CEO'S Baby

CEO'S Baby
Sangat Emosional.



Nyonya besar dengan lemah meminta Nathan berjanji untuk menjaga dan membahagiakan Jasmine. Dan tiba-tiba ada begitu banyak reporter di luar kamar rumah sakit.


"Apa kau bahkan tidak bisa menyanggupi satu-satunya permintaan wanita tua ini?" Nyonya besar berkata dengan sangat lemah.


"Ibu, ini tidak perlu." Jasmine menyela sambil menyeka air matanya.


"Putraku." Nyonya besar mendesak seolah-olah dia sedang berada di penghujung hidup.


"Aku akan menjaganya," ucap Nathan tanpa menegakkan kepala. Haruskah ia begitu egois ketika ibunya sedang berjuang untuk hidup?


Jasmine ternganga, merasa heran dan tidak enak hati sementara Nyonya besar berbaring lemas tak berdaya.


Tapi Nyonya itu bukan benar-benar tidak berdaya. Ini adalah salah satu rencananya untuk membuat putranya menyerah. Untuk menaklukkan Nathan.


Nyonya besar adalah orang yang tidak pernah kalah, tidak ada satupun keinginan yang tidak bisa dia wujudkan.


...* * *...


Sementara berita tersebar dimana-mana. Nyonya besar sudah dinyatakan melewati masa kritis dari penyakit pura-puranya.


Begitu sempurnanya rencana yang dia buat hingga tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa dia berbohong. Tidak Nathan, tidak Jasmine dan tidak juga para reporter.


Setelah memastikan ibunya selamat. Nathan menghilang. Tidak ada yang mengetahui keberadaannya selama berhari-hari.


HINGGA SATU MINGGU BERLALU.


Noah pergi untuk acara kemping sekolah dasar sementara Luna tinggal di rumah sendirian.


Masih belum ada berita tentang Nathan sampai sekarang. Terlepas dari segalanya, dia percaya bahwa Nathan pasti akan kembali begitu dia tenang.


Luna tidak pernah merasa waktu begitu lambat dan tak tertahankan sampai dia mengalami satu minggu ketika Nathan menghilang.


Dia tidak berani menunjukkan kekhawatiran dan kepanikannya di depan Noah. Selama ini Luna hanya bisa mengungkapkan emosi di hatinya dalam keheningan malam yang tenang.


Luna berbaring di sofa. Tidak dapat tertidur, dia tiba-tiba mendengar ketukan lembut dari pintu ketika itu sekitar pukul dua belas tengah malam dan Luna langsung tersentak bangun.


Darah Luna seakan berhenti mengalir ketika dia melihat pria yang berdiri di luar pintu ketika dia membukanya.


Pria yang berdiri di luar berpakaian hitam pekat.


Berbeda dengan penampilan rapi dan bermartabat yang selalu dia miliki, sekarang dia ditutupi oleh bau alkohol, sementara pakaiannya sangat kusut dan rambutnya acak-acakan.


Lampu di ruang tamu tidak menyala, hanya lampu pengontrol suara di koridor yang menyala dan bersinar dari belakang pria itu. Luna tidak bisa melihat ekspresinya terlalu jelas, tetapi dia bisa merasakan kesedihan yang kuat melilit Nathan.


Luna bergerak maju untuk memegang tangannya. "Masuklah!"


Alih-alih masuk, Nathan malah melepaskan tangan Luna lalu berbalik dan melangkah pergi.


Luna berteriak dengan suara gemetar, "Jika kau berani pergi, aku akan benar-benar membiarkan pria lain masuk!"


Nathan berbalik dan kembali. Dia meraih bahu Luna dengan erat dan mendorongnya ke dalam lalu menendang pintu dengan kasar hingga tertutup.


Luna tidak tahu berapa banyak dia mabuk. Dia tenggelam dalam aroma alkohol yang kuat.


Ketika Nathan menciumnya, Luna menekan bahunya, ingin mendorongnya menjauh. Namun, tindakannya hanya menghasilkan ciuman yang lebih kuat, lebih gila dan lebih posesif.


Luna memiliki banyak hal yang ingin dia katakan. Dia ingin berbicara, tetapi Nathan menyandarkan dahi di pundaknya. Napasnya yang berat terdengar.


"Luna." Suaranya rendah dan serak. Terdengar sangat putus asa


"Nathan... ada apa?"


