Brooke's Priority

Brooke's Priority
Chapter 33



Haley bersikeras mengikutiku. Aku berencana kabur dari lubang pelarian yang dulu kubuat diam-diam tetapi aku mengurungkan niatku saat melihat lubang itu sudah ditutup rapi dan pelakunya adalah Haley. Jadi, aku berkata ingin melihat festival lentera yang diadakan setahun sekali di Kerajaan Morrow.


“Pria bernama Levin itu mencarimu lagi, bukan?” Haley menatapku tajam. Dia tidak suka pada Levin yang belum pernah ditemuinya.


“Ya. Aku harus menemui Levin,” jawabku jujur. Aku menyerah karena tidak ingin ditanyai terus menerus. Haley terus bertanya kenapa aku tidak mengajak Grace, Lucas atau Fanita (dia berpikir kami sudah akrab) dan untungnya dia tidak menyebut nama Alex. Aku tidak tahu bagaimana Reevi dengan cepat mendapatkan rumor tentangku di pesta dansa dan memberitahukannya pada Haley.


Reevi hanya ingin mengobrol dengan Haley.


“Aku akan ikut demi keamananmu,” bujuk Haley.


Bukannya itu saran yang buruk, aku hanya takut Levin tidak menampakkan dirinya jika tahu ada yang mengikutiku. Pergi diam-diam itu pilihan terbaik.


Festival lentera. Jam sembilan malam.


Levin memberiku sebuah pesan di pesta dansa. Saat itu aku terkejut dan langsung mengejarnya. Dia menghilang di keramaian. Dari yang kuamati, bersembunyi di keramaian merupakan salah satu keahlian Levin yang baru kuketahui.


“Dia bisa saja tidak muncul ketika melihatku datang bersamamu,” jelasku. “Kita membutuhkan bantuannya. Dia punya banyak informasi dan dia tidak bisa dikatakan jahat.” Aku menyakinkan Haley dengan mengulang kembali kejadian saat aku ditemukan tergeletak penuh darah di gerbang rumahku. “Aku harus mengajaknya. Levin adalah orang kelima.”


Haley menghela napas pendek. Dia tahu aku sulit untuk dihentikan. Aku juga paham kenapa Haley tidak mau membiarkanku pergi sendirian. Orang yang punya banyak informasi seperti Levin, pasti bukan orang biasa. Haley berpikir demikian.


Akhirnya kami mencapai sebuah kesepakatan. Haley akan menyusulku saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


 


Langit malam itu tidak dipenuhi bintang.


Aku hanya menatap langit kosong dan bulan purnama yang memperlihatkan dirinya.


Aku lalu membeli sebuah lentera ketika aku melihat seorang anak kecil membawanya dengan tangannya yang mungil. Anak itu tersenyum lebar sembari berharap langit akan mengabulkan permohonannya jika lentera itu sampai ke bulan. Tentu saja, itu omong kosong bagiku.


Pedagang lentera itu bertanya apakah aku ingin menuliskan sebuah permohonan. Aku menggelengkan kepalaku. Kemudian, aku berjalan-jalan sambil memperhatikan orang-orang yang mengenakan jubah. Pada malam seperti ini, wajar jika banyak orang datang ke ibukota.


“Hei,” aku mendengar seseorang berbisik di telingaku.


Seseorang berdiri di belakangku dan menangkap lentera yang hampir kujatuhkan karena terkejut. Tangannya menjulur ke depan dan aku tahu itu tangan Levin.


Aku segera membalikkan badanku.


“Hai..,” sapaku canggung ketika melihat Levin memandangku tanpa tersenyum. Pandangan matanya membuatku risih.


“Tanganku pegal,” Levin berkata pelan. “Ambil dulu lentera itu supaya aku bisa memelukmu.”


Aku merasakan desakan lentera dari balik punggungku sehingga aku sudah berada dalam dekapan Levin. Dia memegang lentera itu tanpa kekuatan, tangannya dan lentera itu menyentuh pinggulku. Aku juga melihat dia tersenyum manis. Membuatku memperhatikan bibirnya.


“Jangan memalingkan wajahmu,” dia berbisik di telingaku tanpa menurunkan tudung jubahnya.


Aku memalingkan wajahku dari Levin setelah melihat dengan jelas keinginan kuat yang terpancar di matanya. Aku merasakan panas di pipiku. Aku sudah lama tidak merasa begitu malu.


Levin ingin menciumku.


“Semua orang melirik ke arah kita,” bisikku pada Levin.


Kami sedang berdiri di jalan yang dilalui banyak orang dalam posisi yang bisa membuat orang lain salah paham.


Levin mendengus kesal tetapi dia melepaskan salah satu tangannya dari lentera itu dan memberikan lentera itu padaku menggunakan tangan yang satunya lagi. Aku bernapas lega dan memperbaiki tudung kepalaku.


“Kita perlu bicara di tempat yang aman,” saranku. “Kau tidak takut ada yang mengenalimu?”


Levin mengangkat bahunya tidak peduli. “Lentera ini harus diterbangkan dahulu.”


“Letakkan saja,” kataku.


Aku hanya membelinya agar aku tidak terlihat mencurigakan.


“Kau tidak punya permohonan?”


“Itu hanya cara untuk berjualan atau membuat hari menarik untuk mendatangkan banyak orang ke ibukota. Sebatas bisnis.”


Wajah Levin berubah masam. “Kau sangat menantikan festival lentera setiap tahun. Ini kesukaanmu.”


