CEO'S Baby

CEO'S Baby
Hidup ini Begitu Sempurna.



Luna terbangun pagi-pagi sekali, padahal semalam juga ia sulit sekali untuk tidur karena hari ini adalah hari dimana ia dan Nathan akan mengikat janji pernikahan.


Hari yang ia tunggu-tunggu, dimana seakan tujuan hidupnya adalah untuk hari ini. Tapi rasa gugup dan gelisah seakan membuat tubuhnya gemetar, dan ia mulai panik.


Langit di luar jendela berubah kelabu, kemudian semakin lama semakin terang meski masih tertutup embun, sementara Luna menunggu detak jantungnya melambat, terdengar ketukan cepat di pintu kamar.


Jasmine menyeringai sambil melambaikan satu tangannya begitu ia membuka pintu. "Aku akan menggarapmu seharian," katanya lalu masuk tanpa permisi.


Rambut panjang Jasmine begitu indah seperti biasa, tampak kontras dengan ekspresinya yang resmi. Ia memandangi Luna dengan saksama. "Oh, ya ampun, coba lihat matamu!" Ia berdecak-decak dengan sikap mencela. "Apa yang kau lakukan? Begadang semalam suntuk?"


"Hampir."


Jasmine melotot. "Aku tidak punya banyak waktu untuk membuatmu tampil mempesona, Luna, seharusnya kau menjaga 'bahan mentahnya' lebih baik lagi."


"Aku sudah putus asa untuk tampil mempesona. Menurutku lebih gawat kalau aku tertidur saat upacara dan tidak bisa melaksanakan pernikahan dengan benar, kemudian Nathan bakal kabur."


Jasmine tertawa. "Aku akan mencungkil matamu kalau kau sudah hampir ketiduran." katanya seakan mengancam.


"Itu lebih baik."


"Uhmm.. aku juga berencana akan membuat Daffa melamar ku, karena itu kita juga akan menjadi saudara kan?" Jasmine mengatakan itu dengan malu-malu.


"Apa?" Luna sontak menoleh. "Sejak kapan kau dan Daffa...?"


"Ya, kami bersama, entah sejak kapan, yang jelas kami dekat." Jasmine menjelaskan dengan singkat.


"Kau memang saudari terbaikku entah menikah dengan Daffa atau tidak." Ucap Luna seraya memeluk sahabat barunya itu.


"Harus menikah." Ucap Jasmine. Tidak peduli apapun, ia sudah bertekad harus bisa menikah dengan Daffa.


Jasmine mulai mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tas yang ia bawa tadi, ternyata isinya adalah berbagai macam kosmetik dan produk-produk untuk perawatan wajah dan tubuh.


"Apakah ini benar-benar perlu? Dipermak bagaimanapun, aku akan tetap terlihat biasa di samping Nathan."


Jasmine mendorong Luna. "Tidak ada yang berani menyebutmu biasa setelah aku selesai memermak mu."


"Hmm..." Luna menggumam. Ia sempat terhanyut antara sadar dan tidak sementara Jasmine sibuk memasker mengampelas, dan mengilatkan setiap jengkal permukaan kulitnya.


Saat pikirannya mulai tenang, Luna baru memperhatikan bahwa Jasmine sejak tadi sudah berbalut gaun salem berpendar-pendar, rambutnya ditumpuk menjadi mahkota lembut di puncak kepala. Ia begitu cantik sampai-sampai rasanya Luna ingin menangis.


Apa gunanya berdandan kalau Jasmine secantik itu?


"Aku akan mulai mengepang rambut mu." kata Jasmine lalu mengambil sisir. "Aku ingin tatanan yang rumit. Cadarnya nanti dipasang di sini, di bawah." Kedua tangannya mulai menyisir rambut Luna, mengangkat, memilin, membentuk rambut Luna dengan sentuhan sehalus bulu.


DI LANTAI BAWAH samar-samar terdengar suara pintu membuka dan menutup berulang kali. Sepertinya semua orang sudah bangun dan mulai mempersiapkan diri dan melakukan tugasnya masing-masing.


Jasmine menyuruh Luna berdiri supaya ia bisa membantu Luna mengenakan gaun pengantin tanpa merusak tatanan rambut dan make-up nya.


Lutut Luna gemetar sangat hebat saat Jasmine menata dan merapikan gaun panjang itu di tubuhnya sampai-sampai gaun sutra itu bergoyang-goyang seperti ombak di lantai.


"Tarik napas dalam-dalam, Luna," kata Jasmine. "Dan cobalah tenangkan debar jantungmu. Bisa-bisa wajah barumu berkeringat nanti."


Luna berkonsentrasi menarik napas, menghitung setiap gerakan paru-parunya, dan memandangi pola-pola lampu kamar yang terpantul di gaunnya yang berbahan mengilat, Ia takut melihat ke cermin, takut kalau-kalau bayangan dirinya dalam balutan gaun pengantin membuatnya panik lagi.


