CEO'S Baby

CEO'S Baby
Makan Malam.



Ari tertawa ketika melihat Nathan yang marah, seakan ingin menendangnya ke Samudra Atlantik. Pria itu berbalik dan menghampiri Nathan kembali lalu berkata, “Tuan, Anda sudah berdiri di sini sejak tadi, kan? Karena Nona Luna tidak membiarkan Anda masuk, bagaimana kalau saya masuk dulu dan membantu Anda berbicara dengannya?"


Mata Nathan gelap. “Apakah aku perlu bantuanmu untuk berbicara dengan wanitaku?”


Ari mengangkat bahu dengan tak berdaya, “Baiklah, Anda bisa melakukannya sendiri. Saya akan masuk dan mencicipi makanan enak!“


Nathan hendak meraih Ari dan melemparkannya kembali ke mobil, tetapi pria itu bergerak lebih cepat seperti belut yang licin.


Setelah Ari menghilang dari pandangan, Nathan mengangkat pergelangan tangannya lagi untuk melihat waktu. Sudah hampir satu jam, dan Luna benar-benar mengabaikannya.


Baik, jika wanita itu mengabaikannya, dia akan menelepon Noah. Nathan mengeluarkan ponselnya dan memanggil Noah.


Namun, yang dia dengar adalah, “Nomor yang Anda hubungi tidak tersedia. ”


Bocah itu juga memblokir nomornya? Nathan mengepalkan tangannya dan meninju mobil dengan keras.


DI DALAM RUMAH,


Ari mengambil inisiatif untuk mencuci dan memotong sayuran, dan dia bahkan mengambil foto dirinya sedang mencuci sayuran lalu menjadikannya status WhatsApp.


Dia benar-benar sengaja memprovokasi pria penyendiri yang ingin menendangnya sampai mati tadi di luar.


Nathan ingin menunggu sepuluh menit lagi ketika dia menerima telepon dari Daffa.


“Sepupu, aku melihat status Ari. Dia berfoto dan dibelakangnya ada Luna. Apakah kamu di sana juga? Bagaimana itu? Apakah Luna benar-benar tersentuh ketika dia melihatmu dan melompat ke dalam pelukanmu sambil menangis dan kalian berdua kemudian... ”


Nathan menutup telepon dengan ekspresi yang benar-benar gelap. Lalu segera melihat status Ari. Dia hampir menghancurkan ponselnya menjadi berkeping-keping ketika melihat postingan itu.


Ari sengaja membahas tentang pria pemarah di luar ketika Luna sedang menggoreng sayuran di wajan. “Nona, apakah Anda menonton siaran langsung pernikahan Tuan Nathan?”


Luna mengerutkan alisnya.


Nathan mengatakan padanya untuk menonton siaran langsung, dan sekarang bahkan Ari juga bertanya padanya apakah dia menontonnya. Apakah mereka berpikir bahwa dia adalah orang bodoh yang pasrah hingga memberi restu sepenuh hati?


Ari tahu bahwa Luna tidak menonton siaran langsung hanya dengan melihat ekspresinya. Tidak heran jika dia tidak membiarkan Nathan masuk!


Ari buru-buru mengeluarkan ponselnya dan membuka internet. tetapi dia tidak bisa menemukan apa pun yang berhubungan dengan pesta pernikahan hari ini.


“Eh?”


Luna melirik ponsel Ari, “Apa yang kamu lihat?”


“Video pernikahan Tuan Nathan menghilang." Ari melirik Luna, dengan alis berkerut.


Ketika Luna sedang memasak, dia tiba-tiba mendengar seseorang berbicara di luar, “Apa kau benar-benar akan mengabaikan aku selamanya?"


Nathan berjalan ke dapur dan menendang Ari keluar tanpa peduli, “Pergi bawa Noah untuk mengambil hadiah dari mobilku.”


Ari menggosok bokongnya yang sakit dan berlari keluar dengan menyedihkan setelah mengajak Noah.


Luna melakukan yang terbaik untuk mengabaikan pria pemarah itu. Dia menaruh seluruh perhatiannya pada memasak. Namun tiba-tiba, sesuatu bertopang di pundaknya.


Dagu Nathan diletakkan di bahu Luna, bibir pria itu begitu dekat dengan telinganya ketika suaranya dengan manja berkata, “Sebenarnya, aku juga suka hidangan ini."


Napas pria itu berat dan udara panas yang dihembuskannya di telinga Luna terasa gatal dan mengganggu.


Luna berbalik untuk menatap pria itu dengan marah. “Kau pria tak tahu malu, menjauhlah dariku!”


Bukannya pergi, Nathan malah menyerin6 pipinya lalu tersenyum jahat. “Oh, wajahmu merah.”


Luna benar-benar ingin menamparnya sampai mati.


“Aku sedang memasak, wajahku memerah karena panas di sini." Dia mendorong Nathan dengan sikunya, nadanya menjadi dingin,” Nathan, aku sudah mengatakan sebelumnya bahwa aku tidak ingin terus terlibat dengan pria beristri seperti kamu."


Melihat sikapnya, Nathan yakin bahwa Luna tidak menonton siaran langsung.


Jari-jarinya meraih dagu Luna, membalikkan wajahnya hingga menoleh, lalu dia menyeringai lagi, “Aku akan melepaskanmu jika kau menciumku sekali."


