Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 21



Ketika malam tiba di hari itu, aku menghabiskan waktuku mencoret-coret kertas di kamar saat Fanita sudah tidur terlelap. Aku memulainya dari mendeskripsikan bagaimana dulu aku menyukai teman sekelasku, seniorku di kepolisian atau aktor tampan yang kulihat di drama mingguan. Ada satu kesamaan. Dan itu persis sama saat aku melihat Pangeran Carlo. Aku merasakan debaran di dadaku.


Jadi, aku menuliskan banyak kemungkinan.


Mungkinkah aku yang jatuh cinta padanya seperti tersihir?


Tapi aku bukan tipe yang jatuh cinta hanya karena wajah tampan.


Benarkah ini adalah efek Brooke yang sama saat bertemu dengan Levin?


Hidupku akan semakin kacau kalau begitu.


Dibandingkan Carlo, bukankah Levin lebih terlihat seksi?


Pemikiran macam apa ini?


Lalu aku berhenti menulis dan meremukkan kertas-kertas itu. Aku menjambak rambutku dan membuatnya berantakan. Sebanyak apapun aku berpikir, aku tidak menemukan solusi.


“Haruskah aku menghindarinya? Bersembunyi seperti Darshan?” kataku sambil menimbang-nimbang pilihan itu. “Tapi aku harus mendapatkan kepercayaannya.”


Aku sempat ragu saat menuliskan prioritasku yang kelima. Selain untuk mengubah hubungan diplomatik, aku bermaksud untuk Mendapatkan kepercayaan Putra Mahkota sehingga bisa menyakinkannya untuk menganti posisi Shaeviro dengan orang yang kupercayai kelak.


Tetapi ini lebih sulit dari dugaanku. Benar-benar membuat frustasi.


Aku tidak boleh menyukai Carlo. Pada akhirnya, Carlo akan jatuh cinta pada Grace dan karena itu Brooke terbunuh. Putra Mahkota tentu punya banyak musuh dalam selimut. Ayah juga punya banyak orang yang membencinya. Bertunangan dengan Carlo mempunyai resiko yang besar.


Permasalahannya, aku tidak mungkin melarang Grace jatuh cinta pada Carlo. Mereka berdua akan jatuh cinta satu sama lain. Aku hanya membuat Grace menderita jika aku menghalangi mereka. Aku juga tidak tahu harus membuat alasan apa (tidak mungkin aku bilang padanya dia akan terbunuh). Dihalangi atau tidak, situasinya sama-sama tidak menguntungkan.


“Aku bertemu dengan Carlo lebih cepat dari dugaanku.”


Aku cukup sadar jika masa depan di mimpiku berubah mengikuti keputusanku sekarang.


Tapi sampai kapan aku diikat oleh perasaan Brooke?


Kemudian aku mulai mempertanyakan hidup yang kujalani sekarang. Tidak terima karena aku seolah hidup menggantikan orang lain yang perasaannya pun dipaksakan untukku. Mungkin ini hukuman bagiku akibat pernah bersumpah hanya akan bermain dengan pria tanpa niat menikah di masa lalu.


 


Hari berganti dan aku memulainya dengan mata yang terkantuk.


“Jika menggunakan racun untuk menangkap hewan buruan, apakah akan berpengaruh saat kita memakannya nanti?” tanyaku dengan wajah penasaran pada Darshan.


“Tidak berpengaruh secara langsung, tetapi itu beresiko buruk untuk jangka panjang,” jawab Darshan. “Seperti meminum racun sedikit demi sedikit setiap hari.”


“Begitu ya,” aku mengembalikan buku tanaman obat yang kupegang kepada Darshan. “Sehabis acara berburu, ayo kita cari tanaman beracun.”


“Untuk apa?”


“Membuat racun.”


Darshan segera menutup mulutnya dengan telapak tangan sebelum berkata, “Apa kau berniat membunuh seseorang?”


Aku tertawa datar. Terbesit di pikiranku untuk menambahkan racun di anak panah, dengan begitu aku bisa menjadikannya senjata mematikan untuk digunakan pada hewan dan tentunya musuh-musuh yang akan kuhadapi di masa depan.


