
Sementara Luna bekerja, Noah sedang pergi menemani Yulia berbelanja di sebuah mall di Kota Jakarta, lalu beristirahat dengan minum di sebuah cafe.
Noah tiba-tiba melihat seorang paman keren yang duduk di meja yang bersebelahan dengannya. Pria itu berbicara dengan seseorang yang terlihat lebih tua darinya.
"Oh! Itu adalah paman keren yang ku lihat di pintu masuk hotel!" Noah memberitahu Yulia sambil menunjuk Nathan.
Nathan sempat menoleh pada Noah lalu mengabaikannya.
"Hush, jangan sembarangan menunjuk orang." Yulia memberitahu Noah dengan berbisik. "Tante harus pergi menemui seseorang sebentar di sana, kamu tunggu disini dan jangan nakal ya!" Wanita itu berpesan lalu pergi ke dekat pintu masuk dengan terburu-buru.
"Tuan Nathan, Anda harus minum obat secara teratur dan tepat waktu. Kondisi Anda sudah membaik ketika Anda datang untuk konsultasi sebelumnya. Mengapa Anda tiba-tiba kehilangan kendali lagi? Apakah Anda berhenti minum obat?" Rupanya Nathan sedang berbincang dengan dokter pribadinya. Baiklah konsultasi dengan dokter tidak harus selalu di rumah sakit bagi orang-orang tertentu.
Nathan menatap dokter tua yang sedang mengomel. Dia mengerutkan alisnya dengan kesal. "Aku berkonsultasi bukan untuk menerima omelan."
"Tuan Nathan, saya harus memberitahu Nyonya jika Anda terus mengabaikan saran saya. "Dokter tua itu menghela nafas, menggelengkan kepalanya.
Nathan malah terlihat semakin kesal. "Kamu berani?"
Dokter tua itu merasa merinding karena tatapan Nathan yang berbahaya. Dia mengalihkan pandangannya dan terbatuk ringan, "Nyonya secara khusus mengatakan kepada saya untuk memberitahunya jika Anda tidak mendengarkan saya. ”
Kemarahan Nathan hampir meledak lagi, ketika dia mengucapkan kata, "Kalau begitu beritahu saja."
Dokter tua itu tidak bisa mengatakan apa-apa sebelum suara anak kecil menyahut. “Jadi pamannya keren takut minum obat? Itu sangat memalukan. Kamu tidak seberani aku! ”
Nathan berbalik untuk melihat Noah. Dia mengangkat alisnya dan berkata dengan dingin, "Bocah kecil, tahukah kamu dengan siapa kamu berbicara?"
Noah melipat kedua tangannya di dada. Dia bahkan tidak sedikit pun takut pada Nathan yang memiliki aura yang kejam. Bocah itu mencibir lalu berkata dengan serius, “Memangnya kenapa? Aku tidak takut pada seorang paman yang bahkan tidak berani minum obat. ”
Nathan menyipitkan matanya lalu menyeringai, "Siapa bilang aku tidak berani minum obat?"
Dokter mendengar kata-kata Nathan dan dengan tergesa-gesa menyerahkan tas obat yang dia bawa ke hadapan pria itu. "Tuan Nathan, tolong ingat untuk minum obat Anda secara teratur dan tepat waktu.”
Nathan memelototi dokter tua itu.
"Maaf, saya harus kembali ke rumah sakit karena ada jadwal konsultasi lainnya. Permisi." Dokter tua itu hanya tertawa kecil sebelum pergi dengan tergesa-gesa saat dia mengacungkan ibu jari pada Noah.
Noah mengangkat dagunya ketika dia melihat Nathan menatap tas obat di tangannya dengan jijik. “Paman yang keren, sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan ketika kamu minum obat. Tapi aku bisa mengerti sedikit perasaanmu," katanya lalu mengangkat bahu sekali. "Lagipula, tidak semua orang memiliki ibu cantik seperti ibuku yang pandai membuat camilan setiap kali aku minum obat."
Sinar matahari keemasan mendarat di wajah Noah. Saat itu Nathan merasakan keakraban ketika dia menatap bentuk wajah bocah itu. Bocah ini agak mirip dengannya ketika kecil.
Namun, Nathan tidak pernah menyukai anak-anak. Dia juga tidak memiliki kesabaran untuk berbicara mereka.
