Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 14



Aku bermimpi. Indah sekali.


Aku menggenggam tangan Levin yang terasa dingin. Dia tersenyum padaku. Dia tampan sekali. Kami sepertinya menghabiskan waktu bersama di malam hari. Dengan tetap menggunakan tudung kepala, aku melirik wajahnya diam-diam dan ketahuan olehnya. Dia tertawa dan membuatku malu. Kami membeli beberapa makanan dan mengobrol lalu melihat kembang api. Aku melirik lagi wajahnya yang tersenyum memandang langit yang dipenuhi warna kembang api. Rasanya aku sudah berbuat sesuatu yang benar. Dia akhir mimpi itu, dia mencium bibirku.


Aku membuka mataku dan bangkit dari posisi tidurku seperti orang yang tersentak kaget dengan hebatnya. Aku memegangi jantungku yang berdebar-debar karena mimpi itu terasa sangat nyata. Aku bermimpi tidak pantas (menurut pendapatku).


“Aku masih hidup,” kataku sambil memeriksa kedua tangan dan kakiku, turun dari tempat tidur dan bergegas pergi untuk mencari cermin.


“Punggungku baik-baik saja.”


Aku bernapas lega. “Oh, Tuhan. Terima kasih.”


Aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku meninggal untuk kedua kalinya. Aku tidak tahu berapa banyak kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bereinkarnasi. Bisa saja aku tidak bereinkarnasi lagi.


“Bagaimana bisa aku ada di kamarku?”


Aku lalu mencoba mengingat kembali apa yang sebelumnya kulakukan.


“Aku bersama Levin,” dan saat aku menyadarinya, kilasan mimpiku muncul kembali. “Aku berciuman,” wajahku memerah dan aku melihat wajah memalukan itu di cermin. “Itu Brooke,” koreksiku. Walaupun yang berciuman dengan Levin adalah Brooke (yang kuyakini adalah ingatannya) aku tetap tidak bisa berhenti berdebar-debar.


Kapan terakhir kali aku berciuman?


Aku jadi berpikir tentang hal itu.


Suara berisik terdengar setelahnya dan aku keluar dari kamar mandi. Ada Grace, ibu, Jane dan Reevi, Lucas serta Alex (kenapa ini sudah seperti rumahnya sendiri sih?).


Ibu langsung memelukku saat aku ingin mengatakan sesuatu. Aku membuatnya menangis lagi.


“Maaf,” aku merasa tidak pantas mengucapkannya. Sejak datang ke rumah ini, aku hanya membuatnya menangis dan jatuh sakit. Semoga Brooke bisa memaafkanku. Aku hanya merasa canggung karena sebagai Shin Yoo Ri, hubunganku dengan ibuku tidak terlalu baik.


Aku melihat Grace menyatukan kedua tangannya seolah berdoa kepada Tuhan. Berterimakasih karena aku baik-baik saja. Lucas memandangiku dengan wajah marah yang baru pertama kali ditujukannya untukku. Dia benar-benar tampak marah.


“Kau tidak diizinkan pergi kemanapun sampai ayahmu kembali,” ibu akhirnya memberikan perintah. “Siapapun yang membantunya pergi akan dihukum.”


Aku tidak terkejut melihat ketegasan ibu. Bagaimanapun dia adalah Duchess di wilayah ini. Dan putrinya yang gila berkata dia tidak ingat alasan kenapa dia pergi malam itu.


Aku berbohong dan mengatakan aku kehilangan ingatanku lagi.


“Darah itu, kau juga tidak tahu itu milik siapa?” Pertanyaan yang wajar untuk ditanyakan kepadaku. Saat aku bertanya apa yang terjadi, Grace mengatakan aku terbaring di pintu gerbang dengan darah yang menempel hampir di seluruh pakaianku.


Yang tertebas pedang adalah Levin.


Aku terlalu sibuk memikirkan mimpi berciuman dengan Levin sampai lupa memikirkan apa yang terjadi padanya. Aku ingat dia berteriak padaku dan saat aku menoleh kebelakang, ada pedang sedang mengarah padaku. Aku pingsan setelah melihat darah di tanganku.


Apa dia baik-baik saja?


Dia membuatku khawatir.


 


Tiga hari berlalu dengan cepat setelah aku ditemukan berlumuran darah di pintu gerbang rumahku. Ayah sudah kembali dan mendengarkan kisah itu dari ibu dan dia tidak bicara apapun padaku. Haley yang kusangka akan bertanya bagaimana kabarku, diam dan menatapku dengan ekspresi wajah sama dengan Lucas. Mereka marah.


“Kapan aku bisa keluar,” gumamku pelan.


Aku layaknya seorang tahanan rumah. Aku hanya bisa menatap keluar jendela dan berharap ada yang bisa memberitahuku mengenai keadaan Levin. Selain karena mengkhawatirkannya, aku masih belum mendapatkan jawaban darinya.


