CEO'S Baby

CEO'S Baby
Persahabatan Paman Keren dan Bocah Kecil Dimulai.



Luna meletakkan segelas air di meja dengan kasar hingga gelas itu terguling membuat airnya tumpah dan membasahi pakaian Nathan.


"Astaga." Cepat-cepat Luna mengambil lap dan menyeka pakaian Nathan yang basah di bagian perut.


Nathan mengangkat kedua tangannya ke atas lalu menyeringai nakal. "Lebih ke bawah.”


Wajah Luna memerah lalu dia berdiri menjauh, pergi tanpa berkata apa-apa, berlari ke kamar dan mengunci pintu. Dia berjongkok dan bersandar ke pintu.


"Kenapa apapun yang ku lakukan selalu membuatnya berpikir mesum?" Luna bergumam sendirian. "Hanya karena dia tampan, dia pikir dia bisa melakukan apa saja yang dia suka dan mengatakan semua hal tak tahu malu seperti itu?"


Nathan sempat tertawa melihat Luna yang lari terbirit-birit hanya karena kata-katanya, ia menghabiskan semangkuk mie telur dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Mie ini tidak buruk, Luna membuat makanan yang lebih baik daripada restoran yang mengklaim sebagai rumah makan paling bergengsi dan lezat di Kota Jakarta.


Luna mengalami hari yang melelahkan. ia merasakan kelopak matanya semakin berat. Dia terhuyung-huyung ke tempat tidurnya untuk berbaring.


TIGA PULUH MENIT TELAH BERLALU.


"Sudah jam setengah sebelas malam?" Luna terbangun dan bergumam ketika melihat jam di dinding. Ia bergegas untuk memeriksa apakah Noah sudah pulang atau belum.


Ketika Luna membuka pintu kamar, dia terkejut melihat Nathan berbaring di sofa. Dia pikir lelaki itu akan pergi setelah makan mie, tapi si brengsek ini malah tertidur lelap. Kedua kakinya terlalu panjang hingga salah satunya terhampar di lantai.


Hanya lampu redup yang dibiarkan menyala di ruang tamu. Cahaya yang jatuh di wajah pria itu membuatnya semakin terlihat tampan. Kesombongannya hilang, bersama dengan kernyitannya ketika ia merasa tidak nyaman saat terlelap.


"Kau lebih menarik ketika tidur daripada bangun." Luna mengangkat kepalan tangannya, ingin sekali mengetuk kepala pria ini kuat-kuat.


Luna hendak kembali ke kamarnya ketika pria itu membuka mata. Sepasang mata gelap dan muram itu menatap lurus ke arahnya. "Kamu keluar hanya untuk menatapku?"


Luna merasa geli. “Berhentilah menjadi seorang narsisis. Sudah hampir tengah malam, kau harus pulang!"


Nathan duduk dan mengacak-acak rambut hitamnya yang sedikit berantakan. "Aku bukan anak gadis yang harus pulang tepat waktu."


Luna hanya menatap dengan kesal, kehabisan kata-kata.


"Putramu belum kembali?"


Luna mengambil ponselnya dan memeriksa apakah ada pesan dari Yulia. Dan ternyata memang ada. (Film akan selesai jam sebelas, kau jangan khawatir, Noah sudah tertidur selama film ditayangkan, dia akan baik-baik saja.)


"Dia akan pulang sekitar setengah jam lagi, sebaiknya kau pulang saja ke rumahmu." Luna memberitahu.


“Apakah kau memiliki akal sehat? Seorang wanita sendirian di rumah saat tengah malam begini? Bagaimana kalau ada rampok atau pencuri? Itu berbahaya."


Luna terdiam. Memangnya selama ini aku tinggal bersama siapa? hanya ada Noah, dan dibandingkan dengan pencuri, orang dengan gangguan bipolar yang telah mencoba mencekikku sampai mati sebelumnya, tentu saja, kau juga berbahaya, kan?


Luna menggerutu panjang lebar dalam hati, tapi dia tidak mampu memprovokasi pria pemarah ini.


Sebagian besar waktu yang mereka habiskan selama menunggu Noah pulang hanyalah dengan saling diam sambil sesekali mencuri pandang. Nathan berpura-pura sibuk memeriksa sesuatu di ponselnya. Ia tidak ingin terus-terusan membuat wanita itu kesal dengan sikap semena-menanya.


Tak lama, bell pintu berbunyi, Luna berlari dan membuka pintu untuk putranya.


"Mama," Noah memeluk Luna dengan tawa gembira begitu melihat sang ibu.


