CEO'S Baby

CEO'S Baby
Mood Swing-nya CEO Bipolar.



Setelah menyelesaikan urusan dengan Riska dan Mery, Miranda pergi ke gedung A untuk menemui CEO-nya, ia harus memberikan laporan kerja mingguan.


Setelah sekian lama, dia masih saja kagum dengan wajah Nathan setiap kali mereka bertemu, meskipun dia telah bekerja untuknya selama beberapa tahun.


Miranda menjelaskan laporan situasi di perusahaan kepada Nathan, termasuk tentang Luna.


Nathan melepas kacamata ketika dia selesai mendengarkan, sikapnya sombong dan tegas. "Temui kepala pemasaran, dan katakan padanya bahwa jika dia mengindahkan saranku, maka aku akan menyetujui proposalnya tanpa syarat. ”


Miranda mengubah ekspresinya saat dia mencoba mencari tahu apa yang dimaksud CEO-nya. "Saran Anda tentang mengirim Riska ke divisi Procurement?"


"Rupanya kau sudah tahu, baguslah, aku tidak perlu menjelaskannya lagi."


"Anda memberi tanggung jawab padanya untuk memantau purchasing unit kita? Apa anda serius? Bukankah Riska belum lama bekerja di perusahaan kita?" Miranda tampak tidak habis pikir.


Nathan menggeleng. "Bukan Procurement untuk unit barang dagang, tapi untuk pengadaan kebutuhan operasional perusahaan, suruh dia pergi menganalisis supplier alat kantor yang lebih sesuai dengan kualitas perusahaan."


Miranda ternganga. "Anda ingin menyulitkannya?"


“Tentu aku tidak akan membiarkannya begitu saja karena dia berani menggertak wanitaku."


Miranda merasakan hawa dingin merayap di tulang punggungnya dan dia memalingkan wajah dengan sengaja.


Nathan melemparkan dokumen ke meja, "Aku tahu Riska memiliki hubungan dengan manager pemasaran, karena itu jika dia keberatan memindahkan wanita itu, maka suruh dia temui aku."


Miranda menyeka keringat dingin di dahinya. "Baik, Pak." Benar-benar tidak mudah untuk bekerja pada CEO yang memiliki temperamen buruk!


Disisi depan pintu masuk gedung B, Luna dan Riska berjalanan hampir beriringan ketika pulang. "Kau beruntung kali ini, atau mungkin kau memiliki hubungan dengan pejabat perusahaan? Karena itu kau mendapatkan segala kemudahan disini?"


Luna mengabaikan kata-kata Riska dengan sikap angkuh. "Apa kau perlu tumpangan? Aku yakin kau lelah setelah berusaha keras menjatuhkan aku."


“Terima kasih, tapi tidak perlu. Ada seseorang yang akan mengantarku pulang.” Riska membalas dengan angkuh juga, menunjuk pada mobil sedan mengkilap yang berhenti di depan mereka.


Luna mencibir sambil mengangkat bahunya, ia melihat mobil sport Lykan Hypersport diparkir tidak terlalu jauh dari gerbang. Brengsek ini benar-benar menungguku pulang bekerja? Ia berjalan dengan kesal menghampiri mobil itu.


Rahang Riska seakan hampir terjatuh ketika dia melihat Luna membuka pintu ke mobil sport yang sangat mewah itu, Dia tidak mau mengakuinya, tapi itu membuat sedan biasa terlihat seperti sampah murahan di sebelahnya. Apakah Luna benar-benar didukung secara finansial oleh pemilik mobil sport?


Sedan milik pacar Riska bahkan hampir menepi ketika mobil yang ditumpangi Luna lewat dengan kecepatan tinggi.


Luna tidak bisa menahan tawa ketika membayangkan Riska ternganga dengan bodohnya. Suara tawa Luna terdengar benar-benar gembira di dalam mobil saat dia lupa sedang bersama siapa dia sekarang.


Nathan ikut menyeringai ketika Luna tersenyum, dia tampak seperti bunga yang mekar, cantik.


Namun, mata Nathan segera menyipit, dan dahinya berkerut ketika melihat sekilas sisi lain wajah Luna. Warnanya merah dan bengkak. Dia memutar setir dan menginjak rem, segera menepikan mobil.


Luna tidak siap untuk berhenti mendadak dan tepat saat dia hampir membentur jendela, tangan Nathan memegang bahunya, mendekap agar ia tidak terantuk.


Luna menggigit bibir bawahnya dengan gugup saat matanya menatap mata Nathan. Tatapan pria itu gelap dan bibirnya mengerucut dengan tidak bahagia. Auranya serius dan mematikan.


Luna menelan ketakutan sebelum dia berbicara dengan ketenangan yang dipaksakan, "Ada apa?"


Nathan mengangkat tangannya dan membelai pipi Luna yang merah dan bengkak. "Kau dipukul?" Berita tentang pemukulan ini rupanya tidak sampai ke telinganya.


Luna menggelengkan kepala, menurunkan pandangannya, tidak berani menatap pria itu. "Ini tidak penting. Sudah diselesaikan.”


