CEO'S Baby

CEO'S Baby
Memutuskan Untuk Pergi.



Setelah dua minggu sejak mereka pulang dari City Mall itu, Luna tidak pernah bertemu lagi dengan Nathan, lagipula memang tidak ada alasan bagi mereka untuk saling bertemu.


Di masa depan, apa pun yang terjadi, dia tidak ingin terlibat dengan pria itu lagi.


Berdiri di balkon, Luna memandang kota karena hatinya terasa sangat tertekan.


"Ibu sedang apa?" tanya Noah, berdiri di pintu balkon sambil mendekap tubuhnya. "Ini sudah malam, di luar sangat dingin."


"Ibu sedang berpikir bagaimana kalau kita pindah ke Singapura lagi?" Luna menjelaskan sambil bertanya pada Noah.


Noah meringkuk ke pelukan Luna. “Apakah Mama ingin pergi? Aku tidak keberatan tinggal di manapun selama dengan Mama."


Luna menertawakan Noah, yang pada usia begitu muda, bocah ini sudah tahu bagaimana cara berkata romantis pada wanita. Dia mencubit hidung putranya lalu tersenyum. “Tentu saja sebenarnya Mama sudah menyiapkan rencana ini sejak beberapa hari yang lalu, kita akan segera berangkat besok."


"Besok?"


"Ya, maaf karena Mama tidak membicarakan ini denganmu sebelumnya."


“Tidak apa-apa." Noah mempererat pelukannya pada Luna. "Apakah itu berarti kita akan meninggalkan Jakarta selamanya?”


Luna terdiam sesaat. “Mungkin saja, tapi mungkin kita bisa kembali ke Jakarta hanya untuk berlibur atau sesekali saja."


"Baiklah, tidak masalah." Noah mencium pipi ibunya.


DI SISI LAIN, DI ISTANA NYONYA BESAR.


Meskipun Nathan telah berjanji untuk menikah dengannya, Jasmine tidak bisa merasakan kemanisan atau kebahagiaan dalam hal yang sudah lama dia rindukan ini


Jasmine tahu bahwa Nathan hanya memenuhi permintaan ibunya dan tidak benar-benar ingin menikahinya.


Jadi wanita itu melakukan hal nekat dengan mengirim pesan teks pada Luna, yang mengatakan bahwa apapun yang terjadi, tolong jangan pernah dekati calon suamiku lagi.


Jasmine segera menghapus pesan itu setelah dia mengirim dan memblokir lalu menghapus nomor Luna di ponsel Nathan.


Wanita itu mendengus dan tiba-tiba menemukan ada sesuatu yang salah. Dia menoleh lalu melihat pintu.


Pria itu, berdiri di pintu kamar.


Jasmine membeku dan tanpa sengaja menjatuhkan ponsel yang dipegangnya di karpet tebal.


Nathan masuk dan mengambil ponselnya dari lantai. Dia memandang Jasmine, yang pucat karena kaget. “Kau tahu aku tidak suka orang menyentuh barang-barang pribadiku."


Mata Jasmine bergetar dan wajahnya semakin pucat, tetapi dia mengerahkan keberaniannya untuk melihat mata pria itu. “Nathan, aku mengirim pesan pada Luna, tapi kurasa aku tidak melakukan kesalahan. Apa kau tidak tahu bahwa akan menyakitiku jika kamu terus berhubungan dengan dia?"


Nathan menyipitkan matanya. “Jasmine, apa kau benar-benar ingin menikahiku? Meskipun aku tidak akan pernah bisa memberimu cinta?”


Mata Jasmine menjadi merah. “Perasaan bisa diolah. Selain itu, Ibu ingin kami bersama."


Nathan keluar lagi tanpa mengatakan apapun, lalu berbalik dan datang kembali kepadanya dengan rahang terkatup rapat. “Jangan khawatir, pernikahan akan berlangsung sesuai rencana. Ku harap kamu tidak akan menyesali keputusanmu!“


katanya lalu pergi ke ruang kerjanya.


Di ruang kerjanya, pria itu duduk bersandar di bawah lampu yang redup.


Lalu Ari datang dan mengetuk pintu sebelum dia masuk.


“Tuan, ada beberapa petunjuk tentang masalah ini. “Ari melaporkan temuannya pada Nathan.


Nathan mengetukkan jari-jarinya di lutut, lalu tersenyum. “Bagus. Kita akan menangkap tentang ini nanti."


