
Hari itu, Nathan mengantarkan Luna pulang ke rumahnya pada pukul sebelas tiga puluh malam. Dan semenjak malam itu, ini adalah hari ketiga mereka tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi sama sekali.
Nathan sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggangu Luna sementara waktu. Ia ingin ketegangan diantara mereka sedikit mereda sebelum mereka bertemu lagi.
Di istananya, Siang hari yang cukup cerah, Nathan menatap Ari dengan ekspresi serius sambil merendam kakinya di kolam renang. Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu. "Ari, apa kau pernah memaksa seorang wanita untuk berhubungan denganmu?"
Ari keheranan, tetapi ia menyembunyikan keterkejutannya. Bosnya mengajukan pertanyaan semacam ini di tengah malam? "Berhubungan bagaimana maksud anda?"
"Ya, itu..." Nathan ragu-ragu untuk menjelaskan. "Ah, sudahlah, lupakan."
"Sepertinya aku mengerti." Kepala pelayan itu memancing bos-nya untuk berbincang lebih lanjut.
"Tidak jadi, lupakan saja."
"Baiklah."
Nathan berpikir sejenak. "Kalau kau memaksa kau boleh ceritakan padaku."
Ari terbatuk canggung saat dia menjawab dengan sedikit malu, "Tuan Muda, bukannya aku sombong, tapi aku belum pernah memaksa wanita, Tapi seharusnya, jika wanita itu menyukai Anda, bukankah tidak ada yang perlu dipaksakan?”
"Ini bukan tentang aku, aku bertanya karena temanku menanyakan tentang ini, aku bingung harus jawab apa." Nathan berdusta padahal sudah sangat terlihat jelas bahwa ia berbohong.
"Saya baru tahu Anda punya teman yang cukup dekat untuk berbagi cerita Tuan." Ari menyindir dengan sangat halus.
Nathan menyipitkan matanya. Wajah tampannya cerah dan gelap di bawah cahaya yang dipantulkan melalui jendela. Sulit membaca ekspresinya.
"Kalau begitu saya menyimpulkan bahwa wanita itu tidak menyukai teman Anda." Ari mengutarakan pendapatnya sambil menahan tawa.
Kurang ajar kau! Nathan menggerutu dalam hati. "Aku bukan menanyakan itu, maksudku apa yang harus dilakukan setelah itu?"
"Tentu saja harus meminta maaf dengan tulus jika Anda merasa bersalah. Teman anda maksudku." Ari meralat kata-katanya dengan cepat sebelum Nathan melemparkan sepatutnya ke wajah Ari.
“Tidak tahu bagaimana cara minta maaf nya." Nathan mengerutkan alis. "Bagaimana kalau wanita itu tidak mau memaafkan?"
"Maka gunakan kelemahannya."
"Maksudmu?"
"Kebiasaan anda kan suka memaksa orang, kenapa tidak gunakan saja cara licik untuk membuatnya mau berbicara dengan Anda dan mencapai kesepakatan?" Ari keasikan bicara sampai lupa pada posisinya. Beruntung Nathan tidak menyadari itu.
"Dia hanya sangat menyayangi putranya." Ekspresi Nathan seakan ia berpikir keras.
"Kalau begitu Anda dekati saja putranya, dan buat anak itu berpihak pada Anda."
"Ide bagus." Nathan menjentikkan jarinya, ia merasa puas dengan ide cemerlang kepala pelayannya.
Nathan tahu bahwa Luna tidak ingin melihatnya lagi setelah siksaan dan penghinaan yang telah dia lalui malam itu.
Dia juga tidak tahu apa yang Luna pikirkan. Dia merasa seperti seorang pemburu yang melihat seekor kelinci kecil. Semakin kelinci itu tidak berdaya dan ingin melarikan diri, semakin dia ingin menangkapnya. Luna telah menjadi kebutuhan yang mendesak.
Jika Nathan memaksa untuk bertemu dan berakhir dengan melawan satu sama lain tanpa ada yang mengalah, dengan kepribadian mereka yang keras kepala, mereka mungkin akan berakhir dengan saling membunuh.
Namun, jika dia memiliki Noah sebagai sekutunya, semuanya akan jauh lebih mudah.
Tentu saja, Nathan tidak akan memberi tahu bocah itu bahwa dia sudah dengan kejam menindas ibunya.
Nathan bergegas pergi untuk menjemput Noah di sekolah. Semua informasi tentang bocah itu dan Luna sudah ada ditangannya, seharusnya tidak ada yang tidak ia ketahui tentang mereka.
Noah mengerjapkan matanya dan memeriksa Paman Keren dengan cermat. Raut wajahnya keheranan karena pria ini menjemputnya setelah mereka tidak saling berkomunikasi lagi untuk waktu yang lama. “Kenapa paman menjemputku?”