"Aku bertanya, siapa yang memukulmu?" Suara Nathan begitu kesal dan dipenuhi kemarahan.


Luna gemetar karena nada suaranya yang kasar. “Aku baik-baik saja! Tidak usah dibahas!"


Nathan mengetuk dahi Luna berulang kali dengan jari telunjuknya. "Kenapa bisa diintimidasi seperti ini? Wanitaku harus mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, jangan mau ditindas orang lain."


Luna tidak berani memprovokasi pria yang sedang kesal ini, jadi dia memutuskan untuk tetap diam saja.


Luna memutar matanya saat dia membalas dengan diam-diam di dalam hatinya. Itu bukan urusanmu!


“Apakah kau membalasnya?" Nathan membelai pipi Luna yang merah dan bengkak dengan jari-jarinya sambil terus mengomel. “Bahkan aku tidak mau memukul wajah ini ketika aku marah padamu."


Luna otomatis menjawab, "Tapi kau hampir mencekikku sampai mati."


Kemarahan Nathan menghilang karena ia merasa itu lucu. "Lihat, kau selalu melawan padaku, lakukan itu juga pada orang-orang yang merundungmu."


Kali ini Luna benar-benar merasa Nathan tampak seperti bocah nakal yang sangat menarik. Dia memiliki ketampanan yang jahat, itu bisa berakibat fatal bagi wanita mana pun.


Luna samar-samar bisa menebak apa yang akan pria ini lakukan ketika Nathan tiba-tiba mencondongkan tubuh ke depan, mendekat dengan pelan.


Ciumannya kuat dan mendominasi, persis seperti pribadinya yang sombong, mencolok dan tidak pernah peduli dengan apa yang orang lain rasakan karena dia selalu melakukan apa pun yang dia inginkan.


Luna tidak punya tempat untuk bersembunyi begitu tubuh Nathan bersandar padanya, karena mobil itu sempit.


Nathan memegang dagunya setelah ciuman berakhir. Dia tersenyum jahat. "Suatu hari, aku akan memperlihatkan padamu apa yang sebenarnya dianggap merundung.”


Nathan sama sekali tidak tahu bagaimana cara menghormati orang lain. Dia telah memaksa ciuman pada Luna beberapa kali, ia bahkan tidak pernah bertanya apakah Luna mau.


Sebenarnya Nathan juga merasa kehilangan sebagian besar kepercayaan dirinya karena tahu dia memaksa seorang wanita yang menolaknya mentah-mentah. Itu mengecewakan. Suasana hatinya mendadak buruk lagi karena merasa tidak disukai.


Dia menginjak pedal gas dan mobil sport itu mulai melaju lagi.


Luna tiba-tiba teringat bahwa tadi pagi, Nathan menyebutkan sebuah foto ketika dia baru saja mandi. Dia mengerutkan bibir. "Oya, kau mengatakan aku mengirimkan foto. Tentang apa itu? ”


Satu tangan Nathan di jendela dan yang lainnya di setir. Wajahnya masam. Luna tidak tahu bagaimana dia membuat tuan muda ini tidak bahagia lagi. Tampaknya semua yang dia lakukan selalu salah. Padahal dia bahkan tidak menyalahkannya karena mencium dengan paksa, oke?


"Bukankah kita setuju untuk mengklarifikasi semuanya?"


Decitan ban mobil terdengar saat Nathan menginjak rem tiba-tiba. Gesekan antara ban dan tanah membuat suara mengerikan. Mobil sport itu berhenti sekali lagi. Pria itu keluar dari mobil langsung dan membanting pintu.


Luna hanya memandang dengan bingung pada pria yang berjalan masuk ke dalam apotek, beberapa wanita yang berada di sekitarnya menatap Nathan dengan gemas.


Tak lama, pria itu kembali dengan plastik kecil berwarna putih, dia mengeluarkan salep lalu melemparkannya ke pangkuan Luna.


Luna membaca label kotak kecil yang Nathan beli, Salep pereda bengkak.


Dia menatap Nathan dengan bingung, "Kamu keluar untuk membelikanku ini?"


Nathan menoleh pada Luna. Menatap untuk waktu yang lama sebelum dia menjawab. “Aku tidak ingin kehilangan selera makan karena melihat wajah jelek dan bengkakmu. ”


Luna terdiam. Dia tahu bahwa Nathan tidak akan pernah mengatakan sesuatu yang baik.


“Oleskan itu tiga kali sehari. ”


Luna bersenandung setuju.


"Pakai sekarang!"


"Aku akan memakainya di rumah nanti."


Nathan tidak berbicara lagi, mengambil salep dari tangan Luna, dan membantunya mengoleskan salep pada bagian wajah yang merah dan bengkak.


Luna sempat bingung tentang panggilan apa yang cocok untuk Nathan, Pak? Bos? atau Tuan Muda? "Sebenernya apa yang kau pikirkan tentang aku?"


Nathan mengangkat satu alis lurus saat dia memeriksanya dengan cermat setelah dia selesai mengoleskan salep di wajahnya. "Kenapa?"


"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentang aku, tapi aku sebenarnya memiliki seseorang yang ku sukai. ”