CEO'S Baby

CEO'S Baby
Pria Bipolar yang Narsis.



Markas besar Neptunus Auto terletak di pusat di gedung perkantoran setinggi empat puluh lima lantai. Setiap inci dari arsitektur eksterior dan perabotan internal memancarkan kemewahan dan kekayaan pemiliknya.


Di kantor CEO di lantai tertinggi, seorang pria yang tampan dan mengenakan kemeja hitam berkerah dan celana panjang yang pas memegang sebuah Ipad berukuran sepuluh inci ditangannya. Dua orang yang terlihat seperti eksekutif, sedang menunggu untuk melaporkan pekerjaan mereka, berdiri di hadapannya dengan gugup.


Nathan meletakkan Ipad-nya dengan kasar ke hadapan manajer penjualan, “Apa-apaan ini? Ini laporan kerja Anda untuk kuartal berikutnya? Saya mempekerjakan Anda dengan gaji tinggi untuk bekerja, bukan untuk memeras saya. ”


Manajer penjualan itu menyeka keringat dingin di dahinya, kepalanya tertunduk. Dia tidak berani menatap CEO yang terkenal karena sifat kasarnya dan kebiasaan untuk memecat karyawan dari perusahaan tanpa pemberitahuan, “Maaf, saya pasti akan berusaha lebih baik lagi. ”


Setelah selesai mengajar manajer penjualan, Nathan memandang direktur pemasaran yang kakinya juga gemetar. Dia mengambil beberapa foto dari meja dan melemparkan ke arahnya. "Ini semua kandidat untuk juru bicara perusahaan kita? Apakah kamu buta? Semuanya terlihat membosankan, dagu yang tajam, mata besar, semuanya terlihat palsu. Mereka semua sama saja. Tidak ada yang spesial dari penampilan mereka."


Foto-foto yang tersebar di lantai semuanya adalah selebritas top dari industri hiburan. Mereka semua memiliki penampilan luar biasa sampai ke angka popularitas tertinggi. Direktur pemasaran tidak tahu mengapa CEO-nya masih tidak senang dengan pilihan-pilihan itu.


"Pak, tolong beri saya sedikit waktu lagi. Saya pasti akan menemukan juru bicara yang paling cocok. ”


Nathan mengerutkan alisnya dan menggosok pelipisnya, sebelum membanting kedua tangannya di atas meja kantor. Dia tidak bisa mengendalikan emosinya lagi, "Kalian semua, keluar!"


Beberapa saat kemudian, kantor itu kembali tenang setelah kedua eksekutif itu berlari keluar ruangan. Nathan memelototi dua item obat di atas meja yang belum disentuhnya sama sekali, lalu melihat pada ponsel yang tergeletak di sebelahnya, pria itu membuka galeri pada ponselnya untuk melihat foto Luna yang ia dapatkan dari bocah laki-laki menyebalkan yang ia temui di cafe.


"Dia bekerja di divisi apa?" Nathan tahu Luna diterima bekerja di perusahaannya, tapi ia belum mencari informasi di divisi mana wanita itu bekerja.


DI SISI LAIN.


Luna mendapat telepon dari Yulia. “Luna, ibuku pingsan karena terjatuh di kamar mandi. Aku membawanya ke rumah sakit namun ibu belum juga sadar, bisakah kamu membantuku?'' Yulia memohon. Luna bisa mendengar kekhawatiran dalam suaranya.


"Apakah ibumu baik-baik saja? Lalu bagaimana dengan Noah? Kamu butuh bantuan apa? Aku akan melakukan apapun jika bisa membantu.” Luna juga ikutan panik.


“Kau juga tahu kan ibuku bekerja sebagai pembantu paruh waktu untuk seorang wanita tua. Wanita tua itu mengatakan bahwa cucunya akan datang untuk makan malam dan menyuruh ibuku menyiapkan beberapa hidangan lagi. Namun, ibuku masih belum sadar. Bisakah kamu membantu menggantikannya?” Yulia memohon lagi. "Dan aku membawa Noah bersamaku, jangan khawatirkan dia."


Yulia adalah sahabat terbaiknya. Luna menyetujui tanpa banyak berpikir, "Kirimkan alamat rumah wanita tua itu. Serahkan pekerjaan itu padaku, aku memang sudah selesai bekerja.”


Luna segera memanggil taksi untuk pergi ke alamat yang Yulia kirimkan kepadanya.


Tempat tinggal wanita tua itu adalah sebuah rumah mewah kuno yang sunyi, unik namun elegan. Ia menjelaskan situasi ibu Yulia ketika dia bertemu pembantu rumah tangga yang bertugas merawat wanita tua itu dan meyakinkannya bahwa dirinya mampu melakukan pekerjaan itu.


