CEO'S Baby

CEO'S Baby
Kekasih VS Tunangan.



Saat Luna hendak pergi ke stand pameran untuk mempromosikan barang, Manajer memintanya membawa beberapa dokumen untuk diletakkan di meja Nathan.


"Tapi Pak, apa tidak masalah jika saya yang mengantarkan?" Luna merasa ini bukan tugasnya.


"Tidak apa-apa, toh CEO juga sedang tidak ada ditempat, kau titipkan saja pada sekretarisnya," jawab Manajer itu.


Tadi dengan begitu aku harus berjalan lebih jauh untuk sampai ke ruangan CEO. Luna menggerutu dalam hati. Karena letak ruangan CEO berada di gedung yang berbeda dengan mereka.


"Baik, Pak." Luna terpaksa menurut.


Teman-teman Luna yang akan pergi bersamanya ke stand pameran mengatakan mereka akan menunggu Luna di mobil, jadi Luna pergi sendirian ke kantor CEO.


"Hai Luna." Daffa menyapa wanita yang ia tahu bahwa Nathan menyukainya.


"Selamat siang Pak Daffa." Luna balas menyapa, "Manajer meminta saya mengantarkan dokumen ini untuk Pak Nathan." Wanita itu menyerahkan sebuah amplop coklat besar.


Daffa menyeringai di dalam hatinya karena ingat seberapa brengsek sepupunya memperlakukan wanita ini.


"Baiklah, biar aku yang terima." Daffa menyambut dokumen dari tangan Luna.


Lalu seorang wanita keluar dari ruangan Nathan. "Aku akan pergi ke rumahnya saja." Kata Jasmine setelah lama menunggu tunangannya yang tak kunjung datang. "Berikan aku alamat rumahnya." Gadis itu meminta pada sekertaris Nathan. Karena yang ia tahu hanyalah alamat rumah sang nenek dan orang tuanya Nathan. Ia tidak tahu Nathan tinggal dimana.


"Nona, CEO tidak suka jika saya memberitahu alamatnya pada orang lain." Sekretaris menolak dengan sopan. "Tidak ada yang pernah datang kerumahnya kecuali beliau undang."


Jasmine menyela sekretaris itu dengan tidak sabar, kilatan dingin melintas di matanya. “Apakah saya orang asing? Saya akan segera menjadi istri CEO. ”


Sekertaris melirik Daffa dan Luna yang sedang menguping. Meminta bantuan.


"Begini saja, Jasmine, kau pergi saja ke rumah nenek, siapa tahu dia disana." Daffa memberi saran. Aku mencoba meneleponnya tapi tidak aktif.


"Begitukah?" Jasmine berpikir bahwa Daffa mungkin saja benar.


"Um.. saya permisi Pak Daffa." Luna meminta ijin untuk pergi.


"Iya silahkan." Daffa mengijinkan.


"Permisi." Luna mengangguk pada Jasmine. Dan wanita itu hanya membalas dengan mengangkat alisnya.


Dia wanita yang sama sombongnya dengan Nathan. Pikir Luna. Mereka cocok.


Tapi ini juga baik untuknya, karena sekarang Nathan memiliki Jasmine, pria itu mungkin tidak akan mengambil keuntungan darinya lagi.


Jasmine mengamati Luna dengan cermat ketika, perasaan tidak nyaman muncul di hati wanita itu. Jadi Jasmine memutuskan pergi lebih dulu sebelum Luna, karena ia tidak suka jika berada satu lift dengan seorang karyawan biasa.


Luna sengaja berjalan agak lambat agar mendapatkan lift yang berbeda, tapi Daffa mengejarnya.


"Luna, apa kau tahu dimana Nathan?" tanya Daffa.


Luna membelalak, terkejut tentang kenapa pria ini menanyakan padanya. "Anda menanyakan CEO pada saya?"


Daffa mengangguk. "Pokoknya aku tahu tentang kalian," katanya. "Jadi apa kau tahu?"


"Umm.. kenapa tidak telpon saja?" Luna tidak ingin bertindak ceroboh karena memberitahu tentang apartemen yang Nathan berikan.


