
"Nathan apa yang kau lakukan?" Nyonya besar berteriak.
Bibirnya bergetar. Dia menunggu jantungnya tenang sebelum dia mengatakan sesuatu lagi.
“Ibu haruskah aku mengungkapkan semuanya sekarang?” Suara gelap dan suram datang dari Nathan.
Nyonya besar buru-buru berdiri dari kursinya, tapi pergelangan tangannya ditangkap oleh Ari.
"Beraninya kau." Nyonya besar berteriak pada Ari, mencoba melepaskan tangannya namun tidak berhasil. "Nathan, apa-apaan ini?"
Jasmine, yang masih berdiri di atas panggung, membelalakkan matanya ketika melihat ini. Bibirnya bergetar, “Nathan, kenapa?"
"Bu, kau bahkan tidak sakit sama sekali bukan?" Nathan mendesis dan tersenyum sangat sinis.
Nyonya besar tersenyum tidak kalah sinis. Ia tahu dirinya sudah ketahuan. "Itu karena kau menolak meninggalkan Luna, sangat merepotkan membuatku harus berpura-pura sakit seperti itu." Bukannya merasa bersalah, nyonya besar justru menyalahkan Nathan.
Nathan menggeleng, tidak habis pikir. "Jangan bersikap seolah kau berhak atas hidupku. Nikmati saja sisa hidupmu di penjara."
"Apa alasanmu memenjarakan ibumu sendiri? apa kau begitu gila karena wanita itu hingga menjadi anak durhaka?"
"Kau bukan ibuku, orang tuaku sudah meninggal karena kau membuat mobil mereka terjatuh ke jurang." Nathan berbicara dengan geram. "Jika ingin menguasai harta orang tuaku, seharusnya kau juga membunuhku meski saat itu aku masih bayi."
Semua organ tercengang. Tidak ada yang tahu tentang ini, jika Nyonya besar bukan ibunya, lalu siapa?
“Kakak iparku dan ibumu, sudah membenciku sebelum pamanmu meninggal. Bukankah seharusnya mereka bisa memperlakukan aku dengan baik? Ha, karena itu aku membuat mereka mati sia-sia.” Nyonya besar itu malah terlihat puas dan bangga.
"Bagus, dengan pengakuanmu barusan, kau bisa mendekam di penjara tanpa halangan lagi." Nathan mendengus. "Dan kau.." Dia menunjuk Jasmine. "Kau tahu ibuku hanya berpura-pura, tapi kau mengabaikannya, kau bersikap seolah-olah sangat khawatir dan mengambil keuntungan hingga membuatku terpaksa membuat janji untuk menikahimu."
"Tidak, bukan begitu.." Jasmine ingin menjelaskan sesuatu sebelum Nathan menyela lagi.
"Wanita itu memintamu menuruti semua perintahnya kan? Agar kejahatannya tidak terungkap kan? Dia memintamu diam dan menyembunyikan semua kejahatannya." Nathan berteriak.
Jasmine membelalakkan matanya, ia jatuh ke lantai dengan kaki lemah. "Aku melakukan itu karena aku mencintaimu Nathan, aku rela melakukan apapun meski itu adalah kejahatan."
Nyonya besar menyadari bahwa dia telah jatuh ke dalam perangkap yang dibuat oleh Nathan. Karena sudah terlanjur tertangkap basah, ia seakan memiliki gangguan jiwa, dengan tidak menunjukan penyesalan atau meminta maaf, sebagai gantinya dia malah tertawa.
“Nathan, aku bisa mengatakan bahwa aku tidak membuat kesalahan. Selain itu, hari hujan dan jalanan licin saat orang tuamu meninggal, itu bisa jadi bukan salahku."
"Jadi kau membunuh anak dan menantuku?" Nenek Tua berteriak, ia gemetar dan hampir pingsan. "Kau bersikap seolah-olah begitu peduli pada cucuku dan meminta agar semua orang mengatakan bahwa kau adalah ibunya. Astaga.. ini salahku, bagaimana jika kau membunuhnya juga saat Nathan masih kecil."
