CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|51|. Istri Naif Ku



"Sulit bagiku membedakan hitam dan putih, juga...aku belum tau harus berbuat apa"


Begitu saja, Aldrich mengangkat tangannya dan memeluk lembut tubuh kecil yang tengah bersandar padanya itu.


"Haa, aku lelah..." Maribel memejamkan matanya. Tak lama hingga dengkuran halusnya memenuhi kamar besar Aldrich yang hening.


Aldrich menunduk, matanya bertemu dengan wajah cantik Maribel yang sudah tertidur pulas di dadanya. Lembut dia mengangkat tubuh wanita itu dan memindahkannya ke ranjang.


Menarik selimut, dia menyelimuti tubuh wanita itu dan merenungi wajahnya. Tangannya menyisir surai rambut wanita itu dan se-jejak rasa kasihan muncul di hatinya.


"Kedepannya, aku akan melindungi mu..."


Jempolnya mengusap lembut pipi Maribel yang hangat.


"Istri naif ku"


Malam itu, Aldrich tidak menyadari. Bahwa berawal dari rasa kasihan nya... telah mengubah segalanya.


Pagi hari datang bertandang. Maribel masih terbuai dalam bunga tidurnya sedang Aldrich sudah lama bangun. Dia sudah mandi dan turun ke lantai bawah.


"Tolong siapkan semangkuk bubur dan bawa ke kamar ku" Ucapnya pada Madam Diana yang sedang menata gelas dan mengisi gelasnya dengan darah rusa.


"Anda memiliki tamu?"


"En. Maribel. Gadis tempo hari"


"Ah, baik tuan. Akan saya siapkan"


Selepas sarapan, Aldrich pergi meninggalkan kastil. Sebelum itu dia berpesan pada Diana untuk tidak membiarkan Maribel pergi dan beristirahat saja di kamarnya.


Aldrich mengemudikan mobilnya ke titik lokasi kejadian semalam. Dia meminta Tommy untuk datang membawa beberapa orang yang dapat membantunya melakukan sesuatu.


Seorang pria yang katanya adalah tukang bengkel langganan Tommy, sedang memeriksa kerusakan mobil Merah milik Maribel.


Aldrich berdiri di samping Tommy, sama-sama menunggu dan menonton.


"Kau menemukan sesuatu?" Tanya Aldrich, ketika melihat pria itu sudah bangun dan melepas kedua sarung tangan nya.


"Ya" Pria itu mengangguk, "Seseorang telah melakukan sesuatu pada mobil ini. Tepatnya pada bagian rem nya"


Aldrich sudah menduga itu, mengingat cerita Maribel semalam.


"Apa ini bisa dijadikan bukti kejahatan?" Tanya Aldrich pada Tommy.


"Tentu saja bisa"


"Aku akan mencoba mencari siapa dalangnya, untuk itu kedepannya... sepertinya aku harus merepotkan mu"


"Tidak masalah. Saya senang dapat membantu anda tuan Aldrich"


Aldrich tersenyum. Setidaknya untuk kedepannya, dia tidak perlu lagi menghubungi paman angkat nya yang sok sibuk itu jika ada hal-hal.


Setelahnya Aldrich masuk kedalam mobilnya dan berambus pergi ke kediaman Maribel. Setibanya di depan, dia tidak diperbolehkan masuk oleh security atas alasan tuan rumah sedang tidak ada di dalam.


Aldrich langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi Maribel.


Saat itu Maribel sudah bangun dan sedang menikmati sarapan bubur ayam yang disiapkan Diana untuknya. Dia makan sambil memainkan ponsel di tangannya.


Mendapati panggilan dari Aldrich, dia mengerutkan keningnya dan mengangkat.


"Kenapa menelpon ku? Sudah merindukan ku un?"


Maribel tersenyum manis dan menyendok bubur ke dalam mulutnya.


Aldrich memutar bola matanya bosan, "Aku didepan rumah mu sekarang"


Maribel langsung menjatuhkan sendok di tangannya ke mangkuk, "Kau di rumah ku?"


"Aku ingin masuk, tapi security mu melarang ku" Aldrich melirik sekilas ke bapak security yang masih berdiri di depan pagar.


"Kenapa kau datang kerumah ku?"


"Tidak, kau suamiku. Tentu saja boleh masuk"


"Kalau begitu katakan pada security mu.." Aldrich menyalakan loudspeaker dan mendekatkan ponselnya ke hadapan security itu agar mendengar.


"Pak, dia adalah su—" Maribel hampir saja lupa kalau dia harus merahasiakan identitas Aldrich yang merupakan suaminya, "Dia adalah pacar ku. Biarkan dia masuk"


"Nona muda anda sudah memiliki pacar?"


"Um, jadi biar kan pacar ku masuk"


Seperti itu, security membuka pagar dan membiarkan Aldrich masuk.


"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Maribel penasaran.


"Apa di kawasan rumah mu ada CCTV?"


"Ada"


"Di mana terakhir kali kau memarkirkan mobil mu?"


"Di dekat air mancur"


"Titik itu masuk dalam jangkauan CCTV?"


"Ya. Kediaman ku memiliki sekitar sepuluh CCTV untuk bagian luar"


"Di mana aku bisa memeriksanya?"


Maribel menautkan sepasang alisnya, "Di pos security. Tapi sebentar..."


"Kenapa?"


"Hampir semua pekerja di kediaman ku adalah orang-orang bibiku. Takutnya..."


"Aku mengerti"


Tap!


Aldrich langsung memutuskan talian.


Maribel mengedipkan matanya, "Haa, caranya mengakhiri panggilan buruk sekali"


Aldrich mendatangi pos security. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, "Saya belum sarapan. Boleh tolong anda belikan roti dan kopi?"


"Tapi saya harus berjaga"


"Saya akan menunggu disini"


Security itu diam.


"Kau dapat menggunakan mobil ku jika perlu" Aldrich mengeluarkan kuncinya dari saku.


Security itu langsung tergiur. Bisa kapan lagi mengendarai mobil mahal seperti itu.


"Baik" Dia tersenyum dan mengambil kunci serta lembaran yang diserahkan Aldrich.


"Sisanya ambil saja untukmu"


"Terimakasih tuan" Security itu mengangguk senang dan pergi.


Aldrich tersenyum dingin, melihat kepergian security tersebut. Kemudian dia melangkah masuk ke dalam pos penjagaan dan pergi melihat rekaman CCTV.


Tak butuh waktu lama hingga dia mendapatkan...


Apa yang dia butuhkan.


......................