CEO'S Baby

CEO'S Baby
Perihal Mie Instan Si Pria Brengsek.



Luna tersenyum tipis. "Alan, Kau benar-benar percaya semua yang dikatakan Riska? Kenapa kamu masih sebodoh itu padahal kamu orang yang bertanggung jawab atas Bram Corporation sekarang? ”


Ekspresi Alan menjadi gelap. "Apa maksudmu, Luna?"


“Pikirkan sendiri." Luna berbalik untuk pergi, karena dia tidak ingin membuang energinya untuk pria ini.


Alan bergegas maju untuk menghalangi jalan Luna. Dia menatapnya dengan ekspresi gelap dan rumit. "Luna, kau berhutang sebuah penjelasan padaku."


"Siapa kau?" Sebuah suara yang terdengar kejam bertanya dari belakang Luna.


Luna menoleh dengan cepat. "Teman kuliahku dulu." Kedua tangannya mendorong Nathan agar meninggalkan tempat itu dengan segera.


Alan hanya diam dan kebingungan menatap mantan kekasihnya dengan CEO yang terkenal kejam dikalangan pebisnis.


"Untuk apa kau berbincang dengannya sembunyi-sembunyi begitu?"


"Tidak sembunyi-sembunyi, kami tidak sengaja bertemu, dan apa salahnya dengan menyapa sebentar setelah lama tidak berjumpa?" Luna berbohong, bukan untuk menyelamatkan Alan, tapi untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kemarahan Nathan yang lebih besar.


Nathan menyingkirkan tangan Luna yang memegangi lengannya.


"Apa kita jadi makan?" Luna berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Tidak." Nathan berjalan kembali ke mobilnya dengan kesal.


Luna menggeleng tidak habis pikir, lalu berlari mengikuti di belakang pria itu.


Nathan menyalakan mobilnya dan hanya diam untuk waktu yang cukup lama. Luna juga tidak berani mengatakan apapun, diam adalah emas, dia mengingatkan dirinya sendiri.


"Aku belum makan apa-apa sejak pagi. ” Nathan tiba-tiba mengatakan itu setelah suara kesunyian hampir berdengung di telinga masing-masing.


"Hmm.." Luna mengangguk setuju.


"Hanya seperti itu kah reaksimu? " Pria itu menoleh sesaat lalu kembali fokus memperhatikan jalanan. “Aku bilang, aku tidak makan apapun.”


Luna memutar matanya sambil menghela napas, "Memangnya kenapa kamu tidak makan sejak pagi? itu salahmu sendiri, apa hubungannya denganku?" Tetapi ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, Luna memikirkan betapa kejamnya dia, "Kau bisa mengantarku ke halte bus, biar aku pulang sendiri saja, dan minta pelayanmu memasak ketika kamu kembali ke rumah.”


“Aku ingin memakan masakan mu!" sahut Nathan tanpa menoleh.


"Apa? Tidak, aku tidak mau," tolak Luna, "Kau punya chef terbaik di rumahmu, kenapa harus merepotkan aku?"


Mobil sport itu melaju kencang di jalanan setelah Luna menolak permintaan Nathan untuk memasak makanannya, ia mulai mengendarai mobil dengan kecepatan yang sembrono.


Luna tidak tahan lagi. Wajahnya pucat, perutnya berputar-putar tak terkendali dan dia merasa mual. Dia mengangkat tangannya dengan menyerah. "Apa kau tidak akan menggangguku lagi jika aku memasak untukmu?"


Nathan mengangkat alisnya dan menatap Luna. “Masak dulu, baru kita bisa bahas tentang ini lagi.”


“Baiklah, ke rumahmu saja."


"Tidak, ke rumahmu saja." Sekali lagi Nathan semena-mena.


Luna tidak mengajukan protes atau apapun, ia tahu semua itu akan sia-sia.


Ketika mereka sampai di rumah, Yulia sepertinya sedang membawa Noah pergi ke suatu tempat, terbukti dengan catatan yang ditulis Noah pada sebuah sticky note yang ia tempel di kulkas.


Ibu aku pergi nonton ke bioskop dengan tante Yulia. Luna mengelus pesan yang ditulis putranya.


Luna ingat bahwa tidak ada apa pun di rumah ini selain mie instan, “Hanya ada mie di rumah, apa kau mau makan mie instan? "


Ada senyum jahat di wajah tampan pria itu. "Tidak masalah."


