
"Dimana tepatnya rumah wanita itu?" Nathan berjalan dengan beberapa pengawal yang mengikuti di belakang, mendengarkannya dengan penuh hormat ketika pria itu bicara.
Hari ini Nathan ingin berbicara dengan Luna dan kebetulan dia tidak bekerja, karena itu Nathan mencarinya sampai kemari.
“Kamar nomor 102, sebentar lagi kita sampai. Kami sudah memastikan sebelumnya." Salah satu pengawalnya menjawab ketika mereka berada di apartemen sederhana tempat Luna tinggal.
Yulia yang berjalan di belakang mereka mendengarnya. Pria itu mencari Luna?
Yulia mengejar Nathan dengan tergesa-gesa. "Permisi, apakah Anda mencari Luna?"
Nathan sepertinya tidak punya niat untuk berhenti menanggapi Yulia.
Yulia berbicara sekali lagi dengan suara yang lebih lembut, “Saya sahabat Luna Karena Anda akan menemuinya, bagaimana kalau kita pergi bersama?”
Nathan berhenti berjalan lalu memandang Yulia, menyipitkan mata hitamnya yang dingin, "Kamu sahabatnya?"
Yulia mengangguk.
"Kalau begitu apa hubungannya Luna dengan bocah laki-laki cerewet kemarin?"
"Bocah laki-laki?" Yulia mengerutkan dahinya. "Noah?"
"Aku belum sempat menanyakan namanya."
Yulia mengambil ponselnya lalu mencari foto Noah di galery. "Bocah ini?"
"Benar."
Yulia tidak tahu mengapa pria ini menanyakan itu, tapi dia menjawab dengan jujur, "Luna adalah ibu Noah. Anda mengenalnya?"
Seketika langkah Nathan terhenti dan dia berbalik lalu pergi tanpa menjawab Yulia.
...* * *...
Nathan kembali ke kantornya.
Di dalam sebuah ruangan besar dan mewah, suasana yang melingkupi Nathan sunyi. Tidak ada yang berani berbicara dengannya tanpa perintah.
Terutama hari ini. Begitu dia memasuki ruangannya, Nathan memancarkan aura berbahaya yang membuat orang menjauh.
Nathan bersandar di sofa, dahinya berkerut, rahangnya kencang, menampilkan ekspresi yang menakutkan meski ia tampan.
Daffa memandang pria di hadapannya dengan heran. Dia tertawa jahat. “Sepupu, kamu memberikan tampilan seperti mafia, apa kamu tidak tahu berapa banyak dari wanita yang ingin bersamamu? Bersenang-senanglah."
Nathan berkata dengan acuh tak acuh, "Apa hubungannya denganku?"
"Ck ck ck, kau tidak tertarik pada wanita? jangan bilang rumor yang beredar itu benar. Apa kau diam-diam jatuh cinta padaku?"
Nathan memelototi Daffa. "Pergi sana!"
"Atau kamu diam-diam punya pacar? apa dia pria?"
Nathan mendengus dan tatapannya semakin tajam. "Daffa, apakah kau ingin mati? Aku bisa dengan mudah mengabulkan keinginanmu."
Daffa mengangkat tangannya menyerah sebelum Nathan benar-benar membunuhnya. “Oke, oke, aku salah! Kamu tidak mencintaiku atau pria lain, apakah itu berarti kamu tertarik pada gadis yang hampir mati ditanganmu?”
Nathan menghela napas dan memandang sepupunya dengan tatapan seorang pembunuh. Dia tidak mengakui atau menolak kata-kata menyelidik Daffa.
"Apakah kamu tergoda?" Daffa semakin penasaran.
BANG!
Nathan melempar gelas dari meja, dan anggur mahal di samping gelas itu ikut terguling ke lantai, pecah berserakan.
Ekspresi Nathan sadis dan mengancam. "Tidak bisakah kau diam?"
Nathan melempar barang lain sekenanya ke arah pintu.
"Wanita yang licik, jadi dia seorang ibu tunggal?" Pria itu mendesis sebelum ponselnya berdeting.
Daffa mengintip dari sela pintu, penasaran dengan apa yang dilakukan sepupu pemarahnya itu.
Di dalam ruangan, wajah Nathan yang memiliki ekspresi dingin tadi, tiba-tiba memberikan senyum yang terlihat sangat aneh bagi Daffa.
Ini menggelitik keingintahuan pria iseng itu sepenuhnya. Siapa yang mengirim sesuatu pada Nathan? Bagaimana bisa tersenyum seperti itu?
dia tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya dan memutuskan untuk mencari tahu.
Nathan telah menerima pesan yang berisi foto Luna, wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dan mengenakan kimono. Rambut panjangnya basah. Dia memegang handuk kecil dan menyeka rambut dengan kepala dimiringkan.
