CEO'S Baby

CEO'S Baby
Lari dari Kandang Buaya untuk Menyerahkan Diri pada Singa.



Kota Jakarta malam hari.


Luna yang sebenarnya adalah wanita baik-baik, pergi ke club malam untuk pertama kalinya karena ajakan Siska dan Rani, teman sekelasnya di kampus. Ia hanya sedang mencoba berbaur dengan teman-teman karena selama ini Luna selalu saja menolak jika diajak pergi.


Tapi ternyata keputusannya selama ini sudah benar untuk tidak mengikuti pergaulan buruk itu,


Seorang pria mendekati dan menaburkan bubuk obat ke minumannya.


Siska melihat pria yang berniat menjahati Luna, namun ia malah tutup mata, selama ini ia memang sangat membenci Luna karena dirinya mencintai Alan, pacar Luna.


Luna mabuk, kepalanya berputar-putar dan ia tergeletak bersandar di meja. Ada seorang pria yang mendekatinya, sesekali menanyakan apakah dia baik-baik saja.


"Luna, kami duluan ya." Siska mendorong bahu Luna pelan. Ia sengaja menegurnya dengan pelan agar Luna tidak benar-benar terbangun.


"Hmm.." Luna hanya menjawab dengan bergumam. "Aku juga mau pulang." Luna merintih dan namun ia tidak bangun.


Siska mendengus dengan jijik, lalu berjalan keluar setelah melirik pada pria yang tersenyum nakal padanya, mereka tidak saling mengenal, tapi sepertinya misi mereka sama, untuk mengerjai Luna.


"Hei gadis, namamu Luna bukan?" Pria itu menyentuh bahu Luna dan membelainya. "Apa kau mengantuk?"


Luna hanya membalikkan wajahnya diatas


meja tanpa menjawab, matanya sedikit terbuka, namun ia berpura-pura masih tertidur.


"Setelah aku kembali dari toilet, aku akan membawamu ketempat yang lebih nyaman oke?" Pria itu berbisik dan mengendus harum tubuh Luna. "Kau tunggu aku ya."


Pria itu pergi ke toilet dengan rencana kotor di kepalanya,.dia tidak menyadari bahwa Luna terbangun meski setengah sadar, gadis itu menyadari rencana buruk apa yang akan dilakukan pria itu padanya, dirinya lemah saat dia bangkit dari kursi. Aliran rasa panas membakar seluruh tubuhnya. Dia menjilat bibirnya yang kering dan mencoba berlari dengan gemetar.


Sekuat tenaga Luna berusaha keluar dari club dan pergi.


Selang beberapa menit, pria yang baru saja kembali dari toilet merasa kesal karena kehilangan buruannya.


Begitu Luna sampai di pintu, wanita itu menoleh dan melihat pria tadi sedang mencarinya dengan panik. Beruntung pria itu tidak melihatnya pergi keluar.


Luna tidak tahu seberapa cepat dia bisa berlari. Dia kelelahan dan pengaruh obat semakin kuat. Luna tidak lagi memiliki energi untuk berlari lebih jauh. Luna mencoba membuka pintu beberapa mobil yang terparkir di basemen, dan ia berhasil pada percobaan ketiga. Ada sebuah mobil yang pintunya tidak terkunci.


Dengan kepala yang sakit Luna masuk ke dalam mobil untuk bersembunyi. Kepalanya semakin berat dan segala sesuatu di sekitarnya mulai berputar. Ada kemerahan yang tidak wajar di wajahnya, membuat wajahnya semakin tampak luar biasa menawan.


Luna terengah-engah, panas yang bergejolak telah menghabiskan semua energi dari tubuhnya. Dia perlu minum air. Gadis itu bersandar di kursi penumpang sambil terengah-engah.


Basemen ini gelap. Kaca film mobil yang hitam pekat pun membuat lampu dari luar semakin terlihat redup.


"Siapa kau?" terdengar suara pria bertanya, suaranya berat.


Samar-samar Luna melihat wajah yang tampan tersembunyi di kegelapan, seorang pria terbangun karenanya, ada seorang pria di sini,.duduk di kursi pengemudi dengan tenang sejak tadi. Suaranya serak dan dingin tanpa sedikit pun kehangatan, tetapi bagi wanita itu, suaranya bagaikan tali penyelamat.


Bak pergi dari kandang buaya lalu menyerahkan diri pada seekor singa. Pengaruh obat malah membuat Luna meraih wajah pria itu, membelai dengan lembut karena linglung.


"Apa yang kau..." Pria yang bernama Nathan itu belum selesai berbicara ketika Luna bergeser duduk di pangkuannya, menggigit ujung hidungnya dengan gemas. Aroma yang hanya bisa dimiliki oleh gadis itu tiba-tiba membanjiri semua pikiran Nathan. Setiap ototnya menegang dalam sekejap. Pria itu juga setengah mabuk.


Luna tidak tahu apa yang menimpanya. Dia tidak merasa seperti dirinya sendiri lalu duduk di atas perut pria asing itu, seakan mengikuti instingnya, ia menempelkan bibirnya ke bibir pria itu tanpa berpikir lebih jauh.