"Oke." Nathan berbisik di telinganya, Luna tidak menyadari sejak kapan pria itu berdiri disana. Pria itu bahkan hampir mengigit daun telinganya dengan nakal.


"Mesum!" Luna tersipu dan memelototinya. Tanpa menunggu pria itu bereaksi, Luna mendorong pelan dengan panik, mengambil panci untuk memasak mie.


Nathan tertawa, lalu memegang bahu Luna. "Bukankah kamu bilang ingin ganti baju?"


Luna mendorong lengannya yang menjengkelkan dan menghidupkan kompor.


Nathan kembali meletakkan wajahnya yang tampan di telinga Luna, rahangnya diletakkan di bahu wanita itu. Ujung hidungnya meluncur di atas daun telinga Luna dengan lembut hingga napasnya berhembus menggelitik.


Luna bergidik dan tubuhnya menegang. Dia mendorong pria itu menjauh, ingin bergeser ke samping tetapi Nathan menariknya kembali ke pelukannya. "Aku ingin memakanmu."


Sebelum Nathan melanjutkan kata-kata itu, Luna menyikutnya di dada.


"Tidak perlu kasar begitu?" Nathan meringkuk memegangi ulu hatinya.


"Makanya belajarlah untuk bersikap sopan." Luna memelototi pria di belakangnya yang bertindak seolah-olah tertindas.


"Kalian para wanita memiliki terlalu banyak imajinasi, aku bilang aku ingin makan masakan mu."


Luna mendengus dan berbalik kembali fokus pada panci mie di atas kompor. Dia tidak ingin berbicara dengan pria aneh ini.


"Mie seperti apa itu?" Pria itu mencondongkan tubuh dari belakang Luna lagi.


Luna menoleh karena refleks, tidak berharap wajah pria itu begitu dekat hingga bibirnya menyentuh sudut mulut pria itu. Pria brengsek ini tidak akan pernah menyerah.


Luna dengan cepat mundur, menghindari bibirnya tetapi detik berikutnya, Nathan malah melanjutkan hal yang tidak disengaja itu.


"Mmh …" Luna hampir mati lemas oleh ciumannya.


Nathan tahu ia harus berhenti dengan cepat dan melonggarkan cengkeramannya pada Luna sebelum wanita itu mengamuk. “Kali ini kau yang duluan melakukannya padaku, tidak ada alasan bagiku untuk tidak membalas dengan cara yang sama. ”


Luna menatapnya dengan kesal. Bagi Nathan, wanita ini menawan, terutama ketika dia marah. "Dengar ya, aku bukan wanita gampangan."


Nathan mengangkat alisnya sedikit, dan berkata dengan senyum tipis, “Aku juga bukan pria gampangan. ”


"Jika kamu melakukannya lagi, aku akan …"


Nathan menyela dengan tidak sabar. “Berhenti bicara omong kosong dan memasak mie dengan benar. ”


Pria ini! Luna hampir terkena stroke karena geram.


Luna mendengus kesal dengan wajah cemberut. Dia membuka bungkus mie dan memasukkannya ke dalam air mendidih, memasak dengan benar seperti perintah tuan muda brengsek itu, pasrah dengan nasibnya.


Nathan memasukkan tangannya ke celananya, dan bergeser beberapa langkah untuk bersandar di sebelah Luna. Dia memperhatikan wajah kesal wanita itu. Itu hanya ciuman, serius.


Dan dalam sepuluh menit, Luna sudah memasak mie. Dia meletakkan mangkuk mengepul di atas meja. "Kau bisa makan sekarang. ”


Pria itu memandang sekeliling apartemen ini dengan jijik. "Tempat apa ini? Apakah ini cocok untuk hidup? Ruang tamu ini lebih kecil dari kamar mandiku."


"Kau ingin makan atau ingin mencela tempat tinggalku?" Luna bertolak pinggang setelah meletakkan lap yang ia pegang.


"Aku ingin makan, tapi rumah ini benar-benar tidak nyaman."


Luna ingin sekali mengusir pria itu sambil menendangnya. "Tuan Muda, aku yakin tempat tinggalku tidak cocok untuk kehadiran tuan muda yang terhormat seperti Anda. Jadi, semakin cepat Anda menyelesaikan makan mie, semakin cepat Anda dapat membersihkan diri dari tempat ini dan kembali ke rumah besar Anda! ”


Nathan berjalan mendekati Luna dan mencubit dagunya pelan. “Asal kau tahu, kau tidak bisa semudah itu mengusirku.”