CEO'S Baby

CEO'S Baby
Dia Ayah dari Anakku.



Yulia memanggil Luna untuk memberitahunya bahwa Naptunus Auto baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan merekrut seorang karyawan baru.


“Mama, tante Yulia bilang bahwa kamu akan pergi untuk wawancara untuk pekerjaan baru, kan?” Noah, yang sedang duduk di atas tempat tidur bertanya.


Noah jauh lebih tinggi daripada kebanyakan anak seusianya. Luna ingat dengan jelas bahwa pria yang telah tidur dengannya malam itu sangat tinggi.


Meskipun wajah Noah sangat mirip dengannya, tingginya mungkin diwarisi dari pria itu. Luna tanpa sadar memperhatikan wajah putranya.


“Mama ku sayang, aku tahu bahwa aku tampan, tetapi tidakkah kamu bosan menatapku setelah empat tahun?”


Luna menertawakan kata-kata Noah lalu mencubit pipinya yang lembut. “Mama tidak akan bosan menatapmu seumur hidupku.”


“Wow, mama cantikku benar-benar tahu cara berbicara manis. “Senyum manis bocah itu membuat matanya berbinar-binar. “Aku ingin ciuman dan pelukan. ”


Luna mencium pipi Noah dengan lembut. “Tentu saja! Aku selamanya akan berbicara manis pada pangeranku. ”


“Mama, ketika aku mengobrol dengan tante Yulia kemarin, dia berkata bahwa mataku tidak terlihat seperti milikmu. Apakah mataku terlihat seperti ayahku yang jahat, yang tidur denganmu, tetapi tidak bertanggung jawab?”


Luna mengerutkan bibir dan tersenyum. “Mungkin . Tapi ayahmu bukan orang jahat, mama yang salah, ah sudahlah Noah masih terlalu kecil untuk membicarakan ini. ”


“Lalu kamu bisa mulai mencarinya berdasarkan mata Noah? Dia mungkin orangnya jika dia mirip denganku. ”


Luna menertawakan obrolan putranya yang pintar. “Mama tidak mau membahas ini oke?” Dia bangun untuk mengganti pakaiannya di kamar mandi.


Ketika dia melangkah kembali ke kamar, mata Noah menjadi cerah saat melihat Luna, “Mama, kau benar-benar sangat cantik hari ini!”


Meskipun dia adalah ibu dari anak berusia empat tahun yang lucu, Tahun ini, Luna baru berusia dua puluh empat tahun. Dia masih muda, dan tampak segar juga cantik, tidak peduli pakaian apa yang dia kenakan.


Noah mengangkat tangan kecilnya ke arah Luna, ketika suara kekanak-kanakannya terdengar, “Semoga beruntung, Mama.”


“Mama akan melakukan yang terbaik. Terima kasih sayang . ”


Langit gelap dan berawan, menandakan hujan yang datang. Tuhan sepertinya ingin menghentikan Luna untuk pergi wawancara kerja, ketika taksi yang dia tumpangi mogok setelah mereka naik ke jalan raya.


Lalu Rolls Royce hitam melaju di jalan raya dengan kegagahan dan kemewahannya. Kecepatan mobil itu menurun ketika melewati mobil-mobil lain, sementara wiper bergerak cepat untuk menyeka hujan deras yang mengalir di kaca.


Nathan baru saja kembali dari perjalanan bisnis dan belum beristirahat dengan benar selama berhari-hari. Ia mengemudi dengan serius melalui jalan yang berkabut, dan menginjak rem kuat-kuat, ketika mobilnya hampir menabrak siluet ramping yang melesat dalam hujan. Beruntung keterampilan mengemudinya cukup baik, ia berhasil menghentikan mobil beberapa sentimeter dari sosok itu. Kepalanya sedikit menunduk untuk melihat wanita yang berlari ke halte itu, wajah dan kepalanya ditutupi dengan payung.


“Kau?” Nathan seakan membeku saking tidak percaya.


Pandangan Luna sedikit kabur karena air hujan, tidak menyadari bahwa pria yang didalam mobil adalah Nathan. Lesung pipi Luna tampak samar dan membuat penampilannya semakin mempesona. “Halo. Begini, taksi yang saya tumpangi mogok dan tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat. Saya terburu-buru untuk menghadiri wawancara di kantor yang tidak jauh didepan apa Anda mau memberi saya tumpangan?“


Nathan hanya mengangguk namun tidak mengatakan apapun.


Luna membuka pintu dan menutup payungnya, siap masuk ke mobil dan menutup pintu.


Mobil mulai berjalan lagi dan Luna mengucapkan “terima kasih.” Tanpa menatap Nathan.


Nathan sengaja memalingkan wajahnya, ia bertanya-tanya apakah gadis itu masih mengenalinya atau tidak.


Luna berpakaian profesional dengan kemeja putih, dipasangkan dengan rok pensil hitam. Dia mengikat rambutnya menjadi ekor kuda rendah, menunjukkan wajahnya yang cantik dengan penuh keanggunan.


Bahkan Nathan yang biasanya memiliki tingkat kontrol diri yang besar, diam-diam melirik Luna beberapa kali melalui kaca spion.


Luna menyeka tetesan air di tubuhnya dengan sepotong tisu. Lalu melirik pria yang duduk disampingnya. Meskipun pria itu berpaling, namun sekilas hidung, bibir, dan bentuk pria itu agak akrab dengannya. Dia membeku ketika tiba-tiba teringat pada malam itu empat tahun lalu.


Ya Tuhan, tidak mungkin itu kebetulan, bukan? Pikir Luna.


Tatapan Luna bergerak dengan lesu memperhatikan pria itu dari ujung kaki sampai kepala, ia bergerak ke arah pria itu tanpa sadar.


Nathan semakin mengalihkan wajahnya dari Luna. Dengan jarak yang begitu pendek di antara mereka, dia bisa mencium bau maskulinitas pria yang segar dan dingin dicampur dengan aroma tembakau yang samar. Pria itu berbau harum. Itu adalah bau yang sangat menarik dan dapat dengan mudah dikenali siapa pemiliknya, Luna pernah mencium aroma ini satu kali, pada malam itu.


Satu-satunya hal yang ada dalam benak Luna adalah dia ingin melihat seperti apa wajah pria ini. Dia perlu melihatnya dari depan. Tubuhnya bergerak semakin dekat pada pria itu hingga hanya ada jarak satu telapak tangan di antara mereka sekarang.


Nathan melirik kesamping saat dia mengemudi dan sangat terkejut karena Luna begitu dekat dengannya, pria itu menekan rem darurat dengan panik.


Luna tidak siap untuk berhenti tiba-tiba dan tubuhnya jatuh ke depan dengan kuat. Tepat ketika dia berpikir dia akan bertabrakan dengan body mobil, Nathan menangkap pergelangan tangannya, memegangi dengan kuat.


Luna bahkan hampir lupa bagaimana caranya bernapas ketika melihat dengan jelas siapa pria yang memberinya tumpangan. Dia adalah ayah putranya, Noah.


Nathan melepaskan cengkeramannya dan berkata dengan tatapan hangat, “Duduk dengan benar!”