
Pandangan Nathan pada Luna tampak berbahaya, mendalam dan penuh niat tersembunyi. Ada senyum aneh yang tidak tampak seperti biasanya. Luna mungkin hanyalah mangsa lain yang tidak punya cara untuk melarikan diri.
Wanita itu mengutuknya di dalam hatinya. Ketika dia pertama kali bertemu dengan pria ini semua hal dalam hidupnya berubah total, mulai dari dia dibuly semua orang hingga tiba-tiba memiliki anak.
Tapi dulu Luna tidak pernah membayangkan bahwa pria yang bersamanya malam itu adalah iblis yang sejati.
Iblis dengan gangguan bipolar yang hampir mencekiknya hingga mati. Bahkan mengingatnya saja membuatnya merasa merinding. Luna tahu bahwa dia akan menjadi satu-satunya orang yang akan dirugikan jika membuat pria ini marah.
Akibatnya, dia menyerah pada perjuangan. Dia memaksa dirinya untuk menatap wajah pria itu. Lalu dengan tenang berkata, "Ibu temanku adalah pembantu paruh waktu yang disewa nenekmu. Dia sedang sakit hari ini dan tidak bisa datang, itulah sebabnya aku di sini untuk menggantikannya. Aku bahkan tidak tahu bahwa kamu adalah tuan muda di tempat ini, sungguh. ”
Nathan menopang dirinya dengan tangan di atas kepala Luna. Mereka berdua begitu dekat satu sama lain sehingga dia bisa mencium aroma nafas pria itu."Kamu tidak akan datang jika tahu bahwa aku adalah tuan muda di sini?" Nathan berbisik di telinganya.
Nathan pikir Luna sangat pandai dalam hal tarik menarik hubungan. Ini adalah pertama kalinya dia melihat seorang wanita yang sangat pandai bersikap sok jual mahal! Dia masih berpura-pura tidak tahu apa-apa setelah mengirim adiknya kemarin?
Luna nyaris bergidik karena hangat nafas Nathan yang berhembus di telinganya. “Ya, aku ingat peringatanmu kemarin.”
Lelaki itu sangat tidak mempercayai kata-kata Luna, seolah-olah dia mendengar lelucon ketika tangannya mencengkeram dagu wanita itu sambil mencibir, “Kamu bisa mengatakan itu kebetulan jika hanya sekali atau dua kali, tapi ini sudah ketiga atau keempat kalinya. Apa kamu benar-benar bersikeras itu semua kebetulan? "
Luna juga merasa tidak habis pikir dengan semua kesialannya itu, dirinya juga merasa semua ini aneh.
"Katakan, apa tujuanmu yang sebenarnya? kau mencoba mendapatkan perhatianku?"
Luna mencoba mengatur napasnya dalam situasi tertindas. Pria ini tidak hanya memiliki gangguan bipolar. Dia juga seorang narsis yang parah. Bagaimana seseorang bisa berasumsi dan tidak mau mendengarkan?
"Kau benar-benar berpikir bahwa dirimu adalah segalanya?"
Ekspresi pria itu berubah. "Apa maksudmu?" Wajahnya menunjukkan bahwa ini adalah ketenangan sebelum badai.
Luna ketakutan, namun, dia perlu mengklarifikasi beberapa hal dengannya. "Asal kau tahu aku sibuk bekerja keras untuk hidupku. Dengan kata lain aku benar-benar tidak berpikir untuk mendapatkan pria manapun." Luna menjelaskan dengan sedikit rumit. "Yang aku maksud adalah aku tidak tertarik padamu. ”
Luna mulai berpikir apakah pilihan kata-katanya salah? melihat dari ekspresinya, pria itu sekarang malah semakin marah. Dengan ragu-ragu kedua tangannya mendorong Nathan agar sedikit menjauh. Namun perlakuan itu sekali lagi membuat kemarahan Nathan muncul.
Pria itu menggenggam tangannya dengan ekspresi menyeramkan.
Luna mencoba melepaskan tangannya dengan pelan, begitu hati-hati seolah kemarahan Nathan bagaikan sebuah kaca tipis yang mudah pecah."Jika ada kesalahpahaman karena saya datang untuk memasak di rumah nenek Anda hari ini, saya berjanji bahwa saya tidak akan pernah muncul lagi di sini. ” Luna memilih kalimat baku yang paling sopan.
