CEO'S Baby

CEO'S Baby
Empat Kejutan Dalam Satu Hari.



"Mohon maaf sekali lagi, tapi Anda harus mencari rumah baru dengan segera, karena saya tidak bisa menyewakannya lagi." Si pemilik apartemen meminta Luna untuk pindah rumah secepatnya.


"Tapi kenapa mendadak sekali? Saya kan sudah bayar uang kontraknya sampai bulan depan?" Luna meluncurkan protesnya dengan kesal.


"Untuk masalah itu, silahkan cek rekening Anda, saya sudah mentransfer uang dengan jumlah tiga kali lipat dari jumlah yang Anda bayarkan kepada saya. Itu sebagai ganti ruginya." Si pemilik apartemen menjelaskan.


Luna kebingungan. "Paling tidak beri saya waktu satu atau dua Minggu, mencari tempat tinggal tidak mudah Pak."


"Mohon maaf, tapi saya tidak bisa memberi waktu lebih banyak, karena saya juga sudah bukan pemilik tempat ini lagi, disini saya hanya menyampaikan pesan dari pemilik baru. Kamu bersabarlah." Si mantan pemilik apartemen menepuk bahu Luna beberapa kali. Lalu pergi.


Luna bertolak pinggang, ia kesal dan bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Pindah sekarang juga? Bagaimana mungkin dia bisa pindah sekarang juga?


Belum lagi ini adalah jam makan siang, seharusnya dia gunakan untuk menjemput Noah disekolah, karena Yulia sedang pergi ke luar kota untuk mengantar ibunya berobat alternatif. Namun pemilik apartemen tadi malah meneleponnya untuk membicarakan kontrak.


"Astaga, Noah." Luna cepat-cepat mengambil ponsel untuk menelepon putranya.


"Iya Mama?" Noah menjawab panggilan ibunya.


"Noah tunggu sebentar ya, Mama sedang dijalan menjemput Noah." Luna mengulurkan tangannya untuk memanggil taksi di pinggir jalan.


"Mama, Noah sudah pulang. Tadi Paman Keren yang menjemput Noah." Putranya memberitahu dengan suara kecil yang menggemaskan.


"Apa?" Luna tersentak lalu masuk ke dalam taksi dengan panik, "Kenapa Noah sama dia? Noah tidak apa-apa kan?"


"Tidak apa-apa Mama," putranya menenangkan.


Lalu tiba-tiba Nathan mengambil ponsel Noah untuk berbicara dengan Luna. "Kau datang saja ke Star Residens, Putramu ada bersamaku," katanya seperti penculik.


"Kenapa kau membawa putraku?" Luna membentak, sangat marah sehingga dia gemetar dari kepala sampai ujung kaki.


Kenapa Nathan harus melibatkan Noah dalam perseteruan yang ada di antara mereka? Luna pikir tidak apa-apa jika pria itu memperlakukannya dengan buruk. Dia bahkan bisa menangani pelecehannya yang menyakitkan. Tapi kali ini si brengsek itu melibatkan putranya?


Luna terlalu marah untuk mengatakan apapun. Ia hanya meminta supir untuk pergi ke alamat yang dikatakan Nathan tadi setelah menutup teleponnya.


Segera setelah sampai di apartemen, Luna berlari ke unit yang tadi sempat dikatakan Nathan. Luna memencet bel berkali-kali dengan tidak sabar didepan pintu.


Nathan membuka pintu dengan santai. "Password pintunya adalah hari ulang tahunmu." Nathan bergeser sedikit untuk memberi ruang pada Luna agar bisa masuk.


"Mana putraku?" Luna celingukan mencari dengan panik ke seluruh ruangan.


Sesaat Nathan hanya diam mematung. Melihat sosok Luna setelah beberapa hari tidak melihatnya, kenangannya malah kembali pada malam terakhir mereka bertemu.


"Dimana putraku?" Luna bertanya lagi, kali ia berdiri berhadapan dengan Nathan. Membuyarkan lamunan pria itu.


"Dia baru saja tertidur." Nathan menunjuk sebuah kamar di sisi kanan ruangan.


Dengan cepat Luna pergi ke kamar itu. Di atas tempat tidur, Noah sedang berbaring sambil memeluk guling, ia terlihat begitu lelap dan nyaman.


"Biarkan dia tidur, kita bicara di luar." Nathan berbisik dan memegang bahu Luna.


Luna pergi keluar tanpa mengatakan apapun. Dan Nathan berjalan dengan santai dibelakangnya. Kali ini emosinya sangat stabil, bahkan jika Luna bersikap sinis padanya pun, itu tidak berpengaruh buruk bagi emosinya.


"Kenapa kau membawa putraku?" Luna bertolak pinggang, bertanya dengan sikap menantang.


"Aku hanya membawanya pulang ke rumahnya," jawab Nathan santai.


"Ke rumahnya?"


Nathan mengangguk. "Apartemen ini akan dialihkan atas nama Noah sekarang. Aku sudah menyuruh seseorang untuk memproses datanya."


"Apa?" Luna tidak bisa mengira-ngira apa yang pria ini pikirkan. "Kenapa?"


