CEO'S Baby

CEO'S Baby
Kesialan Pagi Hari.



"Argg.." Teriak Nathan karena Luna menarik kepalanya dengan kuat. "Kenapa kasar sekali?"


Telinga Luna memerah. Itu bukan karena rasa malu, tetapi dari kemarahan karena ia tidak mampu melawan lebih tegas, ia harus berhati-hati pada kondisi mental si pemarah ini.


Nathan memandang wajah Luna yang memerah lalu memberinya seringai nakal. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, meletakkan tangannya di belakang kepala dan menatap Luna dengan tenang. "Aku bahkan belum melakukan apapun, kenapa kamu sudah bereaksi begitu? apa kamu pemalu?" Saat dia berbicara, telapak tangan Nathan bergerak dengan berani di bawah rok Luna.


Luna dengan cepat menarik tangan pria itu. Kulitnya langsung terasa panas setelah disentuh.


“Memangnya kenapa kalau aku pemalu? tidak ada hubungannya denganmu, dan kau memasukkan tanganmu ke rok-ku begitu saja. Bukankah tidak seharusnya pria terhormat berperilaku seperti itu!"


Nathan menyeringai lagi. "Di depan wanita yang aku suka, kenapa aku harus menjadi pria terhormat?"


Dia jelas bukan orang normal! Luna mengutuknya dalam hati. Yah, dia sesat, sombong dan pemarah. Dia bukan orang normal sama sekali. “Kita baru bertemu dua atau tiga kali. Apa yang kamu suka dariku? Aku akan berubah menjadi apapun yang tidak kau sukai. ”


Nathan memegangi bagian belakang kepala Luna, lalu berbisik. “Apa yang aku suka darimu adalah bahwa kamu telah menolakku berulang kali." Ia menyeringai lagi. "Dan kau boleh merubahnya sekarang."


Luna terdiam. Dia tidak dapat berkomunikasi secara normal dengan pria ini, itu membuatnya sakit kepala.


Nathan tertawa dengan arogan. “Aku yakin kamu belum pernah melihat wajah setampan wajahku. Bukankah kamu menggodaku saat pertama kali kita bertemu? kau bahkan memperlihatkan dadamu saat kita bertemu kedua kalinya?"


Dia benar-benar sombong dan narsis! napas Luna sampai terengah-engah saking emosi, lalu menjelaskan dengan kesal, "Kancing bajuku tidak sengaja terbuka, tidak seperti aku sengaja membuka diri kepadamu. ”


"Lalu saat pertama kali bertemu?"


"Itu juga tidak sengaja, aku bahkan..." Luna tidak melanjutkan kata-katanya. "Kau ingat aku?"


"Tentu, selama ini kau berpura-pura tidak mengenaliku, apa kau ingin aku membantu menyegarkan ingatanmu?"


Luna menyusut ketakutan, wajahnya berubah sedikit pucat. “Itu tidak sengaja, aku bukan berpura-pura tidak mengenali," Dia mengambil nafas dalam-dalam lalu melanjutkan, “aku tidak punya perasaan untukmu. Kau benar-benar salah paham. Aku tidak pernah berniat menggodamu atau apapun. ”


Senyum gila menghilang dari wajah Nathan. Rahangnya mengencang dan suasana di mobil seakan jatuh ke bawah titik beku.


Keringat dingin muncul di dahi Luna. Oh tidak, dia marah lagi. Tetapi jika dia tidak menjelaskan semua ini dengan jelas, Nathan pasti semakin salah paham lagi. Orang ini benar-benar orang yang paling sulit dan tidak masuk akal yang pernah dia temui.


Luna menarik napas panjang, berusaha yang terbaik untuk berbicara dengan nada yang menenangkan. “Tuan Nathan, pekerjaanku sangatlah penting bagiku. Jika kau ingin membalas dendam, atau ingin menyelesaikan kesalahpahaman apa pun yang kita miliki, bisakah menungguku menyelesaikan pekerjaanku? Aku harus pergi bekerja. Aku tidak bisa kehilangan pekerjaan ini, kumohon."


Luna sangat cemas sehingga tepi matanya memerah. Dia benar-benar terlihat seperti kelinci yang malang.


Kemarahan di wajah Nathan segera melunak. Dia memegang wajah Luna dan tersenyum lembut, ekspresinya menawan dan penuh karisma. “Oke, aku akan membiarkanmu pergi setelah kau memberiku ciuman."


Luna mengerutkan kening, dia tidak bisa bersembunyi sama sekali karena Nathan memegang wajahnya.


Bibir tipis Nathan mulai menutupi bibirnya dengan kuat dan napas dingin yang maskulin dengan sedikit aroma mint memenuhi hidungnya.