“Jika cupid saja menembakkan panah untuk membuat orang jatuh cinta, aku akan menembakkan panah untuk mengubah masa depan orang lain.”


Orang lain yang kumaksud adalah Grace, saudari kembarku yang membuat aku bertindak sejauh ini.


“Cupid itu apa?”


Aku mengambil buku di tangan Darshan dan meletakkannya sembarangan. Kami ada di perpustakaan sekolah, menghabiskan waktu melewatkan pelajaran sejarah (aku sudah membaca banyak buku dan merasa muak mendengar ulang kisah sejarah dunia ini).


Kemudian, aku mendorong Darshan keluar dari perpustakaan. Dia sulit sekali diajak makan siang karena tiga lagenda membuatnya sangat tidak nyaman. Tiga orang yang bersikap masa bodoh itu pasti akan duduk di meja yang sama dengan kami jika mereka tidak melewatkan jam makan siang.


“Jangan berpikir menghabiskan makananmu terburu-buru sebelum mereka datang,” aku berkata dengan nada kesal pada Darshan yang memang menyuapi dirinya sendiri dengan cepat. Dia masih tidak nyaman dengan semua orang kecuali aku.


“Halo.”


Aku berpaling kearah suara sapaan itu dan melihat sosok Carlo tengah tersenyum padaku. Kami membeku. Bahkan Darshan sampai menjatuhkan sendok makannya.


“Yang Mulia,” ucap kami serempak.


“Boleh aku bergabung?” tanya Carlo sekedar berbasa basi karena dia langsung duduk di samping Darshan.


“Sudah lama aku tidak makan siang disini,” Carlo berkata dengan riang.


Aku mengepalkan tanganku menahan debaran di jantungku. Sekarang, aku mempunyai kesamaan dengan Darshan. Canggung di depan Putra Mahkota yang ramah.


“Apa kau sudah merasa baikan?”


“Ya, Yang Mulia. Hamba baik-baik saja,” aku menjawab setelah menarik napas dalam.


Carlo menatapku dan Darshan bergantian. “Apa aku mengganggu disini? Kalian tidak terlihat nyaman.”


“Tidak, Yang Mulia,” Darshan menjawab terbata-bata.


“Kami hanya terkejut melihat kehadiran anda yang tiba-tiba, Yang Mulia” kataku dengan suara pelan. “Urusan apa yang membawa anda kemari, Yang Mulia?”


Aku merasa ingin menangis. Aku dibuat semakin berdebar-debar hanya dengan melihat Carlo yang mendadak memperbaiki rambut acaknya sambil tetap tersenyum. Aku jadi berpikir kenapa Brooke tidak berdebar-debar pada Levin yang sudah menciumnya (aku yang berdebar karena mimpi itu). Apa gunanya melihat orang yang kau sukai dari kejauhan. Mereka bahkan hanya sekedar saling menyapa. Tidak ada ciuman apalagi berpegangan tangan. Jika itu aku, sudah kupastikan aku akan memilih Levin yang lebih agresif. Toh, aku lebih suka hubungan yang tidak serius.


Tapi sekarang aku adalah Brooke.


Aku tanpa sadar menjentikkan jemariku. “Benar juga.”


Prioritas keduaku.


Carlo melihatku dengan raut wajah keheranan.


“Anda sedang memikirkan apa?”


“Saya teringat tugas di kelas Sir Frank,” dalihku. Aku terlalu tenggelam dalam pikiranku sendiri. Akhir-akhir ini, aku memang sering berpikir secara berlebihan.


Aku melihat Carlo mengangguk paham dan berkata, “Oh ya, anda ada waktu luang? Lucas Hyung sepertinya sedang sibuk. Aku ingin jalan-jalan tapi tidak punya teman.”


Aku ingin menolak tapi tahu itu tidak boleh kulakukan. Siapa diriku sampai menolak Putra Mahkota yang paling sibuk dari murid manapun di akademi.


“Saya akan menemani Yang Mulia berkeliling.”


Carlo tersenyum senang.


“Ngomong-ngomong, aku dengar anda menendang bagian bawah pria yang berharga,” dia tertawa. “Fanita bilang anda punya masalah kepribadian.”


Ah, benar-benar. Wanita menyebalkan itu…..


*****