"Oh, Luna ku sayang!" pekik nenek begitu ia masuk ke kamar, juga tanpa permisi. "Sayang, kau cantik sekali! Oh, aku jadi ingin menangis! Jasmine, kau luar biasa! Kau seharusnya membuka usaha wedding planner. Dari mana kau mendapatkan gaun ini? Cantiknya! Sangat anggun, sangat elegan. Luna, kau seperti bidadari."


"Jasmine memermakku habis-habisan." kata Luna masih tidak percaya diri meski sudah mendapat pujian.


"Aku harus kembali ke bawah, masih banyak yang harus kukerjakan. Peluk aku dulu sebelum aku turun" desak nenek.


"Hati-hati, jangan sampai ada yang robek" Jasmine mengingatkan.


Nenek memeluk pinggang Luna dengan lembut, lalu berputar ke arah pintu. "Kau pengantin tercantik Luna. Percayalah." ucap nenek sebelum benar-benar pergi melewati pintu.


Luna tersenyum, ucapan nenek barusan membantu membuatnya sedikit lebih percaya diri.


"Nah, kau sudah sempurna," kata Jasmine sambil menyunggingkan senyum puas melihat hasil karyanya sendiri.


Kali ini Luna memandang dirinya di cermin.


"Sekarang kau hanya membutuhkan satu penyempurna lagi." Jasmine lalu mengambil sebuah buket bunga berwarna putih.


Aroma mawar dan orange blossom, menyergap lembut hidung Luna.


Terdengar alunan piano dari bawah. Beautiful in white lagu milik Shane filan membuat Luna mulai sesak napas lagi.


"Kau terlihat pucat. Menurutmu, kau bisa menjalaninya atau tidak?" tanya Jasmine.


"Harus bisa." Ucap Luna sambil menyemangati diri sendiri.


Jasmine berdiri tepat di depan Luna, berjinjit agar bisa menatap tepat ke matanya, dan mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan tangannya. "Fokus, Luna. Nathan akan ada di bawah sana untuk menikah denganmu. Kita harus segera mulai."


Luna semakin gemetar lagi saat mendengar kata Mulai.


"Luna?" ujar Jasmine, masih terus menatap.


"Ya," jawab Luna, suaranya mencicit.


"Kau siap kan?" Tanya Jasmine lalu menarik Luna dari kamar, bersama Daffa yang sudah menunggu di depan pintu, pria itu memegangi siku Luna.


"Kau cantik." bisik Daffa, dari tatapan matanya, pria itu begitu bahagia untuk Luna dan sangat tulus.


Musik terdengar lebih keras di lorong. Melayang ke atas tangga bersama aroma sejuta bunga. Luna berkonsentrasi membayangkan Nathan berdiri menunggunya di bawah agar ia bisa menggerakkan kakinya maju.


Musiknya familier, wedding march tradisional gubahan Wagner, dengan improvisasi di sana-sini.


"Hitung sampai tiga dengan perlahan, baru ikuti aku." Jasmine mulai berjalan menuruni tangga dengan langkah lambat dan anggun.


"Jaga jangan sampai aku jatuh, Daffa," bisik Luna pada sepupu Nathan itu.


Daffa menarik tangan Luna yang melingkari lengannya dan menggenggamnya erat-erat.


Melangkah pelan. Jangan sampai terjatuh, kata Luna dalam hati saat mereka mulai menuruni tangga, seirama dengan tempo musik yang lambat.


Begitu kedua kaki Luna meninggalkan tangga yang rawan, matanya sibuk mencari Nathan.


Selama sedetik, perhatiannya sempat beralih ke bunga mawar merah yang menghiasi segala sesuatu yang tidak hidup dengan hiasan pita-pita putih lembut panjang, lalu Luna mengalihkan mata dari kanopi sarat bunga itu dan mengedarkan pandangan ke deretan kursi berlapis kain satin.


Pipi Luna memerah saat ia memandang kerumunan wajah yang semuanya terfokus padanya, sampai akhirnya ia menemukan Nathan, berdiri di depan lengkungan yang berlimpah hiasan bunga dan pita.


Wajah Nathan yang sempurna nyaris tenang oleh kedalaman emosinya. Kemudian, saat pandangan mata mereka bertemu, Nathan tersenyum bahagia yang membuat napas Luna tercekat.


Tiba-tiba, genggaman Daffa menyadarkan Luna untuk tidak berlari menghambur sepanjang lorong.


Tiba Saatnya Nathan melaksanakan tugasnya untuk mengucapkan hal yang dianggap sakral dalam setiap prosesi pernikahan, agar dapat mengesahkan hubungannya dengan Luna.


