CEO'S Baby

CEO'S Baby
Kelinci Galak yang Selalu Membuat Kesal.



Nyonya tua itu hampir berusia tujuh puluh tahun, namun dia masih kuat dan penuh vitalitas. "Sedang apa kamu disini?" tanyanya pada Nathan saat mereka berpapasan di pintu dapur.


"Minum," jawab Nathan singkat, lalu mereka berjalan kembali ke ruang tengah.


"Ambil minum saja lama sekali." Nyonya tua itu sempat menoleh pada Luna yang hanya berdiri di mematung di dapur.


"Nathan, kapan kamu akan membawa istri dan anakmu ke rumah?" Tanya wanita tua itu ketika mereka berbincang disela makan malam.


Nathan meletakkan sumpitnya dan bersandar di kursi sambil mendengus, menatap nenek yang duduk berseberangan dengannya. Lalu melirik pada Luna yang berdiri di sisi ruang makan, wanita itu sedang dalam sikap siaga kalau- kalau ada hal lain yang mereka minta dari dapur.


"Aku tidak pernah mendengarmu memiliki seorang wanita, apa kau mau nenekmu ini meninggal sebelum sempat menggendong anakmu?"


Nathan mengangkat alisnya sedikit ketika menatap Luna. Pria itu terlihat seperti menahan senyum.


Luna merasa benar-benar canggung dengan tatapan itu. Ia memelototinya dengan ekspresi mengancam.


Nathan bahkan menyeringai ketika melihat Luna kesal.


Wanita tua itu sedang meminum segelas air ketika dia melihat Nathan menyeringai. "Anak nakal, apa yang kamu tertawakan? Nenek bertanya kapan kamu akan menikah?”


Nathan tertawa lalu berdecak, “Nenek, berhentilah menanyakan istri apalagi anak padaku. Angkat saja cucu lain dari luar dan suruh dia menikah untuk memberimu cicit."


Ada rasa bersalah dihati Luna, ia sadar dirinya memiliki sesuatu yang diinginkan nenek itu, tapi apakah mereka akan menerima anak dari wanita sepertiku? pikir Luna. Lagipula aku tidak ingin menjadi pendamping pria brengsek ini. Luna menatap Nathan dengan kesal lagi.


Nathan hanya menyeringai ketika Luna kembali mengirim tatapan kesal padanya, "Nona, kenapa sejak tadi kamu menatapku?"


Luna nyaris terduduk lemas karena pertanyaan itu.


Nenek tua ikut menoleh padanya dengan tatapan bingung.


Brengsek sialan! Gadis itu mengutuknya lagi.


Terlepas dari betapa karismatik dan menariknya pria ini, Luna tetap tidak akan pernah tertarik pada narsisis seperti dia, pria ini masih tetap si brengsek tidak peduli betapa tampan wajahnya.


"Bisa minta air lagi?" Nathan meminta Luna menuangkan air ke gelasnya.


Pria itu bergeser lebih dekat ke kanan. Kakinya yang panjang bergerak menyentuh kaki Luna yang berdiri disampingnya sambil menuangkan air.


Luna otomatis bergerak menjauh.


"Nona Luna, apakah aku tampan?" Nathan bertanya tanpa malu-malu.


Nenek tua itu memukul punggung tangan cucunya, ketika melihat Nathan menggoda Luna. “Bocah ini, ada apa denganmu? Kenapa kamu menggodanya?"


Nathan cemberut dengan wajah masam. "Nenek, kapan aku menggodanya? Aku hanya bertanya."


Luna merasa agak bingung melihat Nathan bertingkah kekanak-kanakan di depan neneknya. Meskipun orang ini sesat dan menyebalkan, rupanya dia juga bisa bertingkah manja.


Tiba-tiba, Luna dilanda rasa iri. Nathan memiliki segala hal mulai dari harta, juga orang yang menyayanginya. Sedangkan dirinya? Tidak ada seorangpun yang bisa dia andalkan. Satu-satunya ayah tiri yang ia miliki bahkan membencinya.


Setelah makan malam selesai, Luna pergi ke dapur untuk mengambil piring buah. Dan saat dia akan melangkah keluar, sepasang lengan yang kuat memeluknya dari belakang. "Kelinci galak, kenapa kamu sedih?"


Luna terkejut. Tampaknya Nathan cukup sensitif. Dia bahkan tahu tadi Luna sempat merasa sedih.