Laki-laki itu akan menyuruhnya untuk enyah dari pangkuannya ketika bibir Luna menempel lagi ke bibirnya, menahan kata-katanya agar tidak keluar. Lidahnya yang lembut menyelinap ke mulutnya, dengan tidak berpengalaman, terasa sangat canggung.


Mereka sempat melihat wajah satu sama lain dengan jelas, lalu merasakan suhu panas yang mendidih keluar dari tubuh mereka.


Luna melingkarkan tangannya ke leher pria itu dengan erat. Dia tidak tahu apa yang bisa dia lakukan selain menciumnya. Dia membenamkan wajahnya yang terbakar ke leher pria itu, dan mengerang kesakitan.


Luna tidak tahu mengapa dia merasakan kepercayaan yang tak dapat dijelaskan terhadap pria ini.


Mungkin itu karena fakta bahwa mereka hanya berduaan didalam mobil yang sempit sedangkan diluar sangat sepi. Atau mungkin itu karena pria ini tidak menyakitinya bahkan setelah Luna menciumnya seperti itu. Namun, Luna belum mempertimbangkan naluri primitif seorang pria. Tidak mungkin Nathan akan diam saja setelah Luna melakukan itu.


Ketika Luna bergerak untuk mencium pria itu sekali lagi, dia tiba-tiba tersentak karena pria itu membalas, tangannya mulai bergerak menjelajahi tubuhnya, menyelinap ke balik gaunnya.


Tangan Nathan ada di pinggang Luna dan dia mengumpulkan kedua pergelangan tangan wanita itu ke belakang. Pria itu memegangnya hanya dengan satu tangan.


Luna membelalak karena respon yang ia dapatkan. Nathan membawa wajahnya ke lekuk leher Luna hingga tubuhnya tersentak.


"Tunggu . . . ” Katanya sama sekali tanpa keyakinan. Luna berusaha menyangkal karena masih ada sedikit kesadaran, tetapi Nathan terlanjur terprovokasi dan inilah yang mereka butuhkan.


Pria itu menyeka kulit lembut di pangkal leher Luna dengan ujung hidungnya, menikmati cara kulit itu berubah menjadi merah muda karenanya.


Dalam kegelapan, Luna bisa merasakan daya tarik ekstrem hadir di mata dingin pria itu saat dia menatapnya, tatapan itu menariknya seperti pusaran air yang tak berujung.


Tangan Luna merayap tanpa sadar ke dalam kemeja pria itu, jari-jarinya dengan lembut membelai, menari ringan di perutnya. Mereka mulai memiliki pikiran mereka sendiri dan bergerak lebih ekstrim secara naluriah.


Hal yang awalnya membuat Luna lari ketakutan malah terjadi disini, Itu menyakitkan. Sangat menyakitkan. Rasanya seperti tubuhnya terbelah secara paksa oleh pisau.


Terlepas dari semua rasa sakit yang dia alami, tubuhnya yang diinduksi obat membuatnya menginginkan lebih. Tangannya mencengkeram lengan pria itu, menuntut lebih banyak dari yang telah ia dapatkan.


* * *


Malam yang sibuk telah mereka lalui. Samar-samar sinar matahari redup bergerak di luar. Fajar sudah tiba.


Ruangan sempit itu kini dipenuhi aroma yang luar biasa. Di kursi belakang, gadis muda itu perlahan membuka matanya. Saat bulu matanya yang lentik terbuka memperlihatkan bola-bola hitam gelap yang agak bingung karena baru saja bangun. Pinggangnya yang ramping terperangkap oleh lengan berotot seorang pria yang melingkarinya.


Keduanya berpelukan sedemikian rupa sehingga hampir tidak ada ruang di antara mereka. Napasnya ringan dan dangkal, saat dadanya naik turun secara berirama.


Luna merasakan ketakutan yang luar biasa di hatinya saat dia secara bertahap mengingat kenangan semalam. Mereka melakukan itu di dalam mobil?


Tangan mungilnya bergerak ke atas untuk menutupi bibirnya. Butuh waktu lama sampai gadis itu perlahan-lahan bisa kembali ke akal sehatnya dari keterkejutan dan ia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi


Luna kembali melirik pria yang masih terlelap disampingnya, sebelum menarik lengan berotot itu menjauh dari pinggangnya dengan sangat pelan. Tubuhnya terancam berantakan, tetapi dia memaksakan dirinya untuk bangkit dan merangkak untuk membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.


Gadis itu dengan susah payah dan menyeret kakinya yang lemas untuk pergi keluar basemen lalu memanggil taksi. Perjalanan pulangnya terasa begitu dramatis karena hatinya sakit, tubuhnya juga seakan remuk bersama harga diri yang hancur berkeping-keping.


Selang beberapa menit, Nathan terbangun dan perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi jejak gadis yang semalam bersamanya.


Pria itu duduk sambil menyeka rambutnya yang jatuh di dahi, lalu tersenyum sinis. Wanita ini tidak akan pernah bisa lari darinya.