CEO'S Baby

CEO'S Baby
Momen Haru Biru yang Gagal.



Pria ini pasti sengaja melakukannya!


Luna tahu bahwa Ben melakukannya agar terdengar oleh Nathan.


Luna hendak mengatakan sesuatu ketika Ben bergumam dengan volume yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "Aku membantu kamu memberi pelajaran seorang."


Luna memandang ke arahnya.


Kedua pasang mata bertemu.


Nathan dan Jasmine tidak bisa mendengar apa yang baru saja dikatakan Ben karena mereka duduk di berhadapan. Namun, Ben dan Luna tampak benar-benar intim, begitu dekat. Ekspresi Nathan menjadi gelap. Bahaya memenuhi matanya saat dia menatap pasangan serasi itu.


Jasmine melihat jari-jari Nathan perlahan melengkung menjadi tinju yang kuat.


Jika dia tidak minum obat untuk gangguan bipolar, dia mungkin benar-benar membalik seluruh meja sebelum meraih pria itu dan memukulnya dengan kejam.


"Sayang, minum air!" Jasmine memberikan secangkir air hangat untuk Nathan.


Nathan mengambil cangkir dan menenggaknya dalam satu tegukan.


Luna hendak mengatakan sesuatu ketika Ben mencibir, "Tuan Nathan. Apa Anda tahu bahwa putra Luna adalah orang yang mengatur kencanku dengannya hari ini? Dia benar-benar anak yang pintar dan lucu." Ben tersenyum lebar, “Dia bahkan memanggilku tampan saat kami video call.”


Itu salah!


Apakah bahkan Noah pun lepas dari tangannya?


Kemarahan Nathan mencapai puncak, tapi dia mencoba tetap tenang. "Benarkah? Anda tidak akan bisa menjadi ayahnya, bahkan jika dia memuji Anda.”


Luna ternganga ketika dia melihat kedua pria itu bertengkar seperti anak-anak. Dia melirik Jasmine, yang meliriknya juga hampir pada saat yang sama.


Jasmine tersenyum sedikit. Dia sepertinya dia tidak merasakan perasaan tidak nyaman sama sekali.


Luna sedikit bingung. Jasmine tahu bahwa Nathan dan dia memiliki hubungan dimasa lalu, dan apakah dia tidak akan cemburu sekarang karena Nathan sedang bertengkar dengan Ben karenanya?


"Luna, tolong jangan terlalu khawatir tentang itu." Suara Jasmine lembut, terdengar seperti angin sepoi-sepoi yang tenang di hari musim panas. “Aku tumbuh bersama Nathan dan emosinya sudah seperti ini sejak dia masih kecil.” Jasmine tertawa ringan, “Dia benar-benar peduli padamu.”


Luna sedikit terkejut. Kata-kata seperti ini mungkin tidak cocok untuk Jasmine katakan, bukan? Atau apakah dia mencintai Nathan sampai dia bisa mentolerirnya memiliki hubungan lain?


Makan malam itu tidak berjalan dengan baik karena dua pria yang selalu beradu argumentasi. Luna dan Jasmine menyerah. Mereka mengajak pasangan masing-masing untuk pulang.


Luna baru kembali ke apartemennya pada jam sebelas malam.


Noah mungkin sudah beristirahat karena pintu kamarnya tertutup rapat. Luna hanya memeriksa sebentar lalu masuk ke kamarnya sendiri.


Luna merasa hatinya begitu berat, namun dia tidak suka memikirkan kesedihannya, wanita itu pergi mandi dan keluar dari kamar mandi dengan terbungkus handuk, setelah mencuci dirinya bersih.


Kamar itu hanya diterangi dengan lampu dinding redup. Dia tidak menyadari ada yang salah ketika dia masuk dan dia berdiri di depan lemari pakaiannya untuk mengeluarkan gaun tidur dari dalam.


Dia melemparkan pakaian di tempat tidur dan membuka handuk untuk mengeringkan sisa air di tubuhnya.


Tepat saat Luna hendak mengenakan gaun itu, dia tiba-tiba melihat bayangan tinggi di sudut ruangan yang redup.


Luna sangat ketakutan sehingga dirinya mengerut dan berseru, "Siapa di sana?"


Dia benar-benar ketakutan, dan tangannya memegangi handuk.


Luna akan menjadi gila, saat dia bergegas untuk berlari keluar dengan terburu-buru. Namun, bayangan tinggi di sudut bergerak ke arahnya, berjalan dengan cepat mendekatinya.


Luna tidak setakut tadi ketika dia melihat siapa pria itu jelas, meskipun dia masih terkejut.


Melihat mata pria itu menatap tubuhnya tanpa rasa malu, dia benar-benar ingin menendangnya sampai mati.


Namun, prioritasnya sekarang adalah mengambil baju dan menutupi dirinya dengan aman. Handuk ini terlalu beresiko. Jadi secepat kilat Luna meraih baju dan berlari ke kamar mandi.


Alih-alih mengejarnya, Nathan hanya berjalan ke jendela sambil membuka beberapa kancing lagi di bajunya.


Dan ketika Luna keluar dari kamar mandi, dia melihat pria itu bertelanjang dada.


Ekspresi Luna berubah sedikit dingin, "Apa kau tidak malu tertangkap masuk tanpa izin di rumah orang begitu larut malam?"


Dia sudah mengenakan gaun tidurnya. Itu memiliki kerah bundar dan longgar, membuat sosoknya terlihat lebih langsing dan feminin. Tatapan Nathan bergerak dari pinggang rampingnya ke kaki yang panjang.


