
Nathan belum sempat membalas perbuatan Luna karena ia harus melakukan perjalanan bisnis yang mendesak.
Beberapa hari telah berlalu dan kini dia telah kembali ke Jakarta.
Di landasan pribadi, ia turun dari pesawat dengan mantel hitamnya, tiga kancing pertama dari kemeja biru lautnya terbuka, menunjukkan aura seksi yang tegas.
Seorang asisten membantu membuka pintu mobil untuk Nathan. Pria itu tampak sedang memikirkan sesuatu lalu bertanya sebelum masuk ke dalam mobil, "Apakah ponselku sudah diperbaiki?"
Asisten dengan sopan menyerahkan ponsel kepadanya. "Sudah Pak. ”
Nathan mengambil ponsel dan membuka WhatsApp, tapi masih belum ada pesan. Bibirnya mengencang menjadi garis, dan ekspresinya kesal lalu masuk ke dalam mobil setelah meminta sopir untuk membiarkannya membawa mobil sendirian.
DISISI LAIN, Luna sudah siap untuk pergi bekerja, ia mengikat rambutnya ke belakang dengan rapi, juga mengenakan seragam khas Neptunus Auto, sebuah blazer hitam, kemeja putih dipadukan dengan rok hitam selutut.
Tetapi ketika dia sampai di pintu keluar, sebuah mobil sport mewah melaju ke arahnya dengan kecepatan sangat tinggi, seperti panah yang dilepaskan dari busur.
Luna terkejut hingga membuatnya mundur dan hampir terjatuh.
Mobil sport berhenti pada jarak kurang dari satu meter dari Luna.
Luna sampai ternganga ketika melihat pria di kursi pengemudi melalui kaca depan, berpikir ada sesuatu yang salah dengan visinya. Tidak mungkin dia melihat Tuan Muda bipolar disini.
Bagi Luna, mereka tidak saling menghubungi selama beberapa hari, terutama setelah insiden yang tidak menyenangkan di rumah Neneknya.
Luna memalingkan wajah dan berjalan menuju halte bus seolah-olah dia tidak melihat Nathan. Dia tidak ingin melakukan kontak lebih lanjut dengan pria ini. Itu hanya akan membawa masalah, pikirnya.
Kebetulan ada taksi kosong yang lewat. Luna memanggilnya dan masuk ke kursi penumpang depan dengan tergesa-gesa.
Sopir taksi baru saja akan menjalankan mobil ketika ada guncangan keras yang menabrak mobilnya. Luna dan supir taksi terguncang didalamnya.
"Gempa bumi?" teriak supir taksi dengan panik, menoleh untuk mengecek apakah Luna baik-baik saja di belakang.
Luna menenangkan diri dan sebelum dia sempat melihat apa yang terjadi, tiba-tiba pintu mobilnya terbuka dari luar. Segera setelah itu, lengannya ditarik lalu diseret keluar dari taksi dengan sepasang lengan yang kuat.
Ketika sopir taksi melihat seseorang mencuri penumpangnya, dia turun dari mobil dengan tergesa-gesa. "Apa yang kamu lakukan? Saya pikir itu gempa bumi, ternyata Anda menabrak mobil saya? ”
Sopir taksi itu bahkan hampir tidak bisa bernapas saking kagetnya ketika melihat mobil sport mewah lah yang menabrak bagian belakang mobilnya.
Yang dia tahu adalah bahwa bahkan jika sebagian kecil mobil itu rusak, suku cadang pengganti harus dibuat khusus dari luar negeri. Biaya perbaikan yang berlebihan bukanlah sesuatu yang dia mampu, bahkan jika dia mengemudikan taksi tanpa henti selama sisa hidupnya!
Apakah ada yang salah dengan orang ini? Mengapa dia menabrak taksi dengan mobil yang begitu mahal? Pikir sopir taksi.
"Perbaiki mobilmu!" Nathan memberikan sejumlah uang yang cukup banyak pada sopir taksi itu.
Tanpa banyak bicara pak sopir beringsut masuk kedalam mobilnya lalu pergi, jangan sampai pria itu meminta ganti rugi padanya juga, pikirnya.
Luna dipaksa masuk ke mobil sport oleh pria berwajah cemberut itu. Dia berjuang menolak masuk ke dalam mobil namun pria itu berteriak dengan angkuh, "Mobil apa pun yang kamu pakai, aku akan menabraknya!"
Luna menggertakkan giginya, wajahnya yang cantik berubah jadi dingin dan marah. “Apa lagi salahku padamu? Kenapa kau tidak bisa membiarkanku pergi?"
Nathan yang berhasil membuat Luna duduk di kursi penumpang, pergi ke kursi pengemudi dan mengerutkan kening pada wanita itu. "Kamu tidak tahu apa yang telah kamu lakukan?"
Luna tidak tahu lagi apa yang telah dia lakukan hingga menyebabkan pria ini menggila. Yang jelas dia sudah hampir terlambat pergi bekerja. "Karena kau tidak membiarkan aku naik taksi, maka tolong antar aku ke kantor.”
Nathan mendengus. "Kamu pikir aku akan menuruti kata-katamu? Aku bukan sopir pribadimu!”
"Lalu apa kau akan bertanggung jawab jika aku dipecat? Sebenarnya kau mau apa?" Luna berpikir keras tentang apa yang sedang terjadi. Ia berusaha menenangkan diri lalu mengeluarkan sebuah lolypop dari tas nya. Apa seperti ini bisa mengendalikan dia? pikir Luna, ia sudah hampir kehabisan akal.
Nathan melihat permen bergagang yang diserahkan oleh Luna. Apa wanita ini benar-benar berpikir aku anak kecil?
