapa saya menyita novel itu dari tangan adik saya, remaja labil kerapkali penasaran dan ingin melakukan sesuatu tanpa memikirkan konsekuensi yang terjadi nanti. Tapi anda ini berbeda Bu..anda adalah wanita dewasa dan lagi...anda sudah menikah"
Maribel sudah lama terdiam mendengar Callie yang menceramahi nya itu.
"Jadi tolong anda pertimbangkan baik-baik bu.."
Panggilan pun berakhir.
Tak!
Maribel tersentak. Matanya terus mendongak ke atas. Mendapati Aldrich yang sudah berdiri di depan meletakkan kotak P3k di atas meja.
"Ini adalah kotak pertolongan pertama di negri ku.. sepertinya itu tetap bekerja walau manusia yang menggunakan" Aldrich mengambil kotak P3K tersebut dari kotak yang disiapkan madam Belinda untuknya yang berisikan segala jenis obat-obatan.
"Obati telapak tangan mu dengan itu" Setelah mengatakan hal itu, Aldrich berbalik. Berpikir untuk langsung pergi.
Tapi mendengar kan...
"Boleh bantu aku menggunakannya?"
Aldrich terus mengehentikan langkahnya.