
Keesokan harinya, bel pintu berdering beberapa kali.
Noah sudah berganti pakaian yang cocok untuk bermain ski. Dia berjalan ke pintu saat mendengar bel berbunyi dan membuka pintu.
Ben, yang berpakaian santai, bersandar di kusen pintu sambil mengisap permen lolipop.
"Paman Ben, apakah kamu berhenti merokok?" tanya Noah.
"Itu karena ibumu. Dia bilang dia benci bau asap rokok padaku, jadi aku akan berhenti merokok."
Noah mengulurkan tangannya pada Ben. “Aku juga ingin makan satu.”
Ben mengeluarkan permen lolipop dari sakunya, merentangkannya ke arah Noah. Namun, lolipop diambil oleh seseorang sebelum bocah itu meraihnya.
“Noah, kamu tidak diizinkan makan permen di pagi hari.”
Noah mengangkat bahu tak berdaya pada Ben. “Paman Ben, aku bahkan tidak bisa makan permen karena aku punya wanita yang merawatku. Apa paman yakin ingin dirawat juga oleh seorang wanita?"
Ben tertawa. "Aku ingin mencobanya."
Sementara ketiganya mengobrol dan tertawa di pintu, tidak ada yang memperhatikan pintu yang berseberangan dengan mereka membuka dan sosok jangkung keluar dari dalam.
Pria itu memegang tangan di sakunya, telapak tangannya di dalam mengepal erat. Dia menggunakan begitu banyak kekuatan untuk menahan emosinya hingga urat-urat di punggung tangannya bermunculan, sementara buku-buku jarinya memutih.
Pada saat yang sama, pintu di sebelahnya juga terbuka dan Jasmine berjalan keluar. Dia melingkarkan tangan di lengan Nathan. “Aku siap pergi.”
Pria itu bersenandung dengan dingin.
Jasmine menatap pria di sebelahnya. Jika mereka tidak tumbuh bersama, dia mungkin benar-benar takut oleh aura dingin yang dipancarkan Nathan sekarang. Meskipun pria itu bersedia untuk mengikuti keinginan ibunya, namun terlihat jelas bahwa dia tidak bahagia.
Baik, Luna maupun Ben juga Noah mengabaikan situasi canggung itu dan pergi ke bawah untuk sarapan. Lalu Ben membawa Noah dan Luna ke area ski buatan itu.
Yah.. Luna tidak akan mau jika dibawa ke Jepang atau negara lain dengan salju sungguhan, karena itu, Ben sudah harus cukup puas dengan salju buatan di sini.
Luna membuka kedua tangannya, menarik tangan Noah ketika duo ibu dan anak mulai berlari di sekitar area ski.
Ketika mereka lelah, mereka berdua jatuh ke salju, tersenyum ketika mereka saling memandang.
Ben mengikuti di belakang mereka. Ketika dia melihat pemandangan yang hangat dari ibu dan anak itu, dia tidak bisa menahan senyum dan bergabung.
Ben adalah pemain ski ulung, sedangkan Luna adalah sebaliknya. Wanita itu mencoba bermain ski beberapa kali, meskipun setiap upaya berakhir dengan jatuh dan makan salju.
Ben memutuskan untuk memesan seorang instruktur untuk Luna, sementara dia mengajarkan Noah.
"Mama, mari kita bertemu di sini setelah berlatih selama satu jam dan melihat siapa yang lebih jago nantinya!" Bocah itu mengenakan kacamata dan melambaikan tongkat ski di tangannya.
Luna tersenyum cerah pada tatapan percaya diri di mata bocah itu. "Tentu!"
Ben membawa Noah pergi ke area latihan anak-anak, sementara Luna duduk di tempat yang sama untuk menunggu instruktur.
Luna menatap sosok pria itu dan matanya sedikit melebar.
"Halo, Nona Luna, saya Rio, instruktur yang disewa untuk mengajarimu bermain ski."
Semua keraguan Luna bahwa pria itu adalah Nathan menghilang ketika dia mendengar suara kasar dan seraknya.
Bagaimana dia bisa berpikir bahwa orang itu adalah Nathan hanya karena mereka memiliki bentuk bertubuh yang mirip?
Luna mengulurkan tangannya untuk berjabatan, lalu dia menjawab dengan sopan, "Halo, aku agak bodoh dalam hal ini, tolong ajari aku.”
Luna tidak tahu apakah dia mendapat kesan yang salah, tetapi dia merasa instruktur ini sedikit aneh!
"Nona, saya akan memberikan demonstrasi pertama, jadi tolong perhatikan.”
"Baik.”
Pria jangkung itu berdiri di atas papan ski, ketika dia mendorong dirinya meluncur dengan lihai meliuk di atas salju.
Pria itu kembali pada Luna dalam sekejap mata. "Apakah Anda dapat mempelajari apa yang baru saja saya lakukan?"
Luna hanya memperhatikan posturnya tubuhnya sejak tadi, dan benar-benar lupa mempelajari bagaimana dia bermain!
“A-aku paham." Luna berdiri di atas papan ski dengan canggung, memegang erat-erat ke tiang ski saat pria itu memberinya beberapa instruksi sebelum membiarkannya mencoba bergerak turun.
Luna mengangguk setengah bingung. Dia mengayunkan tongkat ski di tangannya, dan dia bergerak turun tanpa tahu harus berbuat apa.
Tubuhnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan di sepanjang jalur. Dia tidak mengenakan helm, dan dia merasakan sakit ketika angin dingin menghantam wajahnya.
“Instruktur? Instruktur?" Luna berteriak karena tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Semua otot di tubuhnya benar-benar tegang, dan keringat bahkan muncul di dahinya karena takut.
Kecepatan Luna juga meningkat. Wanita itu semakin bergoyang, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak histeris lagi.
“Santai. "Suara kasar dan stabil pria itu terdengar di belakangnya, "Tekuk lutut dan pinggang Anda sedikit.”
Suara pria itu benar-benar tenang, seolah mengandung sihir yang membuat orang lain tenang juga. Luna melakukan yang terbaik untuk mengikuti apa yang instruktur katakan padanya.
Namun, dia benar-benar tidak memiliki bakat dalam hal ini, karena dia masih bergoyang ke kiri dan ke kanan setelah melakukan apa yang disuruh instruktur kepadanya.
Pria itu mengulangi lagi, "Cobalah menyeimbangkan tubuh Anda."
Luna mengikuti instruksi instruktur itu berkali-kali, namun dia masih terjatuh juga.
Pria itu berhenti di sebelahnya dengan kelincahan terampil lalu berkata dengan datar, “Saya tidak menyangka kamu akan sebodoh itu."
Pipi Luna memerah tak terkendali setelah dimarahi oleh instruktur.
Bagaimana orang ini bisa menjadi instruktur? Tidak bisakah dia memiliki sikap yang lebih baik? Bukankah dia dibayar untuk mengajari? Dia benar-benar tidak cocok dengan pekerjaan semacam ini sama sekali! Luna menggerutu sambil memandang sinis pada instrukturnya.