"Kamu pikir hanya dengan memberiku permen aku tidak akan marah? Beraninya kau mempermainkan aku."
Detik berikutnya, suara sombong menuntut, "berikan padaku." Nathan menengadahkan tangan kirinya.
Luna melirik dengan pandangan bingung lagi.
"Kau tidak mau pergi ke kantor?" Pria itu memandangi permennya yang berada di tas Luna, maksudnya jelas. Jika wanita itu tidak memberikan permen, dia tidak bisa pergi.
Luna memberikan kembali permen itu sambil mencibir. Jangan mengatakan apapun. Ia memperingati dirinya sendiri.
Nathan mengupas bungkus permen lalu memakannya. Kemarahan menghilang dalam sekejap. Menyadari ia belum membalas apapun pada Luna, Nathan mengambil tangan wanita itu lalu menggigit jarinya pelan.
Lidahnya yang panas menyentuh ujung jari Luna. "Apa-apaan sih?" Luna ingin memukul kepalanya dengan tas andai saja pria ini bukan pemarah gila. “Kau sudah mengambil permenku, kenapa harus menggigit tanganku juga?"
Nathan memandang wanita yang kesal sambil menyeringai. Dibandingkan dengan wanita-wanita lain, entah kenapa ia merasa Luna yang paling menarik.
"Itu hukuman kecil karena berani mempermainkan aku."
Luna memelototinya. “Kau tidak masuk akal. ”
Mungkin manisnya permen itulah yang membuat suasana hati Nathan lebih baik. Dia tidak peduli tentang nada tidak ramah yang Luna gunakan. Pria itu menginjak pedal gas dan mobil sport itu melaju kencang.
Perjalanan ke kantor cukup singkat kerena kecepatan mobil itu luar biasa. Luna tidak berani membiarkannya berhenti di pintu masuk kantor sehingga ketika mereka masih lima atau enam ratus meter dari tujuan, dia berkata, "Berhenti, aku akan turun di sini. ”
Nathan mengangkat alisnya dan dia tersenyum nakal. “Hanya wanitaku yang bisa meminta sesuatu dariku." Dia berhenti dan melanjutkan dengan sikap arogan," Jadi, kamu ingin menjadi wanitaku? "
Ada dua makna tersirat dalam kata-katanya. Jika Luna setuju untuk menjadi wanitanya, maka dia akan menghentikan mobil di sini.
Padahal jika Luna tidak setuju pun, Nathan tidak akan berani mengantar hingga terlihat oleh semua karyawan. Itu akan menjadi berita besar yang memicu kerusuhan dalam keluarganya. Terutama ibu yang selalu mengatur tentang wanita seperti apa yang boleh dekat dengannya.
Luna terdiam. Ini adalah pemerasan! pikirnya.
Luna tidak ingin menjawabnya, jika bilang tidak maka akan memicu kemarahannya lagi, tapi menerima juga sama dengan setuju untuk menjadi gundiknya.
Mobil yang terus melaju mendekati kantor, membuat Luna semakin panik. Wanita itu meraih setir dan dengan pekikan, Nathan menginjak rem hingga berhenti di pinggir jalan.
Luna membuka sabuk pengamannya dan berusaha mendorong pintu dengan cepat tapi Nathan berhasil menariknya kembali ke dalam. Pada saat bersamaan, pintu mobil ditutup.
"Aku harus bekerja, dan ini sudah sangat terlambat, bisakah kau berbelas kasihan dan berhenti menggangguku?" Luna memohon dengan kesal. Pria ini gila, astaga!!
Nathan mengangkat alisnya, matanya semakin gelap. Dia meraih pergelangan tangan Luna dan menariknya dari kursi penumpang ke pangkuannya.
Ruang di mobil sport itu sempit dan kecil dengan dua orang duduk bersama. Luna berusaha pindah kembali ke kursi penumpang sambil menahan amarahnya.
Wanita itu mengatupkan bibir untuk mengendalikan emosinya karena dia tahu betul, di depan pria gila ini, semakin dia memberontak, maka itu akan membangkitkan amarahnya yang jauh lebih menakutkan.
Luna menahan emosi yang bergemuruh di dalam hatinya lalu menatap pria itu dengan wajah tegang, tanpa sadar merasa panik dan takut. Dia tidak akan mencekikku lagi, kan?
Nathan melihat kepanikan diwajah Luna dan sudut bibirnya sedikit terangkat. Menampilkan senyum jahat. "Kau memblokir WhatsApp-ku? Apa kau tahu konsekuensi yang akan kau dapatkan kerena memperlakukan aku seperti orang bodoh? ” Nathan mengangkat dagu Luna, memaksa wanita itu untuk menatapnya.
Luna semakin ketakutan dan bingung. Dia mencoba menenangkan diri, memikirkan makna di balik kata-kata pria ini. Blok apa? Kapan aku mempermainkannya seperti orang bodoh? "Aku tidak mengerti apa maksudmu," katanya.
"Malam itu kau mengirimiku foto dirimu setelah mandi. Apa maksudmu dengan mengirimkan gambar itu?" Nathan menjelaskan dan bertanya.
Luna semakin bingung. Aku bahkan tidak tahu nomor teleponnya, bagaimana aku bisa mengirim gambar kepadanya?
Nathan menatap wajah Luna yang bingung dan langsung mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi dia tidak mengatakan apapun. Wajahnya menghampiri leher Luna lalu mengendus lembut. "Kelinci galak, aku ingin tahu apa kau semanis permen itu?"
Luna merasakan sentuhan panas dan lembab di kulit lehernya, diikuti dengan sedikit sengatan. Pria itu menggigitnya dengan ringan.
"Dasar mesum!" Tangan Luna otomatis menarik rambut pria itu ke belakang.