
“Riska bilang padaku kalau kau …” Alan masih berbicara dengan posisi yang begitu dekat dengan Luna.
Luna tahu apa yang ingin pria ini katakan. Dia mengangkat tangannya. “Alan, kenapa kau mempercayai apa pun yang dikatakan Riska? Jika aku benar-benar didukung secara finansial oleh seorang lelaki tua, kenapa aku masih pergi untuk bekerja? Bukankah aku bisa hanya tinggal di rumah dan menikmati kehidupan yang bahagia?"
Alan merasa bahwa apa yang dikatakan Luna juga masuk akal, tapi … “Dia melihatmu naik mobil sport Lykan. ”
“Oh, itu adalah teman dari sahabatku. ”
Alan tahu Luna memiliki seorang sahabat, Yulia yang dikenalnya saat ia menetap di Singapura. Bukan tidak mungkin bagi mereka berdua untuk mengenal pria kaya.
Alan mengerti arti tersirat dari kata-kata Luna. Dia tersenyum senang. “Jadi, kamu tidak menjadi wanita simpanan pria tua?”
“Tentu saja tidak.”
Alan menatap wajahnya yang polos dan menawan, dan menelan liur. Dia mengulurkan tangan dan mengambil sebotol minuman di kabinet lalu menuangkannya ke gelas. “Minumlah ini dan aku akan mengembalikan kalung itu kepadamu. ”
Luna mengambil gelas itu sambil menyeringai. “Bagaimana jika aku tidak meminumnya?”
Alan melepaskan Luna dan pergi ke meja di samping tempat tidur, mengeluarkan sebuah kalung yang ia genggam erat, hingga Luna tidak bisa memastikan bahwa itu benar adalah kalung miliknya atau bukan.
“Jika kamu tidak meminumnya, aku akan membuangnya ke toilet.”
Luna melihat kalung di tangan Alan, masih tidak terlihat jelas tapi sepertinya memang mirip. Banyak kenangan muncul dari ingatannya. Dia hampir menangis mengingat bahwa mendiang ibunya sangat menghargai kalung itu. Luna meneguk minuman di gelas tanpa banyak berpikir.
Alan menyeringai, minuman itu dibius dan bahkan jika Luna tidak sudi, dia akan menjadi miliknya malam ini.
Di masa lalu, Alan adalah pria baik-baik yang sopan dan terpelajar, tetapi semenjak ia merasa dikecewakan oleh Luna, selama beberapa tahun terakhir, dia telah bermain dengan banyak wanita di luar, mencari yang mirip dengan Luna.
Tetapi para wanita itu semuanya palsu dan tidak pernah bisa sebanding dengan mantan kekasihnya. Sekarang setelah yang asli berada di tangannya, Alan tidak sabar untuk merasakannya.
Alan diam-diam memasukkan kalung ke kantong celana bagian belakangnya dan berjalan mendekati Luna.
Luna tampak polos dan cantik tanpa semua riasan, pria itu tidak bisa menahan diri untuk membelai wajahnya, kulitnya selembut sutra, halus dan tanpa cacat.
Luna menurunkan pandangannya. “Alan, aku merasa agak pusing …”
Alan mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum. Pria itu membelai wajah Luna saat tatapannya menjadi berkabut.
Alan meraih dan mencium punggung tangannya. “Luna, kamu semakin cantik.." Dia memandang Luna dengan cara menggoda dan semakin mendekat padanya.
Luna dengan senyum menawan, mendorongnya ke tempat tidur, mematikan lampu utama ruangan, hanya menyisakan lampu dinding kuning. Di bawah cahaya lembut, dia seperti peri yang mempesona, menyihir Alan sampai pria itu kehilangan kontrol. “Alan, kau minum juga." Luna memberikan segelas minuman untuk Alan.
Tanpa berpikir panjang, pria itu meneguknya dengan cepat.
"Beri aku beberapa menit, aku akan mandi.” Luna mendorongnya lagi saat pria itu mendekat.
Alan menelan liurnya, matanya penuh hasrat. “Luna, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.”
“Lima menit . “Suara Luna seperti madu, manis dan memabukkan.
“Oke, bersihkan dirimu untukku.”
Melihatnya memasuki kamar mandi, Alan berbaring di tempat tidur, matanya panas dan napasnya cepat, tak terkendali. Dia menatap langit-langit dan menunggu wanitanya kembali.
...* * *...
Mobil sport mewah berhenti di Grand Golden Hotel.
Daffa yang merasa khawatir akan terjadi sesuatu, menghampiri pria itu. “Kamu benar-benar datang?”
Wajah Nathan suram. “Dapatkan kartu kunci untuk kamar 1504. ” perintahnya pada Daffa.
Daffa sering menjadi tamu Hotel ini. Resepsionis di meja depan adalah penggemarnya dan dia dapat dengan mudah membujuk wanita itu untuk memberinya kartu kunci kamar 1504.
Nathan mengambil kartu dan langsung menuju ke kamar itu.
