CEO'S Baby

CEO'S Baby
Dia Tidak Mau Mendengarkan.



Sebenarnya hari ini Luna mengalami demam. Kepalanya masih sakit bahkan lebih parah setelah dia meminum alkohol yang diberikan Alan. Dan sekarang, ia malah harus berurusan dengan Nathan. Benar-benar sial!


Luna merasa kakinya lemas ketakutan ketika Nathan mendekat sambil membuka dasinya dengan kasar, pria itu dipenuhi dengan aura gelap seperti pembunuh. Ia mencoba menguatkan diri meski nalurinya mengatakan bahwa pria ini sangat berbahaya sekarang.


Luna mundur beberapa langkah menjauhi Nathan dengan ekspresi dingin. “Apa lagi? Kau belum puas memukuli orang? Mau memukuli aku juga?"


Nathan semakin mendekat dengan langkah pelan namun malah semakin menakutkan.


Luna melihat dasi yang pria itu pegang dengan kedua tangannya. "Kau akan menjerat leherku? Atau menggantung ku di plafon dengan dasi itu?" Luna terbata-bata karena ketakutan. Namun Nathan tetap tidak mengatakan apapun.


Pria ini sangat berbahaya, bukan tidak mungkin dia akan membunuh Luna meski dengan alasan yang tidak jelas. Luna berpikir bahwa ia harus melarikan diri, dia tidak bisa mati konyol seperti ini.


Tadi dia melihat Nathan melemparkan kartu kunci di meja. Setelah menatap pintu selama beberapa detik, ia berpikir akan mengambil kunci itu lalu segera berlari keluar, dan jika nanti pria itu mengejarnya, maka ia akan berteriak meminta tolong.


Luna membuat ancang-ancang lalu melancarkan rencananya, ia berlari sekencang-kencangnya ke arah pintu.


Namun ekspektasi kebanyakan memang tidak sesuai dengan realita. Jangankan untuk sampai ke pintu, nyatanya Nathan sudah dengan mudah menangkapnya saat ia baru saja berlari.


Pria itu mendorong dan mengikat kedua tangannya dengan dasi lalu melemparkannya ke tempat tidur. Wajahnya yang tampan sedingin es sementara bola mata hitamnya gelap dan penuh amarah.


Luna mengerut ketakutan. Wajahnya pucat dan kakinya melemah tanpa sadar. Dia berjuang untuk bangun dari tempat tidur. Namun, Nathan mendorong bahunya dengan kasar.


Aku pasti akan dimutilasi. Luna menangis di dalam hati. Ia menghembuskan napas dalam-dalam dan melakukan yang terbaik untuk tetap tenang. "Nathan, lepaskan aku dulu. Kumohon . Aku akan menjelaskan apapun yang kau tanyakan. Kurasa kau salah paham tentang sesuatu, kumohon jangan bunuh aku tanpa bertanya, aku bisa jadi arwah penasaran nanti." Kali ini Luna malah sudah menangis.


Namun kata-kata Luna tampak melayang pada kehampaan seolah Nathan tidak mendengarnya, karena pria itu hanya terus menatapnya dengan ekspresi gelap dan tiba-tiba tangannya merobek kemeja Luna yang tadi sempat terbuka dua kancing saat menggoda Alan.


Luna otomatis menunduk untuk melihat kemejanya, kancing bajunya nyaris terlepas seluruhnya hanya dengan satu hentakan tangan kasar pria itu. Kulit putihnya terungkap.


Luna sangat marah sehingga tidak lagi merasa takut, ia bahkan lupa bahwa Nathan adalah pasien dengan gangguan bipolar. "Apa kau gila? Apa yang ku lakukan hingga membuatmu marah lagi? Aku akan membunuhmu jika kamu berani menyentuhku!" Dia berteriak padanya dengan ekspresi dingin.


Nathan tersenyum namun sangat tidak bahagia. “Kau bersikap seolah kau tidak bersalah dan punya harga diri? Bukankah kau baru saja akan tidur dengan pecundang itu? Berapa banyak uang yang dia berikan padamu? Aku akan memberimu dua kali lipat, atau bahkan sepuluh kali lebih banyak."


