
Luna selalu kompetitif dan tidak suka melihat orang lain memandang rendah dirinya. Dia ingin berdiri dan terus bermain ski, namun setiap kali mencoba berdiri dia terjatuh lagi.
“Meskipun kau bodoh, aku masih harus mengajarimu karena aku sudah dibayar. ”
Orang ini...Luna mengatupkan bibirnya agar tidak mengumpat.
Pria itu menariknya, dia berkata dengan suara serak, "Mari kita lanjutkan. ”
Setelah jatuh untuk kesekian kalinya, Luna terlalu malu untuk terus belajar.
"Tidak apa-apa, mari kita berhenti di sini. Aku benar-benar tidak dapat mempelajari hal-hal semacam ini." Bahkan Noah lebih pandai darinya, karena mewarisi gen Nathan. Luna kesal pada dirinya sendiri.
Pria itu menariknya lagi, nadanya kali ini memerintah, “Pelajari lagi."
Luna mengepalkan rahangnya. “Aku tidak mau belajar lagi!" katanya melemparkan tongkat ski lalu pergi.
"Sial! kenapa aku selalu bertemu dengan orang seperti itu?" Luna menggerutu, berpikir untuk kembali ke kamarnya saja dan membiarkan Noah bermain bersama Ben.
Lalu Luna merasa ada seseorang yang berjalan di belakangnya, wanita itu menoleh dan mendapati si instruktur berjalan tanpa membuka masker dan helm nya. Dia mencurigakan, jadi Luna mempercepat langkah bahkan hampir berlari.
Namun, nasib sepertinya sedang mempermainkannya, karena lift sedang diperbaiki. Dia melakukan yang terbaik untuk melarikan diri dengan pergi ke tangga darurat.
Luna sangat tergesa-gesa hingga tidak punya waktu untuk bereaksi ketika dia kehilangan pijakan lalu terjatuh di anak tangga ke empat, untung saja ia baru menginjak anak tangga ke empat ketika ia terpeleset, tapi tetap saja itu meninggalkan rasa sakit yang tajam di pergelangan kakinya.
Instruktur itu buru-buru menghampirinya dan bertanya. "Apa kau baik-baik saja?" pria itu berjongkok di depannya.
Luna tampaknya melupakan rasa sakit sejenak ketika dia mendengar suara pria itu.
"Apa kau terluka?" Pria itu bertanya lagi, ketika Luna tidak menjawab. Dia benar-benar lupa untuk mengubah suaranya, karena terlalu cemas.
Luna mengerutkan keningnya, mengangkat tangannya untuk melepas helm dan masker di wajah pria itu.
Pria itu ingin menghentikannya, tetapi sudah terlambat.
Dia tampak membeku selama beberapa detik karena tindakan Luna yang tiba-tiba, meskipun dia dengan cepat mendapatkan kembali ekspresinya yang dingin. Pria itu benar-benar Nathan.
"Apa kau terluka?" Nathan mengerutkan alisnya, suaranya sedingin es.
Luna melihat sekeliling mereka, memperhatikan bahwa tidak ada seorang pun di sekitar tangga darurat ini selain mereka berdua. Dia tidak ingin bertengkar. Itu bukan waktu yang tepat karena pergelangan kaki kanannya sangat sakit sekarang.
“Aku terkilir. ”
Ekspresi pria itu sedikit rileks. “Aku belum pernah melihat seseorang yang sebodoh ini." Dia melepas sepatu Luna. "Kenapa berlari dengan tergesa-gesa begitu sih? memangnya kau mau pergi ke toilet?"
"Kau mengikutiku seperti psikopat yang menguntit, bagaimana aku tidak lari?" Luna membentak dan menatap matanya.
Meskipun emosi pria ini masih seburuk biasanya, tapi kali ini dia tampaknya tidak terlalu bahagia.
"Bagaimana kabarmu belakangan ini?" Tanya Nathan, suaranya sedikit tersedak.
Pria itu sudah melepas sepatu Luna lalu menekan area merah dan bengkak di kaki wanita itu, dan Luna segera meringis kesakitan.
"Tahan sebentar, aku akan membantu menyembuhkannya." Nathan tampak benar-benar khawatir.
"Tidak, aku harus pergi ke rumah sakit.”
Pria itu menatap Luna, menyipitkan mata sedikit. "Takut dengan rasa sakit?"
“Aku khawatir kamu malah akan memperparah cederaku."
“'Ha." Pria itu tertawa pelan dalam kesombongan. "Jangan takut. Aku punya permen.”
