
Luna sangat marah sehingga dia gemetar dari kepala sampai ujung kaki ketika dirinya baru saja mencapai pintu masuk rumah kost dan mendapati Siska sedang tertawa.
Luna menderita dan menerima pukulan berat karena kejadian semalam. Dia merasa dirugikan dan amarah mengamuk di nadinya karena ketidakadilan. Tapi bisakah dia menyalahkan Siska hanya karena temannya itu meninggalkannya?
Meski Siska telah mempermainkannya hingga kehilangan harga dirinya. Permainannya sungguh halus sehingga Luna tidak mempunyai celah untuk menyalahkannya.
Seakan belum cukup puas. Siska malah menyebarkan rumor buruk tentang Luna, foto-foto yang sempat ia ambil ketika Luna mabuk tersebar di grup chat kampus.
Meski Luna melaporkannya ke pihak kampus atas dasar pencemaran nama baik, namun nama baik Luna benar-benar telah tercemar dan pandangan semua orang menjadi sangat berbeda, membuatnya tidak tahan hingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kampus.
* * *
Sepuluh hari telah berlalu semenjak tragedi malam itu.
Luna memutuskan pergi ke Singapura untuk melanjutkan studinya. Ia ingin menghilang dari dunia ini tapi tidak bisa, hal terbaik yang bisa ia lakukan hanyalah pergi sejauh mungkin yang ia bisa.
Lagipula ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Dulu, keluarga pernah menjadi bagian dari empat keluarga besar terkaya di Kota Jakarta. Namun, kekayaan keluarga menurun drastis setelah kematian sang ayah karena kecelakaan mobil.
Aset yang tersisa diwarisi oleh ibunya, tetapi sang ibu tidak terampil mengelola aset itu karena kesehatan mental wanita malang itu juga tidak dalam keadaan baik setelah ditinggalkan suaminya.
Karena itu, warisan yang dimiliki sang Ibu kemudian dikelola oleh sepupu ibunya. Paman dan bibi Luna yang mereka kira adalah orang-orang yang baik.
Namun pasangan suami istri itu malah menipu ibu Luna dan mengambil semua aset yang mereka miliki. Mereka orang tidak akan pernah menduga bahwa paman dan bibi Luna akan secara diam-diam mentransfer warisan ke aset pribadinya sendiri.
Ibu Luna meninggal sebelum sempat menuntut keduanya atas penipuan itu, sedangkan paman dan bibinya terus mengelola perusahaan karena menyuap pengacara agar memenangkan kasus ini.
Paman dan bibi yang awalnya Luna hormati dan cintai sebenarnya adalah serigala yang menyamar! Mereka terlalu kejam. Bagaimana dia bisa berkonspirasi dengan pengacara Ibunya untuk membantu menguasai kekayaan yang seharusnya jatuh ke tangan Luna? Bukankah dia juga keluarganya?
Gelombang rasa sakit yang tak bisa dijelaskan merobek hati Luna saat itu, namun semuanya telah berlalu. Luna memutuskan pergi melupakan semua kekayaan masa lalu itu dan berjuang untuk hidupnya sendirian.
...* * *...
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di lampu lalu lintas. Emosi Nathan sangat buruk akhir-akhir ini. Dia dia masih tidak dapat menemukan gadis liar itu. Dia memastikan untuk menemukannya bahkan jika dia berlari ke ujung bumi. Sepasang mata gadis yang cerah dan indah itu sangat menawan!
“Gadis nakal sialan!” Nathan menggerutu di dalam mobil ketika mengingat Luna.
Malam itu bukan pertama kalinya mereka bertemu. Nathan sudah pernah melihat Luna sebelumnya di sebuah restoran dan ia sangat terpikat oleh gadis itu. Sejak hari itu, ada suara konstan di hatinya yang berteriak tanpa henti bahwa dia menyukai Luna, perasaan khusus semacam itu membuat jantungnya berdebar.
Dahinya berkerut dan matanya mendadak fokus ketika menoleh ke taksi di sebelahnya. “Itu dia?”
Di dalam taksi, Luna tidak memperhatikan tatapan Nathan. Mobil-mobil mulai bergerak ketika lampu lalu lintas berubah warna. Itu adalah jam sibuk dengan arus lalu lintas yang luar biasa. Nathan mengikuti dengan cermat karena takut akan kehilangan Luna.
Ia mengemudi dengan kecepatan luar biasa berbahaya. Saat taksi berbelok di tikungan, Nathan menjadi cemas. Dia memotong jalur tanpa peduli dan berbelok dengan kecepatan tinggi. Dan saat itulah tragedi terjadi.
Sebuah truk yang melaju kencang bertabrakan dengan mobil sportnya dari belakang. Nathan terbalik bersama dengan mobilnya beberapa kali.
“Jangan pergi…” Ia ingin berteriak pada Luna sebelum kehilangan kesadaran. Itulah yang dipikirkan Nathan sebelum mengalami koma.
Di dalam taksi, Luna merasakan perasaan tidak enak. Ia terganggu, lalu menoleh untuk melihat ke belakang. Apakah seseorang memanggilnya?
“Kecelakaan terjadi di jalan raya,” kata supir taksi yang sedang mengemudi.
Luna merasa tidak nyaman, dan butuh waktu lama sebelum dia akhirnya tenang.
Sementara Nathan dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans, Luna naik pesawat ke Singapura.