"Nathan, tolong singkirkan pandangan mu yang mesum itu!" Luna memperingatkan.


Nathan mengerutkan bibir tipisnya erat dan mendekati Luna.


"Bagaimana kau tahu rumahku dan kenapa kau bisa masuk?" Luna bertanya bak pemilik rumah yang galak.


"Tidak sulit untuk tahu dimana kau tinggal, dan tadi aku sempat bernegosiasi dengan Noah, lalu aku menidurkannya karena dia mengantuk." Nathan menjelaskan.


Luna tersenyum dingin padanya. “Kau memberi harapan besar pada tunanganmu, namun datang untuk menemui wanita lain yang bahkan tidak bisa dianggap sebagai pacarmu? Apakah Tuan Muda ini mendapatkan rasa bangga setelah mempermainkan dua wanita?" Nada suara Luna tidak tampak cemburu, juga tidak mengandung banyak emosi.


Nathan mengerutkan alisnya dalam kebingungan. "Siapa yang kau sebut dengan tunanganku?"


Luna sedikit membeku. "Tentu saja Jasmine."


"Kau terlalu sibuk dengan pikiran dan dirimu sendiri hingga tidak tahu apa yang terjadi denganku." Nathan setengah menyalahkan, setengah mengomel. "Jasmine memang dijodohkan denganku. Tapi sebenarnya dia mencintai Daffa, begitu juga sebaliknya."


Luna mendengus setengah tertawa. "Kau mengarang cerita."


Nathan mendesah. "Jasmine hanya bersikap rasional dan menuruti keinginan orang tuanya. Sejak kecil sebenarnya kami berteman. Aku, Daffa dan Jasmine. Dan wanita itu sudah di didik untuk menjadi istriku sejak usianya masih belia, karena itu pikiran yang tertanam di kepalanya adalah dia harus menikah denganku. Seperti keinginan orang tuanya." Pria itu mencoba menjelaskan.


Luna menyilangkan kedua tangannya di dada. Mendengarkan.


"Aku menyadari hubungannya dengan Daffa ketika kami bertiga bertemu setelah berita tentang pertunangan kami tersebar. Tatapan mereka saling tidak biasa. Karena itu aku mencari tahu dan meminta penjelasan," sambung Nathan. "Dan mereka mengakuinya. Dan sementara ini kami bersikap seolah-olah semua berjalan sesuai rencana sambil memikirkan jalan keluar."


"Lalu? karena Jasmine menyukai Daffa maka kau berpikir untuk kembali padaku saja? begitu? kau pikir aku apa? Hanya karena aku punya anak darimu maka kau pikir kau berhak atas diriku? Noah bukan pengikat antara kau dan aku. Jadi tolong bersikap sewajarnya saja denganku." Luna marah-marah dan dibakar oleh api cemburu hingga tidak menyadari kata-katanya. Ia lupa kalau Nathan belum tahu bahwa Noah adalah putranya.


Nathan mengerutkan kening, menatap Luna dengan tatapan yang rumit. "Noah? kenapa?" Pria itu meminta Luna menjelaskan lebih. Dia tidak tahu apakah tadi pendengarannya salah atau tidak.


Luna membeku, berusaha menarik kata-katanya namun ia tahu itu tidak mungkin bisa.


"Kau bilang Noah adalah puteraku?" Desaknya. Ia memegang lengan Luna karena tahu wanita itu akan melarikan diri.


"Tidak ada yang bilang begitu." Luna berusaha melepaskan tangan Nathan, namun cengkeramannya malah semakin kuat.


"Kau jelas-jelas bilang begitu."


Luna berhenti bergerak, menghela napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. "Lalu bagaimana jika Noah benar-benar putramu?"


Cengkeraman Nathan melemah.


"Apa itu akan mengubah sesuatu diantara kita? Apa itu akan membuatmu bisa menikahiku?" Kali ini Luna yang mendesak. "Tidak kan?"


Dan kali ini Nathan yang membeku. Antara terkejut akan fakta bahwa Noah benar-benar putranya dan karena terpojok atas pertanyaan Luna.


Beberapa detik setelah mereka berdua saling memandang tanpa sepatah kata pun, Luna melepaskan tangan Nathan dan mulai berjalan menuju pintu.


Namun, ketika tangannya baru saja menyentuh pegangan pintu, Luna ditarik kembali ke pelukan pria itu. Nathan memeluknya dari belakang.


"Apa kau akan pergi begitu saja setelah membuatku terkejut?" Suara Nathan rendah dan serak di telinganya.


"Anggap saja kau tidak mendengar apa yang kukatakan tadi, dan kita bisa kembali pada kehidupan masing-masing." Luna berusaha melepaskan tangan Nathan dari pinggangnya.


"Aku tidak ingin kehidupan masing-masing."


"Jangan menginginkan hal yang mustahil."


"Aku tidak bisa berjanji untuk memberimu rumah tangga dengan restu keluargaku, tapi aku bisa berjanji kalau kita akan menikah." Sebenarnya Nathan sendiri terdengar tidak yakin, melawan peraturan dan keinginan keluarganya memang sangat tidak mudah, tapi dia berusaha untuk membulatkan tekadnya.


Air mata hendak menerobos keluar dari mata Luna ketika pria itu membalikkan badannya dan melingkarkan satu tangan di leher wanita itu. Dia menempatkan ciuman di seluruh bibirnya yang lembut sebelum pindah ke telinganya. Momen haru biru hancur sebelum berkembang. Dasar mesum!