CEO'S Baby

CEO'S Baby
Aku Sakit.



Luna mengerutkan kening. "Kenapa bertanya untuk apa? Jasmine berhak tau kalau kau sudah sadar, dia sangat mengkhawatirkan mu."


Luna benar-benar tidak bisa memahami pria ini. Sekarang dia telah menemukan wanita yang dicintainya, kenapa dia menunjukkan penyesalan dan kegelisahan di depanku?


Nathan membuka mulutnya untuk mengucapkan dua kata dengan suara yang sangat parau, “Maafkan aku.“


Luna merasa bingung dengan permintaan maafnya yang tiba-tiba.


Luna menatapnya untuk sementara waktu, memikirkan bagaimana Nathan telah menyebabkan semua perasaan pasang surut yang dia rasakan baru-baru ini, matanya memerah dan dia berkata dengan suara dingin, “Aku tidak perlu permintaan maaf-mu. Kita sudah selesai. Dan karena kau telah memiliki Jasmine, maka tetaplah bersamanya."


Mendengar kata-katanya, Nathan terdiam beberapa saat sebelum mengatakan. “Aku sakit.”


Luna ingin tertawa. Sejak pertama kali mengenalnya, pria ini memiliki gangguan bipolar dan tidak pernah normal. Suasana hatinya selalu berubah, kadang baik, kadang jahat, kadang mencintai dan tiba-tiba saja bisa membenci. Luna merasa dipermainkan oleh pria sakit ini.


Luna menyeringai pahit. “Lalu?”


Nathan bangun dari tempat tidur, berdiri meski sedikit sempoyongan lalu mendekati Luna langkah demi langkah yang berat.


Luna melihat tatapan dan gerakannya yang berubah agresif tiba-tiba dan tanpa sadar bergerak mundur.


Melihat bahwa Luna takut dan menolak didekati, hatinya terasa seperti diraih oleh tangan hitam yang tak terlihat. Itu menyakitkan.


Nathan menurunkan pandangannya dan bergumam, “Aku orang sakit. Luna, apa kau masih mau bersamaku?“


Sakit? Apakah dia mengacu pada gangguan bipolarnya? Luna membatin.


Alasan utama Luna ingin menarik garis antara mereka adalah karena dia tidak ingin terluka. Luna tidak ingin menjadi hewan peliharaan yang selalu menurut ketika dipanggil, dan kalaupun Nathan tidak menganggapnya sebagai peliharaan, hubungan mereka tidak akan pernah berhasil bukan?


“Nathan, jika kau sakit, maka kau harus mendapatkan perawatan. Sekarang Jasmine ada di sisimu. Jangan serakah dengan menginginkan kami berdua."


Nathan tidak tahu bahwa Luna sudah tahu tentang penyakitnya. Orang dengan penyakit mental biasanya sangat sensitif dan tidak mau mengakui penyakit mereka kepada dunia luar. Bahkan Nathan, yang biasanya sombong, tidak mau mengakui bahwa dia adalah orang dengan kepribadian aneh.


“Aku akan mengulangi untuk terakhir kalinya, kita sudah berakhir. Tolong jangan ganggu aku lagi." Luna berbalik untuk pergi dari kamar itu.


Nathan tidak menghentikannya tapi tubuhnya yang tinggi sedikit goyah.


Ketika dia mencapai pintu dan hendak membukanya, sepasang lengan melilitnya dari belakang. Sebelum Luna bisa bereaksi, dia dipeluk oleh pria itu.


Air mata yang Luna tahan hampir jatuh ketika dia merasakan pelukan hangat dan sangat putus asa itu. Dia benar-benar tidak bisa memahami Nathan. Berhari-hari dia menghilang dan bersenang-senang dengan Jasmine, dan sekarang kenapa dia melakukan ini padaku? Pikir Luna.


“Luna, aku tidak setuju kita berpisah,” katanya serak, membenamkan wajahnya ke rambut Luna.


Ketika Nathan mendengar bahwa Luna ingin mengakhiri semua hal di antara mereka, dia panik, wajahnya menjadi lebih pucat.


Luna menatap tangan yang memegangnya erat-erat dan berusaha melepaskan diri, tetapi meskipun pria ini masih belum pulih dari cedera, kekuatannya masih jauh diatas Luna.


“Nathan, kau adalah orang yang paling tak tahu malu yang pernah kutemui!” Luna mendesis. Bagaimana dia bisa begitu percaya diri untuk menjalin hubungan dengan dua wanita?


Suara Nathan begitu serak sehingga terdengar seperti berasal dari dasar lembah. “Jasmine memang wanita yang dijodohkan denganku, tapi aku tidak pernah menyukainya. Aku tidak pernah mencium atau tidur dengannya. Kau satu-satunya wanita yang ku miliki. Kau adalah satu-satunya.”


