CEO'S Baby

CEO'S Baby
Kita Menikah Saja.



Semalaman, setelah memberikan pakaian ganti untuk Nathan, Luna langsung masuk kamar dan mengunci pintu lalu tidur.


PAGI INI...


Ketika Luna sedang membuatkan sarapan. Noah duduk di kursi makan dan mengomel. “Oh, Mama cantikku, Mama jatuh cinta pada Papa yang buruk lagi ya?”


Mendengar putranya mengomel, Luna tersipu dan melirik Nathan yang baru saja bangun dan duduk di sofa ruang tamu dengan rambut acak-acakan. Pria itu juga mendengar kata-kata putranya.


Luna telah memaafkan Nathan, tetapi si kecil tidak.


“Mama, tidakkah kamu mendengar bahwa Papa menikah dengan seseorang dan mengaku pada wanita lain selama upacara? Mama tidak boleh jatuh cinta lagi padanya!”


Ekspresi Nathan menjadi gelap. Apakah bocah ini ingin ditempeleng olehnya? Dia mengerutkan bibirnya dan berkata dengan dingin, “Wanita yang kamu bicarakan itu adalah ibumu.”


Noah menoleh dan mendengus sambil melihat penampilan pria yang baru bangun tidur itu. “Mama dan aku tidak menonton siaran langsung. Siapa yang tahu pada siapa Papa mengaku?" Mata hitam besar Noah menatap Luna lagi. “Apakah Papa berani mengatakannya lagi di depan Mama dan aku?”


Nathan terdiam. Rasanya dia ingin memasukkan bocah ini kembali ke perut ibunya!


Kata-kata yang dia katakan selama live-stream, telah menggunakan semua keberaniannya. Sulit baginya untuk mengatakan itu untuk kedua kalinya.


Dia bahkan bukan orang yang suka mengungkapkan perasaan.


Noah cemberut. “Mama, aku tahu, papa pasti tidak mengakuimu hari itu. Jika kamu menyukai seseorang, kamu akan mengatakannya dengan berani. Misalnya, aku suka Mama, aku akan mengatakan kepadanya, ‘Mama, aku suka kamu dan aku akan melindungimu selamanya’.”


Luna melirik ekspresi gelap Nathan dengan rahang terkepal. Dia lalu beralih menatap Noah. “Oke, cukup. Jangan menyulitkan papamu.”


Luna meletakkan sarapan yang dia buat di meja.


Pria yang diam itu tiba-tiba mengeluarkan kata-kata dengan suara kaku.


“Beberapa bulan yang lalu, seorang wanita muncul dalam hidupku… Aku bukan seseorang yang tahu bagaimana mengatakan hal-hal manis. Tapi, aku tahu dia satu-satunya yang akan kumiliki. Tidak ada hal lain di hatiku yang lebih pasti, dan aku tahu bahwa dia adalah satu-satunya untukku. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya. Dia satu-satunya wanita yang akan kumiliki. Sekarang, dan di masa depan juga. Aku tidak akan menikahi wanita lain selain dia.”


Tangan Luna yang memegang piring jadi membeku. Pikirannya kosong dan jantungnya berdebar kencang hingga dia hampir tidak bisa bernapas, bahkan sulit untuk berpikir. Wajah dan telinganya yang pertama bereaksi, berubah menjadi merah cerah. Dia sudah mendengar kata-kata itu di video, tapi saat mendengar Nathan mengatakannya secara langsung rupanya memiliki reaksi yang berbeda.


Kepala Noah jatuh di atas meja dan dia menggunakan tangan untuk menutupi kepalanya. “Oh tidak, Mama akan sangat tersentuh," katanya lalu bocah itu turun dari kursi dan berjalan ke kamar. "Lebih baik aku mandi dulu sebelum sarapan." Noah melambaikan tangan dan pergi masuk ke kamarnya untuk mandi.


Nathan tidak bisa melihat ekspresi Luna. Setelah selesai mengucapkan kata-kata yang telah dikatakannya selama upacara, ia tidak tahu harus bagaimana.


Tidak ada yang berbicara dan udara di sekitarnya begitu sunyi sehingga orang seakan bisa mendengar suara nyamuk yang terbang.


Hingga beberapa detik kemudian, Nathan melihat bahwa wanita itu masih diam lalu dia mengerutkan kening. “Kamu tidak suka mendengarnya?”


Luna berkedip dan menatap pria itu dengan serius. “Apakah kamu yakin itu untukku?”


Nathan terdiam.


“Kamu benar-benar tidak menyukai Jasmine sama sekali?” tanya Luna.


Nathan tidak mengerti mengapa Luna akan mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu. Jika dia menyukai Jasmine, untuk apa dia ada di sini?


Tapi dia tidak tahu bahwa hati wanita akan sangat sensitif dalam hubungan, terutama karena dia adalah kekasih masa kecil Jasmine dan mereka mungkin adalah cinta pertama masing-masing.


Tidakkah orang selalu mengatakan bahwa pria tidak akan pernah melupakan kekasih masa kecil mereka dan cinta pertama?


Nathan berdiri dan hendak pergi setelah memutar matanya.


Jauh-jauh dia datang ke Singapura hanya untuk diragukan, itu sangat membuatnya kesal.


Melihat bahwa Nathan hampir mencapai pintu, Luna berlari ke arahnya, menariknya kembali dan bergegas ke pelukannya.


Refleks, Nathan memeluknya kembali. Ketika Luna berjinjit dan melihat ke atas, ujung hidung mereka hampir bersentuhan dan dengan tangan di lehernya, Luna berinisiatif untuk mencium Nathan lebih dulu.


