
Luna berjalan cepat ke kamar kecil untuk membersihkan kemejanya. Ia masih dalam tahap training, semua hal baik tentangnya diperlukan untuk membangun citra dan mendapatkan menilai sebagai profesional.
Luna mengerutkan bibir saat ia mengusap lembut noda kopi di bajunya dengan ekspresi kesal. Setelah mencuci sebagian besar noda itu, pakaian yang dibasahi air menjadi transparan.
“Kamu di sini untuk bekerja? Kenapa pakaianmu begitu basah? ”Sebuah suara lembut datang dari belakangnya.
Luna mendongak dan melihat seorang gadis berdiri di sampingnya melalui pantulan cermin.
"Apakah kau mau ku pinjamkan kemeja lain?" Gadis itu bertanya dengan suara rendah, mengedipkan matanya dan menatap Luna dengan polos.
Luna mengangguk. "Bolehkah?" ia memang membutuhkan kemeja lain, pakaian basah dan transparan terlalu memalukan untuk dipakai bekerja.
"Tentu." Gadis itu memberikan kemeja cream yang terlihat jauh lebih mahal.dari milik Luna.
"Terima kasih.”
"Sama-sama, namaku Tia." Gadis itu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Luna.
Keduanya berbincang sebentar, lalu Luna memutuskan kembali bekerja karena sekarang sudah sangat telat untuk memulai pekerjaan. Ia tidak mengenal siapa gadis penyelamat ini, yang jelas, hampir dua Minggu ia berkerja disini, belum pernah sekalipun ia melihatnya.
Mery menarik Riska dengan kesal, "Mery, kamu sudah punya ide untuk membuat Luna meninggalkan perusahaan ini?" Mereka baru saja berganti pakaian saat Luna sedang sibuk membawa berkas untuk difotokopi.
Riska berbisik pada Mery, memberitahu ide kotor yang bersarang di kepalanya.
Mata Mery membesar dan dia bertepuk tangan setuju. “Ris, kamu benar-benar pintar! Jika rencana itu sukses, Luna akan memiliki noda yang tidak bisa dihapus dalam hidupnya setelah ini dan tidak ada perusahaan lain yang berpikir untuk mempekerjakannya di masa depan!"
Riska menyeringai jahat. Dia penuh percaya diri bahwa rencananya akan sukses total. Dia pasti akan membuatnya dikeluarkan dari perusahaan ini dengan cara yang paling memalukan.
"Kau, tunggu saja, akan ada pertunjukan yang bagus!" Kemarahan dan rasa malu Riska hilang sedikit ketika memikirkan apa yang akan terjadi. Mereka hanya perlu bersabar.
...* * *...
Sore hari, ketika semua orang telah selesai bekerja. Luna merasa lelah dan berjalan ke kamar mandi, setidaknya untuk membasuh wajahnya sebelum ia pulang ke rumah.
Saat dia menunduk untuk menyeka wajahnya dengan air di wastafel, embusan angin dingin yang tajam bertiup ke arahnya tepat ketika dia menoleh, tamparan keras mendarat di pipi kanannya.
Rasa sakit yang berapi-api menyebar seketika di wajahnya. Dia terjatuh, saking kerasnya tamparan itu.
Beberapa orang yang berada di dalam toilet mendengar dan menghampiri Luna, termasuk Miranda, mereka semua bingung, mengapa seseorang memukulnya?
Riska menunjuk Luna dan berteriak dengan marah, tanpa memedulikan semua orang. "Ibu Miranda, bukankah Anda yang selalu berbicara tentang standar tinggi? Tidakkah Anda tahu seperti apa wanita ini? Apa dia yang memiliki kepribadian yang patut dipertanyakan? Apa memiliki wajah cantik saja sudah cukup untuk diterima bekerja di perusahaan ini?”
Miranda mengerutkan alisnya. Dia tidak senang dengan sikap Riska. “Nona Riska, apa Anda mempertanyakan kemampuanku dalam merekrut orang? Anda sebaiknya mengklarifikasi dengan jelas tentang apa yang Anda maksud dengan kata-kata menuduh itu. Bagaimana kepribadian Luna dipertanyakan?"
Lima sidik jari merah cerah telah muncul di kulit halus Luna setelah tamparan keras dari Riska. Meninggalkan bekas marah, merah dan bengkak. Sisi bibirnya juga berdarah.
Luna menyeka darah di sisi bibirnya. Dia tidak marah tanpa kendali. Dia hanya menatap Riska dengan mata yang begitu sinis. Lalu berkata dengan suara tajam dan dingin, "Riska, apa maksudmu berbicara seperti itu? "
Dia tidak terlihat takut sama sekali saat dia berdiri di hadapan Riska yang sombong tak tertahankan. Bahkan, Riska tampaknya sedikit gentar.