Brengsek tak tahu malu ini!


Luna sangat marah, bahkan matanya memerah.


Luna menarik tangannya kembali dan hendak menampar pria itu, namun Nathan berhasil meraih pergelangan tangannya sebelum tangan itu mendarat di pipinya. Matanya semakin gelap, “Luna, pikirkan baik-baik. Aku akan memaksamu di tempat tidur, setiap kali kau menamparku.”


Luna menukas, “Otak mesum, apa kau ingin aku memanggil tunanganmu?”


“Jasmine?” Dia tertawa jahat, “Dia tidak akan keberatan. ”


Luna sedikit linglung. Apa maksudnya Jasmine tidak akan keberatan. “Apa yang kau inginkan?”


Senyum Nathan yang sedikit liar, membuat jantung Luna berdetak kencang tanpa sadar, “Kebahagiaan, atau cinta, atau bercinta," katanya menyeringai tanpa dosa.


Luna tidak bisa meladeni pria ini dengan waras lagi. Sebagai pengendalian diri, dia berbalik dan kembali fokus pada memasak. “Kau bisa pergi setelah selesai makan, dan berhentilah menghubungiku, kita tidak perlu berkomunikasi satu sama lain.”


Sepasang tangan Nathan memeluk dan membelai pinggangnya begitu Luna menyelesaikan kata-katanya. Tangannya bergerak di bawah kemeja wanita itu lalu menyentuh kulit lembut perutnya.


Luna menarik napas dalam-dalam karena emosi.


Dia tidak berpikir bahwa pria ini akan begitu berani dan tak tahu malu. Luna merasa malu juga kesal hingga mengambil wajan dan hendak memukulnya tetapi Nathan membenamkan wajahnya di antara leher dan bahu Luna.


Luna menyipitkan matanya ketika pria itu menempatkan ciuman kecil di lehernya, “Kelinci galak, setiap bagian dari diriku adalah milikmu.”


Apa yang gangster brengsek ini bicarakan?


“Apakah kamu masih tidak mengerti? Aku tidak menikah dengan Jasmine.”


Luna mengerutkan kening dan tatapannya bingung.


"Apa kau masih tidak mengerti juga? Kamu benar-benar bodoh.” Dia menatap wajah Luna, sebelum dia membuka mulutnya untuk meninggalkan tanda di lehernya. “Kamu satu-satunya orang yang akan mendapatkan ini dariku."


Tentu saja Luna mengerti kata-katanya. Dia mengatakan bahwa dia tidak menikah dengan Jasmine. Tapi kenapa?


Sementara Luna mencerna kata-katanya, pria itu membalikkan tubuhnya dan mengangkatnya ke meja dapur.


Luna menempatkan tangannya di dadanya karena refleks, tidak membiarkan pria itu terlalu dekat dengannya.


Sebelum dia bisa mengajukan pertanyaan, napas pria itu menyerbu inderanya sekali lagi. Ciuman hangatnya mendarat di pipi, lalu ke telinganya.


“Nathan, aku akan marah jika kau terus seperti ini.”


"Apakah salah jika aku mencium wanitaku?"


“Siapa wanitamu? Aku tidak ingin kembali bersamamu, bahkan jika kau tidak menikah dengan Jasmine.”


Pria itu mengatupkan bibirnya erat-erat, saat kemarahan muncul di matanya, hingga rahangnya menegang.


“Lihat mataku dan katakan itu lagi."


Luna menatap matanya yang dalam lalu mengerutkan alis, “Meskipun aku tidak tahu kenapa kamu akhirnya tidak menikah dengan Jasmine, tapi kau telah menyakiti perasaanku, hingga aku merasa sangat sedih dan kini akhirnya aku mulai merasa lebih baik…"


Nathan memelototinya dan menyela, “Kau tidak menyukaiku lagi?”


Bibirnya bergerak, “Aku …”


“Kalian berdua sedang apa?” tanya Noah yang kembali bersama Ari.


"Tidak ada." Luna cepat-cepat mendorong Nathan dan melompat turun dari meja lalu kembali memasak, sementara Noah dengan wajah masam pergi kembali ke ruang tamu tanpa mempedulikan Nathan.


* * *


DI MEJA MAKAN.


Semua orang makan dengan tenang, terlepas dari Ari, yang terus memuji masakan Luna.


“Makanan yang dibuat oleh Nona Luna adalah yang terbaik! Kuharap kelak Anda mendapatkan jodoh yang terbaik dan...“


Sebelum Ari bisa menyelesaikan kata-katanya, dia merasakan sakit yang tajam di kakinya, hingga berteriak, “Siapa yang menendangku?” Ari mengedipkan matanya dengan menyedihkan ketika menyadari Nathan memandang sinis padanya.


Noah, yang sedang makan malam dengan patuh di sebelah Luna, juga bergabung dalam percakapan, “Ibuku adalah sepenuhnya milikku. Aku akan menjodohkannya dengan pria baik-baik pilihanku."


Nathan terdiam. Dia ingin menendang bocah ini juga kalau saja dia bukan putranya. "Ibumu dan aku akan memiliki anak perempuan cantik yang tidak suka mengkhianati ayahnya sendiri."