Mata Nathan memancarkan sorot kemenangan, dan begitu juga dengan Luna. Karena tidak ada hal lain yang berarti kecuali bahwa mereka bisa hidup bersama.


Luna baru sadar dirinya hampir menangis setelah mengucapkan janji setia pada Nathan. Ini memang hanya bagian dari step by step pesta yang sudah dirancang Jasmine. Tapi rasanya Luna menganggap sesi ini terlalu serius.


Luna mengerjap-ngerjap untuk menyingkirkan air mata agar ia bisa melihat wajah Nathan. Janji setia mereka sederhana, kata-kata tradisional yang sudah diucapkan jutaan kali, dan bisa jadi terdengar begitu kaku karena Luna sangat gugup.


Nathan mencium kening Luna dengan lembut dan mesra ketika mereka selesai menjalani prosesi sakral itu.


Nenek berjalan mendekati Luna dan menjadi orang pertama yang memeluk pengantin wanita, wajah Nenek yang berlinang air mata adalah hal pertama yang Luna lihat saat akhirnya ia berhasil juga mengalihkan pandangan dari Nathan.


Setelah sesi sakral berakhir. Maka pesta sesi pertama baru akan dimulai.


PERNIKAHAN beralih dengan mulus ke pesta resepsi, bukti perencanaan Jasmine yang sempurna telah berhasil. Pengantin disambut lagi oleh teman-teman yang tadi sempat memeluk mereka sesaat.


Sekarang waktunya mengobrol dan tertawa-tawa.


Nathan memeluk semakin erat. ”Aku cinta padamu,” katanya saat mereka diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak di ruang tengah.


Luna menyandarkan kepalanya di dada Nathan. “Itulah sebabnya kita menikah.”


Nathan mengecup rambut Luna.


Beberapa kenangan-kenangan tajam, indah juga menyakitkan sempat kembali tersirat di benak mereka ketika sepasang pengantin itu saling tatap. Perjalanan cinta yang sangat panjang membuat mereka akhirnya sangat bersyukur karena mampu melewatinya dan bisa berada di saat yang bahagia ini.


Ini bukan akhir yang bahagia, tetapi awal dimulainya kisah bahagia lainnya dalam perjalanan hidup mereka.


Bibir Nathan, tiba-tiba ******* bibir Luna, hingga membuyarkan lamunan wanita itu.


“Apa kau tahu,” ujar Luna ringan. “Tak pernah ada orang yang bisa mencintai sebesar cintaku padamu.”


“Kau nyaris benar.” Nathan tersenyum. “Tapi aku mencintaimu jauh lebih besar lagi.”


“Kau tidak pernah mau kalah.”


Nathan mulai mencium Luna lagi, tapi tiba-tiba berhenti.


"Dimana Noah?"


"Ah, tadi aku sempat melihatnya digendong Nenek, tapi dia menghilang begitu aku ingin memanggilnya."


"Aku disini." Noah yang rupanya mendengar percakapan orang tuanya berteriak.


"Dari mana saja kamu?" Nathan mengangkat Noah dan menggendongnya. "Kenapa menghilang?"


"Aku sibuk."


Nathan mencibir.


"Sibuk apa?"


"Apa Papa tahu? aku pusing meladeni gadis-gadis kecil yang menyapaku, aku lelah dan mengantuk, karena itu aku pergi ke kamar, untuk bersembunyi sampai tertidur." Noah menjelaskan seolah dia benar-benar kesal.


Nathan tertawa terbahak-bahak sementara Luna menggeleng tidak habis pikir.


"Kau pria yang sulit juga ya?" tanya Nathan. "Bagus-bagus."


Noah mengangguk. "Mama dan Papa lanjut saja, aku mau pergi menemui Nenek, aku ada urusan dengannya."


"Ya sudah, pergilah." Nathan menurunkan Noah lalu bocah itu segera berlari menghampiri Nenek.


"Dia sepertiku." Nathan mengangkat alis dan tersenyum lalu mencium Luna lagi.


Luna tertawa dengan napas terengah ketika ciuman Nathan yang bergairah membuyarkan usahanya untuk mengatakan sesuatu.


"Aku mau bicara." Suara Luna hanya terdengar seperti gumaman tidak jelas.


“Masa bodohlah,” geram Nathan, lalu menciumi ujung dagu Luna.


“Aku mencintaimu.” Bisik Luna lagi saat Nathan menghela napas sesaat.


“Aku tahu,” bisik Nathan.


Setelah hari itu. Nathan, Luna dan Noah melanjutkan hidup dengan hari-hari yang sempurna, meski sesekali mereka berselisih pendapat, biasanya Noah selalu menengahi sambil mengomel. Bocah kecil itu memang penyempurna hidup mereka.


...*TAMAT*...