
Nathan pulang ke rumah Noah. Tapi pria itu tidak melihat Luna di sana, hanya Noah yang duduk sendirian di tempat tidur bermain dengan video game.
Melihat Nathan datang, Noah melambaikan tangan pada pria itu dengan senyum cerah. “Paman, mari kita adakan kompetisi game."
Nathan menyipitkan mata. "Dimana Mama?"
“Mama mandi. ”
Otomatis gambaran Luna tidak memakai apa pun muncul dalam pikirannya. “Kau main duluan, aku perlu bicara dengan Mama," katanya lalu bergegas pergi ke kamar.
Luna keluar dari kamar mandi setelah menyeka tubuhnya. Melihat memar samar di kulitnya, Luna memikirkan bagaimana dia benar-benar dipermalukan oleh Nathan waktu itu dan bekasnya masih belum benar-benar hilang sampai sekarang.
"Brengsek. Pria macam apa dia? Dia bukan pria sejati.” Luna bergumam pada dirinya sendiri sambil mengenakan piyama mandinya. Dia mengernyit saat tubuhnya mengeluh karena sakit di bagian memar itu.
Luna berjalan menuju lemari.
"Aku pria sejati atau bukan, bukankah kau sudah tahu sejak malam itu?" Nathan menjawabnya.
Suara berbahaya dan jahat melayang ke telinga Luna, ia melihat sosok pria di pintu kamar dari sudut matanya dan melompat kaget.
Nathan berjalan masuk lalu duduk di sisi tempat tidur. "Kau bertemu dengan Jasmine?"
Luna tidak berharap dia datang ke sini hanya untuk menanyakan itu. Ia mengalihkan pandangannya dan menjawab, “Jasmine adalah tunanganmu, itu urusanmu, tidak ada hubungannya denganku."
Nathan mengerutkan kening dan menjadi marah karena ketidakpeduliannya, ia menghampiri Luna. “Kamu adalah milikku. Mulai sekarang, kamu hanya bisa mendengarkan aku. Jangan pernah mendengarkan kata orang, mengerti?”
Maniak pemarah ini! Luna mengutuk.
"Apa kau sudah selesai?" Luna mengerutkan kening ketika dia berkata dengan ekspresi masam, "Kalau sudah, biarkan aku berganti pakaian, dan ya, aku menerima pemberianmu tentang apartemen ini tapi aku tidak berniat selamanya tinggal disini, aku akan segera pergi begitu aku mendapatkan tempat lain, jadi aku tidak harus mendengarkan semua perintahmu."
Nathan mencubit memegang dagu Luna dan mengangkatnya. Rambutnya masih basah setelah mandi, tidak ada riasan di wajahnya yang putih dan cantik. "Apa kau pikir Jasmine adalah wanita yang baik?"
"Tidak," jawab Luna.
Ekspresi pria itu berubah dari gelap menjadi cerah. Dia pikir Luna tidak menyukai Jasmine karena telah menjadi tunangannya. Tangan pria itu bergerak untuk menyentuh bahu Luna.
Luna memegang pakaiannya dan memandang Nathan dengan marah. "Jangan main-main, kamu tidak diizinkan untuk bertindak sembarangan!" Tanpa memberi Nathan kesempatan untuk berbicara, Luna bergegas pergi keluar.
Tetapi setelah beberapa langkah, Nathan menyusul dan menarik Luna ke pelukannya.
"Pak, jika kau melakukannya lagi, aku bersumpah aku akan..."
Nathan mengerutkan kening ketika dia melirik sekilas ada memar di leher dan dada Luna yang terbuka sedikit. Tangannya bergegas untuk memeriksa. "Apa ini?"
Luna menolak untuk membiarkan Nathan memeriksanya, ia memegangi piyamanya dengan erat.
Nathan merasa bersalah lagi. Ia tahu memar itu adalah akibat dari ulahnya. Tapi pria ini tidak pernah terbiasa untuk meminta maaf. "Diam ya," pintanya pada Luna, lalu menurunkan sedikit piyama wanita itu.
Luna tidak tahu apa yang ingin Nathan lakukan, tapi dia diam dan tetap memegangi kerah piyamanya erat-erat.
“Perhatikan ini." Nathan menyentuh kulit bahu Luna dengan tangannya.
Luna berpikir ulah apa lagi yang akan dilakukan pria brengsek ini
Sekitar beberapa detik, jari Nathan mengukir sesuatu di punggungnya.
Luna mencoba berbalik tapi Nathan memegangnya erat-erat. “Kubilang diam, dan perhatikan ini.”
Luna sedang berpikir keras tentang apa yang diinginkan pria pemarah ini?
Ketika Luna merasa bingung, dia tiba-tiba merasakan ujung jari pria itu menggambar bentuk huruf M, membuat Luna mengerutkan alisnya.
Selanjutnya, Nathan menggambar A.
Luna mengerutkan bibirnya. Memperhatikan dan mulai mengeja.
Kemudian A lagi, dan terakhir, huruf F.
Luna berbalik tiba-tiba, mungkin karena terkejut dan mungkin juga karena penasaran dengan ekspresi pria itu ketika mengungkapkan Maaf.
Nathan tidak siap saat Luna memandangnya setelah menyampaikan 'maaf', dan itu membuatnya membeku. "Siapa yang menyuruhmu berbalik?" katanya dengan kesal.
Luna menggigit bibirnya dan tidak terganggu oleh amarah pria itu. "Kau menyampaikan bahwa kau menyesal?"
Rahang Nathan menegang dan menyangkal dengan keras, "Tidak!"
Luna hendak mengatakan sesuatu lagi ketika Nathan berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa.
Luna tercengang, ini pertama kalinya ia melihat sisi manis dari brengsek gila itu, ini juga pertama kalinya ia melihat orang yang meminta maaf dengan cara yang aneh. Menolak untuk mengakui setelah meminta maaf dan bahkan melarikan diri.
Tapi, apakah dia berpikir dengan hanya menulis 'maaf' maka aku akan memaafkan semua hal yang telah dia lakukan padaku? Tindakan tercela semacam itu mungkin akan membuatku trauma seumur hidup. Luna menggerutu namun nyaris saja tertawa melihat Nathan yang lari seperti itu