CEO'S Baby

CEO'S Baby
Hatiku Tidak Akan Melemah Lagi Untukmu.



Jasmine berdiri di pintu dengan pandangan bertanya-tanya. Mata terlihat sedih namun indah dan bahkan seorang wanita seperti Luna merasa ingin melindunginya, apalagi pria.


“Luna, dia Jasmine. Aku dan dia..."


Luna tidak ingin mendengar apa-apa lagi tentang Nathan dan Jasmine, karena itu dia memotong kata-kata Nathan tanpa ekspresi. “Aku tidak tertarik untuk mengetahui tentang kalian berdua.”


Luna pergi tanpa menoleh pada Nathan maupun Jasmine.


Kali ini, Nathan tidak mengejarnya. Pria itu menghela napas penuh beban ketika memandang Jasmine.


Jasmine menghampiri Nathan dengan membawa termos. “Aku sudah memasak bubur labu kuning yang kau sukai.”


Pria itu menatapnya dengan dingin. "Jasmine, aku tidak suka bubur labu kuning lagi."


Wajah Jasmine jelas terlihat kecewa, padahal tadi ketika mendengar bahwa Nathan telah dipindahkan ke bangsal, dia kembali ke rumah untuk memasak sendiri bubur yang akan diberikan untuk Nathan. Dia pikir pria itu akan menyukainya.


Nathan merasa ada beberapa hal yang harus dia jelaskan pada Jasmine. “Kau tidak bertanya padaku siapa wanita itu?”


Jasmine menjawab dengan lembut, “Aku mendengar dari Ari, dia adalah Luna.”


“Dia adalah wanitaku." Nathan terdiam selama beberapa detik lalu berkata, “Jasmine, kau adalah wanita yang baik dan aku akan sangat menghargaimu sebagai teman.”


Termos di tangan Jasmine jatuh ke lantai dan matanya berkaca-kaca. “Kenapa kau sangat kejam?"


Nathan telah menyakitinya beberapa kali. Tapi Jasmine tetap bersamanya dan tidak menyerah, meskipun Nathan memperlakukannya dengan buruk.


Nathan memandang Jasmine dengan murung dan penuh rasa bersalah. “Aku tidak ingin kau semakin berharap padaku."


Air mata Jasmine jatuh tak terkendali.


Nathan menatap wanita itu dengan rasa kasihan lalu memegang bahunya yang gemetar. "Jasmine, meskipun kita tidak bisa menjadi kekasih, aku selalu menganggapmu sebagai temanku, bukankah dulu sebelum dijodohkan juga kita adalah teman?"


Jasmine mencengkeram pakaiannya erat-erat dan menatap Nathan. Perlahan dia menyandarkan kepalanya di pelukan pria itu, air mata mengalir di wajahnya. “Oke, kita harus menjadi teman selamanya."


Nathan menyunggingkan senyum lega. Ia berharap Jasmine benar-benar menyerah untuk menikah dengannya.


DI LANTAI DASAR. Luna keluar dari lift dan berjalan ke tempat parkir namun tidak bisa menemukan kunci mobilnya. Mobil yang pernah Nathan berikan padanya.


Luna mengingat-ingat, ketika dia dilempar ke tempat tidur oleh Nathan, tasnya secara tidak sengaja jatuh ke lantai dan kunci mobilnya mungkin jatuh di bawah tempat tidur.


Menghela nafas, Luna tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke bangsal. Dan ketika sampai di pintu kamar bangsal tempat Nathan dirawat, Luna memutuskan untuk melihat ke dalam melalui celah lebih dulu sebelum masuk.


Meskipun dia telah mempersiapkan dirinya untuk hal terburuk, namun melihat pria dan wanita itu saling merangkul di tempat tidur tetap saja membuat hatinya sakit.


Jasmine menangis dan Nathan sepertinya menghiburnya.


Luna menggelengkan kepalanya keras dan mengingatkan dirinya sendiri tentang posisinya yang sama sekali tidak pantas berada diantara mereka berdua.


Tidak ingin mengganggu, Luna tidak jadi memasuki bangsal. Dia mengerutkan bibirnya dengan erat dan meninggalkan rumah sakit.