Nathan hendak pergi ketika anak itu berbicara lagi, “Meskipun kamu tidak setampan aku, tapi kamu lebih tinggi dariku. Seharusnya kamu bisa melindungi ibuku dengan baik. ”
"Apa?" Nathan mencibir.
Noah mengambil ponsel yang tergantung di dada dan tangan kecilnya dengan cepat menekan beberapa kali di telepon. "Sini, aku akan membiarkan paman melihat ibuku. ”
Nathan mulai menganggapnya lucu. Namun ekspresinya tetap arogan, "Anak kecil, kau harus menyimpan foto ibumu untuk diri sendiri!"
Noah berdecak. Paman keren ini agak sulit ditangani!
"Baiklah, tidak masalah jika paman tidak ingin melihatnya," kata Noah setelah mendengus dan memandang sinis pada Nathan. " Lagipula, ada banyak paman tampan yang ingin mendekati ibuku. Tidak perlu kamu."
Nathan malah tertawa, "Paman lain tidak akan pernah setampan aku."
“Ibuku memiliki kecantikan terhebat di dunia."
Nathan tidak tertarik, "Berapa umur ibumu?"
“Dia berusia... aku tidak tahu, yang jelas dia sangat cantik.”
Nathan mendengus dingin di hatinya. Wanita lain melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Tetapi wanita yang satu ini malah mengirim anak laki-laki sekecil itu untuk mempromosikan diri kepadanya?
"Kembalilah dan beri tahu ibumu bahwa aku tidak tertarik pada seorang wanita yang memiliki pikiran licik." Nathan berdiri untuk pergi.
Dia bahkan belum mengambil beberapa langkah ketika bocah kecil itu berlari dan menghalangi jalannya.
Nathan bertolak pinggang. “Minggir, Nak."
Jika itu orang lain, mereka pasti akan gentar pada aura dominan Nathan. Namun, anak nakal di depannya sama sekali tidak takut. Dia hanya menatapnya dengan sepasang mata hitam besar sambil merengut.
Sikap keras kepala dan tak kenal takut dari bocah itu mengingatkannya pada wanita yang membuatnya tidak bahagia kemarin.
Memikirkan Luna, Nathan melirik anak nakal itu sekali lagi. Mengapa bocah nakal ini juga terlihat seperti wanita itu? Dia membungkuk sedikit. Matanya bergerak ke layar telepon yang dipegang anak itu.
Foto yang dibuka Noah adalah foto yang diam-diam disalin dari ponsel ibunya. Itu adalah foto pribadi yang dimiliki Luna, dan tidak dibagikan di mana pun.
Di foto itu, Luna mengenakan bikini dengan kemeja putih menutupi bagian atas tubuhnya. Berdiri di pantai dengan rambut dan tubuh yang basah karena air. Disana Luna tersenyum lebar dan alami dengan lesung pipi yang indah.
Nathan merebut ponsel bocah itu dengan cepat. "Apa hubunganmu dengannya?"
Noah memandang Nathan seolah-olah pria itu bodoh lalu mengangkat alisnya, "Bukankah sudah kubilang dia adalah ibuku?"
"Dia ibu atau kakak perempuanmu?" Nathan masih tidak percaya.
Noah mengedipkan matanya yang besar saat pikirannya berpacu. Jika dia mengatakan bahwa Luna adalah ibunya, akankah lelaki itu membencinya karena memiliki anak sebelum menikah? Agar aman, Noah menjawab, "Tentu saja dia kakak perempuanku!"
"Bagaimana dengan orang tuamu?"
“Aku belum pernah bertemu ayahku sejak aku lahir. Dia mungkin pria jahat, aku baik-baik saja selama aku punya kakak." Noah setengah jujur setengah berdusta. "Kau bodoh jika tidak suka pada kakakku."
Nathan mengangkat bagian belakang kemeja Noah dengan satu tangan. “Anak kecil, jangan bicara padaku dengan sikap tidak sopan lagi!”
Noah cemberut, “Mereka yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah adalah orang jahat. Ah, aku agak ragu apakah aku harus memperkenalkan kakak ku padamu. ”
Nathan menurunkan Noah di lantai dengan ekspresi dingin. "Dia sengaja mengirimmu padaku?"
Kemarin Luna bersikap keras dengan menolaknya, tapi sekarang malah mengirim bocah kecil ini? pikir Nathan.
Noah tidak mengerti maksud Nathan. Namun, entah kenapa dia merasa pria ini berbeda dari semua paman yang dia lihat mendekati ibunya.