"Karena kalian tidak punya tempat tinggal kan sekarang?" Nathan mencoba menjelaskan. "Dan kau juga tidak akan mau jika aku memberikan apartemen ini padamu, maka aku menawarkan pada Noah, dan bocah itu menerimanya. Dia bahkan sudah cap jempol diatas materai, sudah disahkan sebagai pemilik tempat ini."


Tiba-tiba kebingungan Luna tentang kenapa dia diminta mencari rumah baru secepatnya tercerahkan. Semua karena ulah si brengsek ini. "Jadi kau yang membuatku diusir dari kontrakan?"


Nathan mengangkat bahunya sambil mencibir. Tidak merasa bersalah sama sekali.


"Jadi ini bayaran untukku?" Luna tersinggung karena merasa Nathan membayarnya untuk kejadian malam itu.


"Tidak ada bayar membayar." Bagaimanapun juga Nathan tidak akan pernah bisa memperlihatkan bahwa ia merasa bersalah. "Pemberian dari seorang pacar disebut hadiah, bukan membayar."


Sebenarnya Luna ingin seperti karakter utama dalam sebuah drama, yang menolak pemberian dari seorang pria dengan penuh harga diri. Tapi pria sombong ini, kemungkinan besar apa pun yang dia inginkan, dia tidak pernah gagal mendapatkannya.


Luna adalah satu-satunya pengecualian, dan perlawanannya telah membangkitkan keinginan Nathan untuk menaklukkannya.


Luna sudah berkali-kali memberontak pada pria ini dan semua usahanya sia-sia. Dia tahu Nathan mungkin akan melakukan sesuatu yang lebih buruk jika dia menolaknya.


Lagipula sekarang Luna benar-benar butuh tempat tinggal, sudah pasti Nathan juga akan menyulitkannya jika ia ingin mencari tempat tinggal sendiri.


Luna menghela napas. "Tempat ini milik anakku kan?" Luna menengadahkan tangannya. "Mana surat-suratnya?"


"Kan kubilang data dan surat-suratnya sedang diproses untuk balik nama."


"Terserahlah," Luna bersikap tidak begitu tertarik, setidaknya hari ini dia bisa mendapatkan tempat tinggal. "Aku harus kembali bekerja, ini adalah jam makan siang, tapi bagaimana dengan Noah?"


Nathan baru ingat bahwa Luna tidak tahu kalau dia adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja, Nathan tidak pernah bermaksud untuk berbohong, hanya saja Luna yang memang tidak pernah tertarik sama sekali untuk mengetahui latar belakang pria itu.


"Biar aku saja yang jaga Noah, nanti aku akan panggil Ari untuk menjaganya sementara belum dapat baby sitter." Nathan memberi solusi.


"Ari? Apa dia bisa jaga anak?"


"Setidaknya dia bisa dipercaya."


"Oiya, sebenarnya apa pekerjaanmu?" Luna menanyakan hal itu seakan bisa membaca pikiran Nathan.


"Umm..." Nathan ragu-ragu untuk menjawab, apakah ini masalah lain lagi? Apa Luna akan mengira bahwa ia membohonginya? "Kau sangat tidak tertarik padaku sampai-sampai kau tidak tahu aku adalah pemilik Neptunus Auto?"


Luna ternganga, ini kejutan ketiga setelah ia diusir dari rumah, lalu diberi apartemen mewah, dan sekarang ia tahu fakta bahwa Nathan adalah CEO-nya.


Luna menghela napas berat lagi. "Apa ada hal yang belum aku ketahui lagi?"


Nathan berpikir sejenak lalu menggeleng.


"Aku pergi," katanya sambil mengambil tas yang tadi diletakkannya di kursi.


"Kalau ada yang tanya, bilang saja aku tidak datang, atau nanti sore setelah Ari bisa menjaga Noah." Nathan berpesan.


"Kau pikir mereka akan bertanya padaku?"


"Tidak sih."


...* * *...


Luna sampai di kantornya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, apartemen yang diberikan Nathan cukup strategis dan lebih dekat dengan tempatnya bekerja.


Bersamaan dengannya, seorang wanita turun dari sebuah mobil, melangkah mengenakan setelan formal. Dia memiliki rambut hitam lurus panjang yang menggantung di kedua sisi, menambahkan sentuhan kecantikan yang mewah.


Tiba-tiba Bela, teman sekantornya mengejar dan menyamakan langkahnya dengan Luna lalu berbisik. "Hei, wanita itu Yasmin kan?"


"Yasmin? siapa?" Luna merasa ketinggalan berita.


"Ck, kau ini, setiap pulang kerja selalu saja cepat-cepat pergi." Bela menepuk bahu Luna pelan. "Kemarin saat para karyawan nongkrong bareng setelah pulang kerja, mereka membicarakan bahwa tunangan CEO akan datang hari ini, namanya Yasmin."


"Hah?" Luna ternganga, lalu melihat beberapa petinggi perusahaan menyapa wanita tadi dengan sopan.


(


Si brengsek tak tahu malu dan cabul telah mempermalukan dan menyiksanya malam itu, lalu dia malah memberikan sebuah apartemen untuknya, dan sekarang ada lagi fakta bahwa dia memiliki tunangan. Sialan!


Ini adalah kejutan keempat untuk hari ini.