Luna menutup matanya dengan jijik, dia tahu bahwa jika dirinya tidak membiarkan pria ini melakukan apa yang diinginkannya, dia tidak akan pernah bisa keluar dari mobil untuk bekerja. Tangannya yang halus membentuk kepalan.


Melihat reaksi kaku Luna, Nathan menyadari bahwa wanita ini benar-benar tidak suka disentuh olehnya.


Karena Luna memakai lipstik hari ini, Nathan tidak menciumnya dalam-dalam. Dia melepaskannya setelah beberapa detik.


Tidak peduli seberapa besar Luna tidak menyukainya, dia harus mengakui bahwa Nathan memang memiliki kemampuan untuk membuat wanita menyerahkan diri kepadanya. Dia sangat tampan dan memiliki karisma yang menarik.


Nathan mengangkat tangannya, menyeka bibir Luna dengan ibu jarinya. “Lain kali kalau bertemu denganku, jangan pakai lipstik. ”


Luna mengutuk di dalam hatinya. Mesum.


Dia harus menemukan cara untuk menjelaskan kepada pria ini bahwa mereka tidak boleh bertemu lagi.


"Pergilah." Nathan tersenyum hangat pada Luna.


Tanpa membuang waktu, Luna bergegas melarikan diri, dan setelah keluar dari mobil lalu menghirup udara segar, wanita itu merasa seperti dilahirkan kembali.


Wanita itu berjalan menuju kantor dengan tergesa-gesa, dan ketika menuju pintu masuk, dia bertemu dengan Riska dan Mery yang berjalan beriringan.


Riska tidak menyukai Luna karena merasa Luna mendapatkan perlakuan khusus dari Miranda dan beberapa petinggi perusahaan. Mereka bahkan sudah mendengar desas desus bahwa Luna beberapa kali bertemu dengan CEO.


"Wanita penggoda!" Riska mengertakkan giginya ketika dia melihat wajah Luna.


Luna terdiam. Mencoba bersabar dan tidak memperkeruh suasana.


“Whoa, aku tidak menyangka akan melihat mobil sport Lykan Hypersport di Kota Jakarta." Tiba-tiba Mery berseru ketika melihat mobil sport berjalan pelan di belakang mereka. "Siapa pun yang mampu mengendarai mobil sport edisi terbatas ini pasti paman paruh baya dengan perut buncit!"


Nathan tidak hanya memiliki satu atau dua mobil, dan tidak semua karyawan mengenal Sang CEO.


"Eh, sepertinya sejak tadi mobil itu mengikuti Luna."Mery berbisik pada Riska, ada sedikit keraguan di matanya. "Apakah pemiliknya mengenal Luna?"


Riska meledak dalam tawa palsu lalu mencibir dengan jijik. “Mery, apa kau serius? Kau terlalu banyak berpikir. Tidak mungkin seseorang seperti itu akan memiliki koneksi atau minat padanya. Luna sudah kehilangan kesuciannya, bagaimana mungkin pemilik Lykan Hypersport menyukainya? Bahkan om-om pun tidak akan sudi! ”


Mery mengerutkan bibirnya dengan serius, memalingkan pandangannya dari mobil sport Lykan Hypersport dan menatap Riska sambil tersenyum lembut. "Kurasa kau benar. Aku terlalu banyak berpikir."


Luna mencapai pintu masuk kantor ketika dia tiba-tiba dia mendengar suara klakson mobil. Dia menoleh secara refleks lalu pura-pura tidak memperhatikannya.


Tak lama,mobil sport itu tidak terlihat lagi. Luna sempat curiga bahwa Nathan menuju basemen kantornya, tapi untuk apa? atau mungkin dia salah lihat.


Luna menghela nafas lega dan hendak berjalan ke lobi kantor, ketika dia tiba-tiba merasakan panas basah yang dengan cepat menyebar di dadanya. cairan kopi menyebar di kemeja biru mudanya. ****!


"Oh maaf . Sepertinya aku terpeleset dan tidak memegang kopi benar. Aku tidak sengaja menumpahkannya padamu." Meskipun dia meminta maaf, wajah Riska sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Sebaliknya, wajahnya menyunggingkan senyum sinis.


Setelah Riska meminta maaf kepada Luna, dia dan Mery pergi menuju lift. Menertawakan Luna yang akan bekerja dengan kemeja basah penuh kopi.


Tepat ketika pintu lift hendak menutup, sebuah tangan tiba-tiba masuk. Luna masuk ke dalam lift dan tubuhnya hampir terjatuh. Menumpahkan air dari ember mop yang sedang dipakai office boy untuk mengepel lantai. Membuat Riska dan Mery basah kuyup dari kepala sampai kaki.


Luna meniru nada mengejek yang digunakan Riska sebelumnya, “Oh, maaf, aku berniat membantu office boy mengepel lift dan tidak sengaja tersandung hingga menumpahkannya pada kalian. ”