Setelah beberapa instruksi dasar, pengurus rumah tangga membawanya ke dapur.


DUA JAM KEMUDIAN.


Enam piring lauk dan satu piring sup diletakkan di atas meja bundar besar. Satu-satunya hal yang belum tersedia adalah piring buah.


Luna menyeka keringat dari dahinya. Dia baru saja akan beristirahat ketika terdengar langkah kaki datang dari luar, mengikuti suara pintu yang terbuka.


Suara pengurus rumah tangga terdengar, “Tuan Muda, selamat datang.”


Luna berjalan ke pintu masuk ruang makan dan melirik ke ruang tamu. Yang dia lihat hanyalah bayangan tinggi dan besar yang berjalan dari teras. Aura kesombongan yang luar biasa mengelilingi sosok itu.


Tatapan Luna mendarat di wajah tampan dan sempurna pria itu. Seolah baru saja melihat hantu, Luna buru-buru berlari kembali ke dapur.


"Astaga! Aku tidak salah lihat, kan?" Luna menutupi mulutnya yang ternganga. "Mungkinkah si brengsek adalah cucu yang dibanggakan wanita tua itu? Bagaimana bisa dunia begitu kecil?"


Luna memukul kepalanya dengan tinju kecil, menyuruh dirinya untuk tenang. Dia menemukan topi koki dan masker di dapur untuk menyamarkan dirinya, berharap penyamaran itu berhasil.


"Beri aku sebotol air. ” Nathan berteriak pada siapa saja yang bertugas di dapur.


Luna terdiam. Apakah pria itu berbicara padanya?


Nathan berjalan ke dapur, karena tidak ada yang menanggapi.


Luna berdiri di depan kulkas. Dia bisa merasakan aura kuat yang dibawa lelaki itu saat dia berjalan mendekat padanya


Nathan semakin dekat dan kini berdiri di belakangnya. Cepat-cepat Luna membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dari dalam lalu memberikannya kepada pria itu tanpa berbalik.


Nathan melirik wanita yang berdiri memunggunginya dengan penasaran. Postur tubuh wanita itu terlihat familiar. Ia meneguk botol minuman itu lalu meletakkannya di meja dan melangkah pergi.


Hening, beberapa saat membeku, akhirnya Luna berbalik setelah dia yakin pria itu sudah kembali ke ruang tengah, namun Luna menahan napas dengan kasar ketika melihat sosok Nathan yang berdiri bersandar di pintu masuk dapur sambil melipat kedua tangan di dada, memperhatikannya.


”Apakah kamu sudah selesai bermain?" Sikap narsisnya jelas terlihat ketika Nathan mengatakan itu pada Luna. Menatapnya dengan mencibir saat dia menghakimi.


Luna mengerutkan alisnya. Pada saat pikirannya memahami apa yang terjadi, dia berseru dengan marah, “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”


"Tidak seperti yang kupikirkan?"


"Iya.”


"Kau ingin aku percaya itu?"


Luna berdecak dengan mata berbinar marah, “Biar saya jelaskan dulu. Saya tidak sengaja muncul di hadapan Anda. ”


Senyum malas muncul lagi di wajah Nathan. Pria itu mendekat, benar-benar mendekat sampai Luna terpojok dan bersandar di kulkas.


Apa yang ada di kepala brengsek ini? Luna menggerutu dalam hati.


"Hei, di mana tanganmu berada?" Nathan mendesis.


Pada saat itulah Luna memperhatikan bahwa Nathan mengenakan kemeja V-neck hitam dan kedua tangannya berada di dada pria itu. Luna melepaskan tangannya dengan segera.


“Sekarang giliranku. ”


"Apa?" Luna pikir dia baru saja menyentuh dadanya. Lalu apa maksud dari kata giliran ku? "Brengsek," Luna mendorong Nathan kuat-kuat hingga terdorong ke meja bahkan saat Nathan belum melakukan apapun.


Luna sangat marah, hingga lupa bahwa orang ini memiliki gangguan bipolar dan dia tidak boleh membuatnya marah, atau konsekuensinya akan sangat serius. Matanya merah karena menahan amarah.


Nathan menyaksikan wanita yang bertindak seperti kucing yang ekornya diinjak ketika dia marah. Anehnya itu menarik. Jejak humor samar muncul di matanya yang gelap.


Dia memegang lengan Luna lalu mendorongnya hingga kembali tersudut. Posisi yang ambigu ini membuat mereka semakin dekat satu sama lain. Terlalu dekat. Luna tidak bisa bergerak sama sekali, karena terperangkap di antara kaki dan tangan pria itu.


Perbedaan tinggi badan mereka bahkan lebih jelas karena Luna memakai flat hari ini. Nathan menjulang tinggi sekali.