
Selama beberapa minggu terakhir, tak disangka-sangka nenek tenggelam sepenuhnya pada urusan persiapan pernikahan. Berjam-jam ia habiskan untuk bertelepon-teleponan dengan pihak wedding organizer. Nenek kini dekat dengan Noah dan memperlakukannya dengan sangat baik, bahkan dia sekarang sering kali mengabaikan Nathan.
Malam ini. Luna menghirup napas dalam-dalam dan memejamkan mata. Luna menanggalkan pakaiannya hingga tinggal pakaian dalam saja dan mengulurkan lengan lurus-lurus ke depan. Pasrah untuk dijadikan manekin hidup oleh Jasmine.
Wanita itu kini sudah merelakan Nathan dan berteman baik dengan Luna.
“Bisa lebih rileks tidak? Kau bersikap seolah-olah aku hendak memakaikan pakaian perang padamu!” gerutu Jasmine sambil membantu Luna menjajal baju pengantinnya.
Luna mengabaikannya. Ia sedang berada dalam kebahagiaan yang begitu luar biasa. Berada di tempat yang selama ini ia impikan, seluruh kerepotan mengurusi pernikahan sudah beres dan berakhir. Sudah lewat. Sudah selesai dan siap dilaksanakan.
Luna tidak begitu pusing memikirkan di mana mereka akan berbulan madu. Ia tidak keberatan untuk pergi kemanapun asalkan bersama dengan Nathan.
Nathan, Noah dan aku akan hidup bersama secara sah. Aku akan menikah dengannya. Itu yang paling penting. Pikir Luna lagi.
Belaian bahan sutra di kulit Luna terasa begitu lembut. Saat ini ia tak peduli kalau pun seantero kota membicarakannya. Nathan menikahi wanita yang sudah memiliki putra. Sebagian orang akan menganggap itu hal yang wajar, tapi sebagian lagi yang tidak tahu apa-apa sudah pasti punya persepsi berbeda-beda.
Setelah acara pengepasan pakaian telah selesai, Jasmine membantu Luna menanggalkan pakaian putih berenda itu lalu dipindahkan ke manekin. Dia cukup puas karena pakaian yang ia pilih untuk Luna gunakan di hari pernikahannya terlihat begitu sempurna di tubuh calon pengantin. Wanita itu begitu bahagia menjadi Wedding organizer di acara pernikahan mantan tunangannya sendiri
Luna masih memandang gaunnya yang dikenakan patung manekin, bahkan boneka manusia itu terlihat sangat cantik saat mengenakan gaun pernikahannya.
"Aku pergi memeriksa persiapan lain dulu." Jasmine menepuk baju Luna sekali lalu dengan bersemangat dia pergi keluar. Dan bertemu Nathan tepat di depan pintu.
"Halo mantan," sapa Jasmine pada Nathan dengan nada bercanda.
Nathan hanya menyeringai begitu bahagia, jari ini dia sangat positif, tidak ada pikiran buruk sama sekali.
“Seharian ini kau sibuk sekali.” Ucap Nathan masuk dan berdiri di belakang Luna lalu memeluk wanita itu dari belakang. “Aku merindukanmu.”
“Aku juga.” Jawab Luna, “Lagipula tidak lama lagi kita akan bersama setiap hari.”
“Mmm.” Gumam Nathan, karena saat ini bibirnya sedang sibuk bermain di permukaan pundak Luna.
Hening yang cukup panjang. Hanya detak jantung bertalu-talu, dan desah napas mereka yang tersengal.
Nathan membalikkan tubuh Luna dan menciumnya, di bibir, wajah dan leher.
Sesaat tatapan mereka bertemu; mata Nathan yang indah menatap begitu dalam hingga Luna membayangkan bisa memandang jauh hingga ke dalam jiwanya.
Nathan membalas tatapan Luna seolah-olah ia menyukai apa yang dilihatnya. Luna menarik lagi wajah Nathan ke wajahnya.
“Kalau begitu, aku tetap disini saja,” gumam Nathan sejurus kemudian. Malah mencium sambil menaikan blus Luna hingga sebatas dada.
“Tidak, tidak. Kau harus pergi, bukan saatnya untuk itu, kau harus pergi untuk pesta malam lajang kan?" meski mulut Luna berkata begitu, jari-jari tangan kanan nya tetap meremas rambut Nathan, dan tangan kiri merengkuh punggungnya.