Nathan baru saja akan naik ke atasnya ketika Luna menendang perutnya dengan kejam. Kekuatan tendangannya sangat keras, karena itu adalah tendangan yang menghabiskan seluruh energi Luna yang tersisa. Bahkan jika Nathan sangat kuat, dia masih mundur selangkah dan merasakan sakit.


Namun, pria itu berhasil menstabilkan dirinya dengan cepat. Tatapannya tidak percaya, wanita itu rela datang sendiri ke hotel ini demi Alan, sedangkan dia malah menendangnya.


Luna malah semakin menangis saat tahu Nathan sudah pulih. “Aku tidak melakukan apa pun dengan Alan. Ini tidak seperti yang kau pikirkan, terserah kau percaya atau tidak. ”


"Sialan! Kau sama saja." Luna mengutuk karena tersinggung. Mata merahnya memandang tajam pada pria itu.


Alan tidak mempercayainya lima tahun lalu dan menuduhnya tidak tahu malu karena tidur dengan pria lain. Setelah dia melahirkan, tidak ada pria yang mau percaya bahwa dia suci. Sudah sangat banyak gosip jahat dan fitnah yang harus ditanggung seorang ibu tunggal sepertinya.


Jelas Nathan juga berpikir demikian. Itulah sebabnya dia tidak pernah peduli tentang perasaannya dan selalu melecehkannya.


"Kau dungu, gila, sombong dan Seorang cabul! Percuma aku menjelaskannya padamu. Selamanya aku tidak akan pernah menyukai orang sepertimu." Luna mendesis kesal.


Nathan meraih dagu Luna dan memaksa mata mereka untuk bertemu.


“Kau benar-benar ingin mati?” Cengkeramannya sangat kuat hingga Luna merasa seperti dia akan menghancurkan rahangnya menjadi berkeping-keping.


Aku tidak ingin mati. Batin Luna berteriak dan sekali lagi ia mencoba melarikan diri meski dengan tangan yang terikat.


Dan sekali lagi juga Nathan melemparkannya ke kasur, bahkan kali ini Nathan menduduki perutnya dan membuat kemejanya benar-benar terkoyak, membuat kulit putihnya terlihat menyenangkan dibungkus braa merah muda pastel.


Wajah Luna memerah. Dia harus menutupi dirinya, namun tidak bisa karena kedua tangannya diikat ke belakang. Pergelangan tangannya memerah karena gesekan saat dia berusaha melepaskan diri.


“Nathan, tidak ada dendam atau kebencian di antara kita. Kenapa kau melakukan ini padaku?"


Tatapan pria itu menyapu setiap bagian tubuh Luna. Sosoknya ramping dan proporsional. Pandangan pria itu jatuh ke buah adam yang bergerak seakan memanggilnya. Dia benar-benar menjadi brengsek seperti yang dikatakan Luna.


"Kau benar-benar menghinaku wanita murahan. Sudah kubilang aku akan membayarmu sepuluh kali lipat lebih banyak daripada dengan pecundang itu, dan kau malah mencoba melarikan diri?" Ketika pikiran kotor merasuki kepalanya, tangannya segera mengikuti.


Wanita itu berjuang lebih keras. Setiap inci tubuhnya menolak apa yang pria itu lakukan. Luna bingung dan kewalahan, namun dia tidak mau memohon pengampunan.


Semakin kuat seorang wanita memberontak, semakin mereka mampu membangkitkan hasrat pria untuk menaklukkannya. Tanpa pikir panjang, Nathan membungkuk dan menciumnya dengan kasar.


Ada kemarahan yang berapi-api di dalam diri Nathan sejak dia tahu bahwa Luna pergi untuk bertemu dengan Alan. Ini bukan hanya tentang rasa cemburu, namun harga dirinyalah yang terluka.


Luna melebarkan matanya saat dia memberontak dengan gila di bawah pria itu. Dia putus asa dan benar-benar memutar tubuhnya dalam perjuangan untuk membebaskan diri. "Brengsek, lepaskan aku!"


Nathan mengeluarkan sebuah pistol dari belakang pinggangnya lalu dihujamkan ke rahang Luna. "Diam atau aku benar-benar akan membunuhmu, kau sangat merendahkan aku dengan penolakan sedangkan kau datang padanya? beraninya kau."