Ekspresi Nathan malah menjadi lebih gelap dan lebih dingin karena kata-kata itu, namun kemudian ia tersenyum sinis. “Trikmu tidak buruk. Selamat. Kau telah berhasil menarik perhatianku.”
Pria narsis, tak tahu malu, gila, dan bipolar, siapa yang ingin menarik perhatianmu? Luna mengutuk dalam hatinya. Dari planet mana dia berasal? Astaga! Apakah dia tidak mampu memahami pembicaraan manusia?
Luna benar-benar tidak ingin terlibat masalah dengan pria ini lagi, dia menguatkan dirinya untuk bersabar dan melepaskan diri dengan tenang.
Nathan menatap wanita mungil yang terus berjuang dalam pelukannya. Dia memiliki bulu mata yang lentik dan tebal. Setiap kedipan mata itu begitu menarik perhatiannya.
Perasaan ini yang aneh. Nathan selalu berpikir bahwa dia biasanya sangat tidak tertarik pada wanita nakal yang sengaja mencari perhatiannya.
Nathan mengangkat satu tangannya dan menyeka rambut Luna ke belakang telinga dengan kelembutan yang tidak biasa. Jari-jari dingin Nathan membuat Luna sedikit bergidik ketika sentuhan dingin menyapu telinganya.
"Apakah Nathan belum kembali?"
"Belum, Nyonya. ”
Percakapan antara Nenek dan pengurus rumah tangga terdengar samar,.
Luna mulai berjuang lebih keras. "Lepaskan aku, cepat!"
Orang tua cenderung lebih konservatif dalam pemikiran mereka dan entah apa yang akan dipikirkan nyonya tua itu jika dia melihat mereka berdua berpelukan di dapur.
Nathan mengangkat wajah Luna yang benar-benar merah dengan tangan. "Aku menyukaimu. Kau diterima, kau bisa menjadi pacarku. ”
Nathan tidak bertanya padanya, juga tidak meminta pendapatnya. Itu adalah jenis tatanan lancang yang keluar dari mulutnya. Jelas dia tidak akan mentolerir segala bentuk penolakan.
Luna menarik napas dalam-dalam. Dia akan menolaknya ketika bibir pria itu tiba-tiba menyerangnya.
Salah satu tangannya menggenggam kedua pergelangan tangan Luna dan yang lain memegang dagunya, memaksanya mengangkat kepala dan menerima ciuman.
Nathan menekan bibirnya dengan paksa, liar dan buas dengan semua kesombongan yang dia miliki.
Mata Luna melebar, masih membeku karena terkejut bahwa pria ini bahkan menciumnya lagi.
Luna berjuang dengan sekuat tenaga. Dia tidak menginginkan ini! Namun, ciuman Nathan semakin dalam saat gadis itu memberontak.
Karena dia tidak bisa mendorongnya menjauh, kedua tangannya memukuli pundak pria itu dengan tidak berguna. Luna hampir kehilangan napas karena keterikatannya yang intens. Dia baru saja mendapatkan napas segar setelah Nathan melepaskannya tapi hanya sedetik saja. Lalu semua itu berlanjut lagi.
"Kemana Nathan pergi?"
“Saya pikir Tuan Muda pergi ke dapur. ”
Ekspresi marah Luna dan kepanikan itu semakin bertambah ketika suara wanita tua dan langkah pengurus rumah tangga sekarang mendekati dapur.
Namun, pria yang menciumnya jelas belum selesai dan tampaknya tidak punya niat untuk melepaskannya.
Luna nyaris histeris. Kegelisahan dan ketakutan di matanya terlihat jelas, bagaimana jika nenek dan pembantu rumah tangga melihat Luna dalam keadaan seperti ini? Dengan Tuan Muda pula, dia bahkan tidak tahan memikirkan konsekuensinya.
Jantungnya berdegup kencang mendengar suara langkah kaki itu. Mereka terlalu dekat.
"Tolong lepaskan aku." Luna merendahkan suaranya menjadi bisikan yang mendesak.
Pria itu melepaskannya, menatap bibirnya merah dan basah yang disebabkan olehnya. Dia ingin menciumnya lagi namun pria itu juga tahu Neneknya sedang menuju kemari.
Luna segera meraba-raba saku sweternya lalu mengeluarkan sesuatu.