Kedua tangan Nathan ikut membelai wajah Luna. “Malam lajang dirancang untuk orang-orang yang sedih karena akan meninggalkan masa lajangnya. Sedang aku justru bersemangat melepasnya. Jadi
sebenarnya pesta itu tak ada gunanya.”
“Benar.” Luna mengembuskan napas di kulit leher Nathan.
Mereka berbaring di tempat tidur sambil berpelukan.
Nathan bergidik nyaris tak kentara, lalu kembali ******* bibir Luna. Pria itu mendesah. Napasnya yang harum membelai wajah Luna. Namun tak lama Nathan menarik diri, mengingat seseorang pasti mencarinya jika terlalu lama menghilang dari pestanya sendiri.
“Tunggu,” cegah Luna, mencengkeram pundak Nathan dan merapatkan tubuhnya. “Apa kau tidak perlu berlatih lebih keras.”
Nathan terkekeh. “Penggunaan kata berlatih sepertinya terlalu terlambat sekarang. Kita bahkan sudah punya putra.”
“Ya, aku hanya mencoba peruntunganku." Katanya memilih alasan dengan asal-asalan hingga membuatnya seperti idiot.
Nathan malah semakin tertawa lalu mencium sejenak.
“Apa kau benar-benar yakin akan menikah denganku?” tanya Luna, ia nampak serius.
“Aku yakin.” Jawab Nathan. “Jangan bilang kau yang berubah pikiran.”
Luna terkekeh. “Aku hanya memastikan."
"Dengar ya, setelah ini kau tidak akan pernah bisa melepaskan diri dariku pagi." Nathan mengancam.
“Aku yakin tentang kamu. Meski kau pinta pun aku juga tidak akan pergi darimu.” Jawab Luna, menenangkan kekasihnya.
Terdengar suara pintu di ketuk berkali-kali.
“Luna.” Suara Daffa memanggil. “Kami tahu kau menyembunyikan calon pengantin pria. Sekarang suruh dia keluar.”
Nathan terkekeh melihat Luna berwajah masam karena dituduh menyembunyikannya.
“Kalian sedang apa?” teriak Dirga lagi, sengaja membuat kegaduhan. “Aku akan masuk dalam hitungan ketiga, cepat berpakaian jika kalian sedang dibuk melakukan sesuatu.” Katanya lalu beberapa orang cekikikan bersama Daffa.
Luna memeluk Nathan lebih erat lagi selama satu detik, kemudian melepaskan. “Pergilah. Atau mereka akan terus mengacau. Selamat bersenang-senang.”
Nathan memutar bola matanya, tapi bangkit berdiri dalam satu gerakan luwes, dan dengan cekatan mengenakan kembali pakaiannya. Lalu mengecup kening Luna. “Tidurlah. Besok hari yang besar.”
“Kalian akan pergi kemana?” tanya Luna begitu membuka pintu dan Daffa berdiri paling depan.
“Ke club untuk melihat penari tanpa busana.” Jawab Daffa.
Luna tahu Daffa berdusta, tapi ia tetap bergidik mendengarnya. “Jangan macam-macam.”
Nathan malah tertawa melihat kekesalan Luna. “Tenanglah. Semua akan lancar besok.” Katanya lalu mereka bergegas pergi.
“Tapi tetap tidak boleh pergi ke tempat seperti itu.” Teriak Luna karena mereka sudah agak jauh.
Luna berbaring di bantal dan mulai mengantuk. Ia membiarkan pikirannya berkelana sejenak, berharap kantuk akan menguasainya. Tapi, setelah beberapa menit, ia malah merasa semakin siaga dan mulai mengkhawatirkan banyak hal lagi.
Pertama, soal gaun pengantin. Luna begitu kagum dengan keindahan gaun pengantin miliknya, gaun berbahan dua jenis sutra itu di bagian lengannya diberi sedikit mutiara, sedangkan untuk korsetnya dibuat tampak indah dengan bahan brussel antik. Ia satu-satunya pemilik gaun pengantin indah itu di dunia ini. Jasmine jelas-jelas membiarkan selera seninya mengalahkan segi kepraktisan dalam hal itu. Rasanya mustahil bisa berjalan tanpa tersandung dengan sepatu hak tinggi dan gaun berekor panjang.
Kedua, apakah besok ia akan gugup saat membacakan janji pernikahan? Dan masih banyak hal konyol lain yang membuatnya gelisah hingga kesulitan untuk tidur.