Jumlah penonton meningkat, dan ada beberapa pasang mata yang menatap Luna.
Riska mengejek dengan dingin saat melihat Luna, tatapannya dipenuhi dengan kebencian. "Kau pura-pura lugu? saking sombongnya, kau bahkan tidak mengenalku saat kita belajar di kampus yang sama? Apa kau pikir aku tidak tahu seperti apa dirimu sebenarnya?"
Ekspresi Miranda dan beberapa karyawan lainnya sedikit gelap ketika Riska mengatakan bahwa "Wanita ini adalah seorang ibu tunggal, ia bahkan tidak tahu siapa ayah dari anaknya."
Luna memperhatikan tatapan orang-orang di sekitarnya yang menjadi curiga, sudah menghakiminya.
Tatapan Riska seakan berapi-api ketika dia melanjutkan dengan tenang, “Ibu Miranda, Anda tidak ingin nama perusahaan ini buruk dimata publik karena mempekerjakan karyawan tidak bermoral bukan?"
Lirikan penuh curiga dipusatkan pada Luna saat Riska melanjutkan omelannya, “Kau jelas-jelas menggoda seorang lelaki tua dengan menggunakan penampilanmu yang cantik, meskipun usiamu masih muda, kau mendapat dukungan keuangan dengan cara yang tak tahu malu, aku jelas-jelas melihatmu diantar oleh mobil spot yang mustahil dimiliki oleh pria muda, dia pasti om-om yang membayarmu kan?"
"Aku tidak pernah menjual diriku pada siapapun." Luna mengenaskan.
"Lalu bagaimana dengan putramu? Apa kau menolak mengakuinya? Siapa ayahnya?"
Luna ingin sekali menyangkal, tapi ada rasa bersalah yang besar bersarang dihatinya jika ia menolak mengakui Noah.
"Aku sudah tahu tentang itu," sahut Miranda dengan tenang, sebenarnya ia tidak benar-benar tahu tentang hal ini. Yang jelas, CEO menugaskannya untuk membantu Luna dalam situasi apapun, selamatkan saja dulu, pikirkan hal lainnya nanti, ucap Miranda dalam hati.
"Lagipula, kita mempekerjakan seseorang yang benar-benar bisa menjalankan perusahaan dengan baik, terlepas bagaimana Nona Luna di masa lalu, selama itu tidak merugikan perusahaan, maka ia akan tetap bekerja disini," lanjut Miranda.
Sebenernya ada sedikit perasaan heran dihatinya, tentang apa yang CEO ingin lakukan dengan mempekerjakan Luna, ia bahkan memberinya perlakuan khusus.
"Bukankah sudah jelas statusnya akan merugikan perusahaan?" Kali ini Mery yang buka suara.
"Biarkan para atasan yang memikirkan ini, kalian hanya staf tidak usah repot-repot pusing dengan hal yang bukan urusan kalian." Miranda dengan tegas menjawab Mery.
Semua orang terdiam, lalu satu persatu melangkah pergi meninggalkan kerumunan, kali ini Luna benar-benar kehilangan kekuatannya untuk membela diri, ia tidak bisa menyangkal juga tidak berani mengatakan apapun jika mengangkut tentang putranya.
Berita begitu cepat tersebar bahkan hingga ke kantor CEO.
Daffa telah mendapatkan laporan tentang insiden tadi dari sekretarisnya. "Apa benar wanita itu seorang ibu tunggal?"
"Hmm.." Nathan hanya menjawab dengan bergumam.
Perusahaan ini begitu luas dan memiliki dua gedung menjulang seperti menara yang disebut Neptunus A dan Neptunus B, gedung A hanya ditempati CEO beserta petinggi perusahaan lainnya, sengaja dibuat terpisah hingga tidak terjangkau oleh karyawan biasa. Semua itu karena Nathan adalah tipe CEO yang tidak ingin terlalu terekspose untuk hal-hal yang tidak penting.
"Lalu?" Daffa bertanya lagi.
Nathan hanya mengangkat bahu dengan sikap acuh tak acuh.
"Terserahlah, aku hanya mengingatkan ada rapat penting di sore ini." Daffa mengabaikan masalah tentang Luna, ia tidak ingin terlalu penasaran karena Nathan juga tidak akan menjelaskan apapun.
Nathan mendengus dengan ekspresi dingin. "Tidak bisakah kau lihat bahwa aku juga punya urusan penting lain?"
Bisnis pentingnya adalah merayu seorang wanita?
Daffa menggerutu. "Jadi aku yang harus memimpin rapat?"
"Tentu!"
Daffa mencibir dengan kesal, "Kalau begitu aku akan pergi ke gedung B dulu untuk memastikan semuanya baik-baik saja."