
Keadaan di Jakarta sudah aman terkendali. Nyonya besar sudah dipenjara dan Jasmine telah kembali ke rumahnya setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa hari.
Nathan melupakan kesalahan Jasmine karena satu-satunya alasan Jasmine melakukan itu adalah karena dia begitu mencintainya.
DI SINGAPURA.
Seseorang telah mencari tahu keberadaan Luna dan mengintainya selama kurang lebih dua hari hingga memberikan laporan detail kepada Nathan.
Disini, Luna mencari uang dengan menjual kue dan roti secara online, itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan Noah sementara ini.
Dan saat keluar dari sebuah rumah pelanggan, sebuah mobil sedan hitam mengklason lalu mengikutinya sambil melaju sangat pelan.
Seseorang membuka jendela mobil dan sesosok wajah tampan yang familiar menyapa. “Apa kau butuh tumpangan?”
Luna berkedip. Untuk sesaat, dan berpikir bahwa dia berhalusinasi. Kenapa Nathan muncul di sini?
Pintu mobil terbuka dan pria berjas hitam turun.
Sudah hampir satu Minggu sejak pertunangannya dengan Jasmine. Luna tidak pernah berpikir bahwa dia akan melihat Nathan di sini.
Bukankah dia seharusnya sedang bulan madu dengan Jasmine?
Setelah berusaha keras, Luna akhirnya bisa mengatasi sedikit rasa sakit hatinya, tapi kenapa pria ini muncul di depannya lagi?
Beberapa hari setelah siaran langsung yang fenomenal itu, Nathan berpikir bahwa dia akan menyambut Luna dengan senang hati saat wanita itu datang dan berlari kembali ke dalam pelukannya. Tapi wanita itu tidak pernah datang kembali ke Jakarta. Ia bahkan tidak bisa menghubungi Luna karena wanita itu mengganti nomor ponselnya.
Apakah dia menonton siaran langsung? Apakah dia mendengar pengakuanku?
Pikir Nathan.
Luna tidak tahu apa yang dipikirkan Nathan. Dia hanya tahu bahwa pria itu menatapnya semakin gelap dan dingin.
“Masuk ke mobil.” Nathan memerintahkan.
Luna tidak menjawab dan ingin meninggalkannya begitu saja sebelum Nathan menariknya dan memaksa wanita itu masuk.
Mobil itu melaju untuk beberapa saat sebelum Luna memperhatikan bahwa mereka tidak menuju ke rumahnya. Dia melirik pria di sampingnya, dan tidak bisa menahan keheningan, “Tuan Nathan, terima kasih untuk tumpangannya. Tapi aku harus turun di sini!“
“Kenapa kamu turun disini?” Nathan menyipitkan matanya.
“Tuan Nathan, tolong ingat status Anda!
Ari sedang mengemudi, dan dahinya berkerut ketika dia mendengarkan mereka berdebat.
“Hentikan mobil, aku ingin turun!” Luna berteriak pada Ari.
Dia tidak ingin tetap berhubungan dengan pria yang sudah menikah. Matanya dingin dan ekspresinya serius.
Nathan mengerutkan alis dengan erat, saat melihat Luna benar-benar ingin turun dari mobil. “Luna, aku terbang khusus dari Jakarta untuk menemukanmu. Kenapa sikapmu seperti ini padaku?”
Luna merasa itu lucu.
Lalu apakah dia seharusnya memperlakukan Nathan seperti yang dia lakukan di masa lalu?
“Apa kau menonton siaran langsung?”
tanya Nathan.
Luna menatap garang, “Nathan, aku lelah. Pergilah jalani hidupmu, dan berhenti menggangguku. Aku ingin turun dari mobil."
Nathan mengutuk dengan marah, sebelum dia memerintahkan Ari, “Hentikan mobilnya.”
Ari akan berbicara sesuatu tetapi disambut dengan tatapan tajam Nathan.
Dia segera menutup mulutnya dan menghentikan mobil.
Setelah mobil berhenti, Luna mendorong pintu hingga terbuka dan turun tanpa melihat ke belakang lagi.
Mobil itu melaju pergi dengan segera.
Luna menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya untuk berbalik.
Namun, dia masih sangat sakit hati pada pria itu.
"Keledai itu, apakah dia pikir masih bisa menggangguku?" Wanita itu menggerutu. Bekas luka di hatinya akhirnya sedikit sembuh, namun brengsek itu muncul di depannya sekali lagi dan mengganggu. Itu membuatnya sangat kesal.
