
Matahari sudah terbit ketika Luna bangun. Reaksi pertamanya adalah berbalik dan memandang pria yang semalam berbaring di sebelahnya.
Tapi tempat di sampingnya kosong. Luna bahkan tidak tahu kapan pria itu pergi.
Kembali ke masa beberapa hari yang lalu. Ketika Nyonya besar memohon padanya untuk meninggalkan Nathan, dia mengerti bahwa orang yang memberinya kehangatan di masa depan bukan lagi dirinya. melainkan Jasmine.
Luna sudah menduga bahwa ini akan menjadi akhir cerita mereka.
Tidak peduli apa, Luna akan baik-baik saja jika Nathan bisa bahagia. Dia akan membiarkannya pergi.
Waktu berlalu cukup lambat. Luna kembali pada rutinitasnya untuk menjalankan toko bakery dan fokus merawat Noah.
Dia hanya mendengar berita tentang Nathan dari tabloid atau berita keuangan. Pria itu sedang sibuk merawat ibunya yang sakit sambil merencanakan peresmian pertunangannya.
Noah sudah tahu bahwa Nathan adalah ayah biologisnya. Tapi setelah belakangan ini tidak pernah muncul, Noah berpikir bahwa sepertinya papanya tidak menginginkan Mama dan dia lagi.
Namun suasana hati Noah perlahan menjadi cerah, terutama karena paman Ben mengunjunginya dari waktu ke waktu semenjak mereka pindah ke rumah baru, pria itu juga sering membantu Luna untuk mengurus toko bakery-nya.
Pagi ini, ketika Luna berjalan keluar dari kamar mandi, Noah sedang duduk di samping tempat tidur sambil mengayunkan kakinya yang kecil. "Mama, aku sudah setuju untuk Paman Ben membawa kita ke resor ski nanti untuk bermain!"
Luna sedikit membeku, “Kamu semakin dekat dengannya belakangan ini. Noah, suatu saat kamu menyukai Paman Nathan dan selanjutnya, kamu menyukai Paman Ben. Kamu tidak boleh terlalu plin plan seperti itu.”
Noah cemberut. “Papa sibuk dengan dirinya sendiri dan mengabaikan kita, sementara Paman Ben selalu perhatian. Dia mengatakan bahwa dia akan datang setiap hari untuk bermain denganku dan itu lebih menarik daripada Papa yang selalu membuat Mama sedih."
Sudut bibir Luna berkedut. "Sejak kapan kamu memanggilnya Papa?"
"Paman Keren pernah memintaku memanggilnya Papa karena dia adalah papaku, tapi lihatlah sikapnya sekarang, dia mengabaikan kita."
Luna menghela napas. "Papa tidak pernah bermaksud seperti itu, ini juga tidak mudah baginya."
“Mama, aku benar-benar tahu bahwa Paman Ben menyukai Mama!" Noah tersenyum cerah dan melanjutkan, "Jangan terlalu memikirkan Papa jika memang dia memutuskan pergi dari kita."
Lalu seseorang mengetuk pintu, dan Noah bergegas membukanya.
Ben berdiri di pintu dengan membawakan banyak mainan untuk Noah, itu dia lakukan hampir setiap hari.
Luna mengerutkan alisnya ketika dia melihat satu set mainan baru di tangan Ben. "Ben tolong berhenti menghabiskan lebih banyak uang untuk Noah.”
Ben mengangkat alisnya, “Bagaimana aku menghabiskan banyak uang saat jumlah uang ini tidak berarti bagiku? Aku bahkan dapat membeli seluruh toko mainan untuk Noah jika dia menyukainya."
Ben melirik Luna, memperhatikan bahwa dia menjadi sedikit lebih kurus belakangan ini. Dia mengomel dengan sedih, “Luna, kenapa belakangan ini kau jadi lebih kurus?
"Tuan Ben sangat perhatian sampai tahu bahwa aku banyak kehilangan berat badan." Luna menyindir.
Ben menyeringai. "Cepat, kita sudah mau berangkat untuk bermain, kan?"
Bagaimanapun, Noah masih kecil, dan sangat gembira mendengar bahwa ia bisa pergi untuk bersenang-senang.
* * *
Di ruang kerja di rumah besar.
Ari masuk ke kamar setelah mengetuk pintu lalu melirik pria yang sibuk di meja kerjanya.
Ari berjalan maju dan berkata dengan lembut, "Tuan Muda, saya mendengar bahwa Ben akan membawa Nona Luna dan Noah untuk bermain salju di City Mall."
Tatapan Nathan menjadi gelap. "City Mall? Di luar kota?"
"Iya.”
Nathan tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya kembali fokus pada berkas di mejanya sebelum mengubah topik pembicaraan, "Bagaimana penyelidikannya?"
“Untuk saat ini, kami baru tahu bahwa kesehatan Nyonya Besar cukup stabil."
"Apakah kamu sudah mengirim catatan penyakitnya untuk diperiksa?"
Ari mengangguk, “Saya sudah mengirimnya untuk memeriksa, tetapi tidak ada yang mencurigakan.”
"Selidiki lebih menyeluruh."
Lalu seorang wanita masuk tak lama kemudian.