Nathan menatap ponselnya untuk waktu yang lama. Saat layar menjadi gelap, dia menyentuhnya agar terang kembali.
Wanita yang baru saja mandi itu tampak sangat menarik, mempesona tanpa riasan. Sosoknya yang berbalut kimono ramping dan cantik, sama sekali tidak seperti wanita yang pernah melahirkan anak.
Tiba-tiba, seseorang mengulurkan tangan dan mengambil ponsel dari tangan Nathan.
Sebelum Daffa dapat dengan jelas melihat seperti apa wanita itu dalam gambar, Nathan berhasil merebut kembali ponselnya. Pada saat yang sama, Daffa mendapat tendangan di kakinya.
"F * ck, hei kau tidak perlu menendangku begitu keras!" Daffa berteriak kesakitan, "Kapan aku menyembunyikan gambar porno darimu? Orang yang kamu lihat pasti sangat seksi, perlihatkan padaku juga!"
Nathan menghela napas sambil bertolak pinggang, memandang Daffa dengan kesal.
"Baiklah baiklah . Tidak perlu memperlihatkannya padaku." Daffa mengangkat kedua tangannya lalu benar-benar pergi keluar ruangan.
Nathan duduk dengan malas lalu melihat ponselnya lagi. Wanita ini selain mengirim foto dirinya setelah mandi, ia tidak mengirim pesan apa pun. Bermain trik denganku lagi? pikir Nathan, ia mengerutkan kening dan merasa sedikit kesal.
Satu menit, dua menit, Nathan menunggu Luna mengirimkan pesan lainnya tapi tidak ada pesan apapun lagi. Karena itu dia membalas dengan "Kenapa mengirim foto itu?"
...* * *...
Disisi lain, wanita yang sedang dipikirkannya bergidik ketika dia merasakan sesuatu yang aneh, seakan ada seseorang yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
Melihat Noah, yang bermain-main dengan ponsel, Luna berjalan mendekat dan mengambilnya. “Sayang, waktunya tidur siang. ”
Noah mengerutkan keningnya dengan marah. Bocah inilah tersangka utama yang sudah diam-diam mengambil foto Luna setelah mandi dan mengirimkannya. Dihari sebelumnya ketika dia bertemu dengan Nathan di Cafe, kedua pria ini sempat bertukar nomor.
Paman keren itu seharusnya menjawab dengan sesuatu seperti 'Kamu cantik', 'Aku suka kamu', 'Bisakah kita berkencan', kan? Tapi dia menjawab dengan "Kenapa-kenapa mengirim foto itu?". Respons macam apa itu?! Noah menggerutu didalam hatinya.
Noah sudah menghapus pesan yang ia kirim dan memblokir nomor Nathan sebelum Luna mengambil ponselnya kembali. Berjaga-jaga takut pria itu mengirim pesan lain yang membuat ibunya marah. Ayah biologisnya adalah pria yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, tidak heran jika Noah mewarisi kecerdasan itu bahkan ketika ia masih berusia empat tahun.
Luna bahkan tersenyum dan bersenandung, sama sekali tidak menyadari bahwa dia hampir dikhianati oleh putranya yang berharga.
Nathan menatap WhatsApp-nya yang tidak responsif. Akhirnya, dia mengirim pesan lagi dengan simbol '?' lalu mengklik tombol kirim. Dia ingin bertanya pada wanita itu apa maksudnya.
Pemandangan di ponselnya adalah centang satu abu-abu, dan kini rupanya foto profil wanita itupun tidak terlihat lagi.
Daffa yang sedang berbincang dengan sekertaris cantik Nathan, menggoda sambil menggosok kakinya yang sakit. Tiba-tiba telepon paralel berdering. Sekertaris cantik itu mengangkat telepon dengan anggun.
"Suruh Daffa masuk." Nathan memerintah singkat lalu menutup telepon.
Daffa masuk ke ruangan dengan cepat. “Ada apa lagi?" tanyanya lalu bertolak pinggang dihadapan Nathan.
Nathan menyipitkan matanya yang gelap dan mengerutkan bibir. "Apa artinya ketika kamu mengirim pesan tapi hanya ceklist satu? dan foto profilnya tiba-tiba menghilang?"
"Ah," Daffa bergumam, menanggapi dengan serius, "Aku akan memberitahumu dengan jujur. Dengan berat hati ku umumkan bahwa kau telah diblokir." Pria itu menahan tawanya lalu mundur beberapa langkah, seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bang!
Nathan menghancurkan ponselnya di lantai, ekspresinya seperti awan mendung yang menggelegar. "Dia mempermainkanku seperti orang bodoh?"