Ketika bibir mereka bertemu, Nathan tidak segera membalas ciuman itu tetapi menikmati ciuman atas inisiatif Luna sendiri, sampai beberapa detik kemudian, karena sifat naluriah Nathan adalah mendominasi, maka dia mengambil alih ciuman itu hingga Luna bahkan hampir terdorong olehnya.


"Kita kembali ke Jakarta saja ya." Pinta Nathan begitu bibir mereka terpisah. "Kita harus menemui Nenek dan meminta restu padanya."


"Meminta restu?" Luna mengerutkan kening.


Nathan mendengus. "Memangnya kau mau hubungan kita bagaimana? Kau berencana seperti ini terus? Tanpa masa depan?"


Saat Nathan bersikap seperti gadis yang merengek ingin dinikahi, Luna juga bersikap seolah dia adalah pria yang memegang kendali. "Yah, tergantung bagaimana sikapmu kedepannya, kurasa aku akan mempertimbangkan untuk menikahimu."


"Baik," jawab Luna. "Padahal aku sudah menghabiskan banyak uang untuk pindah kesini, belum lagi kontrak rumah masih tersisa sepuluh bulan."


"Jangan mengeluh, siapa suruh kau pergi jauh dariku?" sahut Nathan. "Berapa total semuanya? Akan ku ganti."


Luna menyeringai. "Akan ku hitung dengan biaya transportasi juga ganti rugi atas hatiku yang terluka, aku akan menghitungnya nanti."


Nathan melirik dan mencibirnya. "Wanita dimana-mana memang matre."


"Biarkan saja, toh calon suamiku kaya raya."


Wajah Nathan memerah dan dia tersipu malu ketika mendengar Luna menyebutnya sebagai calon suami. "Ya, ya.. hitung saja semuanya."


...* * *...


Bergegas ke bandara. Nathan, Noah, Luna dan juga ari memesan tiket VIP untuk pesawat menuju Jakarta. Dan hanya butuh waktu beberapa jam hingga mereka sampai di rumah nenek pada sore hari.


"Nenek..." Nathan berteriak sembari mencari neneknya di seluruh ruangan.


Nenek yang sedang memeriksa bunga-bunga rawatannya terkejut karena teriakan cucunya.


"Apa kau datang untuk berdemo? Kenapa berteriak seperti itu?" Si Nenek mengomel lalu melirik Luna yang berdiri di samping cucunya.


Nathan menyeret Luna sambil berjalan mendekat. "Aku ingin menikah," katanya.


Neneknya tercengang pada sikap dan kata-kata Nathan yang terdengar lucu di telinganya, bagaimana dia bisa minta menikah dengan gaya kekanakan seperti itu?


"Apa kau yakin dirimu sudah layak untuk menjadi seorang suami?" tanya Sang Nenek karena tingkah cucunya tidak mencerminkan kedewasaan.


"Aku bahkan sudah punya anak Nek, jangan lupa itu."


Lalu Noah mengintip dari balik tubuh Luna.


"Benar, kemarilah, namamu Noah bukan?" Wanita tua itu memanggil Noah dengan lembut, dan bocah itu menghampirinya. "Apa kau mau ayah seperti dia?"


Noah duduk di pangkuan Nenek dan mendongak untuk melihat Nathan. Dia nampak ragu-ragu sebelum mengangguk. "Mamaku menyukainya, lalu aku bisa apa?"


"Bocah ini!" Nathan mengatupkan bibirnya karena geram. Lalu dia melirik Luna dengan tatapan sinis. "Hei apa kau yakin dia tidak tertukar di rumah sakit? Kenapa sifatnya seperti itu?"


Baik Nenek maupun Luna malah tertawa.


"Karena sifatnya seperti itu maka tidak perlu diragukan lagi, dia jelas sepertimu," kata Nenek.


"Untung saja kau tampan dan mirip aku, kalau tidak aku akan membawamu kembali ke rumah sakit untuk memastikan kau tertukar atau tidak dengan bayi lain saat lahir." Nathan menunjuk Noah dengan kesal.


Noah malah mencibir dan melirik sinis pada Ayahnya.


"Aku tidak keberatan dengan pernikahan kalian, kapan rencananya kalian ingin menggelar resepsi?" tanya Nenek lalu tiba-tiba serius.


"Bulan depan," jawab Luna.


"Minggu depan." Nathan mengatakan itu nyaris bersamaan dengan Luna. Lalu mereka saling lirik.


"Apa Minggu depan tidak terlalu terburu-buru?" tanya Luna.


"Tidak, tidak... Kita sudah menunggu sangat lama untuk sampai pada titik ini. Aku tidak ingin menundanya lagi." Nathan menggeleng, tidak mau tahu.


"Baik, aku tidak masalah, kapanpun kalian siap." Nenek mengangguk setuju.


"Bagus. Deal Minggu depan." Nathan menepuk tangan sekali.


"Bagaimana dengan persiapannya?" tanya Luna.


"Kita bisa mempercepat semua prosesnya, serahkan padaku." Nathan menepuk-nepuk dadanya penuh percaya diri.


Luna tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Pria itu tidak bisa di bantah jika dia sudah bersikeras.


"Ya sudah, kalau begitu sekalian kalian makan malam disini saja ya." Pinta Sang Nenek.


Dia begitu bahagia saat melihat cucunya juga menyeringai bahagia. Terlihat jelas bahwa inilah yang Nathan inginkan.