CEO'S Baby

CEO'S Baby
Apa Kau Ingin Kembali Padaku?



Nathan meraih pinggang Luna dan melemparkannya ke dinding kaca, mengangkat kakinya dengan satu tangan. "Kau memanggilku? Apa karena merencanakan sesuatu?"


"Kau terlalu banyak berpikir Tuan, aku tidak merencanakan apapun." Luna tersenyum dan mencibir.


Pria itu mencubit dagunya, memaksanya untuk menatapnya dan berkata, “Biarkan aku memeriksa." Tangan lainnya meraih ke arah bagian bawah roknya.


Luna segera menjepit kakinya bersama dan pupil mata yang sedikit melebar. "Berhenti main-main. Aku benar-benar memintamu datang ke sini untuk membuatkanmu sarapan, bukan untuk menawarkan diri.”


Nathan tertawa rendah dan ekspresi liar muncul di wajahnya. "Bagaimana jika aku ingin memakanmu?"


Luna menatap matanya yang dalam dan jantungnya berdebar tak terkendali.


Ketika mereka saling memandang, Luna melilitkan kaki pinggang Nathan, jari-jarinya menyisir rambut pria itu dengan lembut lalu mengecup bibirnya sekali.


Nathan menundukkan kepala dan menciumnya dengan agresif.


Dia hanya membebaskan Luna ketika dia hampir kehabisan nafas. Pria itu bernafas berat dan tergesa-gesa, mengutuk dengan suara rendah sebelum berkata, “Aku sudah lama merindukanmu."


Tanpa menunggu Luna mengatakan sesuatu, dia menciumnya lagi, mendominasi seperti biasa dan tidak memberinya kesempatan untuk mengatur napas.


Luna tidak memiliki kekuatan untuk melawannya, juga tidak ingin. Tangannya melingkari leher Nathan dengan kuat agar tidak terjatuh.


Ciuman agresif ini berlangsung selama hampir lima menit sebelum akhirnya Nathan melepaskan Luna dan mengangkat roknya.


Ini adalah pertama kalinya Luna bersikap agresif seperti itu.


Tidak ingin melewatkan kesempatan, jari-jari Nathan menyentuh kulit halus di antara kakinya.


Luna menekan tangannya dan menolak untuk membiarkan pria itu melanjutkan. Dia bertanya dengan pandangan gigih, "Apa kau ingin kembali padaku?"


Nathan memandangnya dan berkata dengan suara rendah dan serak, “Bagaimana denganmu? Tiba-tiba kau memperlakukan aku dengan sangat baik, apa kau tidak takut aku akan menyakitimu lagi?”


"Aku takut." Luna mengatakan yang sebenarnya. Tetapi dibandingkan dengan ketakutannya, Luna lebih ingin bersamanya.


Dahi Nathan mengerut ketika dia mendengar jawabannya.


Luna melingkarkan lengan di lehernya lagi. "Tapi aku lebih takut tidak pernah melihatmu lagi.”


Keheningan terdengar di seluruh ruangan.


Mereka saling memandang untuk waktu yang lama.


Nathan tidak mengatakan apa-apa dan mulai mencium lagi.


Suasana tenang di sekeliling, kecuali suara bibir dan lidah mereka terjerat dalam intensitas yang membuat napas mendesah.


Namun tiba-tiba bel pintu berbunyi, Nathan ingin mengabaikannya tapi Luna bersikeras ingin membukakan pintu.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


Wajah Nyonya besar nampak begitu murka ketika melihat sepasang kekasih dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan, cukup untuk membuat orang berpikir kotor.


Nyonya Besar ada di sini?


Luna menggigil dan melepaskan tangannya dari Nathan dengan panik.


Melihat ibunya datang, Nathan berdiri diam.


"Ibu sedang apa disini?"


"Kau pikir bisa menyembunyikan sesuatu dari ibu?" Wanita itu menampar wajah putranya dengan keras.


"Aku akan mengantar ibu pulang dulu!"


Nathan bergegas menarik ibunya.


Nyonya Besar itu mengerutkan kening


Todak ingin berdiam diri dan tetap bersikap sopan, menempatkan dirinya sebagai kekasih Nathan, Luna mencoba untuk mengatakan sesuatu. "Ibu, maafkan kami, tapi jangan seperti ini padanya."


Wanita itu memandang Luna dengan angkuh. "Nona Luna, saya ibunya Nathan. Bukan ibumu.”


Luna tersedak. Dia tidak tahu apakah dia memang lancang. Sesaat Luna menggigit bibirnya dan berkata. "Maaf Nyonya Besar."


"Ibu dia..."


Wanita tua itu menyela, “Kami juga akan merawat Noah dengan baik dan memberimu imbalan yang setimpal, jadi tolong menjauh-lah."


Nathan dan Luna ternganga, bagaimana wanita tua ini bisa tahu bahkan Nathan sendiri pun belum lama mengetahui fakta bahwa dia adalah ayah biologis Noah.


"Ibu, apa yang kamu bicarakan?" Nathan memandang Luna dengan cemas. "Luna, jangan pikirkan itu."


Luna tersenyum tipis. "Noah tidak akan mengakui orang lain sebagai ibunya. Nathan juga tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi!"


Wanita tua itu memandang semakin benci kepada Luna. "Nona, Anda terlalu percaya diri."


"Sudahlah ibu." Nathan membentak. "Jangan membuat keributan disini." Nathan biasanya bukan seseorang yang penurut, tetapi kali ini ia tidak ingin Luna di cemooh oleh tetangganya. Jadi pria itu membawa ibunya


pergi dengan paksa.


Luna memutuskan untuk pergi ke toko bakery setelah Nathan dan ibunya pergi, namun ia tetap terganggu hampir sepanjang hari. Jelas bahwa wanita tua itu tidak ingin dia bersama Nathan.


...* ,* *...


Sore harinya, Luna menerima telepon dari Nathan.


"Mari kita bertemu di suatu tempat malam ini dan berbicara dengan baik!"


Karena Luna sudah lama ingin berbicara dengannya, tentu saja dia tidak menolak.


"Baik."


Setelah bekerja, Luna kembali ke apartemennya.


Dia hanya mandi dan mengenakan pakaian santai seperti biasa. Yulia sengaja membawa Noah ketika mendengar cerita sahabatnya itu. Ia tidak ingin Noah melihat mereka bertengkar seandainya itu terjadi.


Namun nomor tidak dikenal memanggil sebelum Nathan datang.


Luna mengangkat telepon dengan curiga.


"Apakah ini Nona Luna?" Suara seorang wanita terdengar dari telepon, "Saya ingin bertemu dengan Anda.”


Wanita tua itu bukan Nyonya Besar, karena penasaran Luna tidak menolak.


Ia pikir mereka masih bisa bicara sekitar lima belas menit sebelum Nathan datang.


"Dimana kau ingin bertemu denganku?" tanya Luna.


"Di taman apartemen mu saja," jawab wanita itu.