Luna memilih memanggil taksi dan kembali ke apartemen, mengambil keuntungan dari Nathan dirawat di rumah sakit, Luna memutuskan mengepak barang-barangnya untuk pindah, karena dia tahu pria itu tidak akan bisa datang dalam waktu dekat.


Dia mengerutkan alis ketika melihat koper besar yang Luna bawa. "Mau kemana?" tanyanya.


Luna menelan liur. "Pindah. Sudah kubilang aku akan pindah jika sudah menemukan rumah baru untuk kami."


"Dimana Noah?" Nathan melirik kedalam, mencari keberadaan bocah sahabatnya itu


"Bukan urusanmu, yang jelas kami akan pindah." Luna menyeret kopernya lagi, berusaha melewati Nathan yang berdiri di pintu. Namun pria itu mengambil kopernya dan membawanya kembali ke dalam.


"Ini rumah Noah, dan hanya dia yang berhak untuk memutuskan pindah." Pria itu masih memegangi koper.


"Aku akan meyakinkan putraku."


"Tapi belum kan?"


Luna mendengus. "Bukankah kau seharusnya berada di rumah sakit?"


"Aku butuh obat." Nathan mengerucutkan bibirnya.


"Kalau begitu kembali dan minta pada dokter." Luna sudah mulai marah-marah. Sebenarnya karena kesal saat mengingat pria itu berpelukan dengan Jasmine.


Nathan malah menyeringai. “Obatku adalah kamu.” Dengan mengatakan itu, dia mendekati Luna dan membungkuk untuk menciumnya.


Luna menyipitkan matanya dan dengan kesal ia menepuk dahi Nathan sekuat yang dia bisa. Padahal dahinya mengalami cedera, dan balutan putih itu langsung memerah.


Luna mengalihkan pandangan darinya. "Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku tidak akan membiarkanmu mencium atau melakukan apa pun padaku lagi hanya karena kau mau.”


Nathan meraih dagu Luna. Suaranya dingin dan sedikit arogan, "Apa kau berani mengatakan bahwa kau tidak suka ketika aku memaksamu melakukannya itu? Aku yakin kau akan merasa sangat kehilangan jika aku benar-benar melepaskanmu."


Luna merasakan telinganya terbakar karena malu dan marah, tetapi senyum yang sedikit sarkastik muncul di wajahnya. "Aku bukan boneka kayu yang bisa tetap tidak tergerak dengan semua sentuhan dan perlakuan manis yang kadang kau berikan, namun aku bisa menemukan pria lain..."


Sebelum Luna menyelesaikan kata-katanya, Nathan mencengkeram dagunya lebih keras dan menyela. "Jika kau berani menemukan pria lain, aku berjanji akan membunuh kalian berdua!" Darah segar mengalir turun dari dahi ke wajah pria itu.


Luna berusaha menutupi kesedihannya ketika melihat Nathan terluka lagi. "Kumohon kembalilah ke rumah sakit dan obati lukamu." Dia mendorong Nathan dengan semua kekuatannya hingga pria itu keluar, lalu kembali masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Tanpa rasa kasihan.


Nathan berdiri diam di luar.


Sekarang, darah telah menutupi seluruh wajahnya, dan menetes ke dagu hingga ke bajunya. Wajahnya bahkan tampak lebih pucat. Namun, dia tidak tergerak seolah-olah tidak bisa merasakan sakit. Matanya mulai memerah.


Gangguan bipolar dalam dirinya mulai beraksi namun dia berjuang untuk menahannya.


Jasmine juga mendapat taksi dan mengikuti Nathan sesaat setelah pria itu meninggalkan rumah sakit.


Dari kejauhan, Jasmine bisa melihat Nathan berdiri mematung disana. Jantungnya mengepal erat ketika dia melihat wajah pria itu berlumuran darah. Kakinya ingin bergerak mendekat, namun Jasmine tahu bahwa Nathan tidak berharap dia melihatnya seperti ini. Tidak sekarang .


Klik, klik.


Baik Nathan maupun Jasmine, tidak ada yang menyadari bahwa seseorang baru saja mengambil foto pemandangan ini dari sudut tersembunyi.