CEO'S Baby

CEO'S Baby
Menjadi Paman dan Bibi yang Romantis.



Luna berjuang keluar dari pelukan pria itu dan meninggalkan kamar tidur untuk pergi ke dapur. Dan Nathan memutuskan untuk mandi, dia memang belum sempat membersikan diri dari restoran tadi.


Baru pada saat itulah Luna melihat apa yang telah dilakukan Nathan dan Noah.


Ayah dan anak ini tadi rupanya ingin membuat makanan yang nikmat untuk Luna.


Namun, yang terjadi hanya kekacauan yang lengkap dan total di dapurnya.


Noah rupanya terbangun, ia sedang mengambil air dan minum setengah mengantuk di dapur.


“Mama, aku tidak berpikir kalau paman akan seburuk itu. Kukira dia bagus dalam segala hal, tapi ternyata dia tidak bisa memasak sama sekali.‘’ Noah berkata dengan malu-malu ketika dia melihat Luna memegang dahinya dengan putus asa.


Pria yang telah mandi air dingin untuk menurunkan api di dalam dirinya, berjalan keluar dan kebetulan mendengar kata-kata Noah. Ekspresinya menjadi gelap sebagai protes. “Bro, bukankah kau mengatakan kamu tahu caranya memasak? Apakah akan berantakan jika kau tidak memberikan instruksi yang salah? Dan berhenti memanggilku paman.“


"Lalu panggil apa?" tanya Noah sambil menyeka matanya.


Luna terdiam untuk sementara waktu dan memberikan tatapan mengancam pada Nathan. Pria itu tidak menjawab Noah.


Setelah merapikan dapur yang berantakan, dia berbalik untuk menatap pria yang bersandar di pintu masuk dapur. “Apa kau tidak malu menyalahkan kekacauan pada anak berusia tiga tahun?”


Nathan menatap bibirnya, itu tampak lebih menarik sekarang. Bahkan ketika dia marah, dia terlihat sangat cantik. “Kami tidak bisa melakukan apa pun tanpa dirimu.”


Noah juga mengedipkan matanya dengan sedih, “Mama, aku lapar."


Luna bisa menjadi dingin dan mengabaikan siapa pun, satu-satunya pengecualian adalah bayinya. Jantungnya meleleh saat bocah itu merengek padanya.


Tapi persediaan makanan sudah habis. Luna ingat ada supermarket baru di daerah dekat sini yang buka dua puluh empat jam penuh. “Mama akan pergi ke supermarket sekarang untuk membeli makanan, oke?"


“Mama, aku sudah lama tidak pergi ke supermarket bersamamu. Ayo pergi bersama."


Luna mengulurkan tangannya ke Noah. “Baiklah, ayo pergi.”


Pria yang sepenuhnya diabaikan berjalan mendekat dan mengangkat Noah di pundaknya, satu tangan memegangi bocah itu dan satu lagi memegangi tangan Luna.


Luna berusaha menarik tangannya Nathan namun sia-sia.


DI SUPERMARKET.


Luna akhirnya angkat bicara ketika dia sudah muak dengan pria yang menatapnya sejak tadi, Nathan bahkan tidak melihat ke sekeliling, matanya hanya terpaku pada Luna. “Apa kau cabul? Kenapa sejak tadi menatapku seperti itu?”


Nathan juga tadi sempat terganggu karena beberapa pria yang melewati mereka semua menatap Luna setelah mereka memasuki supermarket.


“Meskipun sudah memiliki anak, Bagaimana kau bisa tidak peduli dengan penampilanmu dan memakai sesuatu yang begitu pendek?"


Nathan mengomel.


Noah sedang duduk di troli dan melihat sekeliling. Dia tidak mendengar omelan Nathan yang pelan dan tidak bahagia.


Luna mengabaikannya.


Tatapan Nathan mendarat di celana pendeknya. “Tidak apa-apa jika kau memakainya untukku. Tapi tidak bisakah kau melihat tatapan mesum dari semua pria lain disini?”


Luna muak dengan kegilaannya dan dia mendesis, “Tidak ada yang sesat seperti kamu disini."


“Baik, aku sesat." Dia tiba-tiba menempelkan wajahnya ke telinga Luna, senyumnya jahat dan sombong, "Dan yang ingin ku lakukan sekarang adalah membawamu pulang dan membuka semua pakaian ini.”