Luna menarik napas dalam-dalam lagi, mengendalikan emosinya sebelum dia mulai berjalan kembali sambil menunggu taksi yang lewat.
DI DALAM MOBIL.
Ekspresi Nathan menjadi gelap. “Ari, hentikan mobilnya.”
“Pergilah dan panggil taksi, jangan mengikutiku,” perintah Nathan.
Nathan pindah ke kursi pengemudi, setelah ia mengusir Ari.
Luna masih berjalan pelan sambil menunggu taksi yang lewat lalu
tiba-tiba, sebuah klakson yang keras datang dari belakangnya.
Wanita itu menoleh sesaat lalu memutar matanya dan kembali berjalan.
Apakah dia tidak pergi?
Kenapa dia kembali?
Apakah dia tidak mengerti yang kukatakan?
Nathan terus membunyikan klakson selagi membuntutinya. Mengundang reaksi orang-orang dan membuat mereka semua bergunjing.
Luna marah, saat dia berbalik untuk menatapnya. “Nathan, bukankah menurutmu sikapmu ini kekanak-kanakan? ”
Senyum gangster muncul di wajahnya yang tampan ketika dia mendengar kata-kata Luna lalu membuka jendela. “Apakah jalan ini milikmu? Jika kau bisa berjalan disini, kenapa aku tidak?“
Luna hampir meledak karena marah karena tidak bisa menyingkirkan Nathan.
Dosa apa yang telah dia lakukan hingga terlibat dengan orang ini?
Untung saja sebuah taksi lewat dan Luna cepat-cepat menghentikannya lalu masuk.
Nathan menyeringai di dalam mobil sambil terus membuntutinya.
Hingga ketika Luna sampai di pintu masuk rumahnya, wanita itu masuk ke rumah tanpa menoleh meski tahu Nathan masih berada di belakangnya.
Luna mencium Noah yang ternyata sudah pulang bermain dari rumah tetangga.
"Sayang kenapa pulang sebelum Mama menjemput?"
"Temanku sedang tidur siang, aku tidak ingin mengganggu," jawab Noah. "Lagipula rumah kita bersebelahan, apa yang Mama khawatirkan?"
"Mama khawatir jika kamu dirumah sendirian."
"Mama, ada mobil yang diparkir di depan rumah kita. Siapa dia?”
Noah mengintip dari jendela.
Luna segera menggendong putranya. “Dia mungkin lewat atau apalah," dustanya lalu merebahkan Nathan di tempat tidur. "Kamu juga harus tidur siang."
Nathan bersandar di pintu mobil, dan memasukkan permen ke mulutnya.
Dia sudah berdiri hampir setengah jam, dan si kucing sialan itu masih mengabaikannya.
Sinar matahari menyilaukan mata. Ekspresi tampannya mulai gelap perlahan.
Dia memberi Luna waktu sepuluh menit lagi. Jika wanita itu masih tidak keluar, Nathan akan menerobos masuk ke rumah.
Sepuluh menit hampir habis.
Tiba-tiba, sebuah taksi berhenti tepat di sebelahnya dengan pekikan nyaring.
Pria yang keluar dari taksi ternyata Ari. “Tuan, kenapa kamu memblokir rumah orang lain? Apakah Anda menjadi model mobil di sini karena Anda tinggi?“
Ari bersikap kurang ajar pada majikannya.
Pandangan Nathan di balik kacamata hitamnya menjadi gelap.
Brengsek ini, apakah dia amnesia setelah ditendang keluar dari mobil?
Ari berjalan melewatinya, setelah memperhatikan Nathan tidak memberi respon sama sekali.
Nathan membuka kacamata hitamnya, “Untuk apa kamu masuk ke rumah orang?" tanyanya ketika melihat Ari mengetuk pintu rumah Luna.
“Saya datang untuk makan malam yang dimasak Nona Luna. Apa Anda tidak tahu bahwa Saya mendapatkan nomor ponsel barunya? Tadi Saya menghubunginya dan Nona Luna menawarkan makan malam. Tapi melihat keadaan Anda sekarang, Anda mungkin tidak disambut oleh Nona Luna. Jadi jangan terlalu iri padaku!”
"Ari!" Nathan terdengar geram.
"Ini hari minggu, saat ini seharusnya aku tidak terlibat dengan pekerjaanku," Ari membangkang. "Anggap saja tadi hanya bonus."
Ekspresi Nathan benar-benar gelap, saat dia mengeluarkan suaranya yang dingin dari sela-sela giginya, “Ari, beraninya kau! “