
Aku menyadari pentingnya membawa senjata kemanapun aku pergi. Aku lupa kebiasaan lamaku yang selalu membawa pistol di balik pakaian hangatku. Sekarang, aku mulai merasa tidak kehilangan apapun saat tidak membawanya. Manusia memang sangat cepat beradaptasi.
“Haley, aku butuh belati yang bisa kuikat di pahaku.”
Aku tidak bisa menyimpan belati di pinggangku ketika memakai gaun.
Haley memicingkan matanya. Penuh kecurigaan. “Sesuatu pasti terjadi saat kau kembali dari toko buku.”
Haley telah berhasil membiasakan diri untuk bicara santai kepadaku.
“Aku melihat seseorang mencuri dan tidak bisa mengejarnya,” aku berbohong pada Haley sambil membelakanginya. Aku memungut pedang kayu yang kujatuhkan ke rumput.
“Aku akan membelinya dan mengajari cara terbaik untuk menggunakannya.”
Aku senang mendengarnya. Haley selalu menurutiku dan tidak pernah memaksaku untuk mengatakan apa yang ingin dia ketahui.
“Apa dulu aku pernah bertengkar hebat dengan Lucas?” tanyaku tiba-tiba penasaran.
Aku tidak bisa menatap wajah Lucas. Aku menghindarinya secara terang-terangan dan aku merasa bersalah karena hal itu. Aku berpikir semalam suntuk mengenai ucapan pria itu. Anehnya, aku terganggu dengan hal yang belum pasti benar. Separah apapun pertengkaran mereka, Brooke tidak akan meracuni Lucas. Dan aku juga tidak yakin Brooke akan meracuni dirinya sendiri.
Pria itu bisa saja berbohong terutama saat tahu Brooke kehilangan ingatannya. Pria sialan yang berani-beraninya mencium keningku setelah hampir memotong leherku.
Dulu aku pernah berkata dengan sok kerennya pada Lucas bahwa aku akan mencari orang yang mencoba meracuninya dan membuatnya minta maaf.
Jadi, aku memikirkan bagaimana cara minta maaf jika racun itu benar-benar berasal dari Brooke. Aku melewatkan sarapan dan pergi ke perpustakaan, berpikir mungkin ada satu petunjuk yang ditinggalkan Brooke. Aku tidak menemukan apapun. Brooke tidak menuliskan catatan mengenai Pria itu.
Mereka saling mengenal.
Tanpa catatan Brooke, aku sampai pada kesimpulan itu. Selain karena dia menyebutkan nama Brooke, penjelasan lain yang paling logis kenapa aku kembali mencari pria itu setelah melihat wajahnya dari dekat di toko peralatan (aku jelas kabur setelahnya) adalah Efek Brooke. Ada perasaan ‘terbiasa’ yang aku rasakan sesudah rasa takut.
Aku yakin mereka sering bertemu.
Namun, aku bukan orang yang hanya akan berasumsi dan tidak mencoba mencari tahu hal yang sebenarnya. Aku sedang mempertimbangkan untuk bertemu dengan pria sialan itu enam hari ke depan.
“Tidak pernah ada pertengkaran di antara kalian,” Haley menjawab pertanyaanku. Dia menemaniku berlatih setelah aku mencampakkan banyak buku dari raknya. Dia mungkin berpikir aku sedang mencari sesuatu dan tidak bisa menemukannya. Lagi-lagi, dia tidak bertanya dan hanya melontarkan tebakannya atas tingkah laku anehku. “Kau hanya tampak sangat khawatir beberapa hari sebelum tidak sadarkan diri karena racun.”
Hari itu, Haley bilang dia melihat Brooke tampak tidak tenang dan memikirkan sesuatu yang rumit.
Aku semakin yakin ada sesuatu hal yang mencurigakan antara Brooke dan pria itu. Dalam mimpiku, Brooke dan Grace mencintai orang yang sama. Apa mungkin Brooke hanya berpura-pura tetapi mencintai pria lain? Pria berjubah hitam itu?
Aku lalu mengesampingkan pemikiranku mengenai kisah cinta rumit itu.
Aku tidak pernah berpikir bakal jadi penjahat.
Dahulu aku adalah seorang polisi dan aku tidak bisa menerima fakta bahwa reinkarnasi diriku mengenal orang yang menjual racun dan telah mencoba racun itu sendiri.
Ketika aku sedang tenggelam dalam pikiranku yang seperti benang kusut, Alex muncul bersama Lucas. Aku melihat Lucas menatapku dengan pandangan sedih. Perasaan Lucas benar-benar terbaca di wajahnya (di saat-saat tertentu, dia mirip dengan Grace).
“Aku punya kabar baik. Aku akan menginap di rumah ini selama beberapa hari,” Alex berkata seolah aku pasti menyukai berita itu.
“Kau pasti bercanda.”
Aku heran melihat Alex yang selalu muncul di rumahku. Reevi bilang Alex tidak pernah berkunjung sesering ini.
“Aku tahu kau senang,” Alex berkata dengan percaya diri. “Mau dengar cerita yang menarik?”