Luna tidak memiliki kata-kata, hanya memutar mata dan benar-benar ingin menampar pria tak tahu malu ini.


Tatapan Nathan menjadi gelap saat melihat wajahnya memerah. Lengannya yang panjang melilit bahu rampingnya dan Luna mendongak secara naluriah, “Bagaimana hmm?"


Ia mencondongkan wajah ke bibirnya dan mencium.


Pikiran Luna berdengung karena rasanya hubungan mereka saat ini menjadi sangat canggung setelah cukup lama berpisah.


Pasangan remaja yang tidak terlalu jauh dari mereka melihat tindakan Nathan dan gadis itu cemberut ketika dia berkata dengan sedih kepada pria nya, “Lihatlah paman itu, dia masih sangat romantis pada bibi itu walaupun mereka sudah menikah dengan seorang anak.”


Sudut bibir Luna berkedut. Dia mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari gadis itu, bagaimana bisa dia dipanggil bibi?


Bocah laki-laki itu melirik Luna dan Nathan, lalu ke Noah. “Apakah kamu secantik Bibi itu? Aku juga tidak setampan paman itu. Berciuman di depan umum bagaikan sebuah drama. Jika kita berciuman di depan umum seperti itu, itu akan berbahaya bagi masyarakat.”


“Ehhh menurutmu? Tapi paman dan bibi itu benar-benar terlihat seperti berasal dari sebuah drama. Ya ampun, bayi mereka sangat imut!”


sahut wanitanya.


Ciuman Nathan sebelumnya telah menarik beberapa tatapan berbeda. Luna buru-buru berjalan menjauh darinya, bahkan tidak peduli tentang Noah.


Wanita itu berhenti ketika dia berdiri di depan salah satu rak secara acak, ia bahkan tidak menyadari dimana ia berada.


“Apakah Anda ingin membeli pakaian dalam untuk pria Anda?”


Suara staf penjualan membuntuti di sampingnya dan saat itulah Luna memperhatikan bahwa dia berdiri di depan rak pakaian dalam pria karena tergesa-gesa meninggalkan Nathan.


Tanpa Noah bersamanya, Luna tampak seperti mahasiswa yang tinggal di kampus, dengan kaus putih, celana pendek denim, dan kuncir kuda kasual. Rona merah di pipinya belum hilang, dan staf penjualan bertanya dengan tenang lagi, berpikir bahwa dia malu, “Seberapa tinggi dan berat pacarmu? Saya akan membantu menebak ukurannya jika Anda memberi tahu saya.”


Luna tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan apa-apa ketika ponselnya berdering. Alisnya berkerut ketika dia melihat bahwa panggilan itu dari Nathan lalu menjawabnya.


Suara bariton pria terdengar dan berkata, “Bantu aku membeli dua pasang," pintanya sambil tertawa. Dia lalu menyebutkan tinggi dan berat badannya.


Luna mendengus dan menyebutkan postur tubuh Nathan pada staff itu. Wanita itu berkata dengan iri setelah Luna mengakhiri panggilan, “Pacarmu sangat tinggi! Tubuhnya juga sangat ideal, kamu harusnya 3XL!”


Bibir Luna berkedut. Mereka berbicara tentang topik yang memalukan, itu terlalu aneh baginya!


“Dengarkan aku dan ambil yang ini.”


Staff itu memberikan ukuran yang menurutnya sesuai.


Nathan berdiri di lorong berikutnya, dan bibirnya melengkung tak terkendali, tertawa ketika melihat wajah Luna memerah.


"Anak kucing yang pemalu ini benar-benar menggemaskan," gumamnya. Dia benar-benar ingin menarik Luna ke pelukannya dan meremas pipinya.


...* * *...


Setelah mereka kembali ke rumah, Luna membuat tiga hidangan dan sup.


Makanan yang dia buat adalah semua yang biasanya Noah suka.


Namun, anak itu tidak makan terlalu banyak karena sebagian besar masuk ke perut Nathan.


Noah kembali mengantuk dan Luna membawanya ke kamar untuk tidur.


Pada saat Noah tertidur dan Luna hendak kembali ke kamarnya, di ruang tamu dia melihat Nathan juga tertidur di sofa.