Dia hanya menyaksikan pria itu membuka permen lalu memakannya. Tiba-tiba, kedua tangannya meraih pergelangan kaki Luna dan mendorong dengan keras…
"Arghh!!!!" Luna merasakan rasa sakit dan pada saat itulah tangan Nathan menopang dirinya.
Pria itu menciumnya. Tidak.. itu bukan ciuman. Nathan memindahkan permen dari mulutnya ke mulut Luna sebelum wanita itu bisa mencerna apa yang telah terjadi.
Mulutnya tiba-tiba dipenuhi dengan aroma dan manisnya permen susu.
Nathan bergerak menjauh, dan bertanya. "Apa masih sakit?"
Meskipun pergelangan kaki Luna masih sakit, dia sepertinya kehilangan akal sehat karena permen ini.
"Aku akan mengantarmu kembali ke kamar," katanya lalu membantu Luna berdiri, memapah hingga ke kamarnya lalu pergi
Ketika Noah dan Ben kembali ke kamar, Luna berada di sana dan duduk di kursi sambil mengompres kakinya. Sekarang kakinya sudah jauh lebih baik.
Luna tidak memberi tahu Ben tentang akting Nathan sebagai instruktur. Apa pun yang terjadi, dia hanya akan memperlakukannya sebagai selingan kecil!
Dan ketika Ben menanyakan tentang kakinya, Luna hanya menjawab bahwa ia terkilir saat belajar bermain ski.
* * *
Jasmine awalnya ingin Nathan mengajarinya cara bermain ski. Namun, dia bertemu dengan salah satu teman lamanya lalu berbincang sebentar dan pada saat mereka selesai, Nathan mengirim pesan bahwa ia kembali ke hotel untuk menyelesaikan beberapa hal yang berhubungan dengan pekerjaan.
Ketika memutuskan untuk membeli beberapa cemilan di toserba hotel, Jasmine melihat Luna.
Tidak heran Nathan ingin pergi, wanita itu juga ternyata ada di sini. Kelihatannya, Luna masih memiliki pengaruh yang sangat besar pada Nathan. Pikir Jasmine.
Jasmine mengenakan pakaian ungu kasual. Kerah pakaiannya cukup rendah, dan mengungkapkan sebagian besar area leher hingga ke dada. Luna melirik dan melihat dua tanda merah di area leher wanita itu.
Luna berasumsi bahwa tanda itu ditinggalkan setelah terjadi sesuatu antara dia dan Nathan semalam.
"Luna, kalian disini?" Jasmine menyapa lebih dulu.
"Kebetulan sekali Jasmine." Luna membalas dengan menyeringai hingga dia tampak bahagia.
"Sepertinya liburanmu menyenangkan?" Jasmine ikut tersenyum bahagia. "Liburanku dengan Nathan juga sangat menyenangkan, pria itu tidak membiarkan aku tidur sama sekali."
Luna membeku sesaat, tapi dia berasumsi bahwa Jasmine berbohong, kelihatan sekali dari ekspresi wanita itu bahwa dia sangat gugup.
"Oh, jadi memang begitu. “Luna tampak tersenyum. Jari-jarinya memegang dagu ketika dia menatap Jasmine.
Jasmine mengambil undangan dari tasnya sambil tersenyum. “Luna, aku berharap akhir pekan ini, kau bisa menghadiri pesta pernikahan kami dan memberi restu."
Luna mengambil undangan itu dan membukanya untuk melihatnya.
Foto Jasmine dan Nathan dicetak di bagian atas undangan. Mereka saling berpelukan erat, dengan Jasmine tersenyum cerah seperti bunga mekar sementara Nathan tampak tampan dan dingin.
Luna melemparkan undangan itu ke tempat sampah di detik berikutnya. Dia mendongak dengan senyum sinis pada Jasmine, “Maaf, aku sibuk," katanya. Tidak ada gunanya berpura-pura bersikap sopan satu sama lain.
Jasmine geram dengan marah setelah dia melihat Luna melemparkan undangannya ke tempat sampah. "Luna, kau tidak sopan."
Luna tersenyum dingin. “Aku memiliki hak untuk melakukan apa pun yang ku inginkan, karena kau memberikannya kepadaku, maka aku berhak membuangnya." Luna hendak pergi lalu berhenti dan melirik Jasmine. "Apa kau benar-benar ingin aku datang? Tidakkah kau takut bahwa aku akan membuat pengantin pria mu melarikan diri denganku?”
"Jangan terlalu percaya diri Luna." Jasmine mendesis.
"Maka jangan terlalu percaya diri juga Jasmine," sahut Luna lalu pergi.