Aku tidak peduli dengan kisahmu, Alex.
“Oppa, aku ingin bertanya sesuatu,” aku mendekati Lucas dan mengabaikan Alex. Lucas kemudian melihatku dengan mata berbinar-binar.
“Kau bisa menanyakan apapun, Brooke.”
Suara lembut Lucas membuatku merasa tenang. Aku tahu dia pasti merasa aneh karena aku menghindarinya terang-terangan.
“Aku ingin bicara berdua dengan Oppa.”
Haley membungkukkan badannya dan segera pergi setelah aku berkata begitu.
“Hei, kalian bertengkar? Aku sudah menduga kau akan selalu memancing pertengkaran,” Alex berkata tanpa niat menyingkir ke tempat lain.
“Dulu apa kita pernah bertengkar?” tanyaku pada Lucas. Aku cuma ingin memastikannya lewat Lucas.
“Tidak pernah, Brooke. Apa yang membuatmu berpikir kita pernah bertengkar?”
“Aku hanya berpikir itu mungkin, bukan?” aku tertawa canggung. “Aku masih tidak ingat bagaimana dulu aku bersikap.”
“Kau jauh lebih baik dari yang dulu, Brooke,” Lucas menyentuh kepalaku. “Kau masih terlihat penuh dengan banyak pikiran rumit. Kau yang dulu tampak pasrah seakan tidak bisa melakukan apa yang sedang kau pikirkan. Sekarang, kau jauh lebih optimis. Kau tidak hanya berpikir tetapi bertindak.”
Brooke ternyata orang yang sangat mencemaskan banyak hal dibalik sikap diamnya. Aku tersadar bahwa Brooke mungkin mengetahui sesuatu yang membuatnya ketakutan. Aku harus mencari tahu soal ketakutan Brooke.
Aku merasa kasihan pada Brooke.
“Soal berlatih pedang, kau juga pernah bertanya padaku mengenai hal itu,” jelas Lucas lagi. “Dan sekarang kau benar-benar melakukannya.”
“Sungguh?”
“Kau menerima saran dari orang lain,” Lucas mencoba mengingatnya kembali. “Tapi kau tidak pernah menyebutkan namanya.”
Jika benar, kemungkinan besar Brooke menerima saran dari pria itu. Kalau kuingat-ingat, Reevi bilang Brooke tidak benar-benar berinteraksi dengan siapapun di rumah ini. Besar kemungkinan dia berdiskusi dengan sesorang yang tidak dikenal.
“Apa dulu aku suka jalan-jalan ke pasar?”
Lucas mengangguk. “Kau sering kesana. Bahkan dimalam hari. Kau mau aku menemanimu jalan-jalan kesana? Kau suka melihat kembang api.”
“Tidak perlu, Oppa.”
Aku akan pergi kesana sendirian.
Aku putuskan menambahkan hal ini ke dalam daftarku. Prioritas kedelapan. Mencari tahu ketakutan Brooke dan berteman dengan pria itu. Aku harus membuat pria itu ada di pihakku. Lebih baik daripada berada di pihak yang bersebrangan dengannya.
“Ayo kita ke pasar,” seru Alex tiba-tiba. Aku baru ingat dia mendengarkan semua pembicaraan kami.
“Tidak bisakah kau pergi?” kataku dengan raut wajah kesal. “Oppa, kenapa izinkan dia menginap di rumah?”
“Dia memaksa,” Lucas menghela napas. “Aku dan Alex akan mulai belajar tugas-tugas yang dilakukan oleh Ayah.”
“Dia bisa mempelajarinya di rumahnya sendiri.”
Alex mengangkat bahunya tidak peduli. “Mau bagaimana lagi, ke depannya aku akan jadi orang yang membantu Lucas.”
Posisi keluarga Alex berada tepat di bawah keluargaku. Lucas akan jadi penerus ayah tetapi penerus keluarga Alex adalah kakak laki-lakinya.
“Kuharap kau tidak menyusahkan Lucas karena aku yang akan kerepotan nantinya.”
Aku sempat berpikir Alex akan terharu mendengar pembicaraan kakak dan adiknya yang penuh makna tetapi dia memang orang yang hanya peduli dirinya sendiri.
Aku meletakkan tangan kiriku di bahu Alex. “Alex, maaf ya.”
Aku meninju perut Alex dengan tangan kiriku. “Aku tidak sengaja.”
Alex merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Lucas terperangah lalu tertawa. Dia pernah bilang padaku akan mengambil semua tanggung jawab jika aku memukul Alex. Lucas mengakui kalau Alex suka mengejekku dan sudah memperingatkannya. Jadi, ini salahnya Alex.
“Kau…” Alex melihat wajahku yang menatapnya angkuh. “Jangan pukul pria lain sembarangan.”
“Hah?”
“Wanita yang memukul pria itu….”
Alex memalingkan wajahnya.
Tunggu dulu. Jangan bilang dia suka padaku karena aku memukulnya?
“Cukup berkesan,” sambung Alex.
*****