
Aku iri dengan Haley yang berdiri mengawasi kami di depan pintu masuk. Aku ingin sekali keluar dari toko ini. Bukannya aku tidak menyukai pakaian-pakaian indah yang mereka tawarkan, aku hanya lelah karena Grace dan Alyson menyuruhku mencoba berbagai macam pakaian. Tidak seperti harapanku, mereka menarikku dalam lingkaran kesenangan berbelanja.
“Kalian sudah memutuskannya?”
Sekarang keduanya tengah bingung ingin memilih dua dari lima pakaian yang mereka anggap terbaik di toko ini. Aku berpikir untuk membeli semua pakaian agar kami bisa segera pulang tetapi uang saku milikku tidak sebanyak yang kubayangkan (ayah punya prinsip soal nilai uang). Sesungguhnya, aku ingin pergi ke toko yang terletak di seberang jalan. Tempat dimana pedang sungguhan dijual.
“Grace, aku ingin ke kamar mandi sebentar.”
Aku kemudian membuat alasan itu ketika melihat toko ini punya pintu keluar lain. Aku merasa perlu mendapatkan udara segar.
Aku keluar tanpa ada yang mengikutiku. Daya tarik yang kuat dari toko di seberang jalan itu membuatku nekat untuk pergi kesana. Tetapi Haley akan melihatku. Jadi, aku memutuskan untuk mencari toko lainnya. Aku menemukan satu toko yang terletak sejajar dan tidak jauh dari toko pakaian itu. Aku membuka pintu dan suara lonceng yang digantung di atas pintu masuk berbunyi.
“Selamat sore, Nona. Ada yang bisa saya carikan untuk anda?”
Pria yang menyapaku barusan berusia tiga puluhan. Tersenyum khas para penjual yang berharap aku membeli barang paling mahal di tokonya.
“Aku mencari pedang terbaik yang cocok untuk kugunakan.”
“Anda baru dalam hal menggunakan pedang ya?”
“Bagaimana anda bisa menebaknya?”
Pria itu mengeluarkan berbagai macam pedang dengan banyak variasi ukuran.
“Biasanya, para kesatria akan langsung memberikan informasi spesifik mengenai barang yang mereka inginkan. Tidak semua jenis pedang cocok untuk digunakan semua orang. Biasanya, mereka sudah mengetahui jenis pedang paling nyaman untuk digunakan. Pedang itu seperti tangan kanan anda, Nona.”
Hmm, tangan kananku ya.
“Aku ingin pedang yang ini,” aku menunjuk pada sebuah pedang panjang yang mirip dengan kepunyaan Haley.
“Anda punya mata yang bagus.”
Pria itu tertawa.
“Bagaimana jika anda mencoba mengambil ini juga?” pria itu lalu menunjuk pada sebuah belati yang bisa diikatkan ke pinggang.
“Boleh juga.”
Saat aku melihat-lihat lagi dan mencoba menyesuaikan dengan keuanganku, aku mendengar suara lonceng pintu masuk. Seseorang datang dengan wajah tertutup tudung jubah berwarna hitam.
Seketika tubuhku merinding.
Aku spontan menoleh ke arahnya. Dia jauh lebih tinggi dariku dan aku mencoba melihat wajahnya dengan mendongkakkan wajahku.
Kami bertemu pandang.
Dia pria yang aku lihat tadi.
Aku merasakan adanya bahaya setelahnya. Aneh sekali hingga aku terpaku selama beberapa saat.
“Aku akan kembali nanti.” Firasatku menyuruhku keluar dari tempat itu dan melarikan diri dari pria berjubah hitam. Aku juga tidak boleh terlalu lama meninggalkan Grace dan Alyson.
Ketika aku berjalan setengah berlari menjauh dari toko itu, aku berhenti sebentar dan melihat ke belakang. Aku lalu merasa ada sesuatu yang janggal, seolah aku tidak seharusnya melarikan diri walaupun takut padanya.
Perasaan apa ini? Aku merasa bertemu seseorang yang kukenal.
Aku berhenti melihat ke belakang dan akhirnya berhasil masuk lewat pintu belakang toko pakaian. Aku bersyukur mereka masih melihat-lihat pakaian. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungku yang berdetak sangat cepat. Aku bertanya pada diriku sendiri apakah tindakanku tadi tepat.
“Kau tidak apa-apa?” Alyson mengajakku bicara saat melihatku terduduk lemas. “Wajahmu pucat sekali, Brooke.”
“Brooke ada apa?” Grace ikut bertanya dengan nada khawatir. Aku harus tenang agar tidak terlihat mencurigakan.
“Sepertinya aku haus,” aku tertawa seadanya. “Apa kalian sudah siap memilih?”
Terbersit olehku untuk mencari pria jubah hitam itu. Instingku mengatakan dia bukan orang biasa. Di lain sisi, aku merasa mengenal dia dan harus menemuinya.
Sambil memikirkan hal itu, Alyson dan Grace mengajakku untuk makan di sebuah restoran. Aku berusaha untuk tetap tenang tetapi tidak berhasil. Aku tidak bisa melupakan mata biru gelap yang aku lihat tadi.
“Aku tidak sengaja melihat sebuah toko buku. Aku ingin kesana sebentar. Aku akan segera kembali.”
Karena sudah terlanjur ada disini, ku putuskan untuk kembali mencari pria berjubah hitam itu. Jika kami saling mengenal, dia tidak akan mengabaikanku. Aku mengumpulkan segala keberanianku. Aku menolak ketika Grace maupun Alyson menawarkan diri untuk menemaniku. Aku memerintahkan Haley untuk menjaga mereka.