Napas Nathan menjadi berat, ketika tangannya meraih dagu Luna. "Apakah kau benar-benar akan memanggil pria lain jika aku pergi?"


Luna lupa bahwa pria ini mudah overthinking karena bipolar nya, tapi tadi, hanya itulah satu-satunya cara agar dia tidak pergi.


Jari-jarinya Nathan membelai bibirnya. "Jika itu terjadi apa kau akan menciumnya?"


Luna tidak mengerti apa yang terjadi pada pria ini. Sebelum dia bisa mengatakan sesuatu, Nathan menciumnya lagi.


"Apa kalian akan melakukan ini?"


"Tidak, jangan pikirkan itu lagi."


Sepertinya Nathan tidak mendengar kata-kata Luna, seolah-olah dia telah tenggelam dalam dunianya sendiri yang gila. Pria itu menciumnya lagi, lidahnya menjelajah setiap inci mulutnya.


"Bagaimana dengan ini?" tanyanya, jelas ada kecemasan dalam suaranya.


Luna memperhatikan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Nathan. Dia hanya bisa menerima ciumannya yang gila karena tidak bisa mendorongnya.


Tak lama, Nathan melepaskannya dan berjalan menuju kamar tidur.


Luna menghela napas lega, setidaknya Nathan tidak pergi lagi, dia hanya takut pria itu menghilang lagi.


Luna pergi ke dapur dan membuat makanan ringan. Dia juga memanaskan segelas susu, sebelum membawanya ke kamar tidur.


Ada suara pancuran air di kamar mandi, jadi Nathan seharusnya sedang mandi di dalam. Tapi...


Sepuluh menit berlalu, lalu dua puluh, dan tiga puluh menit telah berlalu…


Nathan tidak kunjung keluar.


Luna tidak bisa menunggu lagi dan buru-buru mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka, mengabaikan segalanya.


Di dalam, Nathan bahkan tidak melepas pakaiannya. Dia berdiri di bawah pancuran, dengan tangan di dinding menopangnya. Dia hanya melamun atau mungkin berpikir keras di bawah kucuran air.


Pria itu berpikir jika dia benar harus menikahi Jasmine. Maka kemungkinan besar Luna juga harus menemukan pasangan yang layak untuk hidupnya. Nathan tidak bisa membayangkan Luna bersama pria lain selain dia.


Tidak peduli bahwa dia akan basah kuyup juga, Luna mendekat dan ikut berdiri di bawah air yang mengalir.


Ketika Luna menatapnya. Mata Nathan dipenuhi dengan pembuluh darah merah, dan wajahnya sedikit pucat.


Jantung Luna mengepal. Dia meletakkan tangan di rahangnya, memaksa pria itu untuk memandangnya di antara hujan air shower.


“Nathan, sesuatu terjadi, bukan? kau bisa menceritakan semuanya padaku, tolong jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini!”


Pria itu memandang perlahan. "Ini semua salahku."


Luna sedikit mengerut. Kesedihan dalam dirinya menjadi lebih rumit.


"Ada apa?" Aliran air panas turun membasahinya.


Nathan meraih bahu Luna dan menariknya ke dalam pelukan. “Aku terpaksa berjanji untuk merawat Jasmine dan membahagiakannya. Di depan semua orang."


Hening sesaat. Mereka berdua benar-benar basah kuyup. Nathan kembali menciumnya, sama sekali tidak lembut, bahkan bisa dianggap kasar.


Menyakitkan, itu sangat menyakitkan. Bukan hanya bibirnya yang sakit, tetapi hatinya jauh lebih terluka, namun entah kenapa Luna seakan bisa memahami situasi ini. Ia seakan sudah bisa menebak dan menerima kenyataan.


Seperti yang dia katakan kepada Nyonya Besar malam itu. Dia akan melepaskan Nathan jika pria itu mau menikahi Jasmine.


Luna harus bersandar ke dinding karena Nathan mendorongnya, dia meraba-raba mencari keran sebelum dia berhasil mematikannya. Pancuran di atas mereka akhirnya menghentikan hujan.


Rambut Nathan meneteskan air, dan tangannya bergerak naik untuk menyeka wajahnya. Nathan membuka kemeja hitamnya tanpa mengangkat kepala untuk memandang Luna.


Dadanya yang berotot dan tegas terungkap, tetesan air membuatnya terlihat seperti berkilau.


Nathan tidak mengatakan apa-apa, ketika dia membungkuk dan memeluk Luna lagi.