Jasmine memakai riasan ringan di wajahnya yang cantik, dan itu membuatnya tampak lebih bersinar di bawah cahaya. “Nathan, sudah lama sejak kita tidak pergi bersama. Kamu dulu mengatakan bahwa kamu akan membawaku untuk melihat salju, ada Mall yang sedang trend belakangan ini dengan arena bermain sky nya, bisakah kita pergi bersama sekarang?”
Ekspresi penyendiri Nathan tetap tidak berubah. Dia menatap mata Jasmine yang cerah untuk sementara waktu, sebelum dia sedikit mengangguk, "Apa itu di City Mall?"
“Benar.”
Nathan mengerutkan bibirnya dan hanya mengatakan satu kata, “Oke."
"Menginap? Kamu serius?" Mata Jasmine berbinar-binar.
* * *
CITY MALL.
Hari sudah malam ketika Luna, Noah dan Ben sampai.
Ben telah mengatur akomodasi hotel. Dia mengatakan bahwa itu tidak mahal karena Luna ngotot ingin membayar setengah dari uang yang dibutuhkan untuk pemesanan kamar. Namun, Luna baru menyadari bahwa mereka menginap di hotel mewah bintang tujuh ketika mereka tiba. Ben menipunya.
Mereka bertiga baru akan masuk ke lobi, ketika sebuah sedan mewah berhenti di sebelah mereka.
Baik Luna maupun Noah sedikit terkejut ketika mereka melihat pasangan yang turun dari mobil.
Noah hampir memanggil ayahnya secara naluriah, meskipun alis kecilnya berkerut ketika dia melihat Jasmine di sebelah ayahnya.
"Bibi siapa?" Noah berbisik pada Luna.
"Dia pacarnya, oke?" Luna berbisik, mengantisipasi.
Noah tidak tahu apa masalah yang ada pada pikiran ayahnya. Mama Cantiknya jauh lebih cantik! Satu juta kali lebih cantik!
Nathan berjalan di depan Jasmine. Suhu di sini jauh lebih dingin daripada di Jakarta. Pria itu mengenakan kemeja rajutan v-neck abu-abu gelap, membuatnya terlihat lebih tampan dan karismatik. Hanya melihatnya saja akan membuat jantung seseorang berdebar tanpa henti.
Jasmine mengenakan kemeja rajutan pendek dengan warna yang sama, dipasangkan dengan sepasang legging biru. Rambutnya yang panjang telah diikat menjadi sanggul. Dia tidak memakai makeup, terlihat sangat kecil ketika berdiri di samping Nathan yang tinggi.
Mungkin setelah memperhatikan tatapan Luna dan Noah, Nathan melepas kacamata hitamnya, dan melirik hanya sekitar dua detik, dia memalingkan wajah terlebih dahulu, tanpa mengungkapkan emosi apa pun.
Jelas bahwa Jasmine tidak berharap hal itu terjadi secara kebetulan sehingga mereka akan bertemu Luna di sana apalagi harus tinggal di hotel yang sama.
Dia membeku sesaat, sebelum bergerak maju dan melingkarkan tangannya di lengan Nathan.
Ben melirik Nathan dan Jasmine, matanya yang sinis berkedip dengan heran. Bagaimana bisa begitu kebetulan? Dia benar-benar bodoh jika percaya itu kebetulan!
Ben mengangkat Noah ke bahunya dan tangannya yang lain memegang pergelangan tangan Luna. Pria itu tersenyum menawan lalu berkata, "ayo pergi."
Mereka nampak seperti sebuah keluarga bahagia yang sedang berlibur.
Luna tidak berjuang melepaskan tangan Ben, dia membiarkan pria itu menariknya ke dalam lift.
Ben menatap wajah Luna dan berkata dengan alis terangkat, “Sepertinya nasib benar-benar bermain dengan kita. Jika kau tidak suka di sini, kita bisa pergi menginap di hotel lain."
Luna tersenyum tipis sebagai jawaban. “Ini bukan rumahnya. Lagipula, kita sampai duluan, bukan?”
"Akan lebih bagus jika kau berpikir seperti ini.” Hal yang paling Ben takuti adalah Luna akan melarikan diri saat dia bertemu dengan Nathan, karena itu hanya akan mengungkapkan bahwa Luna masih memiliki perasaan yang dia miliki untuk pria itu.
Ben menginap di kamar yang bersebalahan dengan Luna dan Noah.
Ketika ibu dan anak itu berbaring di tempat tidur di kamarnya, Luna menatap wajah anak itu dan bertanya dengan lembut, "Apakah kamu marah padanya?"
Noah pindah ke pelukan Luna dan bergumam, “Tentu saja aku akan marah karena dia tidak menginginkan Mama dan aku. Namun, Mama mengatakan bahwa berbahaya bagi tubuh kita jika kita selalu marah, jadi aku tidak ingin melukai tubuhku dengan marah Papa Ayah yang buruk!"
"Bagus sayang."
Anak laki-laki itu melingkarkan lengannya di leher Luna. “Lebih baik tanpa dia mencuri Mama dariku. Aku bisa memeluk Mama untuk tidur setiap hari sekarang!”
Luna membelai kepala bocah itu, sebelum dia membungkuk untuk menaruh ciuman di atas kepalanya, "Bocah pintar. Selamat malam, Noah sayang. Tidur nyenyak."