“Lebih berbahaya jika pergi sendirian.”
“Aku pergi untuk membeli buku,” kataku. “Lebih baik perhatikan saja pria-pria yang duduk di sudut kanan. Mereka melirik ke arah sini sejak kita masuk.”
Haley mengikuti arah pandangku. Akhirnya, Haley mengangguk setuju. Sebenarnya, ada beberapa pengawal lain yang mengikuti kami dari kejauhan karena itu aku bisa menyakinkan Haley.
Setelah mengumpulkan tekadku, aku memilih acak sebuah toko buku dan menemukan jalan keluar lain. Di balik pintu keluar itu, terdapat lorong gelap yang agak menakutkan bagiku. Aku mengendap-ngendap sebisaku dan tiba-tiba sebuah tangan menarikku dan membekap mulutku.
Pria berjubah hitam itu berhasil memojokkanku ke tembok. Disana gelap sekali sehingga aku yakin para pengawal tidak tahu aku sedang dalam bahaya.
Dia menatap wajahku cukup lama sambil menutup mulutku dengan tangannya.
“Informasi apa yang kau inginkan?”
Suara itu terdengar sangat dingin. Dia mengeluarkan pisau belati dan menaruhnya di leherku. Lalu melepaskan tangan yang menutup mulutku. Ini bukan pertama kalinya aku ditodong benda tajam oleh seseorang. Aku pernah menangani pencopet yang memegang pisau. Hanya saja, kali ini terasa berbeda. Ada aura mencekam di sekelilingku.
“Kita saling mengenal?” tanyaku terbata-bata. Aku takut pisau itu mengenai leherku.
“Kita tidak terlalu dekat untuk punya hubungan. Kira-kira begitu.”
Tak berselang lama, dia tersenyum di ujung bibirnya.
“Aku hilang ingatan,” jelasku. Aku berharap dia memaklumi alasan itu sehingga aku bisa selamat dari situasi ini. Jika dia benar mengenalku, dia pasti tahu aku tidak berbohong. Walaupun resiko untuk dibunuh bertambah besar.
Sikap impulsifku memang sebuah masalah besar.
Aku mengeluh dalam hati dan membuat janji untuk memperbaiki sikap impulsifku. Seharusnya aku lebih perhitungan mengingat pengalamanku melewati kematian sebelumnya. Aku mengejar pelaku kejahatan tanpa bekerjasama dengan rekan satu timku.
“Kupikir itu hanya lelucon.” Dia lalu memajukan wajahnya semakin dekat padaku. “Tetapi matamu tidak berbohong.”
“Aku tidak berbohong. Jadi, bisa tolong jauhkan pisaunya?” kataku dengan suara memohon.
“Tidak.”
Dia menolak dengan wajah datar.
Aku mulai berpikir bagaimana cara menghajarnya tanpa melukai leherku. Aku mengingat-ngingat kembali beberapa gerakan judo.
“Kau mungkin lupa tapi aku hanya mengingatkan kembali soal racun yang kuberikan padamu.”
“Kau memberikan racun padaku?” mataku membelalak. Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.
Dia tampak tertawa mengejekku. “Kau membayar cukup mahal untuk racun itu. Sudah aku katakan untuk tidak meminumnya lebih dari empat tetes.”
Brooke membeli racun?
Aku tidak mengira Brooke mendapatkan racun dari pria berjubah hitam di hadapanku. Yang jelas aku mengira Shaeviro dalang dibalik percobaan pembunuhan Lucas.
“Aku meracuni Lucas?” tanyaku dengan wajah tidak percaya. Jika benar, Brooke mencoba membunuh kakaknya atau membunuh dirinya sendiri? Aku berusaha menyakinkan diriku bahwa Brooke tidak mungkin mencoba membunuh Lucas. Hal yang sangat berbeda dari mimpi yang kulihat di masa-masa awal aku datang ke dunia ini.
“Sepertinya kau lupa alasan yang sesungguhnya. Sayang sekali, padahal kau bersusah payah untuk memutuskannya.”
Dia mulai menjauhkan pisau belati dari leherku. Aku lega sekaligus bingung.
“Beritahu aku.”
Pria itu sedang membicarakan soal keputusan Brooke. Kenapa Brooke menempatkan dirinya dalam skenario buruk itu? Aku tidak ingin percaya satu ucapan pun yang keluar dari mulutnya.
“Tidak.”
Dia menolak lagi dan memasukkan pisau belati di tangannya ke dalam sarung kulit yang terikat di pinggangnya tanpa melebarkan jarak di antara kami.
“Temui aku tujuh hari ke depan. Di tempat ini.”
“Tunggu dulu.” Aku tanpa sadar meraih lengan bajunya. “Jelaskan sekarang.”
Aku tidak ingin pria itu pergi begitu saja setelah menodongkan belati tajam ke leherku.
“Sepertinya Nona muda lupa arti dari kata tidak,” dia menghempaskan tanganku. “Jangan membuatku kehilangan minat terhadapmu.”
Kemudian tangan kanannya menarik kepala belakangku hingga aku berada dalam dekapannya. Dia mengelus-ngelus rambutku dan berbisik, “Brooke.”
Dia memanggil namaku dengan suara yang terdengar hangat.
Dia juga menarik rambutku, membuatku mendongkak melihat wajahnya. Aku melihatnya tersenyum sesaat sebelum dia mengecup keningku. “Sampai bertemu tujuh hari lagi.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak tahu harus berkata apa mengenai kepribadian seseorang.
*****