Nathan terbatuk ringan. "Kenapa kau takut seperti itu? Apakah kau pikir aku terlihat seperti orang yang akan menculikmu?"
Noah mengangguk. "Paman terlihat bisa melakukannya!"
Noah menggerakkan wajahnya yang kecil di depan tinju Nathan tanpa rasa takut. “Tentu, pukul aku! Paman bisa melupakan tentang menjadi pacar Mama jika kamu melakukannya! ”
Nathan tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan apa-apa ketika dia mendengar bocah nakal itu menambahkan dengan suara kekanak-kanakannya, "Jangan kira aku tidak tahu bahwa paman telah jatuh cinta pada Mamaku!"
"Bocah, omong kosong apa yang kamu bicarakan?" cinta macam apa yang dibicarakan bocah ingusan ini? Tidak mungkin dia benar-benar jatuh cinta pada Luna, ia hanya membutuhkannya karena sesuatu yang belum ia mengerti. Setidaknya itulah yang Nathan yakini.
Noah cemberut, tetapi memilih untuk tidak membangkang. "Lalu kenapa paman menjemputku? Mama akan khawatir jika aku tidak ada saat dia menjemputku."
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Suatu tempat?"
"Kenapa bawel sekali? Kau bisa ikut aku jika ingin tahu." Nathan mengangkat bocah itu lalu memasukkannya ke mobil.
Selama di perjalanan, Noah banyak sekali bertanya dan berceloteh dengan suara khas anak-anak yang lucu, membuat Nathan gemas sekaligus pusing.
"Dimana ini?" tanya Noah begitu mereka sampai pada sebuah apartemen super mewah di pusat kota Jakarta.
"Star Residence." jawab Nathan singkat lalu keluar dan membuka pintu mobil untuk Noah, lalu menggendong bocah itu sampai ke lift. "Kau berat juga." Nathan merenggangkan pinggangnya begitu Noah diturunkan.
"Tentu saja, aku kan sudah besar." Noah mendongak untuk melihat wajah Nathan yang berdiri disampingnya. Menunggu lift untuk sampai ke lantai dua puluh lima. "Paman kenapa membawaku kesini?"
Lift berdenting sedetik sebelum pintu terbuka. Nathan menuntun tangan Noah untuk berjalan.
Dan mereka sampai pada sebuah unit apartemen super mewah berdesain dutch colonial, kombinasi klasik dan modern dengan luas 351 meter persegi yang terdiri dari 3 kamar tidur.
Nathan memang sudah memiliki apartemen ini semenjak beberapa bulan yang lalu, awalnya ia membeli tempat ini hanya untuk melepas jenuh jika ia bosan dirumah atau hanya ingin menyendiri. Tapi sekarang, ia memberikan apartemen ini untuk Luna dan Noah.
"Bagaimana menurutmu tentang tempatku?" Nathan mengangkat Noah untuk dibawa ke sofa.
Noah belum pernah melihat rumah yang begitu besar dan mewah. Pandangan sekilas ke sekeliling sudah cukup untuk mengetahui bahwa hanya orang yang sangat kaya yang bisa memiliki rumah seperti itu.
"Sangat Bagus." Noah mengacungkan ibu jarinya.
"Ini adalah rumah baru untukmu dan Mama." Nathan mengumumkan.
Noah berpikir sejenak dengan kepala dimiringkan. Dia berkata dengan cepat, “Paman ingin aku tinggal disini?"
Nathan mengangguk dengan sombong.
"Kenapa?"
Nathan menatap bocah nakal dengan ekspresi dingin. “"Karena Mamamu adalah pacarku. Kau tidak bisa merebut wanitaku, mengerti?"
"Sudah sepakat dengan mama?"
"Kau terlalu banyak bertanya bocah."
"Tapi paman tidak bisa menggertak mamaku atau memarahinya dan tidak boleh memberiku adik.” Noah mengajukan persyaratan pada Nathan.
Nathan melengkungkan jarinya dan menjentikkan dahi Noah. Dia berbicara dengan ekspresi aneh, “Bro, apa kau benar-benar berusia empat atau empat puluh tahun? Kenapa bicaramu seperti orang tua?”
Noah hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya, lalu turun dari sofa untuk melihat-lihat rumah barunya.
(Teman-teman, mulai hari ini aku akan rutin update cerita ini dua hari sekali ya, karena pekerjaan di real life ku dan aku ada satu cerita lagi yang akan publish di platform sebelah awal bulan depan.
Cek cerita baru aku di beranda FB ya, jangan lupa komen dan rate bintang 5 😁, tinggalkan jejak supaya aku tau kalian disana. Thanks 🙏)