"Tidak diangkat." Daffa menghela napas. "Coba kau telpon."


"Aku?" Luna menunjuk dirinya sendiri. "Kalau telpon Anda saja tidak diangkat apalagi aku." Wanita itu tertawa dan mengambil ponselnya. Mencari nomor Nathan lalu menekan tombol dial.


Dan Nathan mengangkat bahkan pada dering pertama.


"Daffa? Kenapa kau memegang ponsel Luna?" Nathan terdengar kesal.


"Aku memintanya meneleponmu," jawab Daffa. "Apa kau tidak tahu bahwa kekasihmu telah bertemu dengan tunanganmu?"


Luna menoleh dan memandang Daffa dengan sinis, ia tidak suka dengan sebutan 'kekasih', sedangkan pria itu telah memiliki tunangan.


"Apa?" Nathan terkejut di seberang.


"Jasmine pergi ke rumah nenek, sebaiknya kau kembali ke kantor dan selesaikan pekerjaanmu, lalu selesaikan juga urusanmu dengan wanita-wanita ini." Daffa menyeringai pada Luna yang mendengus didepannya


Luna berusaha mengabaikan masalah tentang tunangan CEO brengsek itu, karena seharusnya itu memang bukanlah masalah baginya. Jadi dia pergi ke stand untuk bekerja.


...* * *...


Nathan kembali ke kantor, dan sudah malam ketika ia menyelesaikan pekerjaannya. Nenek mengirim pesan padanya untuk datang, tetapi Nathan mengabaikan pesan itu.


Dia jauh lebih tertarik untuk kembali ke rumah yang telah menjadi milik Noah.


"Apa kau akan kerumah nenek?" tanya Daffa, ia sendiri jarang sekali datang ke rumah itu.


Nathan menggeleng.


"Oiya, bagaimana hubunganmu dengan Luna?" Daffa bertanya lagi.


Nathan tidak bermaksud menyembunyikannya dari Daffa tentang ia memberikan apartemen atas nama putra Luna. Tapi untuk saat ini ia tidak ingin membahasnya.


“Apa dia sekarang sudah jadi kekasihmu? Sekarang Jasmine juga tinggal di Jakarta, apa kau pikir mereka berdua akan..."


"Aku tidak tertarik pada Jasmine. ”


''Tapi kau tidak bisa menyingkirkan Jasmine begitu saja. Kita harus bergantung padanya untuk menembus pasar hingga ke Amerika. Kau bisa membiarkannya saja dulu, dan pada saat yang sama, kau dapat memprovokasi Luna untuk melihat apakah dia akan cemburu atau tidak?"


Nathan menatap Daffa. "Aku tidak peduli apakah dia cemburu atau tidak. Tapi aku tidak akan melakukan apa pun yang akan membuatnya cemburu."


“Kau ini tidak tahu apa-apa, kau harus menggunakan beberapa trik ketika mengejar seorang wanita." Daffa berdecak. "Biarkan aku mengajarkanmu, kau tidak bisa membiarkan seorang wanita terbiasa dikejar-kejar seperti itu, kau harus memainkan trik tarik ulur agar dia sadar bahwa dia menyukaimu."


Nathan menyela Daffa dan berkata, "Siapa yang bilang aku mengejarnya? Dia hanya simpananku sekarang."


Daffa tertawa. "Menggunakan kata 'simpanan' jadi terdengar sangat erotis."


"Terserahlah." Nathan berdiri dan mengambil jaketnya.


"Kau akan pulang?" Daffa memandang Nathan yang berjalan menuju pintu.


"Ini sudah jam sembilan malam, apa kau ingin menginap?" Nathan menjawab dengan sikap acuh.


"Biasanya kau kan gila kerja, apa kau akan pulang ke rumah nenek?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Bukan urusanmu." Nathan menghilang dari balik pintu meninggalkan Daffa sendirian di ruangannya.


Tidak ada yang paling ia inginkan kecuali pulang ke apartemen Noah.


Daffa menggeleng dan berdecak. "Simpanan apanya? Dia jelas tergila-gila pada wanita itu." Daffa seakan berpikir keras dan khawatir. "Ini akan jadi masalah besar."