
Prioritas keempat. Mengajari Grace cara bertahan hidup.
Aku tahu akan sulit untuk meminta Grace belajar memegang pedang atau berlatih beladiri. Dia bisa terluka jika tidak ada tekad yang kuat dari dalam dirinya (luka fisik saat berlatih itu wajar. Yang menjadi perbedaan hanya cara menanggapinya saja). Latihan yang sulit pada akhirnya akan membuat dia menyerah.
Sekarang mungkin bisa.
Aku mulai percaya diri setelah melihat Grace berteriak marah kemarin. Aku butuh beberapa pancingan lagi agar Grace menyadari pentingnya punya sebuah kekuatan untuk membela diri. Sepertinya aku harus meminta bantuan Alex untuk mengejekku lebih kasar lagi di depan Grace.
Bicara soal Alex, dia hanya menatapku tanpa berkata apapun kemarin. Kupikir dia akan memanggilku orang gila dan tertawa terbahak-bahak. Dia cukup mengerti cara bersikap dalam situasi tertentu.
“Brooke.”
Lucas memanggilku. Aku baru berjalan beberapa langkah keluar dari kamar.
“Selamat pagi, Oppa.”
Lucas membalas sapaanku tetapi dia lebih tertarik melihat apa yang kukenakan.
“Kapan kau membeli pakaian itu?”
Lucas memperhatikan celana kain, kemeja putih dan sepatu boot yang kupakai. Aku berniat pergi ke taman untuk berlatih dengan pedang kayu.
“Aku menyuruh Reevi membelinya,” jawabku. “Aku akan pergi untuk berlatih pedang bersama Haley.”
“Biarkan aku melihatmu berlatih.”
Aku mengangguk. Aku tidak keberatan karena Lucas sudah membantuku menyakinkan ibu agar diperbolehkan belajar memegang pedang.
“Kenapa kau belum bergabung untuk sarapan dengan kami?” Lucas bertanya padaku setelahnya.
“Aku menunggu reaksi Ayah selama beberapa hari kedepan.”
“Reaksi Ayah?”
Aku ingin tahu apakah ayah akan memanggilku ke ruang kerjanya dan tetap marah karena aku mulai berlatih pedang kayu setelah dikurung di gudang. Aku sengaja bertahan untuk melakukan latihan di taman yang bisa diakses semua orang.
“Jika Ayah marah, apa yang akan kau lakukan?”
“Kabur dari rumah?” aku bercanda.
“Apa?” Lucas menganggapku serius dan menatap cemas.
“Aku hanya bercanda,” kataku sambil meraih tangan Lucas dan mengaitkannya di lenganku. “Aku berpikir untuk bergabung dan sarapan dengan wajah tidak tahu malu.”
“Dasar. Jangan pernah melakukan itu.” Lucas tersenyum lega.
Aku berjanji dan mengajak Lucas ke taman sambil bergandengan tangan. Lucas mengatakan dia sudah mendengar apa yang terjadi kemarin dari Alex dan Alyson. Lucas berpesan untuk mengabaikan pembicaraan itu. Sekarang, apapun yang kulakukan akan mendapatkan dukungan penuh dari Lucas.
Aku lalu melihat Alex sedang berbincang dengan Haley.
“Pakaian itu ternyata cocok untukmu,” kata Alex.
Aku tidak berpikir itu pujian dan menatapnya curiga. “Sedang apa kau disini?”
“Aku akan melihatmu berlatih.”
“Pergilah.”
Aku sedang tidak ingin berurusan dengannya. Takut suasana hatiku jadi rusak.
“Ya! Aku lebih tua darimu. Kau tidak bisa bicara sopan?”
Alex menatapku kesal.
Aku mengabaikannya dan bicara dengan Lucas. “Oppa, usir dia.”
Sesaat setelah aku memberi nama pada Haley, aku berpikir untuk berbaikan dengan Alex. Aku bahkan menyuruh Reevi menyiapkan makanan atau apapun yang disukai Alex. Tetapi, saat aku berada di gudang, Alex mengunjungiku dan tertawa penuh kebahagiaan. Dia memancingku untuk kabur dari gudang sesuai omong kosongku padanya. Aku pun memutuskan niat untuk berbaikan dengan Alex.
“Alex, kau harus ke akademi,” saran Lucas.
Aku menghela napas pendek mendengarnya. Padahal aku ingin masuk akademi itu. Tempat dimana kau diajari ilmu politik, sejarah dan pelajaran bertahan hidup.
“Perlihatkan saja kemampuanmu, orang gila paling cantik di wilayah ini,” ujar Alex padaku. Dia menunjukkan senyuman mengejek dan menekankan panggilan baru itu padaku.