Daffa lihai dalam hal hubungan antara pria dan wanita. Ia berasumsi bahwa sepupunya menginginkan kunci kamar, lalu pasti akan menerobos masuk untuk memukuli pasangan selingkuh ini. Tapi itu tidak boleh terjadi, Nathan tidak boleh terekspose dengan berita yang tidak baik. Itu akan menambah daftar pekerjaanku. Daffa membatin.
“Dengar, jika dia tidak setia padamu, kau harus berhenti memikirkannya. Katakan tipe wanita yang kamu suka dan akan ku carikan. Kau jangan membuat masalah. " Daffa mencoba yang terbaik untuk mengalihkan perhatian Nathan.
“Diam f * ck!” Nathan berteriak.
Daffa terdiam, karena jika tidak, pukulan mungkin akan mendarat di wajahnya. Tapi kata-kata di dalam kepalanya sangat menggangu dan ingin dikeluarkan. “Tiba-tiba terpikir olehku mengapa kamu tertarik pada wanita itu. bukankah seharusnya dia bukan tipemu?"`
Suara dingin Nathan memotong kata-kata yang belum selesai Daffa katakan. “Diam!”
Daffa mengatupkan bibirnya. “Baiklah, lupakan yang kukatakan. ”
Sejak Nathan mendapat kabar bahwa Luna masuk ke ruangan itu, ada kemarahan yang tak terkendali membakar dadanya.
Nathan tidak tahu seberapa besar rasa sukanya pada Luna, tetapi ketika dia mendengar bahwa wanita itu pergi untuk bertemu dengan mantan pacarnya, Nathan sangat marah sampai rasanya ingin membunuh seseorang. Pria itu menggesek kartu kamar dan pintu berbunyi bip.
Disana, terlihat samar dalam kegelapan bahwa Luna sedang berada dalam pelukan Alan, "Apa kau sudah selesai membersihkan diri?" Suara seorang pria terdengar penuh hasrat.
Lalu mereka berdua menoleh ketika pintu tiba-tiba terbuka, memandang heran pada sosok pria yang berdiri di sana.
Wajah tampan Nathan tertawa mengejek. Bagaimana mungkin wanita seperti ini membuatku kehilangan ketenangan? Dia tidak menghargai dirinya sendiri, kenapa aku harus menghargainya?
Nathan menarik kerah baju Alan dan langsung memukulinya habis-habisan. Mengabaikan Luna yang sempat terpelanting karena berusaha melerai.
Alan tidak bisa berusaha membela diri sama sekali, karena sebelum Nathan memukulinya pun ia memang sudah merasa sangat pusing dan hampir pingsan. Ia hanya terhuyung-huyung dan terpelanting ketika Nathan menghajarnya.
Daffa sadar dengan posisinya, persetan dengan Alan, jika pria itu harus mati ditangan Nathan, dia tidak akan ikut mati hanya karena mencoba memisahkan mereka. Dia tahu sepupunya itu tidak akan bisa ditenangkan jika sedang mengamuk.
"Apa-apaan kau?" Luna membentak Nathan ketika berhasil mendorong pria itu menjauh, namun terlambat, karena Alan sudah habis babak belur.
"Wanita murahan!" Nathan balas membentak Luna satu tangannya sudah berada di leher wanita itu. Sedangkan Alan sepertinya sudah tidak sadarkan diri.
"Apa hak mu menyebutku begitu?" Luna menjawab dengan mata menantang. Ia kesal karena belum menemukan dimana Alan menyimpan kalungnya. "Kau merusak rencanaku." Urat di kepalanya hampir pecah karena kesal, ia sudah sampai sejauh ini untuk mendapatkan kalungnya kembali, tapi Nathan mengacaukannya.
"Merusak rencana?" Nathan malah tertawa, saking marahnya ia bahkan sampai tidak tahu harus berbuat apa, andai dia tidak bisa mengendalikan diri, maka mungkin saja Luna juga akan dihajarnya.
"Berhentilah bersikap seolah kau punya hak atas diriku, kumohon, pergi saja." Luna menghampiri Alan, memeriksa kedua tangan dan kantung celana bagian depan pria itu untuk menemukan kalungnya.
Nathan nyaris tidak percaya bahwa Luna lebih memilih pria brengsek seperti Alan, wanita itu bahkan tidak takut padanya dan malah menghampiri pecundang itu.
Luna benar. Tidak ada hubungan apa pun diantara mereka! Tapi Nathan tidak suka diremehkan seperti ini.
"Kau bawa pergi dan urus pecundang itu!" Perintahnya pada Daffa. Ia menarik lengan Luna lalu menjauhkannya dari Alan.
Daffa bergegas membopong Alan, pria itu mengambil ponselnya untuk memanggil beberapa orang agar membantunya, Nathan telah menambah lagi daftar pekerjaan yang harus Daffa selesaikan, yaitu membersihkan semua data dan bukti kekerasan yang dilakukan sepupunya itu, juga menutup mulut orang-orang yang melihat.
Nathan membanting pintu segera setelah Daffa dan semua orang pergi. Sekarang, saatnya membereskan urusannya dengan Luna.