"Maaf ya, aku menculik putramu untuk mengajaknya berkencan sampai larut malam." Yulia menyeringai di belakang Noah lalu menyadari ada seorang pria yang duduk di sofa. "Itu?"


"Dia..." Luna bingung ketika ingin menjelaskan siapa pria yang bersamanya sejak tadi. Kalau dipikir-pikir, Luna hanya tahu bahwa pria ini adalah Cucu dari nenek tua kaya raya itu. "Ah, dia cucu dari nenek bos ibumu."


"Ah, Tuan Muda itu?" Yulia berbisik pada Luna. Lalu menyapa Nathan dengan anggukan.


Hanya karena Yulia adalah sahabat Luna, maka Nathan membalas sapaan itu.


"Paman keren?" Noah menyapa Nathan.


Nathan melambaikan satu tangannya pada Noah. "Kemari bocah nakal."


Noah berlari menghampiri Nathan dan duduk disampingnya begitu dekat hingga mereka terlihat hampir berpelukan.


Noah merasa bersalah karena telah memblokir WhatsApp paman keren ini.


Tapi itu tidak masalah, dia masih bisa menggunakan ponselnya sendiri untuk menyimpan nomor paman ini karena ingatannya super bagus, dia masih ingat nomor paman tampan dengan jelas!


Luna menatap kekasih kecilnya yang sedang bermain dengan ponselnya di sofa bersama Nathan. Dia diam-diam berjalan, mencoba untuk melihat sekilas.


Tetapi sebelum Luna bisa melihat sesuatu, Noah menjauhkan ponselnya dan memandang dengan geram. “Mama, kau tidak bisa mengintip ponsel pria seperti itu."


Luna bersenandung, "Tapi tidakkah kamu selalu memeriksa ponsel Mama?"


“Itu berbeda, Noah harus memeriksa apakah ada pria sembarangan yang menggangu Mama."


"Astaga, pacarku gentleman sekali." Yulia tertawa mendengar Noah bicara.


Luna duduk di samping Noah dan mencium keningnya. "Sayang, sudah cukup hanya kamu dalam kehidupan Mama, aku tidak pernah berpikir untuk mencari pria lain."


Noah segera duduk tegak, menatap Luna untuk sementara waktu lalu menyeka ingusnya dan berkata dengan sedih, “Meskipun aku tidak ingin Mama mencari pria sembarangan sebagai kekasih Mama. Setidaknya, sebelum Noah tumbuh dewasa, Mama akan membutuhkan paman yang kuat untuk melindungimu. ”


Luna memikirkan bagaimana bocah laki-laki ini telah menghubungi Nathan di belakangnya beberapa hari yang lalu.


"Kau benar anak kecil, kurasa kita cocok " Sahut Nathan memberikan satu kepalan tangan pada Noah sebagai tanda pertemanan.


Luna mendesah dengan putus asa. "Noah, Mama memperingatkanmu, jangan berbicara dengan orang asing dan jangan bertukar informasi kontak, oke?"


Nathan menatap tajam pada Luna dengan kesal. "Jangan dengarkan dia." Pria itu berbisik pada Noah.


Noah tahu bahwa Ibunya sangat menakutkan ketika dia marah, jadi dia hanya bisa menganggukkan kepala dan setuju sambil melirik Nathan.


“Mama harus pergi tidur lebih awal. Bersikaplah baik dan pergi tidur juga, oke?" perintah Luna pada putranya.


"Tidur yuk." Nathan mengajak Noah menunjukkan kamarnya.


"Kau tidurlah di rumahmu." Luna memperingatkan Nathan sekali lagi.


Nathan melirik kesal dan mendengus, "Apa aku harus pulang?" tanyanya pada Noah.


"Kurasa paman memang harus pulang, tidak baik menginap di rumah seorang wanita jika kalian tidak memiliki hubungan apa-apa." Noah menjawab dengan semua kedewasaan yang ia miliki sebelum waktunya.


"Baiklah, aku pulang." Nathan mengambil jaket lalu berpamitan pada Noah. Ia mengabaikan Luna lalu pulang.


Setelah Nathan pergi, Yulia juga pamit dan Noah masuk ke kamarnya. Bocah itu menatap ponselnya.


"Paman, ini nomor WhatsApp ku." Noah mengirim pesan suara pada Nathan.


Luna memang melarangnya berbicara dengan orang asing, tapi dia dan Nathan sudah saling mengenal sekarang, ini tidak seharusnya dianggap sebagai penentangan, kan?