CEO'S Baby

CEO'S Baby
Berbagi Dengan Noah.



Saat Luna keluar dari kamar, Nathan sedang duduk dan bermain bersama Noah. Tapi disana, pria itu melihat Noah dengan seksama sambil mengerutkan kening.


Luna memutuskan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam daripada harus bergabung dengan dua pria di ruang tamu.


"Luna, boleh aku tahu bagaimana kau bisa memiliki anak?" Nathan tiba-tiba berdiri di sebelah Luna dan menanyakan itu..


Jantung Luna berdegup kencang. Dia berpikir bahwa Nathan mulai mencurigai sesuatu.


“Ayahnya pergi!" Luna berkata dengan pelan, melirik pada Noah yang masih sibuk dengan video game nya.


Nathan menatapnya tajam. "Pergi kemana?"


"Aku tidak tahu." Luna berhenti memotong wortel karena tangannya gemetar.


"Kau menikah?" Nathan semakin menyelidiki.


"Kumohon, aku tidak punya kewajiban untuk menjawab semua pertanyaanmu kan?" Luna kehabisan alasan, ia sangat takut salah bicara hingga membuat Nathan semakin curiga.


Nathan menyipitkan matanya dengan tatapan menyelidiki, lalu mengigit bibir bawahnya sambil berpikir.


Tangan Luna mengepal kencang, Dia tidak bisa membiarkan pria itu mengajukan pertanyaan lagi, dia akan semakin curiga dan memutuskan untuk menyelidikinya. Seluruh sandiwara yang dia pakai selama ini akan sia-sia.


Tidak ada yang akan mempercayainya jika dia mengatakan wajah Noah mirip dengan seseorang yang bukan Nathan. Bahkan mungkin jika orang lain melihat foto masa kecil Nathan, maka mereka akan mengira bahwa itu foto Noah.


“Ada apa?” Nathan mencibir.


“Bagaimanapun masa laluku, itu bukan urusanmu. Bisakah kau berhenti bertanya?" Luna tersenyum tipis.


Tatapan Nathan berubah tegas. “Apa kau pikir..."


"Mama." Noah berteriak dan terdengar berlari ke dapur sebelum Nathan menyelesaikan kata-katanya. "Aku lapar."


Luna merasa lega dan sangat bersyukur. Bocah ini memang selalu menjadi malaikat pelindungnya. "Mama sedang masak sayur kesukaan Noah." Wanita itu menggendong putranya, lalu membantunya duduk di meja.


Nathan berkedip pada Noah satu kali, dan Noah langsung mengerti. "Mama, paman akan menginap disini kan?"


Luna melirik pada Nathan sebentar. "Tidak sayang, paman harus pulang, ini sudah malam."


Noah menarik pakaian Luna dengan wajah yang menyedihkan. “Mama, aku belum pernah melihat ayahku. Setelah aku mengenal Paman, dia membuat Noah merasa seperti memiliki Ayah."


Melihat pria kecil yang memiliki ekspresi kecewa di wajahnya, sudut bibir Luna berkedut.


Bocah itu tidak tahu bagaimana Paman yang dia panggil dengan sangat manis ini telah menggertak ibunya!


Luna tidak tahu mantra apa yang Nathan berikan pada Noah hingga bisa membuat bocah itu berpihak padanya!


"Mama, dirumah ini ada tiga kamar, aku akan tidur dikamar lain dengan Paman." Noah kembali mencoba meyakinkan Luna.


Luna tidak tahu apa yang salah dengan si kecil malam ini. Kenapa putranya harus tidur dengan Nathan? Apakah dia benar-benar menginginkan seorang ayah?


Tapi Luna masih memiliki trauma psikologis terhadap pria itu, “Sayang, paman sudah punya tunangan. Jika dia menginap bersama kita, tunangannya akan marah."


Noah memandang Nathan dengan mata ragu-ragu.


Nathan berbalik untuk menatapnya dengan alis terangkat dan ekspresi suram di wajahnya. "Siapa bilang aku punya tunangan?"


"Jasmine kan..."


Saat Luna menyebut Jasmine, Nathan bahkan lebih tidak senang. Dia memotongnya dengan suara dingin. "Bukan.”


Nathan tidak pernah memiliki kebiasaan untuk menjelaskan dirinya kepada orang lain. Sekarang pun ia tidak ingin menjelaskan lebih banyak.


"Bahkan jika bukan, kau tetap tidak bisa menginap.”


Nathan berjalan ke arah Luna. “Aku pikir Noah adalah pemilik sah rumah ini, jadi dia yang berhak menentukan siapa yang boleh dan tidak."


Luna memandang Noah yang cemberut karena ingin Nathan menginap. Dia menggigit bibirnya dan ingin mengatakan sesuatu ketika lelaki itu tiba-tiba membungkuk dekat ke telinganya dan berbisik, "Bagian mana dari dirimu yang belum pernah kulihat sebelumnya? kenapa masih belum terbiasa?"


Luna melirik Nathan dengan tajam, Bukankah tadi dia baru minta maaf? kenapa sekarang sudah kambuh lagi?