Kenapa Brooke membeli racun?


“Apa yang sedang kau pikirkan sampai tampak seperti orang bodoh?” tanya Alex.


Aku sedang minum teh dengan Alex. Dia selalu mengajakku mengobrol setiap hari. Aku tidak paham kenapa tidak ada yang memarahinya saat membolos pelajaran.


“Baik atau jahat. Menurutmu aku yang mana?”


“Tidak keduanya.”


“Tidak ada gunanya bertanya padamu,” aku mendengus kesal.


Aku merasa dilemma. Aku percaya Brooke adalah gadis yang baik namun aku tidak menyangka Brooke mengenal seorang pembunuh bayaran. Dari analisaku, Levin sudah membuka identitasnya pada Brooke sebab itu dia mengatakan dengan mudah kepadaku yang sekarang adalah Brooke.


“Kau pikir aku begitu?”


Alex mengiyakannya.


Setelah tiga hari, aku sadar jika Alex bisa diajak berdiskusi serius.


“Aku sependapat dengan Lucas,” Alex bermaksud mengingatkanku pada pembicaraan dimana dia hanya mendengarkanku dan Lucas. “Jujur saja, kau harus hidup di masa sekarang. Apapun yang kau pikirkan dengan kepalamu itu, kau harus ingat untuk hidup di masa kini.”


Alex membuatku berpikir aku tampak sangat risau di mata mereka. Aku juga ingin menikmati hidup baruku, tetapi bayangan masa depan membuatku takut.


Ini sebabnya mengetahui masa depan tidak sepenuhnya baik.


“Makan kue itu,” Alex menunjuk pada sepotong kue tart yang disodorkannya padaku. “Bersemangatlah supaya kita bisa berdebat. Minum teh dengan gelas cantik bukan gayamu.”


Aku kemudian tertawa kecil. Alex menghiburku dengan cara yang manis. “Ini juga bukan gayamu. Belajarlah di akademi.”


Alex menyilangkan tangannya. “Aku belajar dari Lucas saja. Dia belum bicara apapun padamu?”


Lucas hanya mengecek apakah aku sudah makan dan tidur. Apakah aku tidak kabur kemanapun. Dia pasti kecewa padaku yang pergi diam-diam ketika dia pernah menawarkan diri untuk menemaniku.


“Wah, menyeramkan kalau marah. Dia duplikat Ayahmu.”


“Kau benar. Bukankah harusnya mereka memelukku? Aku tidak habis pikir,” keluhku. “Aku merasa diabaikan oleh mereka.”


“Mereka kejam,” Alex melipat kedua tangannya. “Kau tidak kabur? Itu keahlianmu.”


“Aku ingin sekali.”


Aku bersyukur karena Alex tampak tidak peduli apakah aku sungguh jujur atau berbohong soal kehilangan ingatanku.


“Brooke si mulut besar.”


“Hina saja sesukamu.”


Hobi Alex adalah mengejekku. Aku jadi kangen pada Grace yang sedang belajar bersama guru etika kami. Wanita bangsawan biasanya menerima pendidikan di rumah dan hanya pria yang belajar di akademi.


“Hei, Alex. Kapan terakhir kali kau berciuman?” tanyaku penasaran.


Aku terbiasa bicara santai dengannya. Dia keberatan karena aku tidak memanggilnya kakak tetapi aku tidak bisa memanggil dia seperti itu.


“Kau sakit?”


“Apa artinya jika seseorang mencium keningmu?”


Bukannya aku tidak tahu jawabannya. Aku hanya ingin mendengar jawaban versi Alex (sebenarnya aku juga ingin tahu jawaban versi Levin).


Masih segar dalam ingatanku saat Levin mencium keningku. Konyolnya, aku tidak merasa kesal lagi karena hal itu. Aku menganggap sikapnya wajar setelah bermimpi tentang dia dan Brooke. Aku juga tersadar bahwa Brooke tidak menyukainya lebih dari teman. Dia tetap menyukai Putra Mahkota bernama Carlo. Aku berdebar-debar seolah jatuh cinta setiap ingatan tentang Carlo berputar di kepalaku.


Efek Brooke membuatku dapat membedakannya dengan jelas.


“Apa? Siapa yang menciummu?” Alex sudah tidak melipat tangannya lagi. “Siapa dia?”


“Aku hanya penasaran.”


“Sungguh karena penasaran?”


Alex menatapku curiga. “Baiklah. Akan kuberitahu,” Alex berdiri dan berjalan mendekatiku. Dia menundukkan tubuhnya dan menaruh wajahnya di depan wajahku.


Aku bisa mendengar hembusan napasnya.


“Dia sangat sayang sampai ingin menahanmu lebih lama.”


Alex mencium keningku.


*****