“Tuan, saya mendengar Nona Luna memesan tiket pesawat untuk penerbangan besok, dia dan Noah tinggal di Singapura."


Ekspresi Nathan menjadi gelap. “Dia tidak menunjukkan keberatan tentang pernikahanku, juga tidak punya niat untuk menyuruhku pergi. Itu benar-benar membuatku kesal."


Bibir Ari berkedut.


Pikirnya. Padahal masih beruntung Luna tidak memukulnya dengan sepatu karena tiba-tiba memutuskan akan menikah dengan wanita lain.


“Dalam hatinya, aku selalu kurang penting daripada bocah itu,”


ucap Nathan penuh beban.


Bibir Ari berkedut lagi.


Apakah dia benar-benar marah dan cemburu pada putranya sendiri?


Astaga!


“Tuan, Noah adalah darah daging Luna. Selain itu, dia menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya daripada dengan Anda. Sudah pasti Nona Luna lebih perduli pada putranya dibandingkan dengan Anda." Ari mengungkapkan pendapatnya. "Lagipula itu putra kalian."


Nathan menatap tajam pada Ari. “Diam!”


Jika Noah yang memintanya untuk pergi, wanita itu pasti bersikeras tidak mau.


Tetapi kenapa dia begitu penurut sekarang ketika aku yang memintanya untuk meninggalkanku? Dia bahkan tidak mau mengatakan apa pun padaku.


Nathan membatin.


"Sudahlah, kita lakukan semuanya sesuai rencana." Perintahnya pada Ari.


* * *


Keesokan harinya. Luna dan Noah sudah bersiap untuk pergi ke bandara dan Ben yang akan mengantar mereka.


Semakin hari, pertunangan Nathan dan Jasmine semakin menjadi topik hangat di internet.


Nathan selalu bersikap rendah hati dan tidak suka tampil di media. Tapi kali ini, foto preweddingnya dengan Jasmine diterbitkan di surat kabar keuangan dan hiburan utama.


Bahkan layar LED di jalan kota Jakarta juga menunjukkan foto prewedding mereka.


Publisitas berskala besar seperti itu membuat sulit bagi siapa pun untuk mengabaikan.


Luna berusaha untuk tidak memberi tahu Noah tapi informasi ini sangat sulit untuk ditutupi. Namun Noah tidak menangis seperti yang Luna pikir, bocah itu bahkan menghiburnya.


“Mama, mari abaikan dia selamanya. Jika dia menikahi wanita lain, Mama harus menikah dengan pria lain juga," ucap Noah menenangkan.


Saat itu, Luna merasa sangat hangat dan tenang.


Luna sengaja mengajak Noah pergi agar tidak perlu menyaksikan berita tentang prosesi pernikahan Ayahnya.


Dan kini, mereka telah tiba di bandara.


Luna berdiri di aula tempat orang-orang datang dan pergi, mengingat ketika dia membawa Noah kembali dari luar negeri. Dia tidak pernah menyangka akan segera pergi lagi secepat ini.


Saat menunggu pesawat lepas landas, Luna menerima pesan multimedia dari nomor yang tidak dikenal.


Foto itu pasti diambil secara diam-diam. Menampilkan pria yang mengenakan setelan hitam jas dengan dasi. Dia berdiri di aula perjamuan pernikahan dan sedang berbicara dengan Ari. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tampan, dan tampak menawan, seperti orang-orang ketika mereka mengalami peristiwa bahagia.


Tak perlu diragukan lagi h, Luna tahu milik siapa nomor tak dikenal itu. Tapi dia tidak tahu apa gunanya Jasmine memamerkan kebahagiaannya.


Luna menyeringai dan menanggapi pesan dengan cepat. "Kau mngirim fotonya yang tampan kepadaku? apakah kamu ingin aku menghancurkan pesta pernikahanmu besok? Jasmine, apakah kau pikir dia akan tinggal bersamamu, jika aku datang dan memintanya pergi denganku?"


Luna tidak pernah berpikir untuk benar-benar merebutnya. Jika pria itu bukan miliknya, dia tidak akan pernah memaksanya untuk tinggal.


Satu-satunya alasan Luna mengirim pesan ini adalah untuk menghentikan Jasmine agar berhenti menggangunya.


Benar saja, setelah Luna mengirim pesan itu, Jasmine menghapus bahkan memblokir nomornya dengan segera.


Luna menghapus pesan multimedia itu. Tidak peduli betapa tampan dan menawannya Nathan, mulai sekarang, dia adalah pria milik wanita lain!