Bocah sialan. Apa yang bisa diperlihatkan oleh orang yang baru mulai berlatih. Kalau saja ada pistol.
Di dunia ini, senjata api belum ditemukan. Aku kecewa karena tidak bisa memperlihatkan kemampuan menembakku.
Haley kemudian memberiku pedang kayu dan tanpa kuminta dia sudah menyiapkan sebuah kayu yang cukup besar.
“Setelah mengayunkan pedang ke udara seratus kali, pukul kayu ini dari kedua sisi masing-masing seratus kali.”
Aku mengangguk paham. Aku langsung mengikat rambut pendekku dan mulai mengayunkan pedang.
“Pertahankan kuda-kudamu,” Alex memberiku saran.
Aku merasa Alex menaruh perhatian serius terhadap latihan pertamaku sejak dibebaskan. Alex menjadi lebih cerewet dibandingkan Lucas. Haley bahkan tidak bisa mengatakan apapun lagi karena Alex menyelanya terus.
Capek sekali.
Aku membaringkan tubuhku di rerumputan dan menatap langit biru di atasku. Aku merasa sangat lelah. Namun aku terpacu untuk melatih staminaku lebih keras lagi.
“Menurutku kau tidak seburuk cara bicaramu.” Alex mendekat dan berjongkok di sisi kananku.
“Itu pujian atau hinaan?” tanyaku pada Alex.
“Masuk saja ke akademi.”
Alisku terangkat sebelah. “Akademi?”
“Hanya ada satu anak perempuan disana. Kau hanya perlu memutar otakmu untuk ujian dan bicara pada Ayahmu.”
“Dia hebat,” komentarku. Aku kagum mendengar hanya ada satu anak perempuan disana. Hal lain yang membuatku kagum pada perkataan Alex barusan adalah Lucas tidak mencegah Alex menyarankan hal itu. Mereka pasti sudah mendiskusikan hal ini sebelumnya. Mereka terlihat sangat dekat untuk saling berbagi masalah.
“Ujian ya,” gumamku pelan. Aku bangkit dari posisi berbaring dan duduk di rerumputan.
“Lucas pasti bisa mengajarimu soal ujian itu. Bukankah lebih penting memusingkan bagaimana cara membujuk Ayahmu?” Alex memandangku dengan heran.
“Kalau begitu aku sudah pasti masuk akademi,” aku menjentikkan jariku. “Masalah selesai.”
“Wah, kau memang sudah gila,” Alex bertepuk tangan. “Lucas, adikmu sudah tidak waras.”
Lucas hanya menghela napas. “Dia hanya tidak bisa dihentikan.”
Aku sependapat dengan Lucas. Aku tidak bisa dihentikan. Daftar yang kubuat harus kuwujudkan tidak peduli apapun yang terjadi. Aku tidak boleh mundur hanya karena cemas mengenai respon ayahku. Lagipula, aku akan melakukan banyak hal tidak terduga ke depan.
Salah satu hal tidak terduga itu ternyata adalah membeli baju kembar untuk dipakai bersama Grace. Aku menahan lelah selepas latihan dan menuruti permintaan Grace (aku tidak bisa menolak ajakan adik imut seperti dia). Aku juga mengajak Alyson untuk ikut bersama kami sebab aku mudah bosan saat berbelanja.
Alex sempat mengajakku bertengkar sebab dia tidak diajak pergi.
“Lucas saja tidak ikut, kenapa kau harus ikut?”
Begitulah aku berkata dengan nada tinggi padanya. Aku tidak peduli dia bicara apa setelahnya. Beruntungnya, Lucas segera menarik dia pergi untuk mengikuti kelas sore hari di akademi.
“Terima kasih sudah mau menemani kami, Alyson,” aku berkata dengan ramah. Aku memutuskan untuk mencoba berteman dengannya.
“Aku juga senang karena diajak pergi bersama.”
Alyson sangat pemalu dan agak penakut. Aku bisa melihat kepercayaan diri yang kurang darinya. Aku jadi berpikir bahwa Grace yang ramah kepada semua orang tetapi polos cocok berteman dengan Alyson yang pemalu tetapi cukup peka terhadap situasi. Aku bisa mengandalkan Alyson untuk tetap berada di dekat Grace saat berpergian ke utara nantinya.
Apa aku perlu mengajari Alyson juga? Jadi Grace punya teman berlatih nantinya.
Pada saat aku memikirkan kemungkinan itu, kereta kuda yang membawa kami berhenti mendadak di tengah jalan. Aku terkejut dan membuka tirai penutup jendela dan melihat sekeliling. Mataku tidak sengaja bertatapan pada seorang pria yang memakai tudung hitam dan berdiri di sebuah gang sempit. Dia meninggalkan kesan yang misterius.
Siapa dia?
*****