CEO'S Baby

CEO'S Baby
Sudah Demam, Jatuh Dari Tangga Pula.



Luna mendengar bahwa Nathan mengalami demam tinggi selama beberapa hari terakhir? Hubungan mereka semakin merenggang karena Jasmine belakangan ini terus menempel padanya dan Nathan juga kelihatan tidak bisa menolak pertunangannya dengan wanita itu.


Apakah dia demam kerena terlalu lelah bekerja? Pikir Luna. Tidak heran karena belakangan ini Nathan memang sangat sibuk, dan entah benar-benar sakit hati atau karena ada hal lain, Nathan sudah tidak menghubungi Luna sama sekali.


Namun, Ari berkata bahwa dia tidak mau minum obat atau menerima suntikan sama sekali lah yang membuat Luna khawatir?


Tapi seberapa khawatirnya Luna pun, ia rasa Nathan tidak lagi butuh bujukannya, karena kabarnya Jasmine juga sudah sering keluar masuk rumah pria itu.


Jasmine tahu dimana Nathan tinggal. Wajar saja karena wanita itu adalah tunangannya. Pikir Luna.


"Bukankah Jasmine bersamanya?" Luna melakukan yang terbaik untuk mengendalikan emosinya dan tetap tenang.


Ari mengangguk. "Nona Jasmine pergi untuk membujuknya, tetapi dia tidak berhasil. Saya pikir…"


Luna mengerutkan alisnya. Jika Jasmine tidak bisa membujuknya, lalu bagaimana dengan dia?


"Maaf, Ari aku tidak bisa membantunya." Luna berusaha untuk tidak ikut campur. "Dan Nathan memberikan apartemen ini untuk Noah, namun kupikir kami sudah menemukan tempat kami sendiri, dan aku ingin mengembalikan apartemen ini kepadanya. ”


Ari menatap Luna dengan tatapan yang rumit. Jika itu adalah gadis lain, mereka akan gembira menerima apartemen semewah ini, tetapi Luna mengembalikannya seolah-olah itu bukan apa-apa.


"Nona Luna, jika Anda benar-benar ingin mengembalikan hal-hal penting seperti itu, Anda harus mengembalikannya kepada Tuan Nathan secara langsung."


Ari tidak mau melakukan serah terima apartemen ini, sedangkan Luna sudah bertekad untuk pergi, jadi dia tidak punya pilihan lain selain pergi ke rumahnya.


Pria itu mengantar Luna ke rumah Nathan, dan setelah menyusuri ruang tamu yang begitu besar, Luna tiba di lantai dua lalu ia mendengar pertengkaran ada seorang pria dan wanita.


Suara pria itu … milik Nathan?


“Ku bilang aku tidak mau minum obat, kenapa terus memaksaku untuk meminumnya. Apa telingamu benar-benar tuli?”


“Sayang, aku hanya mengkhawatirkan mu, kenapa kau berkata seperti itu padaku? "


"Jangan panggil aku seperti itu, aku bukan Sayangmu!"


“Sayang, ada apa denganmu? Kita memang akan segera menikah bukan? Apa salahnya dengan panggilan itu?"


"Jangan mimpi!"


“Sayang, Dokter mengatakan bahwa kau akan kehabisan tenaga jika suhu tubuhku tetap tinggi Itu akan terlalu berbahaya untuk kesehatanmu.”


“Aku tidak akan meminumnya. Bawa obat itu pergi! "


"Sayang…"


Nathan berjalan ke tangga dan Jasmine mengejarnya. Mereka berdua mulai menarik dan mendorong satu sama lain di depan tangga.


Dan entah karena demam yang berkepanjangan, atau karena Nathan benar-benar telah kehilangan energinya, pria itu tiba-tiba jatuh menuruni tangga.


"Ah!"


"Ah!"


Luna dan Jasmine berseru pada saat yang sama.


* * *


DI RUMAH SAKIT.


Jasmine berdiri di depan ruang gawat darurat, dengan wajah pucat saat dia terus mondar-mandir.


Tidak ada yang mengharapkan demam akan berakhir dalam kecelakaan.


Luna tidak bisa mengerti mengapa Nathan tidak mau minum obat atau suntikan ketika dia demam tinggi dan tidak bisa lagi berdiri dengan stabil.


"Itu semua salah ku . Kalau saja aku tidak menariknya." Jasmine menangkupkan mulutnya saat air matanya jatuh. "Ari, dia berdarah begitu banyak, akankah dia baik-baik saja?"


Luna berdiri di sudut ketika dia menatap Jasmine, yang sedang menangis. Melihat kondisinya yang tertekan, jelas bahwa wanita itu mencintai Nathan juga!


Saat melihat ini, Luna merasa bahwa dia benar-benar tampak seperti pihak ketiga yang melangkah di antara dua orang yang saling mencintai.


Disaat Jasmine menangis, Luna malah hanya berdiri di sana seolah itu bukan urusannya.


Bukannya Luna tidak khawatir dan panik. Meskipun dia sangat terluka karena kata-kata Nyonya Besar waktu itu, tapi dia sadar bahwa ia telah memiliki perasaan untuk Nathan.


Bagaimana Luna bisa acuh tak acuh seperti wanita berdarah dingin ketika Nathan berbaring di genangan darah dan hidupnya dalam bahaya? Luna hanya berpura-pura bahwa itu bukan masalah besar baginya.


Toh dia sudah memiliki Jasmine, dia tidak akan bisa menghancurkan pertunangan itu untuk bersama Nathan.


SEKITAR EMPAT PULUH MENIT KEMUDIAN, pintu ke ruang gawat darurat akhirnya terbuka.


Mereka semua bergegas maju.


“Tuan Nathan telah lepas dari bahaya, tetapi dia memiliki sedikit pendarahan di otaknya dan dia belum sadarkan diri." Dokter menjelaskan kepada mereka.


"Dokter, Anda harus menyelamatkan tunanganku." Jasmine memohon sambil menangis.


"Kami akan melakukan yang terbaik," ucap dokter menenangkan.


Nathan didorong ke ICU setelah keluar dari ruang gawat darurat dan dokter tidak mengizinkan mereka untuk mengunjunginya.


Luna hanya bisa menatapnya dari kejauhan.


Pria yang biasanya sombong, sekarang terbaring pucat dan lemah. Wajahnya masih tampan, bulu mata di mata tebal dan panjang, tetapi penampilannya masih sangat mengkhawatirkan.


Jasmine berlari ke pintu ICU, air matanya jatuh seperti barisan mutiara yang patah karena penyesalan dan rasa bersalah.


Luna tetap berada di rumah sakit meski dirinya seakan tidak terlihat oleh yang lain, ia tersentak bangun dari mimpi buruk ketika ia tertidur di kursi depan kamar Nathan.


Dahinya berkeringat dingin. Dia bermimpi bahwa Nathan tidak selamat. Sudah hampir empat puluh delapan jam sejak dia dirawat di rumah sakit.


Dia mendengar bahwa Nathan belum bangun.


Namun Ari tiba-tiba keluar dari kamar lalu berkata. “Sesuatu terjadi pada Tuan Nathan. Kemarilah.”


Jantung Luna berdetak kencang. "Apa yang terjadi?"


"Tangan Tuan tadi bergerak, kurasa ia akan segera sadar."


Luna memperhatikan apakah ada gerakan lain dari Nathan. "Kemana Jasmine?"


"Tadi dia pulang untuk mandi dan berganti pakaian," jawab Ari.


"Cepat kabari dia," kata Luna.


"Untuk apa mengabarinya bodoh?" sahut seseorang dengan suara serak dan lemah.