Tapi karena berpikir bahwa wanita itu adalah ibu kandungnya, Nathan begitu menyayangi dan menghormati Nyonya besar ini dengan sepenuh hati. Bagaimana bisa kebenaran tertutupi dengan begitu rapi? Nathan mempercayai semua kebohongan Nyonya besar selama bertahun-tahun. Hingga dia merasa ada yang tidak beres dan meminta para detektif dan polisi menyelidiki hal ini diam-diam.
“Aku berjanji untuk menikahi Jasmine sebelum aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku begitu menyayangimu hingga rela melepaskan kebahagiaanku, tapi kalian.." Nathan menujuk Nyonya besar lalu menatap Jasmine dengan kejam. "Kalian mempermainkan aku. Sekarang terima juga permainanku."
Nyonya besar mengambil dua langkah mundur tiba-tiba, “Tidak, kau tidak bisa membuatku dipenjara, kau putraku."
Para tamu semua sangat terkejut ketika mereka mendengar insiden menakutkan ini, dan mulai mengutuk Nyonya besar.
"Kau sakit jiwa, karena itulah Tuhan juga tidak mempercayakan anak kandung padamu. Sekarang aku juga curiga bahwa pamanku juga meninggal karena upah istrinya sendiri."
"Tidak, aku mencintai suamiku, tidak mungkin aku mencelakainya." Nyonya besar menangis ketika dia memikirkan bahwa dia harus menghabiskan sisa hidupnya di penjara. “Maafkan aku Nathan, ibu.. maafkan aku." Wanita itu berlari dan berlutut di bawah kaki Nyonya Tua.
"Apa aku berhak memaafkan mu sementara anak dan menantuku menangis dan ketakutan menjelang kematian mereka." Nenek sudah tidak sanggup untuk marah, tubuhnya begitu lemas karena terkejut dan sangat sedih. "Kau begitu kejam, teganya..." wanita tua itu tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.
Nyonya besar mulai tertawa terbahak-bahak dengan mata merah gila. “Nathan, kamu tidak akan bisa menang melawanku. Aku punya banyak harta yang bisa membeli segalanya, bahkan hukum sekalipun."
Rahang Nathan menegang, tatapan hitamnya menatap Nyonya besar yang angkuh. Dia telah mengambil nyawa orang tuanya, tetapi dia sama sekali tidak merasa bersalah tentang itu!
Mata Jasmine dipenuhi dengan air mata. "Nathan maafkan aku." Katanya lalu turun dan mengambil pisau yang tergeletak di meja jamuan dan menusuk dirinya sendiri.
"Nathan melompat turun dari atas panggung untuk menangkap tubuh Jasmine yang tumbang. "Jasmine..."
"Maaf, maaf.. Aku begitu buta hati karena mencintaimu. Aku bahkan mengabaikan kebahagiaanmu demi kesenanganku. Maafkan aku." Katanya lalu ia kehilangan kesadaran saat masih ingin mengatakan sesuatu.
Suasana semakin kacau. Polisi datang untuk menangkap Nyonya besar sedangkan Jasmine di larikan ke rumah sakit.
* * *
Sementara itu di Singapura.
Luna sama sekali tidak ingin melihat proses upacara pernikahan Nathan berlangsung, ia mencoba untuk tidak perduli karena itu ia mengabaikannya dengan menyimpan ponselnya baik-baik di dalam tas agar tidak tertarik untuk membuka channel berita lokal Indonesia dimana mereka menayangkan siaran langsung itu.
Luna bahkan keluar dan mengajak Noah pergi ke taman bermain agar bocah itu lebih cepat berbaur dan mendapatkan teman hingga ia betah tinggal disana.
Ponsel yang ditinggal Luna di rumah berdering dari nomor tidak dikenal lainnya, benda itu berdering berkali-kali, tanpa henti hingga kehabisan baterai dan mati.