Nathan tahu sebenarnya dia tidak boleh jatuh cinta pada Luna, dia tahu mereka tidak bisa menikah, dan dia juga ingin Luna memiliki keluarga yang normal. Tetapi dia terlalu egois dan tidak bisa membiarkannya pergi.


“Hari-hari ketika aku sakit, kau bilang sekitar satu minggu aku tidak memperdulikanmu, tapi kau salah, itu adalah sembilan hari dan semua hari itu aku lalui sendirian." Nathan menjelaskan. "Aku tidak pernah mengijinkan Jasmine untuk mendekatiku."


Sebelum dia bisa selesai, Nathan tiba-tiba menggendongnya, satu lengan menopang bokongnya dan mengangkatnya ke bahu.


Luna hanya membelalak dan seakan tidak bisa mencerna apa yang terjadi hingga Nathan menurunkannya di ranjang.


Tempat tidur rumah sakit umumnya tidak lunak, jadi ketika Nathan menurunkannya dengan agak kasar, Luna merasakan kepalanya berputar dan dia pusing sesaat.


Satu lutut Nathan naik ke sisi tempat tidur, menundukkan kepalanya dan menutupinya tepat ketika Luna akan duduk.


Luna semakin marah tetapi jantungnya juga berdebar tak terhindarkan ketika wajah mereka sangat dekat.


Nathan menyeka helai rambut yang jatuh di pipi Luna. “Luna, aku bisa memberi apa pun yang kau inginkan. Apa pun kecuali untuk berpisah."


Luna tidak bisa mendorongnya menjauh sehingga dia menyerah dan berhenti bergerak. Ia menyunggingkan senyum sinis. “Lalu bagaimana jika nanti aku tidur dengan pria lain?”


Nathan menyipitkan mata dan suaranya berubah dingin. “Maka aku akan membunuh pria itu."


Luna melihat ekspresi tegang dan gelapnya, ia diam selama beberapa detik, benar-benar ingin memahami pria ini namun tidak bisa. Ingin berteriak padanya bahwa 'kau tidak tahu malu karena tidak bisa meninggalkan tunanganmu dan masih tetap ingin bersamaku.' Tapi tiba-tiba, pria itu membungkuk dan menggigit ujung hidungnya.


Luna berseru kesakitan, “Nathan, kau benar-benar sakit…”


Matanya menjadi gelap. “Ya, sudah kubilang aku sakit." Jari-jarinya menjalin rambut Luna dan memegang kepalanya. Pria itu membungkuk dan menciumnya.


Yang mengejutkan adalah, Luna tidak melawan tetapi malah melingkarkan lengannya di leher pria itu, menarik dan menanggapi ciumannya.


Responsnya membuat Nathan gemetar dan kehilangan kendali. Pria itu mengerjapkan matanya berkali-kali namun tetap mencium.


Jari-jari Luna merayap di sepanjang punggungnya, membuat Nathan tergelitik dan tubuhnya tersentak sebagai respons.


Luna melihat jejak sedih muncul di mata pria itu ketika dia mengangkat kepalanya. “Nathan, aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan aku semudah itu lagi. Jika kau terus memprovokasiku, lain kali, aku benar-benar akan meninju wajahmu." Luna tersenyum sinis.


"Lalu kenapa kau menerima ciumanku?" Nathan menatap Luna dengan pandangan bertanya-tanya.


Luna mendorong pria itu lalu duduk, mengangkat bahu sambil mencibir. Menunjukkan sikap acuh tak acuh.


“Luna, bagaimana kalau kita tidak berpisah dan aku akan menebus kesalahanku, hmm?”


"Dengan apa? Apa kau bisa menikahiku nantinya? Apa keluargamu akan menerima Noah-ku?"


Nathan baru saja akan menjawab ketika tiba-tiba, sebuah suara lembut berdentang di pintu, “Sayang.."


Ketika Luna mendengar suara Jasmine, rasanya seperti dia ditikam di jantung dengan pisau tajam.


Jasmine Bagaimana aku bisa lupa? Nathan punya Jasmine dan masih merayunya dengan kata-kata manis. Luna mengerutkan keningnya. Emosi yang menumpuk di hatinya meledak sekaligus dan dia mendorong Nathan dengan keras.


Luna berdiri dari tempat tidur dan hendak keluar ketika pria itu menghampirinya seperti binatang buas yang marah dan malah menciumnya lagi.


Luna berusaha memberontak tetapi keintiman yang pria itu lakukan tiba-tiba membuat telinganya panas.


Ketika Nathan melepaskannya, Luna turun dari tempat tidur rumah sakit dan memandang Jasmine berdiri di pintu dengan pandangan bertanya-tanya.