Nathan tersenyum sambil mengerlingkan satu matanya pada Luna, lalu mencubit pipi Noah. “Bro, kamu dan ibumu makan dulu. Aku akan menyusul setelah mandi. ”


Luna terdiam. Apa yang baru saja terjadi?


Setelah Nathan pergi, Luna menatap Noah dengan wajah serius. “Kamu jujur ​​saja bilang pada Mama, apa kamu diancam olehnya? Kenapa kamu ingin dia menginap?"


Noah menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tajam, "Ini adalah rahasia di antara para laki-laki, aku tidak bisa membiarkan seorang wanita tahu!"


Berapa lama mereka saling kenal? Mereka bahkan punya rahasia bersama sekarang?


"Sayang, apakah kamu tidak takut padanya?"


"Kenapa aku harus begitu? Paman hanya terlihat galak di luar, tapi aku merasa dia pria yang baik!”


Luna menunduk dan merasakan sedikit kesal di hatinya.


Mantra apa yang Nathan berikan pada Noah? Dia jelas-jelas galak, tetapi bisa membuat Noah menyukainya, itu tidak mungkin!


“Mama sepertinya tidak terlalu menyukai Paman. Ada apa, apa dia jahat padamu? ”


Bagaimana mungkin Luna mengatakan yang sebenarnya? jadi dia hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan, "tidak."


"Jika Paman jahat pada Mama, Mama harus memberitahuku dan aku akan memukulinya." Noah mengangkat tinjunya yang kecil.


Luna menatap bocah lelaki yang entah bagaimana tidak bisa dia bantah.


SEKITAR SETENGAH JAM KEMUDIAN.


Nathan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah.


Pria itu memasuki kamar yang ia janjikan akan berbagi bersama Noah, tapi disana Noah sudah tertidur di pelukan Luna. Wanita itu memegang buku di tangannya dan membacakan cerita untuk si kecil dengan suara lembut.


Luna menoleh pada Nathan, tatapan lembutnya segera menjadi waspada.


Pria itu mengenakan jubah mandi yang diikat longgar, memperlihatkan dadanya yang kuat dan otot perutnya yang terpahat. Sebelumnya, Nathan memang menghabiskan sebagian besar waktunya di apartemen ini dibandingkan dengan rumahnya sendiri. Jadi ia memiliki barang-barang kebutuhannya lengkap disini.


Luna mengalihkan pandangan darinya. "Noah tertidur, kamu bisa pulang."


Namun Nathan melemparkan sebuah botol kecil kepada Luna, wanita itu mengerutkan bibirnya, tidak mengerti apa yang pria ini maksudkan.


“Itu obat memar. ”


Jejak kepahitan dan cemoohan muncul di sudut bibir Luna. “Hadiah setelah hukuman?"


Nathan pergi ke tempat tidur dan menatap wanita itu. “Hari itu aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan."


Luna bergeser. "Apakah aku menjelaskan atau tidak, itu tidak bisa menjadi alasan bagimu untuk mempermalukan aku!"


Nathan menundukkan kepalanya, wajahnya mendekati Luna. Wanita itu otomatis turun dari tempat tidur, namun Nathan meraih lengannya. "Lain kali jika membuatku cemburu lagi bukan tidak mungkin itu akan terulang."


Luna ingin menamparnya, namun Nathan meraih pergelangan tangannya tepat waktu, dan tersenyum tipis. “Jika kamu dapat menanggung akibat dari memukulku, silahkan.”


Wanita itu memelototinya dengan marah namun tidak berani memukulnya.


Nathan mencubit ujung hidung Luna, tatapannya mengancam, seolah mengatakan, Aku tahu kamu tidak akan berani. Pria itu menarik Luna keluar kamar dan berkata dengan suara rendah. "Jangan berisik, kau tidak ingin membangunkan bocah itu kan?"


"Apa yang kamu inginkan?"


“Aku akan memakaikan obatnya untukmu.”


"Aku bisa melakukannya sendiri.”


"Bisakah kau mencapai punggungmu?" Nathan tidak mengizinkannya untuk mengatakan hal lain, dia mengangkat top piyama, membuka botol dan menerapkan obat pada memar Luna.


Setelah selesai memakaikan obat, Nathan pergi ke kamar dan berbaring di sisi Noah, matanya terpejam seolah dia tertidur.


Luna memeriksa setelah beberapa saat, membelai kepala Noah. Bisakah aku membiarkannya tidur disamping pria ini? Luna sedikit merasa cemas. Ia merasakan kantuk yang luar biasa hingga ia ikut terlelap disamping putranya.


...* * *...


DI TENGAH MALAM.


Nathan tidak bisa tertidur. Ketika ia membuka matanya. Pria itu melihat kepala Noah di dada Luna dengan air liur mengalir keluar dari mulutnya yang kecil, pria itu mengerutkan kening dengan ketidakpuasan.


Meskipun dia adalah putranya, dia tidak diizinkan untuk bersandar seperti itu.


Di sana, mulai sekarang, hanya milikku. Nathan bergumam pelan.


Nathan melihat ruangan di sebelah Luna masih tersisa sedikit, pria itu pindah untuk mendapatkan posisi tidur yang lebih baik dengan Luna berada ditengah-tengah antara ia dan Noah.


"Ini baru adil." Pria itu bergumam pelan dan menyeringai.