Tangan dingin Levin menyentuh wajahku. Sentuhan tangannya yang tiba-tiba hampir membuatku mundur selangkah. Dia menatapku dalam dan aku tidak bisa mengartikannya.


“Kau ingin aku membuat sebuah permohonan?”


Terbersit olehku alasan mengapa Levin mengajakku bertemu.


Dan aku melihat Levin mengangguk. Dia memaksaku lewat tatapan matanya.


“Biar kupikirkan,” aku memilih mengalah dan mencoba membuat sebuah permohonan. Aku tidak punya banyak waktu sampai pukul sepuluh malam. Aku tidak berani menjamin Levin akan senang bertemu Haley. Sebelum itu terjadi, aku harus berhasil mendapatkan jawaban dari beberapa pertanyaanku.


Lalu, aku menuliskan permohonan singkatku sambil tersenyum.


Prioritas Brooke.


Levin mengernyitkan dahinya saat dia membaca tulisanku. “Apa maksudmu?”


“Rahasia.”


Kalau permohonan itu bisa sampai ke langit, kuharap ada jalan lain yang terbuka setiap aku bertemu jalan buntu.


Aku menerbangkan lentera itu.


“Bagaimana denganmu? Kau tidak membuat satu permohonan?”


Sekarang, kami sedang berjalan menuju suatu tempat yang hanya diketahui oleh Levin. Dia bilang kami bisa bicara dengan tenang disana.


“Aku tidak butuh lentera. Kau yang akan mengabulkan permohonanku.”


Aku teringat pada janji yang kubuat disaat terdesak.


“Sudah kau putuskan?” tanyaku ragu-ragu. “Kau mau menciumku?”


Levin menghentikan langkahnya dan menarik ujung tudung jubahku. “Kau berubah jadi gadis mesum. Kau membuatku takut.”


Aku tahu dia bercanda tapi aku tetap saja kesal. Berani sekali dia memanggilku mesum di saat dia yang mulai mendekatiku, mencium keningku dan berlagak sok seksi.


Bocah ini pasti tidak tahu jumlah pacarku.


Di kehidupan lamaku, ada dua pria yang berpengaruh besar dalam perubahan sikapku (aku tidak menyalahkan mereka). Setelah kehilangan mereka, kalau tidak salah, aku mulai suka dengan ‘sekedar hubungan tidak serius’ dengan banyak pria lain. Kim In Ho sering mengeluh padaku sebab dia tidak suka kebiasaan burukku itu. In Ho selalu berkata ‘orang harus pulih dari patah hati mereka’.


“Apa tempat itu masih jauh? Kau tidak berencana membunuhku diam-diam kan? Disini tidak ada jurang.”


“Tidak ada rencana seperti itu,” jawab Levin. Dia berkata seolah akan membunuhku nanti di waktu yang sudah ditentukannya. “Aku datang untuk mengambil permohonanku.”


Akhirnya, kami tiba di sebuah tepi sungai. Pasar yang penuh dengan warna warni lentera masih tampak jelas dari sini. Sebelumnya, aku tidak pernah memperhatikan ada sebuah sungai yang terletak di dekat pasar ibukota. Semua acara berpusat di pasar itu sehingga tepi sungai tampak cukup gelap bagiku.


“Lokasi ini terasa tidak begitu aman.”


“Disini kau bisa membuka tudung jubahmu,” Levin berkata sambil membuka tudung jubahnya sendiri. Dia membiarkan wajahnya terlihat jelas. “Tidak ada yang akan menyerangmu seperti waktu itu.”


Aku mengangguk paham dan bertanya, “Musuhmu waktu itu, kau tahu siapa yang mengirimnya?”


“Aku tahu.” Levin memukul-mukul pundaknya. Dia terlihat lelah. “Pembunuh bayaran terbiasa punya banyak musuh.”


Levin tahu yang menyerangnya bukan orang dari Istana atau Shaeviro. Keberadaan Levin yang masih hidup tidak diketahui oleh mereka. Levin sengaja mengambil pekerjaan sebagai pembunuh bayaran untuk menyamarkan jejaknya. Dia bisa membantu Carlo menyingkirkan musuhnya dengan cara mengambil pekerjaan dari pihak yang membenci target mereka dan apabila dia membunuh secara diam-diam, dia akan menyewa seseorang untuk menyebarkan rumor sambil minum bir.


“Apa boleh aku bertanya sesuatu?”


“Pertanyaanmu seperti banyak sekali.”


“Bagaimana aku bisa mengenalmu?” aku menatap serius wajah Levin. “Kenapa kau mau membunuhku? Apa urusanmu dengan Lucas? Racun apa yang kau berikan padaku? Bagaimana kau mendapatkannya? Dan..”


“Cukup,” Levin menutup mulutku dan menatapku kesal. “Aku hanya akan menjawab tiga pertanyaan. Anggap saja ini hadiah karena aku sedang dalam suasana hati yang baik.”


Aku lalu memegang tangan yang menutup mulutku dan menariknya menjauh. “Kenapa hanya tiga?”


“Menjelaskan sesuatu jauh lebih sulit dari kelihatannya.”


Aku melepaskan tangan Levin dan memegangi kepalaku yang tidak terasa sakit.


“Baiklah. Aku juga benci jika harus menjelaskan keadaanku.”


 


Cobalah jelaskan keadaanmu. Dari pengalamanku, itu sangat sulit dilakukan.


*****