Luna tidak ingin menjawabnya. Dia hanya meletakkan piring buah lalu mencoba lepaskan lilitan tangan pria itu. "Tuan Muda, aku tidak akan menjadi wanitamu!"


"Benarkah?"


Gadis itu mengambil napas dalam-dalam untuk mencoba berkomunikasi dengan benar padanya. “Aku punya pacar. ”


"Hah?" Luna tidak habis pikir.


Nathan melepaskan pinggang Luna lalu memegang bahu gadis itu untuk memintanya berbalik. "Ikuti aku dan aku akan memberimu semua hal yang kamu inginkan.”


Pria ini sangat terampil bernegosiasi. Dia juga tahu betul apa yang paling dibutuhkan Luna, bahkan gadis itu nyaris berubah pikiran karena tawarannya.


“Aku bisa memberimu kredit card tanpa limit, kau bisa membeli apapun dengan itu."


Luna mendengus, "Tuan Muda, kau ingin menjadi sugar daddy ku?"


“Kau bisa mengatakannya seperti itu." Nathan meliriknya seperti raja sombong, seolah-olah tawarannya itu adalah berkah.


Luna menahan keinginan untuk menampar pria ini. “Maaf , aku sangat mencintai pacarku. Aku tidak akan putus dengannya bahkan jika kamu memberiku seratus juta dolar. ”


Nathan tidak berpikir bahwa Luna akan langsung menolaknya tanpa berpikir lagi. Ia menyentuh dagu wanita itu dengan gemas. “Adikmu tetap mempromosikanmu kepadaku meskipun kamu punya pacar? Kau harus berhenti sok jual mahal. Trik-mu semakin membosankan."


Luna mengerutkan alisnya. Dia tidak mengerti apa yang Nathan maksudkan.


"Kamu gila . Aku sarankan kamu mencari dokter untuk memeriksa kepalamu. ”


Luna ingin pergi setelah mengambil piring buah. Namun, Nathan melempar piring buah itu ke lantai. Dia meraih pergelangan tangannya lalu menggenggam dengan kuat hingga Luna meringis kesakitan.


"Apa kau cari mati?" Nathan masih memegangi tangan Luna seolah ingin meremukkan tulangnya.


Luna meringis. Sesaat dia lupa bahwa dia tidak boleh membuatnya marah lagi.


Tepat ketika Luna berpikir bahwa dia akan mencekiknya sampai mati, Nathan malah melepaskan pergelangan tangannya dan melangkah keluar dari ruangan dengan marah setelah ia menendang piring buah di lantai.


...* * *...


Luna sedang membersihkan buah-buahan di lantai ketika nyonya tua memasuki dapur. "Luna, apakah cucuku merundung mu?"


Meskipun wanita tua itu sangat baik, Luna tidak ingin melakukan kontak lebih lanjut dengan keluarga ini. Dia juga tidak ingin mengatakan hal buruk tentang cucunya. “Saya tidak sengaja menjatuhkannya. Tuan Muda tidak merundung saya. ”


Nyonya tua itu tidak mendesak lebih jauh dan Luna mengucapkan selamat tinggal setelah dia membereskan dan membersihkan dapur. Gadis itu tidak sabar untuk segera pergi dari sini.


Nyonya tua itu kembali ke ruang tengah dan melihat Nathan berjalan mondar mandir dengan kesal. "Apakah kau merundung Luna?"


Nathan tidak berbalik. Suaranya dingin dan ketus. "Tidak.”


"Benar-benar tidak? Aku melihat matanya sembab tadi."


Nathan terlihat sedikit merasa bersalah. "Nenek, di mana botol salep memar?"


“Kenapa kamu membutuhkan salep itu?"


“Nenek, bisa tidak sih beritahu saja dimana benda itu?" Nathan berusaha mengatakan itu dengan suara paling lembut, neneknya akan sangat sedih jika tahu dirinya mengidap Bipolar.


"Aku ini sudah tua, mana mungkin aku ingat dimana meletakkan salep seperti itu." Nenek itu memukul lengan cucunya pelan.


Nathan mendengus. "Yasudah, kalau begitu aku pulang dulu ya, makan malam sudah selesai bukan?" pria itu mencium pipi neneknya lalu segera pergi.


Awalnya ia ingin mengejar Luna dan membicarakan hal ini baik-baik dengannya, tapi saat ini dia belum mencari tahu dimana rumah gadis itu.


Besok saja. Pikirnya.