
Lima tahun kemudian .
Di sebuah pusat perbelanjaan besar di Kota Jakarta, seorang wanita cantik mendorong kereta belanja tempat seorang anak laki-laki kecil duduk, mengenakan topi baseball, overall denim, dan kemeja kotak-kotak bergaya Inggris.
Meskipun topi menutupi mata dan hidungnya, orang bisa tahu dari pandangan sekilas bahwa dia benar-benar anak yang tampan dan imut hanya dari bibirnya yang lembab dan dagunya yang menggemaskan.
“Ibu apakah kau sudah mencatat semua daftar belanjaan yang perlu kita beli?” Bocah lelaki kecil mengangkat kepalanya untuk menatap wanita muda yang cantik itu.
Saat anak laki-laki itu mengangkat kepala, banyak orang yang tertarik untuk melihat wajahnya dengan jelas.
Luna memandang dengan penuh kasih sayang pada bocah laki-laki itu ketika senyum cerah muncul di wajahnya. “Sudah sayang!”
Luna awalnya ingin menggugurkan bayinya setelah dia tahu bahwa dirinya hamil lima tahun yang lalu, namun ia tidak tega. Tidak mudah baginya memutuskan untuk menjadi seorang ibu tunggal, apalagi ia harus menyelesaikan studinya di luar negeri, sementara juga merawat putranya sendirian. Namun hati dan tekad Luna begitu kuat sampai hari ini akhirnya ia memiliki putra yang tampan.
“Noah sayang.” Suara jelas terdengar dari belakang mereka. Luna berbalik dan melihat sahabatnya, Yulia yang melambai dengan ceria padanya dan Noah.
Yulia telah menjadi teman Luna selama empat tahun terakhir ketika Luna tinggal di Singapura dan mereka telah lama menjalin persahabatan yang kuat. Karena itu, Yulia adalah satu dari sedikit orang yang tahu tentang keberadaan Noah. Yulia ikut kembali ke Indonesia karena ingin pulang ke kampung halamannya
“Noah tante datang, maaf karena terlambat ya.”
Senyum yang sangat menawan muncul di wajah kecil Noah yang menggemaskan.
“Astaga, dia akan menjadi pemikat wanita sejati ketika dia dewasa.” Yulia memeluk dan menciumi Noah lagi.
“Tante, kamu memelukku sangat erat, aku tidak bisa bernafas. ”
Yulia melepaskan Noah dengan senyum lebar, lalu matanya menatap wajah Luna setengah tertawa. “Noah, kamu sangat tampan! Bisakah aku jadi pacarmu ketika kau dewasa nanti? ”
“Tante sangat cantik, pacarmu di masa depan pasti lebih tampan daripada Noah!” Mata hitam besar Noah melirik Luna.
“Noah, apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar ingin menjadi pacarmu dan membawamu pulang bersamaku. ”
Luna tertawa, “Saat kau dewasa mungkin tante Yulia juga sudah jadi nenek-nenek.”
Yulia cemberut, “Hmph, aku tidak menua semudah itu.”
Setelah selesai berbelanja di supermarket, mereka berencana merayakan kepulangan sekaligus melihat-lihat kota dengan makan besar di restoran yang cukup terkenal di Jakarta.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di lantai atas sebuah hotel bintang lima. Namun pelayan di depan restoran menghentikan mereka. “Maaf, tapi restoran sudah booking untuk malam ini. ”
Luna terdiam. “Seluruhnya?”
Yulia menghibur Luna saat melihat ekspresinya yang marah dan kecewa. “Tidak apa-apa, Lun. Kita masih bisa makan ditempat lain. ”
Luna cemberut, “Restoran sebesar ini disewa untuk apa sih? Toh sepertinya tidak ada acara khusus. ”
“Sudahlah, ayo.” Ylia menarik lengan sahabatnya agar tidak memperumit keadaan.
Mereka bertiga tidak punya pilihan selain kembali ke lobi. Tepat ketika mereka mencapai pintu masuk hotel, Yulia berbalik dan memberi isyarat agar mereka berhenti, “Kalian tunggulah disini, aku akan mengambil mobil. ”
“Oke.”
Luna dan Noah berdiri di belakang pilar marmer besar. Ketika mereka menunggu, telepon Luna berdering dan dia berjalan maju beberapa langkah untuk mengangkat telepon. Noah bersandar di pilar mengamati orang-orang di sekitarnya dengan hati-hati.
Tiba-tiba, seseorang yang terlihat berbeda keluar dari pintu putar, menarik perhatian Noah dengan sikapnya yang dingin.
Seorang pria berjalan dari pintu masuk, mengenakan jas hitam klasik, pria bertubuh tinggi juga dengan bahu yang lebar. Wajahnya sangat tampan dengan garis rahang yang sempurna, seperti pahatan patung yang berharga meski terkesan dingin. Dia memancarkan aura yang kuat dan mendominasi yang luar biasa mengintimidasi, mencegah siapa pun terlalu dekat.
“Paman itu keren.” Noah bergumam sendirian.
Langkah pria itu penuh percaya diri, dan di belakangnya diikuti seorang wanita cantik.
Pria itu berjalan fokus dengan dirinya sendiri, tidak menunjukkan niat untuk berhenti dan menunggu wanita yang berjuang mengikuti dibelakangnya yang tampak agak menyedihkan.
“Nathan, aku tahu aku salah karena memesan seluruh restoran. Aku hanya ingin mengajakmu keluar karena aku akan belajar di luar negeri. Tidakkah kau mau menemaniku makan bersama?” Wanita itu cemberut sedih saat air mata menggenang di pelupuk matanya yang cantik.
“Aku tidak punya kebiasaan makan dengan wanita.” Pria itu tidak menunjukkan kelembutan atau simpati sama sekali, tidak peduli betapa menyedihkan wanita itu. Air matanya tidak berpengaruh. Pria itu tidak menoleh, atau menghentikan langkahnya.
“Aku menyukaimu!” Gadis itu berteriak.
Beberapa orang berdiri di depan pintu masuk hotel menoleh untuk memandang mereka dengan rasa ingin tahu.
Baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya, Luna juga tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik mereka, meskipun yang bisa dia lihat hanyalah seorang wanita muda yang menangis mengejar sosok dominan pria bertubuh tinggi.
Luna hendak memalingkan kepalanya dari adegan itu, ketika suara sombong pria itu melayang ke telinganya tanpa sedikit pun kehangatan. “Aku tidak tertarik padamu.” Itu adalah penolakan yang jelas.
Luna tertarik untuk memperhatikan lagi. Sosok pria itu sangat mengintimidasi sehingga pandangan darinya saja membuat takut seorang gadis muda yang tidak jadi mengangkat ponselnya untuk mengambil foto.
“Luna, apa yang kau lihat?” Yulia bertanya melalui jendela mobil yang terbuka, setelah membawanya ke pintu masuk.
Luna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lalu menuntun Noah untuk masuk ke dalam mobil. Mereka memutuskan untuk tidak mempedulikan pasangan aneh itu lalu pergi.